Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Terdampar



Nerissa masih berada di Seabert, dia masih duduk di ranjang menemani sang Bunda yang masih terpejam tak berdaya di hadapannya.


Meskipun dalam hatinya Nerissa membenarkan ucapan Marin jika ia harus segera kembali ke daratan untuk mencari mutiara biru, tetapi Nerissa ragu untuk meninggalkan sang Bunda dalam keadaan tak berdaya seperti itu.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, Chubasca dan Beetna berenang masuk dengan raut wajah yang tampak panik.


"Ada apa Beetna, Chubasca? kenapa kalian berdua tampak panik?" tanya Nerissa pada Chubasca dan Beetna.


"Ada sesuatu yang buruk terjadi Putri, aku baru saja mendengar dari ayah bahwa wilayah Selatan sudah didatangi oleh Ran!" jawab Chubasca.


"Didatangi oleh Ran? bukankah Ran masih tersegel di tempat yang jauh dan tidak akan bisa keluar dari sana?" tanya Marin.


"Aku tidak tahu pasti, tetapi ayah mengatakan padaku bahwa lebih dari 90% tanaman di wilayah Selatan sudah menghitam dan beberapa mermaid sudah tidak bisa terselamatkan," jawab Chubasca.


"Sebenarnya aku tidak tahu pasti apakah Ran benar-benar datang atau hanya kekuatannya yang datang untuk memastikan kekuatan yang tercium olehnya, mungkin kau tahu sesuatu Putri?" ucap Beetna pada Nerissa.


Nerissa terdiam mendengar ucapan Beetna. Ia baru sadar ia sudah menggunakan kekuatannya di lautan, ia lupa bahwa ia tidak boleh menggunakan kekuatannya di lautan karena itu akan mengundang kedatangan Ran.


Kekuatan yang Nerissa gunakan bisa tercium oleh Ran dan hal itu membuat Ran mencari sumber dari kekuatan yang dicium olehnya, sudah pasti hal itu sangat membahayakan tidak hanya untuk Nerissa tapi untuk seluruh rakyat Seabert.


"Maafkan aku, ini semua salahku," ucap Nerissa yang merasa bersalah karena sudah lalai dalam menggunakan kekuatannya.


"Apa maksudmu Putri? apa kau ada hubungannya dengan hal ini?" tanya Chubasca tak mengerti.


"Aku tidak seharusnya menggunakan kekuatanku disini, tetapi tanpa sadar aku menggunakannya dan hal itu membuat Ran mendatangi Seabert karena mencium kekuatan yang aku gunakan," ucap Nerissa menjelaskan.


"Jadi apa Ran benar benar sudah datang?" tanya Marin.


"Dia bisa merasakan kekuatan yang aku gunakan disini, mungkin sekarang dia hanya bisa menyerang tanpa bisa mendatangi kita, tapi jika semakin banyak dia mencium kekuatanku bukan tidak mungkin dia akan terbebas dari segelnya," jawab Nerissa.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang putri? jika dibiarkan Ran akan semakin jauh memasuki wilayah Seabert!" tanya Chubasca pada Nerissa.


"Aku akan pergi dari sini agar Ran tidak mencium kekuatanku lagi, aku akan kembali ke daratan saat ini juga," jawab Nerissa.


"Itu sangat berbahaya Putri, manusia akan melihatmu jika kau pergi ke daratan sekarang!" ucap Beetna pada Nerissa.


"Tidak ada pilihan lain Beetna, aku harus segera pergi dan Marin tinggallah disini karena akan sangat berbahaya jika kau ikut denganku, bisa jadi kekuatan Ran akan mengikuti sebelum aku sampai ke daratan!"


"Tidak Putri, aku akan tetap ikut denganmu!" ucap Marin.


"Ini sangat berbahaya Marin, tolong mengertilah, kita tidak tau seberapa besar kekuatan Ran yang menyerang kita nanti, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu!"


"Begitu juga aku Putri, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, kita akan saling menjaga satu sama lain, aku mohon izinkan aku ikut denganmu, aku sudah berjanji pada Ratu Nagisa untuk selalu mendampingimu Putri!"


Nerissa kemudian membawa pandangannya pada Chubasca, bagaimanapun juga ia tidak ingin menempatkan Marin pada keadaan yang berbahaya.


"Aku tidak akan mencegah Marin untuk ikut denganmu Putri, apapun keputusan kalian berdua aku akan menyetujuinya," ucap Chubasca yang seolah mengerti pandangan mata Nerissa padanya.


"Aku memang tidak bisa menjamin keselamatanmu Marin, tapi aku akan berjanji untuk selalu berusaha melindungimu!" ucap Nerissa pada Marin.


"Apapun yang terjadi aku akan selalu bersamamu Putri, kita hadapi dan kita selesaikan bersama semua masalah yang ada di hadapan kita!" ucap Marin.


Nerissa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu memeluk Marin.


"Terima kasih Marin, kau memang teman yang baik!" ucap Nerissa.


"Ayo Putri, kita harus segera pergi, kita tidak mempunyai banyak waktu disini!" ucap Marin.


Nerissa kemudian membawa pandangannya pada sang Bunda yang masih terpejam, ia meraih tangan sang Bunda lalu menciumnya.


Nerissa juga memberikan kecupannya di kening sang Bunda sebelum ia pergi mencari mutiara biru yang akan menyelamatkan sang Bunda dan Seabert.


"Tolong jaga Bunda dengan baik Chubasca, Beetna, aku percaya pada kalian berdua!" ucap Nerisaa pada Chubasca dan Beetna.


"Aku dan Beetna akan menjaga Ratu Nagisa dengan lebih baik lagi Putri, kau jangan terlalu mengkhawatirkan keadaan Seabert, segera temukan mutiara biru itu dan kembalilah kesini!" ucap Chubasca yang dibalas anggukan kepala Nerissa.


"Pergilah ke sisi Utara pantai Pasha Putri, disana lebih aman dibanding dengan pantai Pasha yang biasa kalian datangi, Ratu Nagisa yang memberitahu hal itu padaku dan Chubasca saat kami pertama kali pergi ke daratan," ucap Beetna pada Nerissa dan Marin.


Nerissa dan Marin kompak menganggukkan kepala mereka, mereka semua pun bergantian berpelukan sebelum akhirnya Nerissa dan Marin keluar dari ruangan Ratu Nagisa.


Nerissa dan Marin berenang ke arah dedaunan tinggi yang mereka lewati sebelum memasuki ruangan Ratu Nagisa.


Setelah berhasil keluar dari dedaunan yang tinggi itu Nerissa dan Marin kompak membawa pandangan mereka ke arah selatan.


Dari jauh tampak seperti kabut tebal yang menyelimuti wilayah selatan.


"Apa itu tanda kedatangan Ran, Marin?" tanya Nerissa pada Marin.


"Sepertinya begitu Putri, kita harus segera pergi dari sini sebelum Ran semakin merusak Seabert!" balas Marin.


Nerissa menganggukkan kepalanya kemudian berenang menjauh dari istana bersama Marin.


"Apa kau tahu arah untuk menuju ke bagian utara pantai Pasha, Putri?" tanya Marin pada Nerissa.


"Aku tidak tahu pasti Marin, aku hanya mengikuti kibasan ekorku saja," balas Nerissa.


"Aku percaya padamu Putri, kita akan sampai kesana dengan aman," ucap Marin yang dibalas anggukan kepala Nerissa.


Setelah beberapa lama berenang Nerissa tiba-tiba berhenti lalu membawa pandangannya ke sekelilingnya.


"Ada apa Putri? apa kau lelah?" tanya Marin yang ikut berhenti berenang.


"Aku seperti merasakan sesuatu yang buruk mendekat ke arah kita Marin," ucap Nerissa dengan raut wajah waspada.


"Apa kau melihat sesuatu Putri? apa kekuatan Ran sudah semakin mendekat padamu?" tanya Marin yang ikut mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


"Aku tidak tahu pasti, ayo berenang lebih cepat agar kita semakin menjauh dari sini!" ucap Nerissa lalu mempercepat kibasan ekornya.


Marin sedikit kesusahan mengimbangi kecepatan berenang Nerissa, membuatnya cepat kelelahan dan kehabisan tenaganya.


Nerissa berbalik lalu menarik tangan Marin, membawa Marin berenang lebih cepat karena ia merasa sesuatu yang buruk semakin mendekat ke arahnya.


Benar saja, tak lama kemudian gulungan ombak tiba-tiba menerjang mereka berdua. Gulungan ombak itu seolah berputar hanya ke arah mereka berdua, membuat mereka berdua sempat tergulung ombak beberapa lama.


"Putri tolong aku!" teriak Marin yang masih berada dalam gulungan ombak.


Nerissa yang sudah berhasil membebaskan dirinya segera meraih tangan Marin dan menarik Marin dari gulungan ombak yang mengitari Marin.


Tanpa banyak bicara Nerissa menggenggam tangan Marin dengan erat lalu berenang dengan cepat untuk menjauh dari gulungan ombak itu.


"Apa itu tanda kedatangan Ran, Putri?" tanya Marin yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Nerissa.


"Putri sepertinya gulungan ombak itu semakin banyak!" ucap Marin yang melihat ke arah belakangnya.


Nerissa hanya diam dengan berusaha untuk mempercepat kibasan ekornya untuk menghindari gulungan ombak yang mengejar mereka berdua.


"Putri, sepertinya ada kapal di depan sana!" ucap Marin sambil menunjuk ke arah kapal yang berada tidak jauh dari mereka berdua.


"Pergilah ke kapal itu Marin, aku akan pergi ke arah lain agar gulungan ombak itu tidak menghancurkan kapal itu!" ucap Nerissa sambil mendorong Marin ke arah kapal.


"Aku akan menemuimu di sisi utara pantai Pasha Marin, tunggu aku disana!" ucap Nerissa lalu berenang menjauh.


"Aaaaaa Putriiiii..... tolong aku!!!!" ucap Marin berteriak yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Marin.


Dilihatnya ekor Marin tersangkut pada salah satu bagian bawah kapal. Nerissapun segera berenang ke arah Marin, membantu Marin untuk melepaskan ekornya yang tersangkut.


Marin yang juga berusaha untuk melepaskan ekornya tanpa sengaja tangannya menggores sesuatu yang tajam yang ada pada kapal itu.


"Ooh tidak, kau berdarah Marin, aku akan menyembuhkanmu!" ucap Nerissa yang hendak menyentuh tangan Marin untuk menyembuhkan lukanya, namun Marin segera menarik tangan Nerissa yang menyentuhnya.


"Jangan menggunakan kekuatanmu disini Putri, kau hanya akan membuat Ran semakin mendekat, tolong lepaskan saja ekorku!" ucap Marin yang dibalas anggukan kepala Nerissa.


Karena terlalu fokus untuk berusaha melepaskan ekor Marin yang tersangkut, tanpa mereka berdua sadari gulungan ombak yang lebih besar datang menghantam Nerissa dan Marin.


Tidak hanya menyerang Nerissa dan Marin, gulungan ombak itu juga menghantam kapal di atasnya, membuat kapal terombang-ambing tanpa arah.


Nerissa yang berada di dalam gulungan ombak bersama Marin berusaha untuk menyelamatkan dirinya. Namun kekuatan gulungan ombak itu semakin kuat membuat Nerissa kesulitan untuk keluar dari gulungan ombak yang mengitari dirinya dan Marin.


"tidak..... aku tidak bisa berakhir seperti ini, aku harus berhasil keluar dari sini, aku harus menyelamatkan Bunda dan membawa Seabert ke dalam kedamaian seperti dulu," ucap Nerissa dalam hati sambil berusaha untuk keluar dari golongan ombak.


Hingga akhirnya Nerissa berhasil menembus gulungan ombak itu dengan menarik tangan Marin agar ikut keluar bersamanya, namun baru saja ia dan Marin keluar, gulungan ombak yang lebih besar kembali menerjang mereka berdua membuat mereka berdua terhempas jauh dan terombang-ambing tanpa arah beberapa saat.


Dalam keadaan yang sangat menyulitkan itu, Nerissa hanya bisa berharap kekuatan mahkota yang ia pakai bisa menyelamatkannya.


"aku percaya ini bukan mahkota biasa, mahkota pemberian ayah dan Bunda, aku yakin kau bisa menyelamatkanku dari keadaan ini dan tolong beri aku kekuatan untuk bisa menyelamatkan Marin dan siapapun yang bisa terjangkau olehku," ucap Nerissa dalam hati.


Nerissa kemudian memejamkan matanya, membiarkan dirinya terhempas oleh gulungan ombak yang pada akhirnya mendaratkannya di bawah batu karang besar di tepi pantai.


Menyadari sudah tidak ada pergerakan yang menghempas tubuhnya, Nerissapun membuka matanya dan begitu terkejut saat ia berada di atas pasir pantai.


Nerissa melihat ke sekelilingnya dan beruntung tidak ada satupun manusia di sekitarnya, Nerissa segera memutar gelang mutiaranya sebanyak 7 kali, membuat ekornya seketika berubah menjadi sepasang kaki.


Nerissa segera membawa pandangannya mencari keberadaan Marin, namun bukannya menemukan Marin, Nerissa malah melihat kapal besar yang berada tak jauh dari tempatnya saat itu.


Banyak teriakan manusia yang ia dengar dan beberapa dari mereka tampak keluar dari kapal, bahkan yang lainnya sudah berada di tepi pantai.


"Marin, dimana kau? apa kau sudah merubah ekormu?" tanya Nerissa dalam hati sambil berjalan mencari keberadaan Marin.


Nerissa berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Marin, ia berharap tidak akan ada manusia yang melihat Marin dengan ekornya.


"Sepertinya aku melihat ikan besar disana, ekornya sangat bagus!" ucap seseorang yang berada tak jauh dari Nerissa.


Mendengar hal itu Nerissa segera memfokuskan pendengarannya pada seseorang itu.


"Kepalamu sepertinya baru saja terbentur, tidak mungkin ada ikan besar di tepi pantai seperti ini, ayo cari teman teman kita yang lain!" balas seseorang yang lain.


"Aku benar benar melihatnya disana, ekornya sangat besar dan....."


"Tidak mungkin, temanmu benar, tidak mungkin ada ikan besar disini," sahut Nerissa memotong ucapan seseorang itu.


"Ayo pergi!" ucap seseorang yang lain sambil menarik tangan temannya.


Sepeninggalan dua manusia itu, Nerissa segera membawa langkahnya ke arah manusia itu menunjuk ikan besar yang dilihatnya.


Benar saja, Nerissa melihat ekor yang sangat ia kenal. Nerissa segera berlari ke arah ekor itu dan mendapati Marin yang terbaring di pasir pantai dengan kedua mata yang terpejam.


"Marin!!"


Nerissa bersimpuh di dekat Marin, berusaha untuk menyadarkan Marin, namun Marin masih terpejam dan tidak bergerak sama sekali.


"Sepertinya aku yang harus memutar gelang mutiara milik Marin," ucap Nerissa lalu memutar gelang mutiara Marin sebanyak 7 kali.


Namun tidak ada apapun yang terjadi, ekor Marin tidak berubah menjadi kaki seperti sebelumnya.


"Apa yang harus aku lalukan sekarang? kenapa ekor Marin tidak berubah menjadi kaki?" tanya Nerissa tidak mengerti.


Nerissa kembali menyentuh wajah Marin, menggoyang goyangkan sedikit tangan Marin agar Marin terbangun.


Namun Marin masih terpejam dan tidak bergerak sama sekali. Karena terlalu panik melihat ekor Marin yang tidak bisa berubah, Nerissa tidak menyadari jika kepala Marin sedang berdarah saat itu.


Semakin lama, pantai itu semakin ramai oleh para manusia karena adanya kapal besar yang terseret ombak ke tepi pantai.


Riuh sirine ambulans mulai terdengar karena banyaknya korban yang terluka akibat dari kecelakaan kapal yang terjadi saat itu.


Nerissapun semakin panik karena Marin tak kunjung membuka matanya. Nerissa kemudian menggeser tubuh Marin untuk bersembunyi di bawah karang besar, berharap tidak akan ada manusia yang melihat Marin dalam keadaan seperti itu.


"Aku mohon bangunlah Marin, aku benar benar tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak tau apa yang akan terjadi jika ada manusia yang melihat kita disini," ucap Nerissa dengan berusaha menyadarkan Marin dengan menepuk nepuk pelan pipi Marin.