
Marin yang awalnya sangat terkejut dengan keberadaan Daniel tiba-tiba saja menjadi sangat kesal melihat sikap Daniel yang terlihat sombong di hadapannya.
Marinpun segera berjalan pergi begitu saja, namun tiba-tiba seseorang menahan tangannya dari belakang membuat Marin segera berbalik dan hampir saja terjatuh jika Daniel tidak segera menahan dirinya.
Untuk beberapa saat Daniel dan Marin saling menatap. Sebuah senyum yang selama ini Marin rindukan tergambar nyata di hadapannya. Daniel kemudian membantu Marin untuk kembali berdiri tegak, membuat Marin segera tersadar dari lamunannya.
"Sepertinya kau salah paham padaku," ucap Daniel pada Marin.
"Salah paham tentang apa?" tanya Marin dengan menyembunyikan kegugupannya saat itu karena detak jantungnya kembali berdegup dengan kencang.
"Tentang perempuan yang tadi, aku sama sekali tidak mengenalnya, aku juga tidak bermaksud sombong, aku hanya....."
"Kenapa kau menjelaskannya padaku? lagi pula aku tidak peduli," ucap Marin memotong ucapan Daniel lalu melanjutkan langkahnya berjalan meninggalkan Daniel.
Daniel hanya berdiri di tempatnya dengan menggaruk-garuk tengkuknya. Ia sendiri pun tidak mengerti kenapa ia menjelaskan hal itu pada Marin, seolah ia tidak ingin Marin salah paham padanya.
"Gadis yang menarik," ucap Daniel dengan tersenyum tipis lalu berjalan pergi untuk mencari Alvin.
Si sisi lain, Marinpun berjalan mencari Nerissa karena mereka berpisah sejak mereka keluar dari gubuk kayu.
Dalam hatinya Marin masih memikirkan tentang kejadian yang baru saja terjadi padanya.
Ia tidak menyangka baru saja ia datang ke daratan, takdir sudah membawanya kembali bertemu dengan Daniel.
"tiga kali aku datang ke daratan dan tiga kali juga aku bertemu dengannya, jika yang pertama dia sangat menyebalkan yang kedua dia bersikap sangat manis padaku, tapi yang baru saja dia kembali menjadi Daniel yang sangat menyebalkan seperti yang aku kenal dulu," gerutu Marin dalam hati.
Meski ia tengah menggerutu kesal saat itu, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa ada kebahagiaan yang besar dalam hatinya karena ia bisa bertemu Daniel.
Entah bagaimana selanjutnya hubungannya dengan Daniel, tapi ia tidak akan menyesali keputusannya untuk menjadi manusia seutuhnya demi menemukan kebahagiaannya bersama laki-laki yang dicintainya.
"apa dia juga masih mencintaiku? apa dia akan menyatakan perasaannya padaku seperti dulu suatu hari nanti? ataukah semua akan berubah seiring dengan berjalannya waktu yang dia lalui tanpa aku?" tanya Marin dalam hati dengan raut wajah yang tampak bersedih.
Marin kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia berusaha mengusir jauh-jauh pikiran buruknya tentang Daniel. Apapun yang terjadi ia harus bisa menerimanya karena ia sudah mengorbankan hal terbesar dalam hidupnya untuk bisa hidup di samping Daniel sebagai manusia seutuhnya.
Saat tengah mencari Nerissa, lagi-lagi Marin bertemu Daniel yang datang entah dari mana. Marinpun seketika gugup dan hendak pergi menghindar dari Daniel karena ia tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Daniel yang kini menganggapnya sebagai orang asing setelah Daniel pernah menyatakan perasaan padanya.
"Hei tunggu!" ucap Daniel berteriak namun Marin mengabaikannya. Danielpun berlari kecil sampai ia berhasil mengikuti Marin dan berjalan di samping Marin.
"Tolong jangan salah paham, aku tidak sedang mengikutimu, aku hanya ingin mencari temanku yang tiba-tiba menghilang," ucap Daniel pada Marin.
"Aku tidak peduli," balas Marin singkat yang membuat Daniel semakin penasaran dengan sosok gadis cantik yang kini berjalan di sampingnya.
Di tempat lain Nerissa dan Alvin sedang berada di sebuah gazebo. Alvin baru saja mengobati kaki Nerissa dan membalutnya dengan plester.
"Apa sebaiknya aku mengantarmu ke rumah sakit?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Tidak perlu, ini hanya luka kecil, sebentar lagi pasti sembuh," jawab Nerissa.
"Apa kau yakin?" tanya Alvin memastikan.
"Iya aku yakin, terima kasih sudah membantuku," jawab Nerissa sekaligus berterima kasih.
"Sepertinya kau bukan bagian dari acara ini, apa kau tinggal di sekitar pantai ini?" tanya Alvin pada Nerissa karena ia melihat pakaian Nerissa yang terlihat sederhana, jauh berbeda dengan perempuan lain yang menghadiri pesta itu.
"Mmmmm..... aku..... aku tidak sengaja melihat keramaian disini dan aku hanya ingin melihatnya, apa aku tidak seharusnya datang kesini?" jawab Nerissa sekaligus bertanya.
"Kebetulan pesta ini diadakan oleh temanku jadi tentu saja kau boleh datang kesini," ucap Alvin.
Nerissa terdiam dengan sesekali membawa pandangannya menatap Alvin yang duduk di sampingnya, dalam hatinya ia merasa sangat bahagia karena bisa bertemu dengan Alvin, laki-laki yang sudah membuatnya menukar kehidupan abadinya dengan menjadi manusia seutuhnya.
"apa kabarmu Alvin, sepertinya kau menjalani hidupmu dengan jauh lebih baik saat ini, pasti sudah banyak hal yang terjadi selama aku tidak ada disini, banyak hal yang tidak aku tahu tentangmu sekarang dan aku tidak tahu harus bagaimana memulai untuk mengenalmu dari awal," ucap Nerissa dalam hati.
"Dimana kau tinggal? aku akan mengantarmu pulang," tanya Alvin membuyarkan lamunan Nerissa.
"Aku..... aku bisa pulang sendiri," ucap Nerissa tanpa menjawab pertanyaan Alvin karena iapun tidak tahu dimana ia akan tinggal bersama Marin.
"Kakimu masih terluka, sepertinya akan sulit untukmu berjalan sendirian, apa kau takut jika aku akan berbuat macam-macam padamu?" ucap Alvin sekaligus bertanya pada Nerissa.
"Tentu saja tidak," jawab Nerissa dengan cepat yang membuat Alvin tertawa tiba-tiba.
"Kenapa kau tertawa seperti itu? apa ada yang salah denganku?" tanya Nerissa tak mengerti.
"Kau menjawab pertanyaanku tanpa berpikir terlebih dahulu, padahal kita baru bertemu bahkan kau belum mengetahui namaku, tapi kenapa kau bisa sangat percaya padaku?"
Nerissa terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Alvin.
"bagaimana aku tidak mempercayaimu Alvin, sedangkan aku sudah mempertaruhkan kehidupan abadiku untuk menjadi manusia seutuhnya demi bisa menjalani kehidupan baruku bersamamu," ucap Nerissa dalam hati.
"Kau baru saja mengobati lukaku, aku rasa itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa kau laki-laki yang baik," ucap Nerissa memberi alasan.
"ternyata dia sangat polos sekali, sebenarnya siapa gadis cantik ini, dengan parasnya yang secantik ini laki-laki akan mudah mendekatinya dan memanfaatkannya jika dia bersikap sepolos ini," batin Alvin bertanya dalam hati.
"Kau jangan mudah percaya pada seseorang, apalagi orang itu baru kau temui, meskipun dia terlihat baik tapi belum tentu kebaikannya datang dengan niat yang baik, bisa jadi dia berbuat baik hanya untuk memanfaatkanmu," ucap Alvin pada Nerissa.
"Tapi aku yakin kau tidak seperti itu," ucap Nerissa.
"Kenapa kau sangat yakin seperti itu? apa kau sangat mengenalku atau jangan-jangan kau sudah tahu siapa aku?" tanya Alvin dengan menatap tajam kedua mata Nerissa, membuat Nerissa seketika terdiam menahan kegugupan dalam dirinya.
"Putri!" panggil Marin yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya ke arah Marin yang berlari kecil ke arahnya.
Dalam hatinya Nerissa sangat berterima kasih karena kedatangan Marin mengalihkan obrolannya bersama Alvin saat itu.
"Apa yang terjadi padamu? apa kau terluka?" tanya Marin yang menyadari kaki Nerissa yang tengah berbalut plester saat itu.
"Hanya luka kecil, jangan khawatir!" jawab Nerissa.
"Kau dan....."
Nerissa menghentikan ucapannya karena ia hampir saja mengucapkan nama Daniel, padahal ia belum bertemu Daniel saat itu.
"Daniel, namaku Daniel," ucap Daniel mengulurkan tangannya pada Nerissa.
Marin yang melihat hal itu hanya memutar kedua bola matanya jengah melihat sikap Daniel, karena ia berpikir jika Daniel kembali jatuh cinta pada Nerissa seperti yang terjadi saat mereka pertama kali datang ke daratan.
"Alvin Daniel, ada yang mencari kalian berdua!" ucap seseorang berteriak pada Alvin dan Daniel.
"Sepertinya aku harus pergi, apa kau yakin bisa pulang sendiri? jika tidak kau bisa menungguku disini sebentar, aku bisa mengantarmu pulang!" ucap Alvin pada Nerissa.
"Aku bisa pulang bersama temanku, kau pergilah," balas Nerissa.
"Aku pergi dulu, jangan merindukanku," ucap Daniel berbisik pada Marin yang membuat Marin begitu terkejut.
Danielpun tersenyum dengan melambaikan tangannya pada Marin dan Nerissa lalu berlari pergi bersama Alvin.
"Waah dia benar-benar gila," ucap Marin lalu segera membawa dirinya duduk di samping Nerissa.
Nerissa dan Marinpun saling pandang lalu tersenyum dan tertawa. Mereka berdua bahagia karena bisa bertemu dengan laki-laki yang mereka cintai.
"Kau beruntung Putri, Alvin sangat perhatian padamu, sepertinya dia sudah jatuh cinta padamu," ucap Marin pada Nerissa.
"Entahlah Marin, aku tidak mau terlalu berharap, aku hanya akan menjalaninya dengan pelan-pelan, bagaimana dengan Daniel?" balas Nerissa bertanya.
"Aku senang bisa bertemu dengannya, tetapi dia membuatku sangat kesal, dia masih saja sama seperti Daniel yang pertama kali aku temui saat aku pertama kali ke daratan bersamamu," jawab Marin.
"Tapi bukankah baru saja dia menggodamu?" tanya Nerissa sambil menyenggol lengan tangan Marin.
"Bukankah kau tahu bahwa dia jahil?" balas Marin yang membuat Nerissa terkekeh.
"Lalu kemana kita akan pergi sekarang Marin? kita tidak mungkin berada disini terus bukan?" tanya Nerissa pada Marin.
Marinpun mengeluarkan beberapa dokumen yang ada di dalam tasnya, begitu juga dengan Nerissa. Mereka berdua lalu mencocokkan dokumen milik mereka berdua.
"Kita tinggal di alamat yang sama Putri, jadi kita harus datang ke alamat ini," jawab Marin.
"Tapi sebelum itu bukankah kita membutuhkan uang?" tanya Nerissa sambil memamerkan mutiara yang ada di dalam tasnya.
Marin menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu segera membantu Nerissa untuk turun dari gazebo dan berjalan pergi meninggalkan pantai.
"Apa kau yakin tidak perlu ke rumah sakit Putri? kau pasti merasa sangat sakit bukan?" tanya Marin mengkhawatirkan Nerissa.
"Ini memang terasa sakit, tapi mungkin akan sembuh dalam beberapa hari lagi, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya," jawab Nerissq.
Setelah marine dan Nerissa memiliki uang yang mereka butuhkan, mereka berduapun membeli beberapa barang penting yang harus mereka miliki lalu pergi ke alamat dimana mereka akan tinggal.
Sesampainya di alamat yang dituju, Marin dan Nerissa pun bersorak senang melihat rumah yang akan mereka tempati.
**
Hari demi haripun berlalu, Nerissa dan Marin sudah membeli banyak perabotan rumah tangga untuk melengkapi isi rumah.
Marin juga memutuskan untuk membuka toko bunga seperti dulu karena bagaimanapun juga mereka harus bekerja dan memiliki penghasilan dengan modal mutiara yang mereka miliki.
Meskipun pada saat-saat tertentu Nerissa akan bertemu dengan sang Bunda, namun Nerissa tidak akan meminta mutiara pada sang Bunda untuk melanjutkan kehidupannya di daratan.
Sebagai manusia seutuhnya Nerissa tidak bisa bergantung pada sang Bunda, ia harus bisa melanjutkan kehidupannya layaknya manusia pada umumnya yaitu dengan bekerja dan menghasilkan uang bersama Marin.
Sama seperti dulu saat mereka pertama kali datang ke daratan, Marin sebagai pemilik toko bunga itu sedangkan Nerissa bekerja sebagai pengantar buket bunga pesanan pelanggan.
Namun Nerissa dan Marin tidak sendirian, ada beberapa orang yang mereka percaya untuk bekerja di toko bunga Marin. Mereka sudah menyeleksi dengan ketat beberapa orang itu agar kejadian buruk yang pernah terjadi pada Marin tidak terulang lagi.
Nerissa dan Marinpun semakin bisa membaur dengan manusia lainnya, mereka menjalani kehidupan mereka di daratan layaknya manusia pada umumnya.
Meski tujuan mereka berdua adalah untuk menemui cinta sejati mereka, tetapi mereka tidak terlalu terburu-buru dengan hal itu karena mereka sadar banyak perubahan yang terjadi selama kepergian mereka, jadi mereka akan menikmati setiap proses yang harus mereka jalani untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
**
Di tempat lain Alvin dan Daniel baru saja keluar dari perusahaan tempat mereka mengadakan meeting.
"Apa kau masih belum menemukan mereka, Daniel?" tanya Alvin pada Daniel.
"Aku sudah berusaha mencari tahu, tetapi ternyata tidak ada seorangpun di sekitar sana yang mengenal mereka berdua," jawab Daniel.
"Sayang sekali, padahal aku belum berkenalan dengannya," ucap Alvin yang membuat Daniel terkejut.
"Apa kau serius? kau sudah bersama dengannya, kau sudah mengobrol dengannya dan kau sudah mengobati lukanya tetapi kau belum berkenalan dengannya? kau pasti sedang bercanda bukan?"
Alvin hanya tersenyum tipis dengan menggelengkan kepalanya yang membuat Daniel seketika menepuk kening Alvin.
"Bagaimana denganmu, apa kau tidak tahu dimana tempat tinggal gadis yang bersamamu?" tanya Alvin.
"Mmmm..... sebenarnya aku juga belum berkenalan dengannya hehehe....." balas Daniel yang membuat Alvin segera menepuk kening Daniel seperti yang Daniel lakukan padanya.
"Sebenarnya siapa yang kau sukai, gadis yang bersamamu atau gadis yang bersamaku? kau mengajak berkenalan gadis yang bersamaku tetapi kau bahkan tidak berkenalan dengan gadis yang bersamamu," tanya Alvin.
"Dua-duanya cantik, kenapa harus memilih salah satu jika aku bisa mendapatkan keduanya hehehe......" jawab Daniel.
"Tidak bisa, aku yang akan mendapatkan gadis yang berambut coklat terang itu," ucap Alvin.
"Waah....... apa kau benar-benar serius menyukainya?" tanya Daniel tak percaya karena pada akhirnya ada seorang perempuan yang berhasil membuat Alvin jatuh cinta.
Sebelum Alvin menjawab pertanyaan Daniel, tiba-tiba seorang perempuan berlari ke arah Alvin dan memeluk Alvin begitu saja.
"Alvin...... aku sangat merindukanmu," ucapnya dengan erat memeluk Alvin tanpa mempedulikan Daniel yang ada disana.
Alvin yang terkejut hanya bisa terdiam sampai perempuan itu melepaskan Alvin dari pelukannya.
"Amanda!"
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu Alvin, aku benar-benar sangat merindukanmu," ucap Amanda dengan senyumnya yang menggoda.