Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Gelang Mutiara (2)



Di bawah bulan malam, Nerissa dan Marin berada di tepi pantai untuk mencoba kekuatan gelang yang diberikan oleh Ratu Nagisa.


Nerissa membelalakkan matanya takjub saat ia melihat ekor Marin yang berubah menjadi sepasang kaki manusia.


Sedangkan Marin, bersorak senang karena sudah lama ia tidak merasakan mempunyai kaki.


Setelah menggerakkan perlahan jari jari kakinya, Marinpun segera berdiri dan berlari lari kecil di sekitar Nerissa.


"Ayo Putri, cepat putar gelang milikmu!" ucap Marin pada Nerissa.


"Aku.... aku takut Marin," balas Nerissa yang tampak gugup.


Marin kemudian berjongkok di depan Nerissa, tersenyum nakal kemudian meraih tangan Nerissa dan berniat memutar gelang Nerissa, namun Nerissa segera menarik tangannya.


"Aku akan melakukannya sendiri, bersabarlah Marin!" ucap Nerissa kesal.


Marin hanya terkekeh melihat sikap Nerissa, ia kemudian duduk di samping Nerissa dengan menggerak gerakkan kedua kakinya.


"Mempunyai kaki tidak seburuk yang kau pikirkan Putri, percayalah!" ucap Marin pada Nerissa.


Nerissa menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Dengan perlahan Nerissa memutar gelang mutiara di tangannya.


Hal yang sama seperti Marin pun terjadi, ekor merah muda Nerissa bercahaya kemudian terlihat sepasang kaki di bagian bawah tubuh Nerissa.


Dengan bantuan gelang mutiara dari sang bunda, Nerissa dan Marin bisa merubah ekor mereka menjadi kaki.


Mereka juga mengenakan pakaian yang berwarna sama dengan ekor mereka.


"Yeeeyyy, kau berhasil Putri!" ucap Marin bersorak senang.


"Rasanya...... sedikit aneh," ucap Nerissa sambil menggerakkan jari jari kakinya.


Marin kemudian berdiri dan berjalan memutari Nerissa.


"Ayo berdirilah dan berjalan sepertiku!" ucap Marin pada Nerissa.


"Tunggu dulu, apa pakaian ini cocok untukku?" tanya Nerissa pada Marin.


"Tentu saja, pakaian itu memiliki warna yang sama dengan ekormu jadi itu terlihat sangat cocok untukmu!" jawab Marin.


Nerissa kemudian berusaha berdiri dengan kedua kakinya. Karena itu adalah pengalaman pertamanya berdiri di daratan dengan kaki, Nerissapun sempat kesulitan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Dua kaki ini akan menjaga keseimbanganmu Putri, jangan khawatir!" ucap Marin pada Nerissa.


Nerissa menganggukan kepalanya kemudian bersiap untuk berjalan seperti Marin.


Namun dalam sekejap saja Nerissa jatuh terjerembab di atas pasir pantai. Marin yang sudah berjalan sedikit jauh dari Nerissapun segera berlari menolong Nerissa.


"Kau baik baik saja Putri?" tanya Marin sambil membantu Nerissa berdiri.


"Aaah.... kaki kaki ini menyebalkan!" ucap Nerissa kesal.


"Sabarlah Putri, kau baru mencobanya, jangan menyerah, sekarang perhatikan langkah kakiku!" ucap Marin pada Putri Nerissa.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dan fokus pada kedua kaki Marin yang perlahan berjalan.


Nerissa kemudian mengikuti Marin dengan membuat satu langkah dari kaki kanannya.


"Aku berhasil Marin, apa aku sudah bisa berjalan sekarang?"


"Lanjutkan langkah selanjutnya Putri, kau pasti bisa!" ucap Marin.


Nerissa menganggukan kepalanya penuh semangat, namun dalam sekejap saja ia kembali terjatuh.


Marin yang melihat hal itu tidak bisa menahan tawanya karena ia melihat Nerissa yang tidak menggerakkan kakinya sama sekali.


Nerissa hanya mencondongkan badannya ke depan tanpa membuat sebuah langkah pada kakinya.


"Apa ini lucu buatmu?" tanya Nerissa kesal.


"Hahahaha..... maafkan aku Putri, ayo berjalanlah denganku!" ucap Marin dengan mengulurkan tangannya pada Nerissa.


Nerissapun menerima uluran tangan Marin, dengan bantuan Marin, ia kembali berdiri.


Nerissa kemudian melangkahkan satu per satu kakinya dengan perlahan. Sampai 5 langkah selanjutnya Nerissa berhasil melangkah dengan aman.


Namun ia hampir saja kembali terjatuh pada langkahnya yang ke 6, beruntung Marin memegang tangan Nerissa dengan erat sehingga Nerissa tidak terjatuh.


"Kau pasti bisa Putri, jangan menyerah!" ucap Marin memberi semangat.


Waktu terus berlalu, Nerissa dan Marin sudah banyak menghabiskan waktunya di tepi pantai. Kini tiba saatnya bagi mereka untuk kembali ke istana sebelum pagi.


Merekapun memasukkan tubuh mereka ke dalam air kemudian memutar gelang mutiara di tangan mereka dan dalam sekejap kaki mereka berubah menjadi ekor.


"Aaahhh akhirnya ekorku kembali," ucap Nerissa sambil mengibaskan ekornya.


"Apa kau tidak senang mempunyai kaki?" tanya Marin pada Nerissa.


"Aku sedikit kesal karena itu sangat merepotkan, tapi jangan khawatir, aku akan belajar dengan cepat agar bisa menyelesaikan tugas dari bunda dengan baik," jawab Nerissa.


"Tapi sepertinya kita akan membutuhkan waktu yang semakin lama saat di daratan Putri," ucap Marin.


"Kenapa?" tanya Nerissa.


"Bukankah satu satunya cara agar kau bisa menemukan dimana mutiara biru itu dengan menggunakan mahkotamu? dan kau bahkan belum pernah mencarinya sejak malam itu!"


"Aaahhh iya, kau benar Marin, aku harus mencari mahkota itu dulu agar aku bisa menemukan mutiara biru milik bunda," balas Nerissa tak bersemangat.


"Tenang saja Putri, aku akan selalu membantumu, selagi kita mencari mahkota dan mutiara biru itu kau juga bisa mempelajari kekuatanmu lebih jauh!"


Nerissa menganggukan kepalanya dengan tersenyum senang.


"Terima kasih Marin, kau memang teman baikku," ucap Nerissa dengan menggandeng tangan Marin.


"Dan juga teman tercantik pastinya hehehe...."


"Pasti....." balas Nerissa yang membuat mereka berdua tertawa.


Saat Nerissa dan Marin baru saja memasuki gerbang istana, Chubasca menghampiri mereka.


"Hmmm..... sepertinya kalian sudah kembali akur!" ucap Chubasca.


"Kita memang selalu akur," balas Marin.


"Ya.... ya.... ya.... terserah kau saja, tapi kalian dari mana? kenapa kalian terlihat sangat senang?"


Nerissa dan Marinpun saling pandang seolah meminta jawaban satu sama lain.


"Mereka aku tugaskan untuk melihat keadaan di wilayah barat Chubasca!" jawab Ratu Nagisa yang tiba tiba datang.


"Ooohh, bagiamana keadaan disana Putri?" tanya Chubasca pada Nerissa.


"Tentu saja menyenangkan, kau tidak lihat kita baru saja tertawa bahagia sebelum kau datang, kau mengacaukan kebahagian kita saja!" sahut Marin menjawab dengan ketus.


"Jaga sikapmu di depan Ratu, Marin!" ucap Chubasca pada Marin.


Marin hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya pada Ratu Nagisa.


"Maafkan adik saya Ratu Nagisa," ucap Chubasca pada Ratu Nagisa.


"Tidak apa, kalian berdua masuklah, kalian pasti lelah!" ucap Ratu Nagisa pada Nerissa dan Marin.


Nerissa dan Marinpun masuk ke kamar Nerissa diikuti dengan Ratu Nagisa.


"Apa Chubasca menanyakan sesuatu yang lain pada kalian?" tanya Ratu Nagisa pada Nerissa dan Marin.


"Tidak bunda," jawab Nerissa.


"Kalau hal itu terjadi lagi, minta siapapun itu untuk bertanya langsung pada bunda, karena bunda yang memberi perintah pada kalian berdua."


"Baik bunda," balas Nerissa.


"Sekarang kalian beristirahatlah, kalian pasti lelah!"


Nerissa dan Marin kompak menganggukan kepala mereka. Ratu Nagisa kemudian keluar dari kamar Nerissa, meninggalkan Nerissa dan Marin agar mereka bisa beristirahat dengan nyaman.