Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Pintu Memori



Gelap malam telah terhampar bersama kerlip bintang di langit. Nerissa dan Marin sudah mengenakan pakaian terbaik yang mereka punya untuk menghadiri acara makan malam pertama mereka.


Nerissa sengaja membiarkan rambutnya tergerai dengan memakai penjepit rambut berbentuk bunga bunga kecil yang indah.


Dengan gaun berwarna merah jambu, make up tipis dan high heels yang tidak terlalu tinggi Nerissa berjalan keluar dari kamarnya.


"Waaahhh, kau benar benar sangat cantik Putri," ucap Marin memuji kecantikan Nerissa.


"Berhenti memanggilku Putri, Marin, panggil saja Nerissa!" balas Nerissa.


"Tidak bisa Putri, bagiku kau tetap Putri Nerissa dari istana Seabert, jadi biarkan aku memanggilmu seperti ini," ucap Marin.


Tak lama kemudian suara mobil berhenti di depan rumah mereka, Nerissa dan Marinpun keluar dari rumah.


Namun bukannya Daniel yang keluar dari dalam mobil, melainkan seorang laki laki tampan dengan setelah tuxedo yang membuatnya bak pangeran di mata Nerissa.


Sedangkan Alvin yang melihat Nerissa keluar dari dalam rumah hanya bisa diam menatap gadis cantik yang berjalan ke arahnya.


Matanya seakan tidak ingin berkedip sedetikpun hanya untuk menatap ciptaan Tuhan yang begitu mengagumkan di hadapannya.


"Aku pikir Daniel yang akan menjemput kita," ucap Marin membuyarkan lamunan Alvin.


"Dia sedang ada keperluan sebentar, jadi dia memintaku untuk menjemput kalian, masuklah!" balas Alvin sambil membuka pintu mobilnya.


Nerissa dan Marinpun masuk dan duduk di bangku belakang.


Alvin lalu melajukan mobilnya ke arah restoran tempat mereka akan mengadakan makan malam. Sesekali ia mencuri pandang pada Nerissa melalui center mirror dengan menahan senyumnya.


Meski begitu, Alvin berusaha untuk tetap fokus agar mereka bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat.


Sesampainya di restoran, mereka segera turun. Mereka berjalan bertiga ke arah tempat yang sudah direservasi sebelumnya.


Sudah ada beberapa anggota tim peragaan busana yang ada disana. Mereka semua memuji kecantikan Nerissa dan Marin, walaupun mereka lebih banyak memuji Nerissa karena kekompakannya dengan Alvin saat peragaan busana kemarin malam.


Mereka kemudian berbincang beberapa lama sembari menunggu Cordelia dan Daniel.


"Kalian benar benar terlihat serasi saat di panggung kemarin, aku sempat berpikir kalau kalian memang mempunyai hubungan khusus!" ucap salah satu yang ada disana.


"Atau mungkin kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" tanya yang lain.


Nerissa seketika membawa pandangannya ke arah Alvin untuk mendengar jawaban Alvin.


"Kita....."


"Hai semuanya, maaf kita terlambat!" ucap Daniel yang baru saja datang bersama Cordelia.


"Waaahhh waaahhh waaahhh jangan jangan ini pasangan kedua kita!" ucap seseorang yang ada disana.


"Pasangan kedua? memangnya siapa pasangan pertama?" tanya Cordelia.


"Tentu saja Alvin dan Nerissa, mereka yang membuat acara peragaan busana kemarin sukses besar!"


"Itu cuma kebetulan saja," ucap Cordelia kesal sambil berdiri di belakang Nerissa.


"Permisi nona cantik, apa kau bisa pindah tempat duduk?" tanya Cordelia pada Nerissa yang saat itu duduk di samping Alvin.


"Aahh iya," balas Nerissa kemudian berdiri dari duduknya.


Daniel yang duduk di samping Marin kemudian segera berdiri dan menggeser kursi di sebelahnya untuk Nerissa.


"Duduklah disini Nerissa!" ucap Daniel.


"Terima kasih Daniel," balas Nerissa.


Acara makan malampun dimulai, menu makan malam datang satu per satu. Merekapun menikmati hidangan yang disajikan sampai habis.


Setelah selesai, mereka berjalan naik ke roof top untuk menikmati pemandangan malam disana sembari mengobrol ringan.


"Tempat ini sangat indah Marin," ucap Nerissa sambil memperhatikan lampu lampu jalan raya di atas roof top.


"Iya Putri, apa kita harus membuat rumah kita setinggi ini agar bisa melihat pemandangan indah setiap hari?" balas Marin.


"Hahaha... kau ada ada saja, ingat Marin, tujuan kita kesini bukan untuk itu," ucap Nerissa.


Tak jauh dari Nerissa dan Marin berdiri, ada Alvin, Daniel dan beberapa orang tim mereka yang lain.


Mereka masih penasaran tentang hubungan Alvin dan Nerissa.


"Kau belum menjawab pertanyaan kami Alvin, apa kau dan Nerissa memang sudah saling mengenal sebelumnya?"


Nerissa yang mendengar pertanyaan itu segera menajamkan pendengarannya untuk mendengar jawaban Alvin.


"Tidak, Daniel yang lebih dulu mengenalnya," jawab Alvin.


"Aahh iya, Nerissa juga terlihat sangat dekat denganmu Daniel, apa kau sudah lama mengenalnya?"


"Aku belum lama mengenalnya, tapi aku tau kalau dia gadis yang baik," jawab Daniel dengan tersenyum.


"Dan juga cantik tentunya," sahut yang lain yang membuat semua laki laki itu tertawa.


Sedangkan Nerissa hanya menundukkan kepalanya sedih karena ia berpikir jika Alvin belum mengingatnya atau memang sengaja tidak ingin mengenalnya.


"Putri, kau baik baik saja?" tanya Marin yang juga mendengar obrolan para laki laki itu.


Nerissa tidak menjawab pertanyaan Marin, ia segera berbalik hendak turun dari roof top namun tanpa sengaja ia menabrak Cordelia yang berada di belakangnya.


"Kau......"


"Aaahh maaf, maafkan aku, aku tidak sengaja," ucap Nerissa yang melihat pakaian Cordelia basah karena terkena tumpahan minuman yang Nerissa bawa.


"Apa kau tidak tau kalau harga pakaian ini sangat mahal? kau bahkan tidak akan bisa membayarnya walaupun kau menjual semua bunga yang ada di tokomu," ucap Cordelia penuh emosi.


"Aku akan menggantinya besok, aku......"


"Lupakan saja, aku akan segera membuangnya setelah ini!" ucap Cordelia.


Alvin yang mendengar keributan di belakangnya segera berjalan menghampiri Nerissa dan Cordelia.


"Lihatlah honey, dia menumpahkan minumannya di bajuku, padahal baju ini sangat mahal!" ucap Cordelia manja pada Alvin.


"Dia tidak sengaja Delia, kau bisa mencucinya daripada membuang tenagamu untuk memarahinya!" balas Alvin.


"Kau sangat berlebihan, aku yang aku akan menggantinya malam ini juga," ucap Daniel pada Cordelia.


Daniel kemudian menarik tangan Nerissa dan mengajak Nerissa turun dari roof top diikuti oleh Marin.


"Apa kau baik baik saja? pakaianmu juga kotor!" tanya Daniel pada Nerissa.


"Aku baik baik saja, apa aku boleh pulang sekarang?" jawab Nerissa sekaligus bertanya.


"Iya, aku akan mengantarmu pulang," balas Daniel.


"Bagaimana denganku?" sahut Marin bertanya.


"Kau disini saja," jawab Daniel ketus.


"Lihatlah Putri, dia sangat jahat bukan?" ucap Marin mengadu pada Nerissa.


"Dia hanya bercanda," balas Nerissa dengan mencubit pipi Marin.


Merekapun meninggalkan restoran itu bersama Daniel. Sepanjang perjalanan Nerissa hanya diam memikirkan ucapan Alvin.


Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Alvin. Saat acara peragaan busana itu, ia seperti melihat Alvin yang dulu dia kenal saat di tepi pantai.


Alvin bahkan memberinya bunga yang bermakna permintaan maaf padanya, membuatnya berpikir jika Alvin sudah mengingatnya.


Namun apa yang ia dengar baru saja begitu mengecewakan hatinya.


"kau sangat menyebalkan Alvin, kau bukan Alvin yang aku kenal di tepi pantai," batin Nerissa kesal.


"Apa kau masih memikirkan perkataan Delia padamu Nerissa?" tanya Daniel mengkhawatirkan Nerissa.


"Tidak," jawab Nerissa singkat.


"Abaikan saja dia, dia memang seperti itu," ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.


Setelah beberapa lama berkendara, Daniel sampai di tempat tinggal Nerissa dan Marin.


"Apa kita bisa mengobrol sebentar?" tanya Daniel.


Nerissa menganggukan kepalanya kemudian mengajak Daniel masuk dan duduk di deretan kursi yang ada di toko bunga.


"Kau suka bunga?" tanya Daniel pada Nerissa.


"Iya, Marin yang memperkenalkanku pada bunga bunga indah ini," jawab Nerissa.


"Apa kau tau yang mana yang paling indah dan cantik disini?" tanya Daniel.


"Mmmm... aku rasa semua bunga bunga ini cantik," jawab Nerissa.


"Tapi tidak secantik dan seindah dirimu," ucap Daniel yang membuat Nerissa tersenyum mendengarnya.


"Aku serius," ucap Daniel.


"Kau memang selalu bisa menyenangkan perempuan Daniel," balas Nerissa.


"Tidak, aku hanya mengatakan ini padamu," ucap Daniel.


"Baiklah, aku percaya padamu," balas Nerissa.


Daniel menganggukan kepalanya senang.


"Aku sangat berterima kasih karena kau sudah membantuku di acara peragaan busana kemarin, entah apa jadinya jika tidak ada kau dan Marin kemarin," ucap Daniel.


"Aku dan Marin hanya membantu sebisa kita saja Daniel," balas Nerissa.


"Dan bantuanmu menyelamatkan perusahaan tempatku bekerja Nerissa, jadi aku sangat berterima kasih," ucap Daniel.


Nerissa menganggukan kepalanya dengan tersenyum. Tiba tiba sesuatu yang tergantung di atap toko bunga jatuh dan mengenai kepala Daniel, membuat kening Daniel sedikit berdarah.


"Apa kau terluka? biarkan aku melihatnya!" ucap Nerissa sambil memegang kening Daniel.


Seketika Nerissa seperti terbawa ke tempat lain. Ia berada di suatu tempat dengan banyak pintu di sekitarnya.


"Kenapa aku disini? apa yang baru saja terjadi?" tanya Nerissa sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Pintu dengan bermacam macam warna itu tertutup rapat namun tidak ada dinding atau apapun yang menghalangi satu pintu dengan pintu lainnya.


Saat Nerissa mendekat dan berniat membuka salah satu pintu itu tiba tiba terdengar suara yang mengejutkannya.


"Jangan!" ucap suara itu.


"Siapa kau? keluarlah dan tunjukkan wajahmu?" balas Nerissa dengan masih memegang salah satu gagang pintu.


"Aku adalah dirimu, yang pasti jangan membuka pintu itu jika kau tidak ingin merusak memori laki laki yang baru saja kau sentuh," jawab suara itu.


"Apa maksudmu?" tanya Nerissa tak mengerti.


"Karena kau baru pertama kali datang kesini, maka aku akan sedikit menjelaskannya padamu, singkatnya apa yang kau lihat sekarang adalah pintu memori laki laki yang kau sentuh, dengan menyentuh keningnya kau bisa memasuki memorinya dan memanipulasi semua ingatannya," jawab suara itu menjelaskan.


"Aku.... tidak mengerti maksudmu," ucap Nerissa yang sulit untuk memahami apa yang suara itu jelaskan.


"Ini salah satu kekuatan milikmu, memanipulasi ingatan hanya dengan menyentuh keningnya, tidak hanya sekedar menghapus ingatannya tapi kau juga bisa membuat ingatan baru dan merancang memorinya semaumu, tapi itu tidak akan mudah karena tenagamu akan terkuras habis saat kau memanipulasi ingatannya terlalu jauh," ucap suara itu kembali menjelaskan.


"Memanipulasi ingatan?"


"Dan sekarang kau akan kehabisan tenagamu karena kau terlalu lama berada di dalam memori seseorang, jadi keluarlah!"


"Bagaimana caraku keluar dari sini? apa aku bisa bertanya padamu tentang hal lainnya?"


"Temukan mahkotamu terlebih dahulu karena aku ada di dalam mahkota itu, selamat tinggal Nerissa!" jawab suara itu.


"Tunggu.... tunggu dulu....."


Nerissa kemudian tersentak dan melepaskan tangannya dari kening Daniel. Benar saja, ia merasa tenaganya seperti sudah habis saat itu juga.


"Apa yang terjadi padamu Nerissa? kau baik baik saja?" tanya Daniel yang melihat Nerissa tiba tiba tersentak dan menundukkan kepalanya lemah.


"Aku......"


Nerissa merasa tubuhnya semakin lemah hingga hampir saja terjatuh dari kursi jika Daniel tidak segera menahannya.


"Aku akan mengantarmu masuk, kau harus beristirahat!" ucap Daniel kemudian menggendong Nerissa masuk ke dalam rumah.


Marin yang melihat Nerissa dalam gendongan Daniel segera berlari menghampiri Nerissa.


"Ada apa? apa yang terjadi pada Putri? apa yang kau lakukan pada Putri?"


"Diamlah, bukakan pintunya!" balas Daniel kesal.


Marinpun membuka pintu kamar Nerissa dan membaringkan Nerissa di atas ranjangnya.


"Apa yang kau lakukan pada Putri? kenapa dia seperti ini?"


"Aku juga tidak tau, apa kita harus membawanya ke rumah sakit?"


"Tidak, tidak perlu, kau pulang saja!"


"Kau yakin?"


"Aku yang akan merawatnya, kau cepatlah pulang!"


Dengan berat hati Daniel keluar dari kamar Nerissa.


"Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu padanya, aku akan segera datang!" ucap Daniel pada Marin.


Marin hanya diam kemudian menutup pintu kamar Nerissa agar Daniel segera pergi.


Sedangkan Nerissa masih terpejam meski ia masih bisa mendengar percakapan Marin dan Daniel.


Marin kemudian membuat ramuan untuk Nerissa dari bahan bahan yang ada di toko bunganya.


Dengan beberapa putik dan daun bunga, Marin membuat ramuan untuk Nerissa.


**


Pagi telah datang, Nerissa mengerjapkan matanya dan dilihatnya Marin yang masih tertidur di sampingnya.


"Marin, bangunlah!" ucap Nerissa membangunkan Marin.


Mendengar suara Nerissa, Marinpun segera terbangun.


"Kau sudah bangun Putri? apa yang terjadi padamu semalam? apa Daniel melakukan sesuatu padamu?" tanya Marin khawatir.


"Tidak Marin, Daniel tidak melakukan apapun, aku hanya......"


Nerissa menghentikan ucapannya, ia kembali mengingat apa yang terjadi semalam saat ia menyentuh kening Daniel.


Nerissa kemudian segera menyentuh kening Marin, berharap apa yang semalam terjadi kembali terjadi lagi.


Sama seperti malam kemarin, ia melihat banyak pintu dengan warna yang berbeda beda. Namun saat ia memegang salah satu gagang pintu, tidak ada suara apapun yang ia dengar.


"Apa aku harus membukanya supaya suara itu keluar?" tanya Nerissa pada dirinya sendiri.


Ia pun membukanya dan melihat Marin yang sedang bermain dengan dirinya di ruang baca istana.


"Rupanya ini salah satu ingatan Marin tentangku," ucap Nerissa dengan tersenyum.


Namun tiba tiba seperti ada sesuatu yang menariknya mundur dengan kuat. Seketika Nerissa tersentak dan tubuhnya terhempas di atas ranjang.


"Putri, apa yang terjadi padamu?" tanya Marin khawatir.


Nerissa kembali terpejam seolah seluruh tenaganya baru saja hilang seketika. Beberapa jam berlalu, Nerissa masih terpejam di atas ranjangnya.


Marin sama sekali tidak meninggalkan Nerissa, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan saat itu. Ia begitu mengkhawatirkan keadaan Nerissa, ia ingin pergi ke istana untuk memberi tahu sang ratu namun ia tidak mungkin meninggalkan Nerissa seorang diri di daratan.


"Bangunlah Putri, jangan membuatku khawatir seperti ini," ucap Marin sambil mengoleskan ramuan yang dibuatnya di bawah hidung Nerissa.


Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu di depan rumahnya.


"Pasti itu Daniel, aku harus meminta bantuannya!" ucap Marin sambil berlari keluar dari kamar Nerissa.


Marin segera membuka pintu rumahnya dengan harapan Daniel bisa membantunya untuk membuat Nerissa kembali tersadar.