
Di bawah langit berbintang, Daniel duduk di jendela kamarnya. Ia memikirkan ucapan Nerissa padanya beberapa saat yang lalu.
Daniel, aku mohon jangan marah pada Alvin, aku yang meminta untuk berteman dengannya walaupun dia memilih untuk menjauhiku dan sekarang aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, aku tidak tahu apa yang membuatnya mengabaikanku lagi malam ini
Daniel menghela nafasnya, menatap hamparan gelap dengan kerlip bintang yang menghiasi malam.
"aku akan menjauhinya jika memang itu yang kau inginkan, aku akan melupakan semua tentangnya jika hanya dengan itu persahabatan kita bisa kembali!"
Daniel teringat ucapan Alvin yang berkata jika Alvin akan menjauhi Nerissa dan saat ia menemui Nerissa, Nerissa tampak sedih karena Alvin tiba-tiba mengabaikannya.
PRAAAAAANG!!!!
BRAAAAAAKKKKK!!
Suara barang pecah dan gebrakan pintu tiba-tiba membuat Daniel begitu terkejut. Daniel segara beranjak dari jendelanya dan berlari keluar kamarnya untuk melihat apa yang terjadi.
Saat ia sudah keluar dari kamar, ia hanya melihat sang papa yang keluar dari rumah dengan langkahnya yang cepat.
Daniel kemudian berjalan ke arah kamar orang tuanya, mengetuk beberapa kali pintu kamar itu lalu membukanya.
Dilihatnya sang mama yang sedang terbaring di ranjang membelakangi pintu. Danielpun berjalan mendekati sang mama dan duduk di tepi ranjang sang mama.
Daniel hanya diam sambil mengusap rambut sang mama dengan lembut.
"Maafkan mama sayang," ucap mama Daniel dengan suara serak.
"Daniel boleh tidur disini ma?" tanya Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala mama Daniel.
Danielpun membaringkan dirinya di belakang sang mama, tangannya memeluk pinggang sang mama dengan hangat seolah memberikan kekuatan pada sang mama agar tetap sabar menghadapi segala masalah yang ada saat itu.
"Mama, kenapa papa.....
"Tidurlah Daniel, kau harus bekerja besok pagi!"
"Apa mama juga akan tidur?" tanya Daniel yang kembali dibalas anggukan kepala sang mama.
"Baiklah, Daniel akan tidur disini malam ini!"
Daniel kemudian memejamkan matanya dengan masih memeluk sang mama. Ia tahu sang mama tidak akan tidur malam itu, karena seperti biasa setelah pertengkaran hebat yang terjadi mama Daniel tidak akan tidur sampai pagi datang.
Benar saja, tak lama setelah Daniel memejamkan matanya, sang mama melepaskan tangan Daniel yang memeluknya dengan pelan kemudian beranjak dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang.
Mama Daniel hanya berdiam diri menatap kosong ke arah dinding kamar.
Daniel yang menyadari hal itupun ikut beranjak dari tidurnya dan duduk di samping sang mama.
"Apa mama membangunkanmu sayang?" tanya mama Daniel pada Daniel.
"Tidak, kenapa mama belum tidur?"
Mama Daniel hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan kedua mata sembab karena sudah banyak menangis.
"Ma, Daniel sudah dewasa sekarang, Daniel berhak tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi antara mama dan papa, jadi tolong ceritakan pada Daniel semuanya ma!" ucap Daniel pada sang mama.
"Mama tidak ingin masalah mama dan papa menjadikan beban untukmu Daniel, biarkan mama dan papa menyelesaikan masalah kita sendiri."
"Daniel tinggal di rumah ini ma, Daniel setiap hari menyaksikan pertengkaran mama dan papa tapi Daniel tidak tahu apapun tentang masalah kalian berdua, apa Daniel masih dianggap sebagai anak di sini?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu Daniel? tentu saja kau anak mama dan papa satu-satunya!"
"Jika memang begitu tolong ceritakan pada Daniel apa yang sebenarnya terjadi, jangan biarkan Daniel hanya menduga-duga ma!"
"Maafkan mama sayang, mama sudah berusaha untuk membuat keluarga kita terlihat sempurna di matamu, mama tidak ingin kau mengetahui pertengkaran yang terjadi antara mama dan papa, tapi semakin lama sepertinya mama dan papa tidak bisa lagi menyembunyikannya darimu!"
"Mama dan papa tidak perlu menyembunyikan apapun dari Daniel, Daniel sudah dewasa, Daniel bisa menyikapi semua permasalahan ini dengan baik."
"Tapi tolong jangan membenci papamu setelah mama menceritakan semuanya padamu," ucap mama Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.
Mama Danielpun menceritakan pada Daniel tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga mereka.
"Sebenarnya mama dan papa menikah karena perjodohan, papa sudah mempunyai tunangan saat itu, tetapi orang tua papa memaksa papa untuk menikahi mama dan meninggalkan tunangannya!" ucap mama Daniel memulai ceritanya.
"Tapi setelah itu mama dan papa saling mencintai bukan?"
"Mungkin memang terlihat seperti itu bagimu Daniel, tetapi sepertinya tidak, mama memang sangat mencintai papamu tetapi tidak dengan papamu, kesalahan memang ada pada mama karena saat itu mama tidak menolak perjodohan itu dan menerimanya dengan mudah karena mama sudah jatuh cinta pada papamu sejak mama pertama kali melihatnya."
"Maksud mama papa tidak mencintai mama?"
"Papamu sudah mengatakan dari awal bahwa dia tidak mencintai mama, tetapi mama bersikeras untuk membuatnya mencintai mama dan mama selalu berusaha agar bisa membuat papa mencintai mama, terlebih setelah mama mengandung anaknya, mama pikir setelah mama memilikimu papamu bisa memberikan cintanya untuk mama, tapi ternyata tidak," ucap mama Daniel dengan menundukkan kepalanya menahan kesedihan.
Danielpun menggenggam tangan sang mama berusaha memberikan kekuatan pada sang mama.
"Papamu laki-laki yang baik Daniel, meskipun dia tidak mencintai mama dengan tulus tetapi dia memperlakukan mama dengan sangat baik, dia memberikan perhatiannya pada mama seolah-olah dia sudah memberikan hatinya untuk mama padahal dia masih menyimpan perempuan lain dalam hatinya."
"Mantan tunangan papa?" terka Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala sang mama.
"Jangan menyalahkan papamu, karena mamalah yang merebut papamu dari perempuan itu, selama ini mama dan papa selalu bersikap layaknya suami istri yang saling menyayangi dan mencintai tidak hanya demi nama baik papa, tetapi juga demi dirimu Daniel, mama berpikir mungkin suatu saat nanti hati papa akan tergerak dan bisa memberikan sedikit ruang dalam hatinya untuk mama."
"Kenapa mama bisa bertahan selama ini? bukankah ini sangat menyakitkan untuk mama?"
"Selama ini mama hidup dalam kebahagiaan bersama papamu Daniel, meskipun mama tahu papamu tidak mencintai mama tapi seperti yang mama bilang papamu selalu memberikan perhatiannya pada mama seolah papamu sudah mencintai mama, lagi pula mama sadar ada orang lain yang lebih merasakan sakit daripada mama!"
"Lalu apa yang buat mama dan papa akhirnya bertengkar seperti ini?"
"Karena mama terlalu egois Daniel, mama merasa sudah memiliki papamu seutuhnya karena perhatian papamu yang membuat mama berpikir jika papamu sudah mencintai mama, hati mama terasa sangat sakit saat mama melihat papamu bersama dengan perempuan lain, terlebih saat papamu mengatakan bahwa dia masih mencintai mantan tunangannya itu."
"Tanpa sadar hal itu membuat mama sering marah dan sering mengabaikan papa, sikap mama yang seperti itu membuat papa semakin menjauh dari mama dan membuat mama semakin terluka, tetapi mama akan berusaha bertahan, tidak hanya menjaga keluarga kita tetapi juga menjaga nama baik papamu sayang," lanjut mama Daniel.
"Jadi selama ini mama dan papa berpura-pura? jadi selama ini tidak ada keluarga harmonis di rumah ini?"
"Tidak sayang, tidak seperti itu, walaupun mama tahu papa tidak mencintai mama tetapi mama dan papa menjalani hubungan kita dengan baik sebagai orang tua yang baik untukmu, mama dan papa selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu, mama dan papa bahagia dengan rumah tangga kita karena dengan kesabaran mama nama baik papa tetap terjaga dan karena perhatian papa mama merasa menjadi istri yang dicintai oleh suaminya."
Daniel menggelengkan kepalanya pelan lalu menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Seperti itulah keluarga kita yang sebenarnya Daniel, maafkan mama dan papa karena sudah membuatmu berada di situasi seperti ini, kau boleh membenci mama tapi jangan pernah membenci papamu karena dia juga tidak ingin berada di situasi yang seperti ini!"
Daniel lalu membawa pandangannya pada sang mama dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Senyum bahagia sang mama yang selama ini dilihatnya ternyata menyimpan luka yang begitu dalam, yang sudah tersimpan bertahun-tahun lamanya.
Hingga akhirnya senyum itu perlahan memudar seiring dengan pertengkaran yang sering terjadi.
"Daniel yakin dengan kesabaran mama, papa akan memberikan hatinya pada mama karena mama adalah istri terbaik untuk papa dan papa adalah suami terbaik untuk mama," ucap Daniel pada sang mama.
"Sudah bertahun-tahun mama berusaha untuk bersabar Daniel, bertahun-tahun mama berusaha membuat papamu memberikan hatinya untuk mama, tetapi sepertinya mama akan menyerah, mama tidak bisa memaksakan hati yang tidak pernah tercipta untuk mama," balas mama Daniel.
Daniel kemudian menggeser posisi duduknya lalu memeluk sang mama. Matanya memerah menahan air mata yang sudah menggenang di kedua sudut matanya.
Sedangkan sang mama menahan sesak yang teramat dalam dengan kedua mata yang sudah meneteskan air mata yang tak ada hentinya.
"Daniel mohon jangan menyerah ma, Daniel juga akan berusaha membuat papa bisa memberikan hatinya untuk mama dan Daniel akan berusaha....."
"Tidak Daniel, jangan melakukan apapun untuk mama dan papa, jalani hidupmu dengan baik dan raih impianmu, mama dan papa akan selalu menyayangimu meskipun kita tidak lagi bersama sebagai sebuah keluarga," ucap mama Daniel memotong ucapan Daniel.
Daniel hanya diam mendengar ucapan sang mama, hatinya terasa menciut dan dadanya terasa sesak. Ia sudah cukup dewasa untuk mengartikan ucapan sang mama yang ingin berpisah dari sang papa.
Waktu berlalu, Daniel masih menemani mamanya untuk beberapa saat, setelah sang mama lebih tenang, Daniel keluar dari rumah mengendarai mobilnya menjauh dari rumah.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, Marin yang saat itu akan merebahkan badannya di ranjang teringat sesuatu yang membuatnya segera beranjak dari tempat tidurnya
Marin kemudian keluar dari kamarnya setelah mengambil dompet dan ponselnya.
Marin harus pergi ke minimarket terdekat, membeli barang untuk membuat buket bunga besok pagi.
Dengan pelan dan hati-hati Marin membuka pintu dan keluar dari rumah.
Setelah mendapatkan apa yang ingin dibelinya, Marinpun kembali pulang ke rumahnya. Sebelum sampai di rumah, ia begitu terkejut karena melihat seseorang yang dikenalnya duduk di tepi jalan di depan rumahnya.
Marin segera berlari kecil menghampiri seseorang yang tampak sangat kacau itu.
"Daniel, apa yang kau lakukan disini?" tanya Marin yang melihat Daniel duduk di tepi jalan.
Daniel membawa pandangannya pada Marin tanpa mengucapkan apapun. Raut wajahnya tampak dipenuhi dengan kesedihan saat itu.
"Apa yang terjadi padamu Daniel? kenapa kau duduk disini? apa kau ingin menemui Putri? apa kau....."
Marin menghentikan ucapannya saat Daniel tiba-tiba menyandarkan kepalanya pada Marin yang saat itu berdiri di hadapan Daniel.
"Apa yang kau lakukan Daniel, berdirilah!" ucap Marin sambil mendorong kepala Daniel agar menjauh dari kakinya, namun Daniel kembali menyandarkan kepalanya pada kaki Marin tanpa mengucapkan apapun.
Tiba-tiba Daniel terisak dengan memegang kedua kaki Marin yang berdiri di hadapannya.
"Ada apa denganmu Daniel? kenapa kau seperti ini?" tanya Marin sambil berusaha melepaskan tangan Daniel dari kedua kakinya.
"Rasanya sangat menyakitkan," ucap Daniel dengan terisak.
"apa dia sedang mabuk?" batin Marin bertanya dalam hati.
"Lepaskan kakiku Daniel, aku akan menemanimu disini," ucap Marin sambil berusaha melepaskan kakinya dari Daniel.
Marin kemudian duduk di samping Daniel setelah Daniel melepaskan tangannya dari kedua kaki Marin.
"Alvin laki-laki yang brengsek Marin, apa kau tahu itu?"
"Kenapa kau berbicara seperti itu tentang sahabatmu?"
"Dia mengkhianati persahabatannya denganku Marin," jawab Daniel.
"Apa maksudmu? apa kau sedang bertengkar dengan Alvin?" tanya Marin.
"Tidak...... tidak hanya bertengkar, aku bahkan sudah memukul wajahnya berkali-kali karena dia sudah menghianatiku, padahal dia tahu bahwa aku sangat menyukai Nerissa, tetapi diam-diam dia berusaha merebut Nerissa dariku!"
"Kenapa kau bisa mengatakan hal itu? bukankah Putri dan Alvin hanya berteman sama seperti putri berteman denganmu?"
"Cinta juga berawal dari teman Marin, jika dia tahu aku menyukai Nerissa seharusnya dia tidak menyimpan foto-foto Nerissa di ponselnya, seharusnya dia bisa menahan diri untuk tidak menyukai perempuan yang aku sukai, aku yang lebih dulu bertemu Nerissa, aku yang lebih dulu menyukainya dan aku yang lebih dulu menyatakan perasaanku padanya, tetapi sekarang diam-diam Alvin mendekati Nerissa seolah-olah menjadi teman Nerissa!"
Marin menghela nafasnya kemudian memegang tangan Daniel.
"Bagaimana jika kebalikannya? apa yang akan kau lakukan?" tanya Marin yang membuat Daniel segera membawa pandangannya pada Marin.
"Apa maksudmu?"
"Bagaimana jika ternyata Alvin yang lebih dulu mengenal Putri? bagaimana jika Alvin yang lebih dulu menyukai Putri? bagaimana jika Alvin yang lebih dulu jatuh cinta pada Putri? tetapi dia menahan perasaannya karena dia tahu kau menyukainya!"
"Apa yang kau ucapkan Marin, kau membuatku bingung," ucap Daniel sambil memijit kepalanya yang terasa pusing.
"Itu adalah kenyataan yang sebenarnya Daniel, Alvin yang lebih dulu bertemu Putri, Alvin yang lebih dulu mengenal Putri dan bisa jadi Alvin yang lebih dulu jatuh cinta pada Putri tetapi Alvin berpura-pura tidak mengenal Putri karena Alvin tahu kau menyukai Putri, kau pasti ingat bukan pertemuan mereka yang pertama? di hadapanmu Alvin berkata jika dia tidak mengenal Putri, tetapi saat itu dia berbohong demi menjaga perasaanmu Daniel!"
"Hahaha.... kau hanya bercanda kan marin?"
"Tidak, aku serius Daniel, mungkin pada awalnya Alvin bisa menjaga jaraknya dengan Putri tetapi seperti yang kau tahu Putri sendiri yang ingin berteman dengan Alvin dan juga dirimu, ini adalah kenyataannya Daniel, kau harus bisa menerimanya!" ucap Marin dengan menatap kedua mata Daniel yang terlihat sayu karena pengaruh alkohol.