
Nerissa, Daniel, Cordelia dan Marin masih berada di rumah bi Sita. Mereka ingin mendapatkan kesaksian bi Sita tentang apa yang terjadi di rumah Alvin beberapa hari yang lalu sekaligus memastikan apa dan siapa yang memaksa bi Sita untuk pulang kampung tiba-tiba.
"Tolong bibi jujur pada Nerissa, bibi pasti melihat kejadian itu bukan?" tanya Nerissa.
"Maaf non bibi tidak tahu apa-apa," balas Bi Sita berbohong.
"Tapi bibi ada disana waktu itu," ucap Nerissa.
"Tidak non, bibi hanya melihat non Nerissa datang setelah itu bibi kembali masuk ke dapur," balas bibi bersikukuh dengan ucapannya.
"Tapi bibi......"
Nerissa menghentikan ucapannya saat Daniel memegang tangannya, seolah meminta Nerissa untuk tidak melanjutkan ucapannya.
"Daniel sangat mengenal bibi, bibi tidak mungkin pulang kampung jika tidak terjadi sesuatu atau mungkin ada seseorang yang memaksa bibi untuk pulang kampung dengan tiba-tiba?" ucap Daniel pada bi Sita.
"Tidak dan tidak ada yang memaksa bibi untuk pulang, ini sepenuhnya keinginan bibi karena bibi ingin beristirahat di rumah," balas bibi.
"Bibi jangan khawatir, jika ada seseorang yang mengancam bibi, bibi bisa berhenti bekerja di rumah Alvin dan pindah ke rumah Delia, Delia akan memberikan gaji yang jauh lebih besar daripada Alvin," ucap Cordelia berusaha membujuk bi Sita.
"Ini bukan soal gaji non, bagi bibi Tuan Alvin bukan sekedar majikan bibi, bibi sudah menganggap Tuan Alvin seperti anak bibi sendiri karena bibi sudah sangat lama tinggal bersama Tuan Alvin," balas bibi yang membuat Cordelia merasa frustasi.
Mereka semuapun terdiam beberapa saat karena sudah kehabisan cara untuk membuat bibi berkata jujur pada mereka.
Nerissa, Daniel Cordelia dan Marin yakin bi Sita sedang menyembunyikan sesuatu saat itu karena terlihat dengan jelas kegugupan bi Sita saat itu.
"Jika tidak ada sesuatu yang ingin dibicarakan lagi bibi mohon undur diri karena ada hal lain yang harus bibik kerjakan," ucap bi Sita dengan menundukkan kepalanya.
"Bibi pasti mengenal Amanda, bibi pasti tahu apa yang terjadi pada Alvin setelah kepergian Amanda, apa sekarang bibi yakin Alvin akan bahagia bersama Amanda selamanya? bukankah bibi sendiri yang bilang bahwa bibi sudah menganggap Alvin seperti anak bibi sendiri?" tanya Nerissa pada bi Sita.
Bi Sita hanya menundukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, dalam hatinya ia bimbang tentang apa yang harus ia katakan saat itu.
"Nerissa hanya tidak ingin Alvin membenci Nerissa bi, jika memang Alvin lebih bahagia bersama Amanda setidaknya Alvin tidak membenci Nerissa karena kesalahpahaman yang terjadi di rumahnya saat itu," ucap Nerissa.
"Itu bukan kesalahpahaman Nerissa, itu adalah fitnah!" sahut Cordelia.
"Apa bibi tidak ingin membantu Nerissa? bibi pasti tahu bagaimana sikap Alvin pada Nerissa selama ini, apa bibi akan membiarkan Alvin membenci Nerissa karena kesalahan yang tidak Nerissa lakukan?" tanya Daniel pada bi Sita.
"Maafkan bibi," ucap bi Sita yang masih menundukkan kepalanya tanpa berani menatap orang-orang di hadapannya.
"Bukan permintaan maaf yang ingin Nerissa dengar, Nerissa hanya ingin tahu apakah bibi melihat kejadian yang sebenarnya saat itu?" ucap Nerissa sekaligus bertanya.
Setelah pergulatan batin yang cukup hebat, bi Sitapun akhirnya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Bibi benar-benar melihatnya bukan? bibi tahu jika Nerissa tidak bersalah bukan?" tanya Nerissa memastikan.
"Iya non, bibi melihatnya dan tidak sengaja mendengar semua percakapan non Nerissa dan non Amanda saat itu," jawab bi Sita
"Apa yang bibi lihat dan apa yang bibi dengar saat itu?" sahut Daniel bertanya.
"Bibi tidak begitu mengingatnya den, tapi yang pasti saat itu non Amanda mengatakan jika kepalanya pusing dan non Nerissa berbalik untuk memeriksa keadaan non Amanda tapi tiba-tiba non Amanda berjalan mundur hingga membuat akuarium itu terjatuh," jawab bi Sita menjelaskan.
"Kalau begitu bibi harus kembali ke rumah Alvin dan mengatakan pada Alvin apa yang bibi lihat saat itu!" ucap Cordelia penuh semangat
"Maaf non, bibi tidak bisa melakukannya, bibi harap non Delia bisa mengerti," balas bibi menolak.
"Apa Amanda yang meminta bibi untuk menyembunyikan hal ini dari Alvin? apa Amanda juga yang meminta bibi untuk pulang kampung tiba-tiba?" tanya Daniel.
"Bibi minta maaf den, bibi terpaksa melakukan ini karena non Amanda mengancam akan mengusir bibi dari rumah tuan Alvin jika bibi mengatakan yang sebenarnya saat itu, bibi tidak ingin pergi dari sana den, bibi ingin selalu menemani tuan Alvin di rumah itu," ucap bibi yang merasa bersalah.
"Jika memang bibi sangat menyayangi Alvin seharusnya bibi tidak membiarkan Amanda tinggal disana!" ucap Cordelia.
"Bibi tidak mempunyai kuasa apapun non, bibi juga tidak berhak ikut campur masalah pribadi Tuan Alvin, bibi hanya ingin tinggal disana, menjaga dan menyiapkan semua keperluan Tuan Alvin," balas bibi.
"Lalu kapan bibi akan kembali ke rumah Alvin?" tanya Cordelia.
"Bibi hanya bisa menunggu sampai non Amanda memanggil bibi untuk kembali, setidaknya bibi masih bisa kembali ke rumah itu non," jawab bi Sita.
"Amanda, kau benar-benar sangat menyebalkan," ucap Cordelia sambil menggenggam kedua tangannya dengan kuat karena kesal dengan sikap Amanda.
"Apa bibi akan merahasiakan hal ini dari Alvin selamanya?" tanya Nerissa pada bi Sita.
"Maafkan bibi non, hanya itu yang bisa bibi lakukan," balas bibi.
Nerissa menganggukkan kepalanya pelan ia bisa mengerti pilihan yang bi Sita pilih saat itu bukan karena keinginannya melainkan karena paksaan dan ancaman dari Amanda.
"Baiklah setidaknya bibi sudah mengatakan yang sebenarnya," ucap Daniel yang merasa puas dengan jawaban bi Sita.
Nerissa hanya menundukkan kepalanya tak bersemangat meskipun bibi mengatakan yang sebenarnya, tetapi bibi tidak bisa memberikan kesaksiannya pada Alvin.
Pada akhirnya Alvin tetap menganggap Nerissa yang mendorong Amanda dengan sengaja.
Setelah berterima kasih, Daniel Nerissa Cordelia dan Marinpun meninggalkan rumah bibi. Daniel mengendarai mobilnya keluar dari area pedesaan tempat tinggal bibi.
Sepanjang perjalanan Nerissa hanya terdiam dengan raut wajah sedih yang tidak bisa ia sembunyikan
"Bersemangatlah Nerissa, kita pasti bisa menemukan jalan lain agar Alvin tahu kebusukan Amanda!" ucap Cordelia pada Nerissa.
"Terima kasih karena sudah membantuku Delia, apapun alasanmu untuk membantuku aku sangat berterima kasih padamu," ucap Nerissa.
"Simpan ucapan terima kasihmu itu setelah aku berhasil membuat Alvin menjauh dari Amanda!" ucap Cordelia.
"Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi, satu-satunya yang bisa menyelamatku hanyalah bibi dan sekarang aku tidak bisa memaksa bibi untuk bersaksi di depan Alvin," ucap Nerissa.
"Daniel, kenapa kau hanya diam saja? apa kau tidak merasa perjalanan kita sia-sia kali ini?" tanya Marin pada Daniel yang sepanjang perjalanan hanya diam.
"Tidak akan ada hasil yang sia-sia dari usaha yang kita lakukan Marin," balas Daniel.
"Lalu apa yang kita dapatkan dari perjalanan panjang ini? bibi bahkan tidak mau mengakui apa yang dilihatnya pada Alvin!" tanya Marin.
Daniel hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun, membuatn Nerissa Cordelia dan Marin terdiam dengan saling pandang.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu Daniel?" tanya Nerissa yang merasa aneh dengan senyum Daniel.
"Kita bicarakan hal ini setelah kita sampai di rumah, sekarang jangan terlalu memikirkannya, pejamkan matamu dan tidurlah, perjalanan masih sangat panjang," ucap Daniel sambil membelai rambut Nerissa.
Cordelia yang melihat hal itu segera membawa pandangannya pada Marin, ia bisa melihat dengan jelas raut wajah kecemburuan Marin saat itu.
**
Di tempat lain, Amanda dan Alvin sedang berada di meja makan untuk menikmati menu sarapan yang sudah Amanda siapkan.
"Bagaimana, apa kau menyukainya?" tanya Amanda yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.
"Setelah ini aku akan mengantarmu pulang Amanda," ucap Alvin pada Amanda.
"Kenapa? apa kau akan pergi ke suatu tempat?" tanya Amanda.
"Sepertinya aku akan menghabiskan waktuku di ruang kerja, aku tidak ingin kau bosan menungguku disini," jawab Alvin.
"Apa aku tidak boleh ikut masuk ke ruang kerja? aku janji aku tidak akan mengganggumu!"
"Bukankah kau tahu aku selalu sendirian di ruang kerja, aku tidak bisa mengerjakan pekerjaanku saat ada seseorang disana!"
"Kalau begitu aku akan menunggumu di kamarmu."
"Kau tidak bisa berada di dalam kamarku sendirian, kau tahu itu!"
"Apakah aku masih orang lain buatmu Alvin?" tanya Amanda yang membuat Alvin meletakkan sendok di tangannya.
"Amanda, apa setelah perpisahan kita kau melupakan semuanya tentangku? kau pasti sangat tahu bahwa aku tidak suka jika seseorang masuk ke dalam kamarku tanpa ada aku disana, aku sangat tidak suka saat seseorang memegang barang-barang milikku tanpa seizin ku dan aku tidak suka seseorang masuk ke dalam ruang kerjaku, apa kau sudah lupa tentang semua itu?" tanya Alvin dengan menatap kedua mata.
"Aku pikir itu hanya berlaku untuk orang lain," balas Amanda sambil mengunyah makanannya dengan malas
"Tidak ada pengecualian untuk siapapun bahkan untukmu," ucap Alvin dengan tegas.
"Baiklah terserah kau saja," balas Amanda.
"Habiskan makananmu dan pulanglah, jika tidak ingin pulang masuklah ke kamarmu atau lakukan apapun asalkan jangan menggangguku," ucap Alvin lalu beranjak dari duduknya meninggalkan Amanda begitu saja.
Amanda hanya terdiam menahan kesal karena sikap Alvin padanya.
"Ternyata dia masih sama seperti dulu, selalu bersikap berlebihan," batin Amanda kesal.
Alvin masuk ke dalam kamarnya mengambil beberapa berkas dan laptopnya lalu membawa masuk ke ruang kerjanya.
Alvin mengunci pintu ruang kerjanya lalu menaruh berkas-berkas dan laptop di atas meja.
Bukannya duduk untuk mengerjakan pekerjaannya, Alvin malah menjatuhkan dirinya di atas sofa yang ada di ruang kerjanya.
Alvin memejamkan matanya menutup kedua matanya dengan lengan tangannya.
"apa yang sebenarnya terjadi padaku, apa aku sudah membuat pilihan yang tepat? apa aku sudah melakukan hal yang benar? tapi kenapa aku ragu? kenapa semua ini terasa asing bagiku dan kenapa aku merasa tidak benar-benar bahagia saat ini?" batin Alvin bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Sejak mengetahui hubungan Nerissa dengan Daniel, bayang-bayang Nerissa seolah tak pernah lepas dari kepalanya, apapun yang dilihatnya, kemanapun ia pergi selalu ada Nerissa yang mengganggu pikirannya.
Bahkan tak jarang saat sedang mengobrol bersama Amanda, Alvin hanya terdiam karena memikirkan Nerissa, membuat Amanda kesal dan marah padanya.
**
Sinar jingga mulai tergores di ujung langit barat saat Daniel menghentikan mobilnya di depan rumah Nerissa.
Daniel Nerissa Cordelia dan Marinpun turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah.
Mereka semua menjatuhkan diri di sofa yang ada di ruang tamu, tak ada wajah yang bersemangat dari para gadis yang ada di sana saat itu, hanya Daniel yang tersenyum seperti tidak memikirkan apapun.
"Aku sudah bilang bukan, tidak ada yang sia-sia dari perjalanan panjang kita," ucap Daniel.
"Apa yang kita dapat dari perjalanan panjang ini Daniel? bibi bahkan tidak mau mengatakan yang sebenarnya pada Alvin," tanya Cordelia dengan kesal
Daniel kemudian menaruh ponselnya di meja dan memutar sebuah rekaman. Nerissa, Marin dan Cordelia pun mendengarkan dengan fokus suara yang terdengar dari rekaman itu.
Cordeliapun tersenyum senang saat mendengarkan apa yang ada pada rekaman itu.
"Daniel, kau merekam semua percakapan kita bersama bibi?" tanya Nerissa pada Daniel.
"Iya, aku hanya berjaga-jaga saja dan ternyata rekaman ini sangat berguna," jawab Daniel.
"Apa kau akan memberikan rekaman ini pada Alvin?" tanya Nerissa penuh semangat.
"Tentu saja, aku akan memotong beberapa bagian dan memberikannya pada Alvin agar dia tahu apa yang sebenarnya terjadi hari itu," jawab Daniel.
Seketika Nerissa membawa dirinya memeluk Daniel yang duduk di sebelahnya. Daniel yang terkejut hanya diam menerima pelukan Nerissa, ia tidak menyangka Nerissa akan melakukan hal itu padanya.
"Terima kasih Daniel, aku sangat berterima kasih padamu," ucap Nerissa yang masih memeluk Daniel.
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan Nerissa."
Marin yang terkejut saat Nerissa memeluk Daniel hanya diam dan segera mengalihkan pandangannya. Dadanya terasa sesak saat melihat apa yang Nerissa lakukan pada Daniel.
"Sudah sudah jangan berlama-lama berpelukan, kalian hanya membuat aku dan Marin merasa cemburu," ucap Cordelia yang membuat Nerissa melepaskan pelukannya dari Daniel.
"Maaf, aku hanya terlalu senang, aku tidak menyangka Daniel akan merekam percakapan kita di rumah bibi," ucap Nerissa.
"Apa kau juga ingin memelukku Marin?" sahut Daniel bertanya pada Marin.
"Untuk apa aku memelukmu?" balas Marin lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya.
Cordelia yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis karena ia bisa melihat dengan jelas bahwa Marin sedang cemburu saat itu
"Kapan kau akan memberitahu Alvin tentang rekaman itu?" tanya Cordelia pada Daniel.
"Secepatnya," jawab Daniel singkat.
"Baiklah, aku akan pulang, hubungi aku jika kau sudah memberitahu Alvin tentang rekaman itu, aku akan datang ke rumahnya menemuinya dan menertawakan Amanda sepuasnya hahaha....." ucap Cordelia lalu beranjak dari duduknya.
Setelah Cordelia pulang, hanya ada Daniel dan Neissa di ruang tamu.
"Aku benar-benar berterima kasih Daniel, aku tidak tahu apa yang bisa aku katakan selain ucapan terima kasih atas apa yang sudah kau lakukan untuk membantuku," ucap Nerissa pada Daniel.
"Aku hanya ingin kau bahagia Nerissa dan aku tahu kebahagiaanmu bersama Alvin," balas Daniel sambil membelai rambut Nerissa dengan lembut.