Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Langkah yang Diambil Nerissa dan Marin



Nerissa dan Alvin masih menikmati malam mereka berdua di bawah hamparan bintang-bintang yang bertebaran di langit malam.


Alvin kemudian menggendong Nerissa, membawa Nerissa masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di atas ranjang.


"Apa aku akan tidur disini malam ini?" tanya Nerissa pada Alvin.


"Tentu saja, disini hanya ada dua kamar, apa kau ingin pindah ke kamar yang ada di bawah?" jawab Alvin sekaligus bertanya.


"Tidak, aku lebih suka disini," jawab Nerissa.


"Bagaimana denganmu? apa kau akan tidur di kamar bawah?" lanjut Nerissa bertanya yang membuat Alvin menggelengkan kepalanya pelan.


"Lalu dimana kau akan tidur? tidak mungkin kau tidur di ruang tamu bukan?" tanya Nerissa dengan polosnya.


"Kenapa aku harus tidur di ruang tamu jika aku bisa tidur disini bersamamu?" jawab Alvin sambil mengedipkan satu matanya pada Nerissa.


"Ti.... tidur disini? bersamaku?" tanya Nerissa mengulangi ucapan Alvin.


"Iya, apa kau keberatan?"


Nerissa segera menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari ranjang dan berdiri di hadapan Alvin yang masih terduduk di tepi ranjang.


"Jika kau memang sangat ingin tidur disini maka aku yang akan tidur di kamar bawah," ucap Nerissa pada Alvin.


"Kenapa? apa kita tidak bisa tidur disini berdua?" tanya Alvin yang membuat Nerissa menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kenapa? apa kau takut tidak bisa mengendalikan dirimu jika tidur di sampingku?" tanya Alvin yang sengaja menggoda Nerissa.


"Justru kau yang tidak akan bisa mengendalikan dirimu jika kau tidur disini bersamaku, lebih baik aku tidur di kamar bawah saja," ucap Nerissa yang hendak berjalan keluar dari kamar namun segera ditahan oleh Alvin.


"Tidurlah disini, aku yang akan tidur di kamar bawah," ucap Alvin sambil membawa Nerissa kembali duduk di atas ranjang.


"Kau tidak akan masuk kesini diam-diam bukan?" tanya Nerissa memastikan.


"Aku bukan laki-laki seperti itu Nerissa, bukankah kau mengenalku dengan baik!"


"Baiklah kalau begitu, cepat keluar dan masuk ke kamarmu yang ada di bawah," ucap Nerissa lalu beranjak dari duduknya dan mendorong Alvin keluar dari kamar.


Alvin hanya menurut saat Nerissa memaksanya keluar dari kamar, namun sebelum Nerissa menutup pintu kamarnya Alvin mendekat dan memberikan kecupan singkatnya di kening Nerissa.


Nerissa hanya tersenyum lalu segera menutup pintu kamarnya dan segera menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


"kau selalu bisa membuatku jatuh cinta padamu berulang kali Alvin, kau selalu bisa membuatku tersenyum bahagia," ucap Nerissa dalam hati sambil tersenyum menatap langit-langit kamarnya.


Saat Nerissa sudah terpejam dan mengembara ke alam mimpi, Nerissa melihat seseorang tengah berdiri di atas batu karang besar di tepi pantai dimana ia pertama kali bertemu Alvin.


"Kenapa aku ada disini?" tanya Nerissa pada dirinya sendiri.


Nerissa membawa pandangannya mengitari sekitarnya dan mendapati sebuah kapal besar yang tengah berlayar tak jauh dari tempatnya berdiri.


Tiba-tiba ombak besar menerjang kapal besar itu dan dalam sepersekian detik kapal yang sempat terombang-ambing itupun hancur.


Nerissa bisa mendengar dengan jelas teriakan orang-orang yang berada di dalam kapal itu bahkan beberapa orang berusaha bertahan hidup di antara puing-puing kapal yang masih mengambang di lautan luas.


Nerissa yang melihat hal itupun berniat untuk membantu orang-orang yang ada disana, namun saat ia akan menggerakkan badannya ia merasa seluruh tubuhnya membeku, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.


"Apa yang terjadi padaku? kenapa aku tidak bisa menggerakkan seluruh badanku?" tanya Nerissa panik.


Di tengah kepanikannya itu Nerissa melihat ekor besar berwarna biru yang berkilau. Nerissapun memfokuskan matanya untuk melihat siapa pemilik ekor biru yang berkilau itu dan ia begitu terkejut saat melihat sang Bunda yang tengah berenang bersama seorang anak laki-laki yang pada akhirnya dibawa ke tepi pantai oleh sang Bunda.


"Bunda, tolong Nerissa Bunda, Nerissa tidak bisa menggerakkan badan Nerissa sama sekali!" ucap Nerissa berteriak namun seolah tidak didengar oleh sang Bunda.


Beberapa kali Nerissa berteriak memanggil sang Bunda, namun sang Bunda masih saja tidak menghiraukannya seolah suara teriakannya tidak sampai di telinga sang Bunda.


Nerissapun menyerah dan hanya terdiam melihat apa yang dilakukan sang Bunda pada anak laki-laki itu.


Tanpa ia sangka sang Bunda melepaskan mutiara biru miliknya dan memasukkannya ke dalam tubuh anak laki-laki yang sudah tampak sangat pucat itu.


"Apa yang bunda lakukan? kenapa Bunda melakukan hal itu?" tanya Nerissa tak mengerti.


Tak lama setelah memasukkan mutiara biru ke dalam tubuh anak laki-laki itu, sang Bundapun tampak berenang pergi meninggalkan anak laki-laki yang perlahan terbangun itu.


Anak laki-laki yang tadi tampak pucat dan sudah tak bertenaga tiba-tiba saja terbangun seolah tidak terjadi apapun padanya.


Anak laki-laki itu tampak terdiam menatap ekor biru yang berkilau berenang semakin jauh ke arah lautan luas.


"Bunda, jangan meninggalkan Nerissa Bunda, tolong Nerissa!" ucap Nerissa berteriak dengan panik karena ia tidak juga bisa menggerakkan seluruh badannya.


Nerissa kemudian membawa pandangannya pada anak laki-laki yang masih berdiri di tepi pantai, pada saat yang sama anak itupun membawa pandangannya pada Nerissa membuat mereka berdua saling menatap untuk beberapa saat.


"Dia........ "


Nerissa kemudian membuka matanya dan melihat Alvin yang ada tepat di depan matanya saat itu.


"Alvin!"


"Iya aku disini, apa kau baru saja mimpi buruk?" tanya Alvin yang sedari tadi duduk di samping Nerissa berusaha untuk membangunkan Nerissa.


"Kenapa kau ada disini?" tanya Nerissa pada Alvin.


"Kau berteriak meminta tolong dan memanggil bundamu, jadi aku masuk dan berusaha membangunkanmu," jawab Alvin menjelaskan.


Nerissa terdiam beberapa saat berusaha mengingat keseluruhan mimpi yang baru saja dialami olehnya.


Alvin kemudian mengambil segelas air dan memberikannya pada Nerissa agar Nerissa lebih tenang.


"Apa kau bermimpi buruk? apa kau merindukan bundamu?" tanya Alvin mengkhawatirkan Nerissa.


Nerissa hanya terdiam menatap laki-laki yang tengah duduk di hadapannya. Melihat Nerissa yang hanya terdiam Alvinpun mendekatkan dirinya lalu membawa Nerissa ke dalam pelukannya.


"Tenanglah, ada aku disini," ucap Alvin berusaha menenangkan Nerissa.


Saat tengah berada dalam dekapan Alvin jantung Nerissa berdetak dengan kencang, ia merasa ada sesuatu dalam diri Alvin yang tidak ia pahami.


"Kembalilah tidur Nerissa, aku akan menemanimu disini," ucap Alvin lalu melepaskan Nerissa dari pelukannya.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, pikirannya seolah dipenuhi oleh mimpi yang baru saja dialaminya.


Nerissa kemudian membaringkan badannya dengan selimut tebal yang menutup seluruh tubuhnya dan Alvin yang duduk di tepi ranjangnya dengan menggenggam tangannya.


**


Malam yang panjang telah berlalu, Nerissa mengerjapkan matanya dan mendapati Alvin yang tengah tertidur di sampingnya.


"kenapa aku tiba-tiba memimpikan hal itu, apa laki-laki yang aku lihat itu adalah anak laki-laki yang diselamatkan Bunda dalam kecelakaan kapal akibat ulah Chubasca?" tanya Nerissa dalam hati.


Nerissa segera menggelengkan kepalanya berusaha menyadarkan dirinya tentang apa yang ia pikirkan saat itu.


"Aku pasti terlalu memikirkan mimpi itu," ucap Nerissa lalu beranjak dari ranjang.


Saat Nerissa baru saja menjatuhkan kakinya dari ranjang, Alvin tiba-tiba menarik tangan Nerissa, membuat Nerissa kembali terbaring di samping Alvin.


"Jangan pergi," ucap Alvin dengan kedua mata yang masih terpejam.


"Aku hanya ingin ke toilet Alvin," balas Nerissa.


"Tunggu sebentar, 5 menit lagi," ucap Alvin sambil mendekap Nerissa dengan erat.


"tidak mungkin mutiara biru itu ada pada Alvin bukan? dari semua manusia yang ada di daratan tidak mungkin Alvin yang mempunyai mutiara biru itu," ucap Nerissa dalam hati.


**


Di tempat lain Daniel baru saja mengurus administrasi Marin di rumah sakit lalu berjalan keluar dari rumah sakit bersama Marin.


"Apa kau yakin baik-baik saja Marin?" tanya Daniel memastikan.


"Aku baik-baik saja Daniel, bukankah dokter juga sudah memberitahumu bagaimana keadaanku!" balas Marin.


"Tapi sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang ke rumahmu," ucap Daniel.


"Tidak apa, aku bisa pulang sendiri," balas Marin.


"Bukan itu maksudku, untuk sementara lebih baik kau tidak pulang ke rumahmu!" ucap Daniel.


"Apa maksudmu?" tanya Marin tak mengerti.


"Aku takut ayahmu akan kembali dan menyakitimu seperti kemarin, aku akan menyiapkan tempat tinggal untukmu, aku...."


"Tidak Daniel, aku harus tetap pulang ke rumahku, bagaimana dengan putri jika aku tidak pulang ke rumah nanti?" balas Marin memotong ucapan Daniel.


"Bukankah kau harus menjelaskan semuanya pada Nerissa? bukankah dia harus tahu apa yang sudah terjadi padamu?"


"Aku akan menceritakannya pada Putri tetapi tetap saja aku tidak bisa meninggalkan Putri di rumah itu!"


"Kalian berdua bisa pindah dari rumah itu, aku yang akan menyiapkan tempat tinggal untuk kalian berdua!" ucap Daniel.


"Bagaimana dengan toko bungaku?" tanya Marin.


"Untuk sementara kau harus berdiam diri di dalam rumah Marin," jawab Daniel yang membuat Marin menghentikan langkahnya lalu menatap Daniel yang juga menghentikan langkahnya.


"Berhentilah mengkhawatirkanku dengan berlebihan seperti ini, kau membuatku sangat tidak nyaman!" ucap Marin lalu berjalan meninggalkan Daniel, membuat Daniel berlari kecil untuk mengejar Marin.


Daniel menarik tangan Marin lalu memegang kedua bahu Marin dan menatap kedua matanya dengan tatapan tajam.


"Tolong mengertilah Marin, aku benar-benar mengkhawatirkan keselamatanmu saat ini, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, apa kau tahu betapa hancurnya hatiku saat melihatmu terluka seperti itu!"


Tiba-tiba kedua mata Marin berkaca-kaca mendengar apa yang Daniel ucapkan padanya. Kenyataan yang ia tahu bahwa Daniel tidak menyukainya membuat hatinya terasa lebih sakit saat Daniel memberikan perhatian lebih yang hanya membuatnya berharap pada Daniel.


Melihat kedua mata Marin yang berkaca-kaca, Danielpun merasa bersalah lalu menurunkan tangannya dari bahu Marin dan menggenggam kedua tangan Marin.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud memarahimu," ucap Daniel dengan melepaskan satu tangannya lalu membawa Marin ke dalam dekapannya.


"Aku benar-benar mengkhawatirkanmu Marin, aku takut aku tidak bisa melindungimu lagi," ucap Daniel dengan suara tertahan.


Ia masih bisa merasakan sakit dalam hatinya saat melihat Marin yang terkapar dengan luka di bibirnya.


Marin hanya terdiam dalam dekapan Daniel, ia ingin menangis namun ia berusaha untuk menahannya agar tidak ada mutiara yang terjatuh di lantai rumah sakit saat ia menangis.


"kenapa kau bersikap seperti ini jika kau tidak menyukaiku Daniel, kenapa kau membuatku bingung? kenapa kau membuatku terus berharap padamu?" tanya Marin dalam hati.


Daniel kemudian melepaskan Marin dari dekapannya lalu menghapus sisa air mata yang sempat menetes di pipi Marin.


"Aku akan mengantarmu pulang ke rumahmu, kita menunggu Nerissa disana dan menceritakan semuanya, setelah itu kita akan berdiskusi apa yang seharusnya kita lakukan, apa kau setuju?"


Marin hanya menganggukan kepalanya tanpa mengatakan apapun.


Danielpun tersenyum dengan menepuk-nepuk pelan kepala Marin lalu menggandeng tangan Marin keluar dari rumah sakit.


Mereka berdua pulang ke rumah Marin dengan menggunakan taksi yang sudah Daniel pesan.


Sesampainya di rumah, Marin dan Danielpun menunggu Nerissa di dalam rumah. Setelah beberapa jam menunggu Alvin dan Nerissapun datang.


Marin menyambut hangat kedatangan Nerissa sebelum Marin menceritakan tentang pertemuannya dengan sang ayah.


Nerissa begitu terkejut mendengar cerita Marin tentang pertemuannya dengan ayahnya, Nerissa tidak menyangka jika Cadassi akan mencarinya sampai ke daratan.


Daniel juga menceritakan apa yang sudah dilakukan ayah Marin pada Marin, membuat Alvin yang mendengarnya ikut geram karena sikap ayah Marin yang sudah menyakiti Marin.


"Aku setuju dengan Daniel, kalian berdua harus pindah dari sini!" ucap Alvin yang menyetujui ide Daniel.


"Jangan menghawatirkan toko bungamu Marin, setelah beberapa hari kalian pindah kalian bisa membuka kembali toko bunga kalian di tempat yang baru," ucap Daniel.


Nerissa dan Marin saling menatap untuk beberapa saat sebelum mereka mengambil keputusan.


Pada akhirnya merekapun mendapatkan kesepakatan yang mereka setujui. Untuk sementara Marin akan tinggal di rumah Daniel sedangkan Nerissa akan tinggal di rumah Alvin.


Nerissa dan Marinpun mulai memasukkan beberapa barang-barang mereka ke dalam koper lalu membawanya keluar dari rumah.


"Aku akan mengantar kalian lebih dulu!" ucap Alvin pada Daniel dan Marin.


"Tidak perlu Alvin, kau baru saja pulang dari perjalanan jauh, lebih baik segera pulang dan beristirahat karena aku dan Marin harus pergi ke kantor polisi terlebih dahulu," balas Daniel.


"Baiklah kalau begitu, segera hubungi aku jika terjadi sesuatu!" ucap Alvin yang dibalas anggukan kepala Daniel.


Nerissa dan Marin kemudian berpelukan untuk beberapa saat sebelum mereka berpisah.


Alvinpun mengendarai mobilnya ke arah rumahnya bersama Nerissa, sedangkan Daniel masuk ke dalam taksi yang sudah dipesannya bersama Marin.


"Kenapa kita harus ke kantor polisi?" tanya Marin pada Daniel.


"Aahhh iya aku belum memberitahumu, polisi menemukan beberapa butir mutiara di gubuk tempat ayahmu menyiksamu, mutiara itu milikmu bukan?"


"Mu.... mutiara?"


"Iya, ada beberapa butir mutiara yang ditemukan polisi disana, apa itu bukan milikmu?"


Marin terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Daniel. Ia tidak ingin Daniel mencurigainya jika ia memiliki beberapa butir mutiara dengan nilai jual yang sangat tinggi itu.