Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Sikap Mama Daniel



Nerissa masih berada di rumah Alvin, ia meminum satu gelas penuh air putih setelah ia mencicipi bubur buatan bi Sita yang rasanya terlalu aneh untuknya.


Sedangkan Alvin hanya tertawa melihat Nerissa yang tampak tertekan dengan rasa bubur yang baru saja dimakannya.


"Apa sebegitu anehnya rasa bubur ini buatmu Nerissa?" tanya Alvin pada Nerissa.


"Maaf Alvin tapi aku tidak bisa memakan bubur ini lagi," jawab Nerissa sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu," balas Alvin kemudian beranjak dari duduknya untuk mengambil beberapa buah dan memberikannya pada Nerissa.


Setelah Alvin menghabiskan bubur miliknya, iapun mengantar Nerissa pulang.


"Terima kasih untuk hari ini Alvin, aku sangat senang," ucap Nerissa pada Alvin saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Bagaimana dengan bubur buatan bi Sita tadi?" tanya Alvin yang membuat Nerissa menghela nafasnya mengingat bagaimana rasa bubur yang Nerissa makan.


"Itu tidak termasuk yang membuatku senang hari ini," ucap Nerissa yang membuat Alvin terkekeh.


Sesampainya di depan rumah, Nerissa segera turun dari mobil Alvin.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang, aku harap liburan kita hari ini bisa mengurangi beban pikiranmu karena pekerjaan Alvin!" ucap Nerissa pada Alvin.


"Liburan kita hari ini cukup membuatku melupakan tekanan pekerjaanku Nerissa, terima kasih karena sudah menemaniku hari ini!" ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum Nerissa.


Alvin kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Nerissa, sedangkan Nerissa segera masuk ke dalam rumah.


Nerissa menjatuhkan dirinya di samping Marin yang saat itu sedang menonton TV.


"Bagaimana liburanmu Putri? sepertinya sangat menyenangkan!" tanya Marin pada Nerissa yang tampak senang.


"Tentu saja sangat menyenangkan, lain kali kau harus ikut berlibur bersamaku dan Alvin!" jawab Nerissa.


"Tidak Putri, aku tidak bisa ikut berlibur bersamamu dan Alvin!"


"Kenapa?" tanya Nerissa.


"Aku hanya akan menjadi orang ketiga diantara kalian berdua jika aku ikut kalian berdua berlibur, jadi lebih baik aku berdiam diri di rumah daripada iri melihat kemesraan kalian berdua," jawab Marin.


"Hahaha..... kemesraan apa maksudmu Marin? kita hanya berteman tidak ada hal seperti itu diantara aku dan Alvin!" ucap Nerissa.


"Bagaimana jika Alvin benar-benar menyukaimu kau juga menyukainya bukan?"


"Aku memang menyukainya, tetapi aku sadar siapa diriku Marin, aku hanya bisa sebatas menyukainya, aku harus bisa menahan perasaanku untuk tidak mengharapkannya menjadi milikku, aku tidak ingin terjatuh terlalu jauh dalam perasaanku sendiri," jawab Nerissa.


"Kau benar putri, memang itu yang harus kau lakukan karena semakin kau mencintainya kau akan semakin sulit untuk melepaskannya dan akan semakin menyakitkan saat takdir memaksa kalian berdua untuk berpisah," ucap Marin yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nerissa.


Nerissa kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.


Nerissa kemudian merebahkan badannya di ranjangnya sambil mengingat saat ia dan Alvin berada di perahu kecil untuk mengitari danau.


Nerissa seperti masih bisa merasakan rasa tenang dan nyaman saat Alvin menggenggam tangannya, rasa takut yang sebelumnya ia rasakan perlahan menghilang saat Alvin menggenggam tangannya dan mendekap dirinya dengan hangat.


"aku terlalu egois jika aku mengharapkan lebih darimu Alvin, tapi aku tidak bisa menahan sesuatu yang ada dalam hatiku, aku tidak bisa memilih pada siapa aku menjatuhkan hatiku," ucap Nerissa dalam hati sambil memegang dadanya yang masih terasa berdebar saat mengingat genggaman dan dekapan Alvin padanya


**


Waktu berlalu, hari pun berganti. Alvin keluar dari rumahnya berniat untuk menemui Nerissa di toko bunga.


Namun saat Alvin baru saja membuka pintu rumahnya sudah ada Daniel yang yang baru saja datang menghampiri Alvin.


"Kau mau kemana? kenapa sudah rapi sepagi ini?" tanya Daniel pada Alvin.


"Aku...."


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Alvin berdering membuat Alvin menghentikan ucapannya. Alvin mengambil ponselnya dari saku celana dan melihat sebuah panggilan dari Cordelia.


"Halo Alvin, apa kau sedang sibuk? aku ingin menemuimu sekarang!" tanya Cordelia pada Alvin


Alvin lalu membawa pandangannya pada Daniel yang masih berdiri di hadapannya.


"Ada Daniel di rumahku sekarang Delia," jawab Alvin.


"Hubungi aku setelah Daniel pergi, aku akan segera menemuimu!" ucap Cordelia kemudian mematikan sambungan teleponnya.


"Kau bisa bertemu Delia lain kali, hari ini kau milikku Alvin, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari rumah!" ucap Daniel lalu menarik tangan Alvin masuk ke dalam rumah karena ia berpikir jika Alvin sudah rapi karena ingin keluar menemui Delia.


"Ada apa Daniel? apa kau bertengkar lagi dengan papamu?" tanya Alvin yang sudah duduk di ruang tamu bersama Daniel.


"Aku ingin menceritakan sesuatu padamu tapi tolong jaga rahasia ini hanya di antara kita berdua!" jawab Daniel yang dibalas anggukan kepala Alvin.


"Sepertinya mama menyukai Marin," ucap Daniel yang membuat Alvin mengernyitkan keningnya tidak mengerti.


"Jangan berpura-pura tidak mengerti Alvin, aku yakin kau pasti mengerti maksudku!" ucap Daniel yang terlihat kesal.


"Ucapanmu itu terdengar ambigu Daniel, jadi jelaskan padaku agar aku tidak salah paham dengan maksud dari ucapanmu!" ucap Alvin.


"Beberapa waktu yang lalu aku mengenalkan Marin pada mama dan semalam mama mengatakan padaku bahwa Marin adalah perempuan yang baik yang cocok untuk menjadi menantunya, bukankah mama sangat berlebihan? padahal mama baru bertemu Marin 2 kali!" ucap Daniel menjelaskan.


"Marin memang gadis yang baik, wajar jika mamamu menyukainya, terlebih kau juga belum pernah memperkenalkan seorang gadispun pada mamamu," balas Alvin.


"Kau benar, tetapi aku sama sekali tidak pernah terpikirkan hal itu, kau tahu sendiri bagaimana aku dan Marin sering bertengkar!"


"Lalu apa yang kau katakan pada mamamu?"


"Aku hanya mengatakan kalau aku dan Marin berteman, jadi aku meminta nama untuk tidak terlalu mengharapkan apapun dari hubunganku dengan marin," jawab Daniel.


"Bagaimana dengan Nerissa? apa kau tidak memberitahu mamamu tentang Nerissa?"


"Aku belum berani mengatakan apapun pada mama tentang Nerissa, karena hubunganku dengan Nerissa sendiri belum pasti, aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang hanya membuat mama kecewa karena terlalu berharap," jawab Daniel.


"Lalu bagaimana dengan mamamu? apa mamamu masih mengharapkan Marin?"


"Kau tahu mama tidak akan mudah menyerah bukan?" ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Daniel berdering, sebuah panggilan dari sang mama.


"Halo Daniel di mana kau sekarang? bukankah kau sudah berjanji untuk mengantar mama ke toko bunga Marin pagi ini?"


"Aaahh iya.... Daniel lupa, mama bisa pergi ke toko bunga bersama sopir bukan?"


"Tidak Daniel, mama ingin pergi ke sana bersamamu, weekend ini mama ingin menghabiskan waktu bersamamu karena kau selalu sibuk bekerja!"


"Tapi ma......."


"Segera pulang sekarang, mama sudah menunggumu di rumah!"


Sambungan berakhir, Daniel menghela nafasnya dan membawa pandangannya pada Alvin.


"Ada apa?" tanya Alvin pada Daniel.


"Mama memintaku untuk mengantarkan ke toko bunga Marin, itu kenapa aku kabur kesini pagi-pagi agar Mama pergi ke toko bunga Marin bersama sopir, tapi ternyata mama masih memaksaku untuk mengantarnya," jawab Daniel tak bersemangat.


"Hahaha..... kalau begitu pulanglah dan antar mamamu menemui Marin, sepertinya mamamu sudah merindukan Marin hahaha....."


"Apa kau tidak bisa membantuku untuk membuat alasan pada mama? aku sudah cukup damai tanpa Marin, Alvin!" ucap Daniel memelas.


"Baiklah, aku akan pulang kalau begitu, membeli bunga tidak akan membutuhkan waktu lama bukan? aku hanya akan menunggu nama di dalam mobil!" ucap Daniel kemudian beranjak dari duduknya dan meninggalkan Alvin.


Alvin hanya terkekeh melihat Daniel yang tampak tak bersemangat untuk pulang ke rumahnya.


Danielpun meninggalkan rumah Alvin, mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah sudah ada sang mama yang menunggunya dan segera menghampiri Daniel yang baru saja sampai.


"Kemana saja kau pagi-pagi seperti ini Daniel? apa kau sengaja tidak ingin mengantar mama?" tanya Mama Daniel saat sudah berada di dalam mobil.


"Daniel hanya pergi ke rumah Alvin ma," jawab Daniel.


"Dari dulu kau selalu saja menempel pada Alvin, kalian seperti sedang berpacaran jika terlalu sering bersama!"


"Dia satu-satunya teman baik Daniel ma," ucap Daniel


"Bikankah kau memiliki banyak teman baik laki-laki ataupun perempuan, tetapi kenapa kau hanya menempel pada Alvin?"


"Kebanyakan dari teman Daniel hanyalah teman sebatas pekerjaan ataupun teman palsu yang membicarakan hal buruk di belakang Daniel, berbeda dengan Alvin yang benar-benar menjadi teman baik Daniel selama ini!" jawab Daniel.


"Baiklah terserah kau saja, asalkan kau tidak kehilangan jati dirimu yang sebenarnya karena terlalu sering berdua dengan Alvin!"


"Hahaha...... apa maksud mama? apa mama juga khawatir kalau Daniel akan menyukai Alvin?"


"Huuss...... jangan berbicara seperti itu, kau membuatku mama takut!"


"Hahaha..... apa mama percaya tentang artikel yang sempat heboh dulu?"


"Mama pasti lebih percaya padamu daripada orang lain Daniel, hanya saja banyak orang yang menganggap kau dan Alvin memiliki hubungan yang berbeda mengingat kalian berdua sangat dekat dan sering menghabiskan waktu berdua!"


"Mama tenang saja Daniel masih menyukai perempuan, Alvin juga laki-laki normal yang menyukai perempuan," ucap Daniel meyakinkan sama mama.


"Mama mempercayaimu sayang tetapi mama akan lebih tenang jika kau bisa berpacaran dengan seorang gadis cantik apalagi jika dia mengetahui pengetahuan yang luas tentang bunga!"


"Marin maksud mama?" terka Daniel yang sudah mengerti maksud dari ucapan sang mama.


"Waaaah..... apa kau berpikiran sama dengan mama? apa kau juga ingin berpacaran dengan Marin?"


"Sama sekali tidak, dia itu monster ma, dia bisa berubah menjadi sangat menakutkan saat sedang marah jadi mama jangan tertipu dengan kecantikannya!"


"Apa kau baru saja mengatakan bahwa dia cantik?"


Daniel menghela nafasnya merasa sudah terjebak oleh ucapan sang mama.


Mama Daniel hanya tertawa kecil melihat sikap sang anak.


Sesampainya di depan toko bunga Marin, Danielpun menghentikan mobilnya.


"Daniel menunggu mama di sini saja, mama tidak akan lama bukan?"


"Kau harus turun Daniel, bantu mama memilih bunga yang akan mama taruh di kamar nanti!" jawab mama Daniel.


"Mama yang lebih mengerti tentang bunga jadi lebih baik mama sendiri saja yang turun!" balas Daniel.


"Ayolah Daniel, apa kau tidak ingin menemani mama?"


Daniel kembali menghela nafasnya kemudian mengikuti sang mama turun dari mobil lalu masuk ke dalam toko bunga Marin.


"Selamat datang di Marin Florist," sapa Marin dengan ramah seperti biasa.


"Selamat pagi Marin, kau cantik sekali pagi ini!" ucap mama Daniel memuji Marin.


"Tante juga sangat cantik," balas Marin.


"Kau bisa saja Marin, tante kesini ingin mencari bunga yang cocok untuk ditaruh di kamar tante!"


"Silakan dipilih tante, semoga bunga yang tante inginkan ada di sini," ucap Marin.


Mama Daniel mengedarkan pandangannya mengamati bunga-bunga yang ada di sana.


"Bunga gantung itu sepertinya cocok untuk ditaruh di balkon, bukankah begitu Marin?"


"Iya tante, tante bisa menaruhnya di balkon ataupun di teras rumah," jawab Marin.


"Apa kau bisa mengambilnya untuk tante?"


"Tentu saja bisa, tante silakan duduk Marin makan mengambil tangga sebentar!"


Marin kemudian mengambil tangga dan memasangnya di bawah bunga gantung pilihan mama Daniel.


"Apa kau bisa mengambilnya?" tanya Daniel pada Marin yang mulai menaiki tangga.


"Tentu saja kau pikir siapa yang menaruhnya disana jika bukan aku!" balas Marin.


"Baiklah, aku tidak akan menolongmu jika kau terjatuh dari atas sana!" ucap Daniel kemudian ikut duduk di samping sang mama.


"Jaga ucapanmu Daniel, tidak seharusnya kau mengatakan hal itu pada Marin," ucap mama Daniel pada Daniel.


"Daniel hanya ingin membantunya ma, tapi mama lihat sendiri bukan bagaimana reaksinya!"


Mama Daniel hanya diam memperhatikan bunga-bunga di sekitarnya. Sedangkan Daniel masih memperhatikan Marin, khawatir jika Marin tiba-tiba terjatuh.


Marin kemudian turun dengan membawa bunga gantung yang mama Daniel inginkan.


"Ini tante bunganya, silakan diperiksa dulu!" ucap Marin sambil memberikan bunga yang diinginkan mama Daniel.


Marin kemudian melipat kembali tangganya dan menaruhnya di tempat sebelumnya.


"Kau lihat bukan? aku bisa mengambilnya tanpa terjatuh!" ucap Marin menyombongkan dirinya pada Daniel.


Daniel hanya tersenyum tipis sambil memalingkan wajahnya.


Saat Marin akan berjalan melewati Daniel, Daniel sengaja menghalangi langkah Marin dengan kakinya, membuat Marin tersandung kaki Daniel.


Hampir saja Marin terjatuh jika Daniel tidak segera menarik tangan Marin, membuat Marin berbalik dengan cepat dan menjatuhkan dirinya pada Daniel.


Marin terdiam saat dirinya berada sangat dekat dengan Daniel, ia bahkan bisa mencium aroma tubuh Daniel saat itu.


Saat dadanya mulai berdebar kencang, Marin segera menyadari posisinya saat itu. Iapun segera beranjak dan memukul dada Daniel dengan kencang.


"Apa kau gila? kau ingin aku jatuh dan terluka?" ucap Marin dengan kesal pada Daniel.


"Kau yang tidak memperhatikan jalanmu kenapa menyalahkan aku?" balas Daniel yang tidak ingin disalahkan.


"Kau....." Marin menghentikan ucapannya saat ia sadar jika ada mama Daniel di sana.


"Maaf tante, Marin tidak bermaksud kasar, hanya saja Daniel sedikit menyebalkan," ucap Marin pada mama Daniel.


"Seharusnya kau memukulnya lebih kencang Marin!" balas mama Daniel.


"Boleh tante?" tanya Marin memastikan.


"Tentu saja boleh, dia memang ingin menjahilimu!" jawab mama Daniel.


Marin tersenyum tipis kemudian membawa pandangannya pada Daniel. Daniel yang saat itu merasa nyawanya terancam segera beranjak dari duduknya berniat untuk segera pergi sebelum ia benar-benar mati di tangan Marin.