
Melodi indah dari denting piano yang terdengar membuat Alvin jatuh ke dalam suasana romantis yang tercipta begitu saja.
Alvin kemudian menarik tubuh Nerissa dan membisikkan sesuatu pada Nerissa.
"Lepaskan sepatumu dan injak kakiku," ucap Alvin berbisik dengan menatap ke dalam mata Nerissa.
Nerissa kemudian melepas sepatunya dengan patuh tanpa banyak bertanya, ia seperti terhipnotis oleh tatapan mata Alvin padanya.
Tanpa ragu Nerissa menginjak kaki Alvin dan mengikuti setiap langkah Alvin bersama alunan indah denting piano yang memenuhi ruangan itu.
Alvin melangkah ke kanan dan ke kiri dengan satu tangannya melingkar di pinggang Nerissa dan satu tangannya yang lain menggenggam erat tangan Nerissa.
Mereka saling menatap seolah hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu. Sampai tiba tiba Cordelia datang dan dengan sengaja menyenggol Nerissa, membuat Nerissa terjatuh ke dalam dekapan Alvin.
Mereka berpelukan beberapa saat sebelum akhirnya Alvin melepaskan Nerissa lalu menarik kembali tangan Nerissa, membuat Nerissa kembali melangkah dan jatuh ke dalam dekapan Alvin.
Alvin kemudian melepaskan Nerissa, menggenggam tangannya dan mengajaknya membungkukkan badan mereka 90 derajat sebelum melangkah kembali ke belakang panggung dengan masih bergandengan tangan.
Riuh sorak tepuk tangan memenuhi ruangan itu, membuat Cordelia semakin emosi dan tidak menyukai kehadiran Nerissa disana.
Di belakang panggung, Nerissa dan Alvin saling menatap sebelum Daniel dan Marin datang, membuat Nerissa dan Alvin segera melepaskan tangan mereka dari genggaman satu sama lain.
"Kalian benar benar hebat, kalian bisa menyelamatkan keadaan yang hampir saja kacau," ucap Daniel pada Nerissa dan Alvin.
"Iya, kalian sangat romantis, membuatku iri saja," sahut Marin menggoda Nerissa.
"Maaf, aku tidak sengaja merusak sepatunya," ucap Nerissa yang merasa bersalah tentang sepatu yang dipakainya.
"Itu tidak penting, yang penting kau baik baik saja dan acara kita berjalan dengan lancar," balas Daniel.
"Apa kakimu baik baik saja?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Iya, kakiku baik baik saja," jawab Nerissa.
"Kau memang gila Daniel!" ucap Cordelia yang tiba tiba datang.
"Kenapa kau tiba tiba marah padaku?" tanya Daniel tak mengerti.
"Kenapa kau membawa perempuan ini kesini, dia hampir saja mengacaukan acaramu!"
"Justru dia dan Alvin yang menyelamatkan acara ini Delia," balas Daniel.
Cordelia hanya memutar kedua bola matanya kesal kemudian masuk ke ruang kostum untuk berganti pakaian.
"Kau gadis penjual bunga, pakaian mahal ini tidak akan mampu merubah statusmu jadi jangan berani berani kau merebut Alvin dariku!" ucap Cordelia saat Nerissa masuk ke ruangan kostum.
Nerissa hanya tersenyum tipis tak menghiraukan ucapan Cordelia.
Malam semakin larut, acara peragaan busana sudah selesai tanpa halangan yang berarti berkat kerja sama yang baik antara Daniel, Alvin, Nerissa dan juga staff yang lain.
Saat Nerissa hampir saja terjatuh dan Alvin menahan Nerissa, Daniel segera meminta staff lighting untuk merubah lampu menjadi temaram dan ia sendiri yang memainkan piano untuk memberikan kesan romantis dalam keadaan genting itu.
Beruntung, Nerissa dan Alvin bisa melanjutkan semuanya dengan sangat baik, membuat semua yang ada disana hanyut dalam romantisme yang sama sekali tidak direncanakan itu.
Saat Daniel bersiap untuk mengantar Nerissa dan Marin pulang, seorang staff mendatangi mereka dan memberi tahu mereka bahwa siaran langsung mereka mendapat respon yang sangat baik, bahkan mendapatkan penonton terbanyak dalam kurun waktu beberapa jam saja.
Daniel dan Marin pun bersorak senang, membuat Daniel tanpa sadar memeluk Marin yang ada di sampingnya.
Marin yang menyadari hal itu hanya diam, entah kenapa ia membiarkan Daniel memeluk dirinya saat itu.
Saat Daniel sadar apa yang sudah ia lakukan, ia segera melepaskan Marin dari pelukannya.
"Maaf," ucap Daniel canggung dengan menggaruk bagian belakang kepalanya.
Sedangkan Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum canggung kemudian menarik tangan Nerissa agar segera meninggalkan tempat itu.
Saat Daniel akan mengikuti Nerissa dan Marin, staff lain memanggilnya untuk mendiskusikan sesuatu yang penting.
Daniel pun meminta Alvin untuk mengantar Nerissa dan Marin pulang.
"Aku ikut!" sahut Cordelia.
"Kau pulang saja Delia, bukannya kau membawa mobil?" tanya Daniel.
"Kenapa kau hanya mengkhawatirkan penjual bunga itu, tapi sama sekali tidak mengkhawatirkanku?"
"Kau sudah terbiasa mengendarai mobil sendiri Delia, sedangkan mereka baru tinggal di kota ini dan jam segini susah untuk mendapatkan taksi," ucap Alvin menjelaskan.
"Kau hanya beralasan saja, aku akan tetap ikut......"
"Tidak, kau harus disini bersamaku!" ucap Daniel dengan menarik Delia dan memaksanya masuk ke dalam salah satu ruangan.
Sedangkan Alvin segera menghampiri Nerissa dan Marin untuk mengantar mereka pulang.
Sepanjang perjalanan tidak banyak yang mereka bicarakan, mereka lebih banyak diam karena Nerissa dan Alvin yang masih canggung karena kejadian di panggung tadi.
"Jadi disini kalian tinggal?" tanya Alvin saat mereka sudah sampai.
"Iya," jawab Nerissa singkat.
"Kau bisa mampir kesini kalau kau mau," sahut Marin.
"Iya, kalian masuklah, terima kasih karena sudah membantu acara peragaan busana tadi," ucap Alvin.
Nerissa dan Marin menganggukan kepala mereka lalu berjalan masuk meninggalkan Alvin.
Saat akan menutup pintu, Nerissa dan Alvin saling menatap untuk beberapa saat sebelum pintu menghalangi pandangan mereka satu sama lain.
Nerissa kemudian segera berlari masuk ke kamarnya. Ia menenggelamkan kepalanya ke dalam selimut, memutar badannya ke kanan dan ke kiri sampai ia terjatuh dari atas ranjang.
"Aaawwwhhhhh!!!" pekik Nerissa sambil menggosok gosok pantatnya.
"Kau kenapa Putri?" tanya Marin sambil membuka pintu kamar Nerissa.
Nerissa hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum lebar pada Marin. Marin hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian menutup kembali pintu kamar Nerissa.
Sedangkan Nerissa kembali naik ke atas ranjangnya, memukul mukul ranjangnya dengan kedua kaki dan tangannya karena terlalu senang malam itu.
"Putri, kau terlalu berisik!" ucap Marin berteriak.
Nerissa hanya terkekeh dengan menutup mulutnya. Ia tidak bisa menahan rasa bahagia yang ia rasakan malam itu.
Tatapan mata Alvin yang dalam seolah telah menembus jauh ke dalam pikirannya membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum mengingat setiap detik kedekatannya bersama Alvin saat mereka berada di panggung.
Di sisi lain, Alvin mengendarai mobilnya ke arah rumahnya dengan senyum di wajahnya. Ia sudah tidak bisa menahan senyumnya mengingat apa yang terjadi antara dirinya dan Nerissa beberapa waktu yang lalu.
Berada sedekat itu dengan Nerissa menyisakan kebahagiaan dalam hatinya, membuatnya semakin tidak bisa berhenti memikirkan Nerissa.
Sesampainya di rumah, ponselnya berdering karena Daniel menghubunginya.
"Halo, ada apa?"
"Kau dimana? kenapa belum kembali?" tanya Daniel.
"Aku di rumah, kembali kemana maksudmu?"
"Waaahhhh kau memang keterlaluan Alvin, kau membiarkanku berada di kantor sendirian sekarang?"
"Hahaha.... maaf aku lupa, aku akan segera kesana sekarang!" balas Alvin lalu segera kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya ke arah kantor.
Karena terlalu bahagia dan dipenuhi oleh Nerissa dalam pikirannya, ia lupa jika ia harus kembali ke kantor malam itu.
**
Sinar mentari menembus masuk ke dalam jendela kamar Nerissa. Dengan pakaian overall jeans dan kaos lengan pendeknya, Nerissa mengikat rambutnya ke atas lalu bersiap untuk mengantarkan pesanan bunga.
"Aku pergi dulu Marin!" ucap Nerissa setelah merapikan bunga bunga di ranjang sepedanya.
"Hati hati Putri," balas Marin sambil menyiapkan buket bunga pesanan.
Tak lama setelah kepergian Nerissa, seseorang datang memasuki toko bunga Marin. Marin begitu terkejut melihat siapa yang datang pagi itu, ia pun segera menghampiri seseorang itu.
"Apa kau mencari Nerissa?" tanya Marin menerka.
"Iya, dia baru saja pergi mengantar pesanan, apa ada yang bisa aku bantu?" jawab Marin sekaligus bertanya.
"Aahh iya, tolong carikan aku bunga yang mempunyai makna permintaan maaf," ucap Alvin.
"Mmmm.... kalau kau ingin meminta maaf pada seseorang, tulip putih inilah yang paling cocok, tulip putih ini merupakan simbol ketulusan dan pengampunan, apa kau ingin aku membuatkan buket tulip putih ini?"
Alvin menganggukan kepalanya dengan tersenyum. Setelah Marin selesai membuat buket bunga tulip, Alvin segera membayarnya namun ia kembali meletakkan buket bunga tulip putih itu di meja.
"Tolong berikan ini pada Nerissa," ucap Alvin pada Marin.
Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"sepertinya dia sudah mengingat Putri Nerissa, baguslah kalau begitu," ucap Marin dalam hati.
Tak lama kemudian Nerissa datang saat Alvin sudah pergi, Nerissa duduk di depan Marin dan menyambar minuman dingin di hadapan Marin.
"Hari panas sekali, aku harus berkali kali membeli minum di toko karena terlalu haus," ucap Nerissa mengeluh.
"Aku tau apa yang akan menyegarkanmu Putri," ucap Marin.
"Apa?" tanya Nerissa.
Marin kemudian mengambil buket bunga tulip putih yang baru saja dibuatnya lalu memberikannya pada Nerissa.
"Kau membuat ini untukku?" tanya Nerissa.
"Tentu saja, tapi ada seseorang yang memesannya untukmu!" jawab Marin.
"Seseorang memesan bunga ini untukku?" tanya Nerissa memastikan.
"Iya, kau tau siapa?"
Nerissa menggelengkan kepalanya dengan menatap bunga tulip putih yang indah di hadapannya.
"Alvin," ucap Marin yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Marin.
"Alvin? dia memesan bunga ini untukku?"
"Iya, tidak lama setelah kau pergi, dia datang dan memintaku untuk membuat buket bunga untukmu," jawab Marin.
"Apa kau tau arti dari bunga tulip putih ini Putri?" lanjut Marin bertanya.
"Apa?"
"Ketulusan dan permintaan maaf, itu artinya dia meminta maaf padamu dengan tulus Putri," jawab Marin menjelaskan.
"Kenapa dia minta maaf? apa dia....."
"Sudah mengingat dirimu!" sahut Marin yang membuat Nerissa tidak bisa menahan senyum di wajahnya.
"Lihatlah, pipimu merona hahaha...." ucap Marin dengan menunjuk pipi Nerissa yang tampak merah merona.
Nerissa kemudian menutup wajahnya dengan buket bunga tulip putih itu kemudian berlari masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Nerissa segera masuk ke kamarnya dan menaruh buket bunga itu di mejanya.
"Apa kau sudah mengingatku Alvin? apa sikapmu akan kembali seperti saat kita bertemu di tepi pantai?" tanya Nerissa dengan memandang buket bunga di hadapannya.
Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp
Dering ponsel Nerissa membangunkan lamunannya, sebuah pesan dari Marin masuk.
"Menurutku kau harus segera menghubunginya,"
Nerissa menganggukan kepalanya kemudian segera menghubungi nomor Alvin yang masih ia ingat, namun belum ia simpan di ponselnya.
Nerissa menunggu Alvin menerima panggilannya dengan senyum yang tidak bisa ia tahan.
"Halo, ini siapa?"
Terdengar suara seorang perempuan di ujung sana. Nerissapun segera mengakhiri panggilan itu.
"Perempuan? siapa? apa aku salah mengingat nomor Alvin?" tanya Nerissa pada dirinya sendiri.
**
Di tempat lain, Alvin sedang menghadiri meeting bersama Ricky dan para petinggi perusahaan Atlanta Grup lainnya.
Mereka semua memberikan selamat pada Alvin karena telah berhasil mengadakan acara peragaan busana dengan sukses dan mendapatkan hasil yang baik.
"Saya sangat berterima kasih pada Ricky yang sudah menyetujui gagasan saya dan tim untuk mengadakan peragaan busana ini, kalau bukan karena persetujuannya peragaan busana ini tidak akan terjadi," ucap Alvin yang membuat Ricky tersenyum tipis.
"sialan kau Alvin, aku sudah berusaha mengacaukan acaramu tapi ternyata kau bisa melanjutkan acara itu sampai selesai," batin Ricky kesal dalam hati.
"Itu sudah menjadi kewajibanku untuk berusaha menaikkan nilai saham perusahaan kita," balas Ricky dengan tersenyum, berusaha menyembunyikan kekesalannya.
Setelah meeting selesai, Alvin segera beranjak dari duduknya. Saat ia baru saja keluar, ia meraba seluruh kantong pakaiannya namun ia tidak menemukan ponselnya.
"Kau mencari ini?" tanya Cordelia sambil memamerkan ponsel milik Alvin.
"Kenapa bisa ada padamu?" balas Alvin bertanya.
"Kau menjatuhkannya tadi, selamat Alvin, acara peragaan busana yang kau adakan sukses besar," jawab Cordelia sekaligus memberi selamat pada Alvin.
"Terima kasih Delia, ini juga berkat bantuanmu," ucap Alvin.
Tak lama kemudian Daniel datang, memberi tahu Alvin dan Cordelia bahwa nanti malam Daniel dan para staff yang terlibat dalam acara peragaan busana itu akan mengadakan makan malam, termasuk para model yang ikut berpartisipasi.
"Apa dua penjual bunga itu juga datang?" tanya Cordelia pada Daniel.
"Namanya Nerissa dan Marin, tentu saja mereka datang, aku sendiri yang akan menjemput mereka," jawab Daniel.
"Haahh, terserah kau saja!" ucap Cordelia kesal.
"Alvin, sepertinya aku akan terlambat datang ke acara itu, jadi pastikan kau masih ada disana sebelum aku datang, oke?" ucap Cordelia pada Alvin.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan permintaan Cordelia.
Cordelia bersorak senang kemudian berjalan mendahului Alvin dan Daniel karena ia harus menemui kakaknya.
Alvin dan Daniel lalu berjalan ke arah lift yang akan membawa mereka ke lantai tiga, tempat ruangan mereka berada.
"Apa kau sudah memberi tahu Nerissa dan Marin tentang acara nanti malam?" tanya Alvin pada Daniel.
"Sudah, mereka bersedia untuk datang," jawab Daniel.
Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp
Ponsel Daniel berdering saat ia baru saja keluar dari lift, sebuah panggilan dari sang papa.
Danielpun berjalan menjauh dari Alvin beberapa langkah untuk menerima panggilan sang papa.
"Alvin, sepertinya aku tidak bisa menjemput Nerissa dan Marin," ucap Daniel pada Alvin setelah selesai menerima panggilan dari papanya.
"Kenapa?"
"Papa memintaku datang di acara lain, tapi aku akan tetap datang di acara kita, tapi mungkin aku sedikit terlambat," jawab Daniel menjelaskan.
"Lalu bagaimana dengan Nerissa dan Marin?"
"Kau bisa menjemput mereka kan? lagipula Delia akan datang terlambat jadi kau tidak perlu menjemputnya!"
"Baiklah, aku akan menjemput Nerissa dan Marin," balas Alvin.
"Kau memang sahabat yang bisa aku andalkan!" ucap Daniel dengan merangkul Alvin.
Namun Alvin segera melepas tangan Daniel di pundaknya lalu masuk ke ruangannya.
Dalam hatinya ia sudah tidak sabar untuk menunggu malam tiba, malam dimana ia bisa bertemu dan menatap wajah cantik dengan rambut coklat terang milik Nerissa.