
Daniel masih berada di rumah Marin. Ia yang malam itu berniat untuk melihat keadaan Nerissa begitu terkejut saat melihat Marin sedang bersama seorang laki laki di depan rumahnya.
Daniel yang mendengar bahwa Marin sedang bersitegang dengan laki laki itupun segera berlari menghampiri Marin karena tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Marin.
"Apa kau baik-baik saja Marin? apa dia menyakitimu?" tanya Daniel setelah menggeser posisi Marin agar berdiri di belakangnya.
"Tidak Daniel, dia....."
"Waaahh...... ada apa ini? apa kau mengenalnya Marin? kenapa dia melindungimu seperti ini? apa kau mempunyai hubungan dengan manusia seperti ini?" tanya Chubasca pada Marin sambil membawa pandangannya menatap Daniel dari atas sampai ke bawah dengan tatapan tidak suka.
"Manusia seperti ini? apa maksudmu? siapa kau dan kenapa kau kesini malam hari seperti ini?" tanya Daniel pada Chubasca.
Chubasca hanya tersenyum tipis kemudian menarik tangan Marin dengan kasar.
"Jangan katakan padaku kalau kau mempunyai hubungan dengan manusia!" ucap Chubasca sambil mencengkeram tangan Marin.
"Lepaskan tanganmu atau....."
"Atau apa? aku bahkan bisa mematahkannya saat ini juga!" ucap Chubasca memotong ucapan Daniel.
"Hentikan Chubasca, kau tidak berhak mengatur hidupku, lagi pula aku hanya berteman dengannya!" sahut Marin sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Chubasca, namun ia semakin merasa sakit karena Chubasca mencengkeram tangannya dengan sangat erat.
"Kau harus ingat Marin, tujuanmu kesini untuk membantu Putri, jangan menghabiskan waktumu hanya untuk bermain main dengan manusia sepertinya, dia sama sekali tidak berguna untuk kita!" ucap Chubasca pada Marin.
"Daniel, kau sebaiknya pergi dulu, aku akan menghubungimu nanti," ucap Marin pada Daniel.
"Kau memintaku untuk meninggalkanmu dengan laki laki seperti ini? apa kau yakin?"
"Dia kakakku Daniel, dia.... dia hanya ingin menjengukku dan Putri karena kita sudah lama tidak bertemu," balas Marin memberi alasan.
"Pergilah manusia bodoh, kau sama sekali tidak diperlukan disini!" ucap Chubasca pada Daniel.
"Kalau kau bukan kakak Marin, kau akan habis di tanganku," balas Daniel dengan menatap tajam kedua mata Chubasca.
"Hahaha.... manusia sepertimu mau melawanku? apa kau tidak tau bahwa aku adalah....."
"Daniel, sejak kapan kau disini?" tanya Nerissa yang sudah keluar bersama Beetna.
"Nerissa, aku....."
"Kau juga mengenal manusia bodoh ini Putri?" tanya Chubasca pada Nerissa.
"Jangan berkata seperti itu Chubasca, dia temanku, teman Marin juga," balas Nerissa.
"Teman? aku tidak mengerti kenapa kalian berdua mau berteman dengan manusia sepertinya, dia bahkan terlihat lemah dan bodoh!" ucap Chubasca.
Marin yang sudah sangat geram dengan pada Chubasca segera menginjak kaki Chubasca dengan sengaja kemudian menampar wajah Chubasca tanpa ragu.
"Jaga ucapanmu Chubasca, selesaikan tujuanmu kesini dan cepatlah pergi dari sini!" ucap Marin dengan mata yang berapi api.
"Belum terlalu lama kau tinggal disini dan kau semakin kurang ajar padaku Marin? seperti inikah sikapmu pada kakakmu?"
"Iya, kau memang kakak yang tidak pantas untuk dihormati!" balas Marin tanpa keraguan sedikitpun dari setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Kau......"
Chubasca yang bersiap untuk menampar Marin segera dihentikan oleh Daniel. Daniel menahan tangan Chubasca lalu melepasnya dengan kasar.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh apa lagi menyakitinya di hadapanku!" ucap Daniel pada Chubasca.
Chubasca hanya tersenyum tipis, dalam sepersekian detik tangan Chubasca melayang dengan tepat ke arah Daniel, membuat Daniel dengan mudahnya tumbang.
Daniel terjatuh dengan sudut keningnya yang menghantam pot bunga besar di depan rumah Marin, membuat Daniel seketika tidak sadarkan diri.
"Daniel!" teriak Marin yang segera bersimpuh untuk melihat keadaan Daniel.
"Apa yang kau lakukan Chubasca? manusia ini bukan tandingan kita, kenapa kau melawannya?" tanya Beetna pada Chubasca.
"Dia yang memancing emosiku," jawab Chubasca santai.
"Lebih baik kalian berdua segera kembali ke Seabert, jangan membuat masalah yang lebih jauh lagi disini!" ucap Nerissa pada Chubasca dan Beetna.
"Maafkan kami Putri," ucap Beetna sambil menundukkan kepalanya pada Nerissa.
"Kalian tidak perlu menceritakan hal ini pada bunda, aku tidak ingin bunda khawatir dan kau Chubasca, bagaimanapun juga kita tinggal di dunia manusia saat ini, kita harus bisa berbaur dengan mereka agar kita bisa dengan mudah menjalankan tugas kita disini, jika kau tidak tau apa apa, lebih baik kau diam!" ucap Nerissa dengan tegas.
Chubasca hanya menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun. Meski begitu ia sama sekali tidak merasa bersalah pada Daniel.
Setelah menerima ramuan dari Nerissa, Chubasca dan Beetnapun pergi meninggalkan rumah Nerissa untuk kembali ke Seabert.
Sepeninggalan Chubasca dan Beetna, Nerissa dan Marin membawa Daniel masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di sofa ruang tamu.
"Cepat pakai mahkotamu Putri, tolong cepat sembuhkan dia!" ucap Marin panik.
"Tenanglah Marin, Daniel akan baik baik saja," balas Nerissa yang segera mengambil mahkotanya dan mengenakannya.
Nerissa kemudian menyentuh kening Daniel dengan memejamkan matanya. Tak lama kemudian luka yang ada di kening Danielpun menghilang.
Marin segera mengambil tissue untuk membersihkan sisa darah yang ada di kening Daniel.
"Dia akan segera sadar Marin, tunggu saja!" ucap Nerissa kemudian beranjak dan berjalan masuk ke kamarnya.
Benar saja, tak butuh lama Danielpun tersadar. Daniel mengerjapkan matanya seolah baru saja tertidur. Daniel kemudian beranjak dan melihat Marin yang duduk di dekatnya.
"Syukurlah kau baik baik saja, aku sangat mengkhawatirkanmu Daniel," ucap Marin sambil memeluk Daniel yang baru saja terduduk.
Nerissa yang melihat hal itu sebelum menutup pintu kamarnya hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun.
"Apa kau bilang? kau mengkhawatirkanku?" tanya Daniel yang membiarkan Marin memeluknya dengan erat.
Marin yang mendengar pertanyaan Daniel segera melepaskan Daniel dari pelukannya. Ia menggeser posisi duduknya semakin menjauh dari Daniel dengan menundukkan kepalanya menahan malu.
"apa yang baru saja kau katakan Marin, kenapa kau mengucapkan hal itu?" batin Marin dalam hati.
Melihat Marin yang tampak malu dan salah tingkah membuat Daniel ikut menggeser posisi duduknya agar semakin dekat dengan Marin.
"Bagaimana denganmu? apa kau baik baik saja? dimana laki laki tadi? apa dia menyakitimu?"
"Aku baik baik saja Daniel, maafkan sikap kakakku yang terlalu kasar padamu," jawab Daniel.
"Apa dia benar benar kakakmu Marin?" tanya Daniel tak percaya.
"Iya, dia memang kakakku, dia memang sering membuat masalah dari dulu," jawab Marin.
"Apa dia sudah pulang sekarang?"
"Iya dia sudah pulang bersama temannya," jawab Marin.
"Syukurlah kalau begitu, melihat sikapnya yang kasar padamu sepertinya lebih baik kalau kau berada jauh darinya," ucap Daniel.
Marin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.
"Kau beristirahatlah, aku akan pulang!" ucap Daniel kemudian beranjak dari duduknya.
"Pulang? sekarang?"
"Iya, kenapa? apa kau tidak ingin aku pulang? apa kau masih merindukanku?" balas Daniel bertanya sambil mengedipkan satu matanya pada Marin
"Hahaha.... aku merindukanmu? tidak mungkin, aku hanya.... aku.... aku pikir kau kesini untuk menemui Putri!"
Marin kembali menganggukkan kepalanya pelan, tanpa ia sadar raut wajahnya seolah menunjukkan bahwa ia tidak ingin Daniel segera pergi.
"Aku akan kembali lagi besok, kau beristirahatlah!" ucap Daniel sambil menepuk nepuk pelan kepala Marin kemudian berjalan keluar dari rumah Marin.
Marin hanya terdiam membiarkan Daniel berjalan keluar dari rumahnya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam saat Daniel sampai di rumahnya. Ia berjalan masuk ke kamarnya lalu duduk di hadapan cermin besar yang ada di kamarnya.
Daniel mengernyitkan keningnya saat melihat tidak ada luka di keningnya karena seingatnya keningnya sempat terluka sebelum ia tidak sadarkan diri.
Daniel memegang keningnya yang tidak terasa sakit sama sekali, membuatnya semakin merasa aneh pada dirinya sendiri.
"aku yakin aku tadi terluka, aku bisa merasakan darah yang menetes di keningku, tapi kenapa sekarang tidak ada apapun di keningku, aku juga tidak merasakan sakit sama sekali bahkan bekas lukapun tidak ada," ucap Daniel sambil masih memperhatikan keningnya.
Daniel kemudian merebahkan badannya di ranjang. Ia memutuskan untuk mengabaikan apa yang ia pikirkan tentang keningnya.
Namun saat mengingat ucapan Chubasca padanya, ia menjadi sangat kesal.
"Teman? aku tidak mengerti kenapa kalian berdua mau berteman dengan manusia sepertinya, dia bahkan terlihat lemah dan bodoh!"
Seketika Daniel beranjak dari ranjangnya karena terlalu kesal pada Chubasca.
"Lemah? bodoh? memangnya dia sekuat apa? dia sepintar apa sampai mengataiku seperti itu? dia juga berkali kali menyebutku manusia, memangnya dia apa? tumbuhan? benar benar menyebalkan!"
Daniel kembali merebahkan badannya dengan kekesalan yang masih menguasai dirinya.
"dia memang kuat, tapi bukan berarti aku lemah, aku hanya tidak ingin menyakitinya saja di depan Marin," gerutu Daniel pelan.
**
Waktu berlalu, hari telah berganti. dengan setelan jas hitam dan tas kerjanya Alvin keluar dari kamar.
"Selamat pagi honey!" sapa Cordelia dengan ceria.
"Sejak kapan kau disini?" tanya Alvin sambil berjalan ke arah meja makan.
"Sepertinya sebelum kau bangun, aku yang menyiapkan menu sarapanmu pagi ini, aku juga sudah menyiapkan bekal untukmu makan siang di kantor nanti!"
"Terima kasih Delia, tapi kau tidak perlu melakukan semua itu."
"Kenapa? aku senang melakukan semua itu untukmu, aku ingin menjadi gadis yang baik untukmu Alvin!"
"Aku senang jika kau mau berusaha menjadi lebih baik, tapi lakukan itu demi dirimu sendiri, jangan hanya untukku!"
"Ya... yaa.. yaa..... sekarang cepat habiskan sapaanmu karena aku ingin kau mengantarku untuk menemui Nerissa dan Marin."
"Menemui Nerissa dan Marin? untuk apa?"
"Untuk meminta maaf pada mereka berdua, bukankah aku sudah memberi tahumu bahwa aku akan meminta maaf pada mereka berdua?"
"Aku ingat, tapi....."
"Jangan banyak bicara, cepat habiskan makananmu!" ucap Cordelia memotong ucapan Alvin.
Setelah Alvin menyelesaikan sarapannya, Alvin dan Cordeliapun berangkat ke rumah Nerissa dengan menggunakan mobil Alvin.
Sesampainya di tempat tujuan, Alvin dan Cordeliapun turun dari mobil.
Dari dalam toko bunga, Nerissa yang melihat mobil Alvin datang seketika tersenyum senang, namun senyumnya perlahan memudar saat ia melihat Cordelia yang juga turun dari mobil bersama Alvin
Dengan malas Nerissapun membawa langkahnya masuk ke dalam, namun belum sampai ia menghilang dari toko, Cordelia sudah memanggilnya.
"Nerissa!" panggil Cordelia pada Nerissa yang berjalan masuk ke dalam rumah.
Mau tak mau Nerissa berbalik dan membawa pandangannya pada Cordelia.
"Masuklah Putri, biar aku yang menghadapi perempuan jahat ini," ucap Marin pada Nerissa.
"Selamat pagi Marin, Nerissa, aku kesini karena aku ingin bertemu kalian berdua, jadi aku mohon jangan menghindar dariku!" ucap Cordelia.
"Jangan membuat masalah baru Delia, ingat tujuanmu kesini untuk apa!" ucap Alvin pelan pada Cordelia.
"Menghindar? aku tidak punya alasan untuk menghindarimu Delia, Putri memang harus beristirahat karena dia sedang tidak sehat," sahut Marin yang berjalan ke arah Cordelia.
"Tidak sehat? benarkah? apa yang terjadi padanya?" tanya Cordelia pada Marin.
"Jangan banyak bertanya, katakan saja apa maksud dan tujuanmu datang kesini pagi hari seperti ini!" ucap Marin tanpa menjawab pertanyaan Cordelia.
"Kenapa kau tidak ramah sekali padaku Marin? kau...."
"Delia, ingat tujuanmu!" ucap Alvin mengingatkan Cordelia.
"Aaahhhh iya.... aku hanya ingin mengobrol sebentar denganmu dan Nerissa, apa kalian berdua bisa memberikan sedikit waktu kalian untukku?"
Marin kemudian membawa pandangannya pada Nerissa yang masih berdiri di bagian belakang toko bunganya, seolah meminta jawaban pada Nerissa
Nerissa lalu membawa langkahnya pada Marin, mendekat ke arah Delia dan Alvin.
"Bagaimana kabarmu Nerissa? apa kau sudah membaik?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Aku sudah baik baik saja Alvin," jawab Nerissa.
"Baguslah kalau begitu, aku....."
"Aku kesini untuk meminta maaf pada kalian berdua, Nerissa dan Marin, tolong maafkan aku atas sikapku yang mungkin sudah keterlaluan pada kalian berdua," ucap Cordelia memotong ucapan Alvin.
"Hahaha, meminta maaf? apa Alvin yang menyuruhmu meminta maaf?" balas Marin.
"Tidak, aku sendiri yang ingin meminta maaf pada kalian berdua, aku benar benar ingin meminta maaf pada kalian berdua, apa kalian tidak bisa memaafkanku?"
"Ini bukan hanya soal meminta maaf dan memaafkan Delia, tetapi kau juga harus berusaha untuk mengendalikan dirimu di hadapanku dan Marin, jangan melakukan sesuatu yang pada akhirnya akan membuatmu kembali meminta maaf padaku dan Marin!" ucap Nerissa.
"Nerissa benar, kau harus tulus meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengganggu mereka berdua lagi," sahut Alvin.
"Aku tau kau pasti membelanya, karena kau menyukainya!" ucap Cordelia pada Alvin, yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Alvin.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, aku harus segera berangkat ke kantor sekarang!" ucap Alvin tidak mempedulikan ucapan Cordelia.
"Baiklah, aku minta maaf pada kalian berdua Nerissa dan Marin, aku akan berusaha untuk lebih baik lagi dan bisa menahan emosiku saat aku melihat kalian berdua yang memang selalu membuat tingkat emosiku naik hehehe....."
Nerissa dan Marin hanya saling pandang mendengar ucapan Cordelia yang terdengar tidak tulus dalam meminta maaf.
Meski begitu, Nerissa dan marin tidak akan mempermasalahkan hal itu agar Cordelia bisa segera pergi dari hadapan mereka berdua.
"Tolong maafkan aku," ucap Cordelia sambil memeluk Nerissa.
Nerissapun hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
Cordelia kemudian berganti memeluk Marin.
"Kau tidak akan pernah menang melawan Putri Nerissa," ucap Marin berbisik saat Cordelia memeluknya
Cordelia yang mendengar hal itu hanya bisa diam dengan mengepalkan kedua tangannya karena kesal pada Marin.