Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Mutiara Nerissa



Nerissa beranjak dari duduknya yang membawa sepedanya meninggalkan minimarket lalu kembali ke toko bunga.


Sesampainya di toko bunga, Nerissa menjatuhkan dirinya di kursi di sebelah Marin.


Nerissa menghela nafasnya panjang dan menyandarkan punggungnya di kursi dengan menutup matanya.


"Ada apa Putri? apa ada masalah dengan pelanggan kita?" tanya Marin pada Nerissa.


Nerissa hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa menjawab pertanyaan Marin.


"Marin, menurutmu bagaimana hubungan Alvin dan Delia?" tanya Nerissa pada Marin.


"Sepertinya mereka cukup dekat l, mungkin Alvin berteman dekat dengannya seperti dia berteman dengan Daniel," jawab Marin.


"Hanya berteman?"


"Mungkin aku tidak terlalu memahami hubungan mereka Putri, tapi yang pasti mereka cukup dekat, memangnya kenapa? apa kau cemburu pada Cordelia?"


"Tidak, aku hanya...... ingin tahu saja seperti apa hubungan mereka sebenarnya!" balas Nerissa.


"Tanyakan saja pada Alvin, dia pasti akan berkata jujur padamu, aku yakin itu!" ucap Marin.


"Aku sudah menanyakannya dan dia berkata jika dia hanya menganggap Delia sebagai adiknya, tetapi sepertinya Delia menganggap Alvin lebih dari itu!"


"Yang penting Alvin tidak menganggapnya lebih dari itu!" balas Marin.


"Delia sangat cantik Marin, mana mungkin ada laki-laki yang menolak perasaanya?"


"Ada," sahut Alvin yang tiba-tiba datang menghampiri Nerissa dan Marin.


Tanpa sepengetahuan Nerissa dan Marin, Alvin sudah berada di sana saat Nerissa baru saja sampai di toko bunga. Alvin mendengarkan semua percakapan Nerissa dan Marin dari depan toko bunga.


Nerissa dan Marin segera membawa pandangan mereka ke arah Alvin karena terkejut dengan kedatangan Alvin yang tiba-tiba.


Marin kemudian mundur beberapa langkah sampai akhirnya ia menjauh dari Nerissa, membiarkan Alvin berjalan mendekati Nerissa.


"Alvin, sejak kapan kau berada di sana?" tanya Nerissa gugup.


"Sejak kau baru saja sampai, sebenarnya aku ingin langsung masuk tapi sepertinya kalian sedang membicarakan masalah penting jadi aku menunggu di depan," jawab Alvin.


"Apa kau mendengar obrolanku dengan Marin?" tanya Nerissa memastikan.


"Siapapun yang berdiri di sana pasti akan mendengar semua pembicara kalian," jawab Alvin dengan tersenyum.


"Maaf aku tidak bermaksud untuk membicarakanmu dan Delia aku hanya.... aku......"


"Tidak apa, aku tidak mempermasalahkan itu, yang menjadi masalah adalah saat kau berkata bahwa tidak ada laki-laki yang bisa menolak perasaan Delia, karena menurutku itu tidak benar!"


Mendengar ucapan Alvin, Nerissa mengangkat kepalanya menatap laki laki yang berdiri di depan meja yang berada di hadapannya.


"Kau memang benar, Delia memang cantik tapi bukan itu yang membuat laki-laki menjatuhkan hati pada seorang gadis, laki-laki yang baik tidak hanya menilai dari cantik wajahnya tapi juga dari kecantikan hatinya," ucap Alvin menjelaskan.


Nerissa hanya diam mendengarkan ucapan Alvin.


"Perasaan yang tulus itu timbul tanpa alasan apapun Nerissa, secantik apapun sebaik apapun dan semenarik apapun seorang gadis tidak akan bisa merubah perasaan yang tulus dalam hati seseorang, begitu juga sebaliknya apapun dan bagaimanapun yang dilakukan gadis lain jika seseorang laki-laki sudah mempunyai perasaan tulus padanya maka ia akan menerimanya tanpa mempermasalahkan perbedaan apapun yang ada di antara keduanya," ucap Alvin dengan menatap kedua mata Nerissa.


"Perbedaan apapun?" tanya Nerissa mengulangi 2 kata yang Alvin ucapkan.


"Iya, apapun itu jika mereka memiliki perasaan yang tulus satu sama lain maka tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka," jawab Alvin dengan penuh keyakinan.


Nerissa tersenyum mendengarkan ucapan Alvin, ia merasa perbedaan di antara dirinya dan Alvin tidak akan menjadi masalah jika mereka memiliki hubungan khusus.


"Kenapa kau ke sini? apa kau mau membeli bunga?" tanya Nerissa pada Alvin.


"Tidak, aku hanya ingin memberitahumu bahwa Daniel mengajakmu makan malam nanti," jawab Alvin.


"Kenapa dia tidak mengatakannya langsung padaku?" tanya Nerissa.


"Entahlah, dia hanya mengatakan hal itu padaku, dia akan menjemputmu nanti malam jika kau mengiyakan ajakannya," jawab Alvin.


"Maaf Alvin, sepertinya aku tidak bisa, ada hal lain yang harus aku lakukan bersama Marin nanti malam," balas Nerissa.


"Apa kau masih marah pada Daniel? apa kau masih kecewa padanya?" tanya Alvin.


"Tidak, aku sudah melupakan masalah yang kemarin, aku juga sudah memaafkannya," jawab Nerissa.


"Apa kau tidak bisa meluangkan sedikit waktu untuk Daniel nanti malam? dia sudah menyiapkan tempat untuk kalian makan malam, dia......"


"Alvin aku benar-benar tidak bisa," ucap Nerissa memotong ucapan Alvin.


"Baiklah kalau begitu, aku akan memberitahunya nanti," ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.


Alvin kemudian meninggalkan toko bunga Marin dan kembali ke kantor karena jam makan siangnya sebentar lagi akan selesai.


Sesampainya Alvin di kantor ia segera berjalan kearah ruangannya diikuti oleh Daniel yang sudah menunggunya.


"Bagaimana? apa dia mau makan malam bersamaku?" tanya Daniel pada Alvin.


"Dia sedang sibuk nanti malam, jadi sebaiknya kau mengajaknya lain waktu saja," jawab Alvin.


Daniel kemudian menjatuhkan dirinya di kursi di hadapan Alvin, Daniel menundukkan kepalanya lemas tak bersemangat mendengar jawaban Alvin.


"Sepertinya dia masih marah dan kecewa padaku," ucap Daniel.


"Tidak, bukankah dia sudah memaafkanmu?"


"Iya dia memang berkata jika dia sudah memaafkanku tapi sikapnya yang dingin padaku cukup membuktikan kalau dia masih menyimpan kekecewaan padaku!" balas Daniel.


"Jangan terlalu berpikiran negatif Daniel, mungkin memang ada hal lain yang lebih penting yang harus dia lakukan kan," ucap Alvin.


"Entahlah, aku merasa sepertinya dia masih marah padaku!" balas Daniel.


"Itu artinya kau harus lebih berusaha lagi agar dia benar-benar memaafkanmu, kau tahu mungkin dia sudah memaafkanmu tapi susah untuk menghilangkan rasa kecewa yang pernah dia rasakan padamu," ucap Alvin.


"Kau benar, memaafkan memang lebih mudah daripada melupakan," balas Daniel tak bersemangat


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan cepat kembali ke ruanganmu dan selesaikan pekerjaanmu!"


Daniel kemudian beranjak dari duduknya dan berniat untuk keluar dari ruangan Alvin namun ia kembali berbalik dan duduk di hadapan Alvin.


"Ada apa lagi?" tanya Alvin sambil fokus pada layar komputer di hadapannya


"Siapapun mereka bukan masalah buatku," balas Alvin santai.


"Apa kau ingat mutiara yang Nerissa bahwa saat ulang tahun Cordelia? ternyata itu bukan mutiara biasa Alvin, itu mutiara yang berasal dari laut dalam yang bahkan tidak sembarang orang bisa memilikinya," ucap Daniel yang membuat Alvin segera membawa pandangannya pada Daniel.


"Dari mana kau tahu?"


"Delia yang memberitahuku, dia benar-benar membawa mutiara itu pada seseorang yang sudah profesional di bidangnya dan seseorang itu pun terkejut karena Delia memiliki mutiara itu, tidak hanya satu tetapi lima, kau tahu berapa uang yang bisa didapatkan dengan 5 mutiara itu?"


Alvin menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Daniel.


"5 mutiara itu bahkan bisa membeli Atlanta group," jawab Daniel yang membuat Alvin tertawa kecil.


"Kau ada-ada saja, mana mungkin perusahaan bisa dibeli dengan hanya 5 butir mutiara," ucap Alvin tak percaya.


"Tapi Delia sendiri yang mengatakan hal itu padaku, dia juga sempat tidak percaya tapi seseorang yang memberitahunya itu benar-benar seseorang yang sudah profesional di bidangnya," ucap Daniel meyakinkan.


"Mungkin seseorang itu bisa dipercaya, tapi apa kau benar-benar percaya pada Delia?" balas Alvin yang membuat Daniel hanya diam.


"Sudahlah Daniel, jika kau memang menyukai Nerissa bagaimanapun dia yang sebenarnya kau harus bisa menerimanya, jika kau masih ragu pada perasaanmu lebih baik jangan mendekatinya," ucap Alvin pada Daniel.


Daniel hanya menghela nafasnya kemudian keluar dari ruangan Alvin begitu saja.


Sedangkan Alvin yang hendak melanjutkan pekerjaannya menjadi tidak fokus karena memikirkan ucapan Daniel padanya.


5 mutiara itu bahkan bisa membeli Atlanta group


"apa benar yang Daniel ucapkan? apa Delia tidak sedang bergurau pada Daniel? bagaimana mungkin 5 butir mutiara bisa seharga perusahaan? bukankah itu terlalu berlebihan? dan lagi jika mutiara itu bukan mutiara biasa kenapa Nerissa memberikan barang berharga itu pada Delia?"


Alvin menggelengkan kepalanya pelan, menyeruput minuman di hadapannya agar kembali fokus pada pekerjaannya.


"perempuan memang sulit dimengerti," batin Alvin dalam hati kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.


**


Di tempat lain Cordelia turun dari mobilnya dan berjalan ke sebuah toko bunga. Cordelia berjalan masuk dan memperhatikan sekelilingnya sebelum akhirnya seseorang menyambutnya.


"Selamat datang di Marin Florist," sapa si pemilik toko bunga dengan ramah meski ia tahu jika pelanggan yang datang adalah seorang gadis yang sangat menyebalkan baginya.


"Tidak perlu berbasa-basi, aku ke sini untuk menemui Nerissa, di mana dia?" ucap Delia sekaligus bertanya.


"Dia masih mengantar pesanan bunga, duduklah jika ingin menunggunya dan pergilah jika kau hanya ingin membuat keributan di sini," balas Marin.


Cordelia hanya diam kemudian duduk di salah satu bangku yang ada di sana.


"toko bunga ini memang kecil, bahkan sangat kecil dibanding toko bunga yang sering aku datangi tapi entah kenapa tempat ini terasa begitu nyaman, berbeda dengan toko bunga lain yang pernah aku datangi sebelumnya," ucap Delia dalam hati sambil memperhatikan setiap sudut toko bunga Marin.


selama Cordelia berada di sana sudah ada beberapa pelanggan yang datang dan dengan ramah marin melayani mereka semua.


"apa dia juga tahu tentang mutiara yang Nerissa berikan padamu? siapa sebenarnya nerissa dan marin? apakah mereka bukan penjual bunga biasa? tidak..... tidak mungkin, lihat saja cara berpakaian nya, sama sekali tidak menunjukkan derajat yang tinggi sama sekali, tapi mutiara itu....... bagaimana Nerissa bisa mendapatkannya dia bahkan memberikannya padaku secara cuma-cuma!"


Sampai beberapa lama Cordelia menunggu, Nerissa tidak juga datang karena tanpa Cordelia tahu Marin sudah mengirimkan pesan pada Nerissa agar tidak segera pulang karena ia takut Cordelia akan membuat kegaduhan seperti sebelumnya.


Setelah bosan menunggu, Cordeliapun menyerah.


"Kenapa dia belum juga kembali? tanya Cordelia pada Marin.


"Dia sedang mengantar bunga ke tempat yang sedikit lebih jauh, mungkin beberapa menit lagi dia akan datang itu pun jika kau sabar menunggunya," jawab Marin.


"Aku sudah berada di sini lebih dari 1 jam dan kau masih memintaku untuk menunggunya, apa kau pikir aku akan menghabiskan waktuku untuk hal yang tidak penting seperti ini?"


"Pergilah jika kau ingin pergi, tidak ada yang menahanmu di sini!" balas Marin dengan tersenyum penuh kemenangan.


Cordelia hanya tersenyum tipis kemudian berjalan meninggalkan toko bunga Marin.


Setelah memastikan Cordelia pergi, Marin pun menghubungi Nerissa dan meminta Nerissa untuk segera pulang.


Tak lama kemudian Nerissa datang dan menghampiri Marin.


"Apa kita harus menutup toko bunga lebih awal hari ini? aku tidak ingin dia kembali lagi Putri!" tanya Marin pada Nerissa.


"Bagaimana dengan pelangganmu? mereka pasti akan kecewa!"


"Tidak, hanya hari ini saja aku benar-benar tidak ingin melihat wajahnya lagi di sini!" balas Marin.


"Baiklah, aku akan membantumu menutup toko bunga lebih awal!"


Nerissa dan Marin pun mulai bersiap untuk menutup toko bunga, setelah toko bunga selesai ditutup Nerissa dan Marin pun masuk ke dalam rumah.


"Apa kau yakin tidak ingin makan malam bersama Daniel, Putri? kita bisa pergi ke laut lain kali jika kau ingin makan malam bersama Daniel hari ini!" ucap Marin pada Nerissa.


"Tidak marin, aku bisa bertemu Daniel lain kali, sekarang aku harus pergi ke laut, kau tahu aku sangat merindukan ekorku dari kemarin!"


"Baiklah jika kau sudah yakin, ayo bersiap dan segera pergi ke pantai!" ucap Marin dibalas anggukan kepala Nerissa.


Setelah selesai bersiap, mereka pun memesan taksi yang akan mengantar mereka pergi ke pantai.


Mereka bermain di pantai sampai malam tiba. Setelah memastikan sudah tidak ada siapapun disana Nerissa dan Marin pun bersiap untuk mengganti kedua kaki mereka dengan sebuah ekor yang sudah mereka rindukan.


Nerissa dan Marin berjalan ke bawah batu karang besar setelah mereka melepaskan alas kaki mereka.


mereka merendam tubuh mereka terlebih dahulu kemudian bersama-sama memutar gelang mutiara pemberian Ratu Nagisa 7 kali dan dengan bersamaan kaki mereka pun berubah menjadi ekor.


Nerissa mengibaskan ekornya dengan penuh semangat, tanpa menunggu lama Nerissa segera menceburkan dirinya ke dalam lautan yang lebih dalam diikuti oleh Marin.


Nerissa dan Marin berenang dengan bebas melepaskan kerinduan mereka pada ekor yang sudah lama tidak mereka rasakan.


Di sisi lain tanpa Nerissa dan Marin tahu, sebuah mobil berhenti di tempat parkir pantai itu.


Alvin kemudian turun dari mobilnya dan berjalan ke arah pantai.


Seperti biasa Alvin akan melepas sepatunya kemudian berjalan ke arah bibir pantai membiarkan air pantai menyapu kakinya kemudian naik ke atas batu karang besar dan menatap hamparan gelap di hadapannya.


Suara gemuruh ombak di tengah kegelapan malam selalu berhasil membuat dirinya tenang. Saat ia merasa stress dengan pekerjaan di kantor ia selalu menyempatkan waktunya untuk berdiam diri di tempat yang sama yaitu di atas batu karang di pantai Pasha.


Belaian angin malam yang dingin seolah menjadi teman yang setia memeluk Alvin setiap malam. Tiba-tiba Alvin membelalakkan matanya, ia memfokuskan pandangannya pada apa yang ia lihat diantara kegelapan laut malam.


Matanya menangkap sebuah ekor berwarna merah muda yang berkilau di tengah kegelapan laut malam.