
Alvin terdiam beberapa saat mendengarkan ucapan Daniel. Ia tau Nerissa memang menyukai lautan seperti dirinya, tapi sama sekali tak pernah terpikirkan jika ia akan meminta Nerissa untuk bekerja di rumahnya.
Apa lagi saat ia sedang berusaha untuk menjaga jarak dengan Nerissa, ia tidak mungkin meminta Nerissa berada dekat dengannya.
"Ayolah Alvin, kau percaya padaku bukan?"
"Apa tidak akan ada masalah jika Nerissa bekerja di rumahku? aku takut kau akan salah paham nantinya!" tanya Alvin.
"Salah paham tentang apa? justru aku akan sangat senang kalau Nerissa bekerja di rumahmu!"
"Kenapa?" tanya Alvin.
"Karena aku bisa menemuinya tanpa harus bertemu Marin yang menyebalkan itu hehehe...."
"Sebenarnya ada apa diantara kalian berdua? kenapa kau dan Marin seperti tidak pernah akur?" tanya Alvin penasaran.
"Nanti aku akan menjelaskannya padamu, sekarang hubungi Nerissa dan katakan padanya untuk bekerja di rumahmu!"
"Tunggu dulu, kau serius? aku...."
"Aku serius Alvin, lagipula bekerja di rumahmu tidak terlalu sulit bukan? dia hanya perlu menjaga dan merawat ikan ikan milikmu dan dia akan sangat menikmati pekerjaannya dibanding harus mengantar bunga kesana kemari!" ucap Daniel meyakinkan.
"Aku akan memikirkannya terlebih dahulu!" ucap Alvin lalu berjalan masuk ke ruangannya.
"Jangan terlalu lama berpikir Alvin!" ucap Daniel setengah berteriak.
Di dalam ruangannya Alvin masih memikirkan ucapan Daniel tentang mempekerjakan Nerissa di rumahnya. Ia ragu apakah ia harus melakukan itu atau tidak.
Sejujurnya ia senang jika Nerissa bekerja di rumahnya, itu artinya setiap hari ia akan melihat wajah cantik Nerissa.
Tapi yang membuatnya ragu adalah ia takut terjadi salah paham jika terjadi sesuatu antara dirinya dan Nerissa.
Di sisi lain, Daniel sedang menghubungi Nerissa untuk memberi tahu Nerissa tentang rencananya.
"Halo Daniel, ada apa?"
"Apa aku mengganggu waktumu?" tanya Daniel.
"Tidak, aku sedang senggang sekarang," jawab Nerissa.
"Nerissa, apa kau menyukai lautan?" tanya Daniel memastikan.
"Tentu saja, disana aku dilahi......... maksudku disana aku bisa bertemu ikan ikan cantik temanku," jawab Nerissa.
"Apa kau mau bekerja bersama teman temanmu?" tanya Daniel lagi.
"Teman teman?"
"Iya, ikan dan hewan laut lainnya," jawab Daniel.
"Dimana aku bisa bekerja bersama mereka?" tanya Nerissa penasaran.
"Di rumah Alvin," jawab Daniel yang membuat Nerissa terkejut.
"Di rumah Alvin? apa maksudmu?"
"Alvin sedang mencari seseorang untuk menjaga dan merawat ikan ikan miliknya, aku rasa kau satu satunya orang yang tepat untuk pekerjaan itu!" jawab Daniel menjelaskan.
Nerissa diam beberapa saat memikirkan ucapan Daniel.
"Ini tidak akan sulit Nerissa, aku yakin kau pasti menyukainya," ucap Daniel.
"Mmmm.... aku.... aku akan bertanya pada Marin terlebih dahulu!" balas Nerissa.
"Baiklah, segera hubungi aku jika kau sudah memastikan jawabanmu!"
"Iya, aku akan segera menghubungimu."
Klik. Sambungan berakhir. Daniel yakin Nerissa pasti akan menerima pekerjaan itu karena ia tau Nerissa pasti sangat menyukainya.
Sekarang ia hanya tinggal berharap jika Marin bisa melepaskan Nerissa untuk bekerja dengan Alvin.
**
Di tempat lain, Nerissa yang baru saja mengantar bunga sedang beristirahat di sebuah mini market.
Dua botol minuman dingin sudah ada di hadapannya dengan satu botol yang kosong. Cuaca terik seperti itu membuatnya menghabiskan banyak air minum setiap hari.
"apa aku harus bekerja di rumah Alvin? tapi bagaimana dengan Marin? apa dia tidak keberatan jika aku bekerja di rumah Alvin?"
Nerissa kemudian menghabiskan satu botol minuman lagi sebelum kembali ke toko bunga. Sesampainya di toko bunga Nerissa duduk di bangku yang ada disana.
Matanya berkeliling menatap satu per satu bunga bunga indah di sekitarnya.
"bunga bunga ini memang sangat indah, itu kenapa Marin sangat menyukainya, apa aku bisa jauh dari Marin dan meninggalkan bunga bunga indah ini?"
"Apa yang kau lakukan disini Putri?" tanya Marin menghampiri Nerissa.
"Hanya duduk saja, apa kau masih sibuk? apa ada yang harus aku lakukan lagi?"
"Tidak, kau sudah banyak bekerja Putri, istirahatlah!" jawab Marin.
Nerissa menganggukan kepalanya kemudian bersandar di bahu Marin.
"Ada apa Putri? apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Marin pada Nerissa.
"Aku hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab Nerissa.
"Apa itu? ceritakan padaku!"
Nerissa kemudian menegakkan badannya dan menatap Marin.
"Apa kau akan baik baik saja jika aku tidak disini?" tanya Nerissa.
"Apa maksudmu Putri? kau mau pergi kemana?" balas Marin bertanya.
"Mmmm.... sebenarnya tadi Daniel menghubungiku, dia memintaku untuk bekerja di rumah Alvin," jawab Nerissa dengan menundukkan kepalanya.
"Bekerja di rumah Alvin?" tanya Marin memastikan pendengarannya.
"Iya, dia memintaku untuk menjaga dan merawat ikan ikan milik Alvin, mungkin ini hanya sementara karena bibi sedang pulang kampung," jawab Nerissa menjelaskan.
"Lalu apa kau menerima permintaan Daniel?" tanya Marin.
"Aku belum menjawabnya, aku harus memberi tahumu terlebih dahulu," jawab Nerissa.
"Kau harus menerimanya Putri, pasti akan sangat menyenangkan kalau kau bisa bertemu dengan Alvin.... maksudku ikan ikan itu setiap hari!" ucap Marin bersemangat.
"Iya kau benar, membayangkannya saja sudah membuatku senang, tapi.... ada yang membuatku ragu Marin!"
"Apa?" tanya Marin.
"Apa kau akan baik baik saja kalau aku bekerja di rumah Alvin?"
Marin tertawa kecil mendengar pertanyaan Nerissa.
"Jangan mengkhawatirkanku Putri, aku pasti baik baik saja, aku lebih mengenal dunia manusia daripada dirimu, kau tau itu!"
"Iya, aku tau tapi...."
"Jangan ragu dengan apa yang menyenangkan dirimu Putri, aku yakin Alvin adalah laki laki yang baik, kalau bukan Alvin mungkin aku akan memintamu untuk menolak permintaan Daniel karena aku hanya percaya pada Alvin untuk berada dekat denganmu," ucap Marin.
"Kau sangat mempercayai Alvin, apa kau menyukainya?" tanya Nerissa.
"Hahaha.... aku? menyukai Alvin? sama sekali tidak, kau jangan salah paham, aku hanya menyukai yang sejenis denganku, mermaid tampan dengan ekor yang berkilau!" jawab Marin.
"Jadi, apa kau mengizinkanku bekerja bersama Alvin?"
"Tentu saja Putri, kau bahkan bisa menginap disana jika kau mau!"
"Tidak, aku hanya akan bekerja dari pagi sampai sore, aku tetap ingin tidur di dekatmu Marin, tidak ada yang lebih nyaman dibanding dengan rumah kita yang penuh bunga ini," balas Nerissa.
"Apa benar ucapanmu itu? bukankah kau senang menginap di rumah Alvin kemarin?" tanya Marin menggoda Nerissa.
"Aku.... aku...."
"Hahaha.... pipimu merona lagi Putri, kau pasti sangat menikmati malammu di rumah Alvin bukan? hahaha....."
"Marin!! kau menyebalkan sekali!" ucap Nerissa dengan memukul mukul lengan Marin dengan pelan.
Mereka kemudian tertawa berdua. Tanpa Nerissa sadari, kekuatan dari mahkota itu menarik Nerissa agar semakin mendekat.
Hanya saja Nerissa belum bisa merasakan adanya kekuatan yang menarik dirinya yang membuatnya tidak bisa menyadari dimana letak mahkota itu.
Setelah mendapat izin dari Marin dan yakin dengan keputusannya, Nerissapun segera menghubungi Daniel.
"Halo Daniel, tentang ucapanmu tadi, aku menerimanya," ucap Nerissa setelah Daniel menerima panggilannya.
"Iya, aku juga sudah mendapatkan izin dari Marin," jawab Nerissa.
"Terima kasih Nerissa, aku yakin kau pasti akan menyukai pekerjaan barumu!" ucap Daniel bersemangat.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 6 petang, Daniel masuk ke ruangan Alvin setelah mengetuk pintu.
"Kau harus segera pulang!" ucap Daniel.
"Pekerjaanku masih banyak, jangan ganggu aku," balas Alvin.
"Kau harus segera menemui Nerissa!" ucap Daniel yang membuat Alvin segera membawa pandangannya pada Daniel.
"Kenapa?"
"Kau harus jelaskan padanya seperti apa jam kerjanya, berapa gajinya, hari liburnya dan banyak hal lainnya," jawab Daniel.
"Aku belum memutuskannya Daniel, lagipula....."
"Tapi dia sudah menyetujuinya," ucap Daniel memotong ucapan Alvin.
"Setuju apa maksudmu?"
"Setuju untuk bekerja di rumahmu, aku sudah memberi tahunya dan dia menerimanya, atas izin Marin tentunya," jawab Daniel.
"Daniel... kau....!!"
"Hehehe..... aku harus cepat bertindak Alvin, itu kan yang selalu kau ajarkan padaku!"
"Tapi jangan lupa untuk berpikir sebelum bertindak!" balas Alvin.
"Tapi jangan terlalu banyak berpikir juga hahahaha.... aku pergi, jangan lupa temui Nerissa malam ini!" ucap Daniel sambil beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Alvin.
Alvin kemudian segera menyimpan file pekerjaannya dan segera membereskan barang barangnya.
Ia berlari mengikuti Daniel yang sudah lebih dulu keluar dari ruangannya. Namun mereka masih bertemu di depan lift yang akan membawa mereka turun.
"Aku tau kau laki laki yang baik Alvin, jadi aku harap kau bisa memperlakukannya dengan baik," ucap Daniel lalu melangkah masuk ke dalam lift saat pintu lift baru saja terbuka.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti Daniel masuk ke dalam lift.
Setelah meninggalkan kantor, Daniel pulang ke rumahnya sedangkan Alvin mengendarai mobilnya untuk menemui Nerissa.
Sesampainya di rumah Nerissa, Alvin masih berdiam diri di dalam mobilnya beberapa saat sebelum menemui Nerissa.
"Tenangkan dirimu Alvin, jangan gugup!" ucap Alvin sambil menarik napasnya dalam dalam lalu menghembuskannya dengan pelan.
Alvin melakukan hal itu berkali kali untuk menenangkan dirinya yang sedang gugup saat itu.
Namun tiba tiba kaca pintu mobilnya diketuk oleh seseorang dari luar.
Alvinpun segera menurunkan kaca pintu mobilnya.
"Apa yang kau lakukan disini? masuklah!" ucap Marin pada Alvin.
"Aah iya.... aku... aku masih mencari ponselku," balas Alvin mencari alasan.
Marin kemudian menunjuk ponsel yang ada di saku dada Alvin, membuat Alvin segera membawa pandangannya ke arah Marin menunjuk.
"Oohh disini ternyata hehe... he..." ucap Alvin dengan tertawa canggung.
"Hahaha.... kau lucu sekali, aku akan pergi ke mini market, kau masuklah, Putri sudah menunggumu!"
"Menungguku?"
"Iya, Daniel bilang kau akan datang malam ini," jawab Marin.
"Aahh iya, aku akan segera masuk," balas Alvin.
Setelah Marin pergi, Alvin keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah pintu rumah itu. Belum sempat Alvin mengetuknya, pintu rumah sudah terbuka dan seorang gadis cantik dengan rambut coklat terangnya berdiri di hadapan Alvin.
"Alvin, apa kau melihat Marin?"
"Iya, dia bilang akan pergi ke mini market," jawab Alvin.
"Hmmm.... cepat sekali dia pergi, masuklah!" ucap Nerissa sambil mempersilakan Alvin untuk masuk.
Alvinpun masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Rumah sederhana itu tampak indah dengan banyak bunga di setiap sudutnya.
Benar benar rumah sederhana dan cantik, sama persis seperti penghuninya.
"Daniel sudah memberi tahuku tentang pekerjaan di rumahmu, apa kau benar benar membutuhkanku?"
"Iya, aku sudah mencari pengganti bibi, tapi dia tidak bisa menjaga ikanku dengan baik, itu kenapa aku membutuhkanmu, hanya untuk menjaga dan merawat ikanku tanpa harus mengerjakan pekerjaan lain," jawab Alvin menjelaskan.
"Apa kau benar benar mempercayaiku untuk menjaga ikan ikanmu?" tanya Nerissa memastikan.
"Tentu saja, aku minta maaf atas sikapku yang buruk terhadapmu sebelumnya, aku menyesalinya dan aku tidak akan mengulanginya lagi!"
Nerissa tersenyum senang mendengar ucapan Alvin, bukan karena Alvin meminta maaf padanya, tapi karena sikap Alvin yang sudah tidak dingin lagi padanya.
"Kau memaafkanku bukan?" tanya Alvin.
"Tentu saja," jawab Nerissa dengan senyum manisnya.
Tak lama kemudian Marin datang dengan membawa satu kantong belanja.
"Kenapa kau cepat sekali pergi? padahal aku ingin kau...."
"Membeli ini?" tanya Marin sambil memberikan rumput laut kering pada Nerissa.
Nerissa tersenyum senang menerima rumput laut kering dari Marin. Sejak berada di daratan, Nerissa sangat menyukai rumput laut kering dan sudah banyak menghabiskan uangnya untuk membeli rumput laut kering.
"Terima kasih Marin," ucap Nerissa sambil memeluk Marin.
"Lepaskan Putri, masih ada Alvin disini!" balas Marin sambil melepaskan tangan Nerissa yang memeluknya.
Nerissa kemudian membawa pandangannya pada Alvin dan tersenyum canggung lalu kembali duduk dengan menarik tangan Marin agar ikut duduk di sampingnya.
"Aku harus menghitung penjualanku hari ini, jadi aku harus ke kamar!" ucap Marin kemudian beranjak dari duduknya, meninggalkan Nerissa dan Alvin berdua di ruang tamu.
Nerissa dan Alvin saling diam beberapa saat karena canggung.
"Mmmm.... bagiamana dengan jam kerjaku?" tanya Nerissa pada Alvin.
"Kau bisa bekerja dari pagi sampai sore atau kalau kau mau, kau boleh menginap," jawab Alvin.
"Aku akan berangkat pagi dan pulang sore, aku tidak ingin meninggalkan Marin terlalu lama," ucap Nerissa.
"Baiklah, tidak masalah!" balas Alvin.
Alvin kemudian menjelaskan apa saja yang harus Nerissa kerjakan di rumahnya, berapa gaji yang akan Nerissa terima dan beberapa hal lainnya termasuk larangan untuk memasuki kamarnya tanpa izin.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan?"
"Kapan aku bisa mulai bekerja?" tanya Nerissa.
"Besok?"
"Baiklah, besok aku akan ke rumahmu pagi pagi sekali!"
"Terima kasih Nerissa!" ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Nerissa.
Alvin kemudian berpamitan untuk pulang. Setelah kepergian Alvin, Nerissa segera masuk ke kamar Marin.
"Kenapa kau kesini? apa Alvin sudah pulang?"
"Iya, dia sudah pulang," jawab Nerissa.
"Bagaimana obrolan kalian? kapan kau akan bekerja di rumahnya?" tanya Marin penasaran.
"Besok pagi aku akan bekerja di rumahnya dan akan pulang saat sore," jawab Nerissa.
"Baguslah kalau begitu, semangat Putri, aku selalu mendukungmu!" ucap Marin dengan mengepalkan kedua tangannya ke atas.
"Tapi siapa yang akan mengantar bunga menggantikanku?" tanya Nerissa.
"Tenang saja, pendapatan ku sangat banyak jadi aku bisa mempekerjakan orang untuk menggantikan posisimu!"
"Siapa orang itu?"
Marin hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Nerissa. Senyum yang terlihat seperti seekor singa yang melihat mangsanya di depan mata.