
Alvin dan Nerissa masih berada di dalam lift yang akan membawa mereka ke lobi.
"Apa maksud ucapanmu Nerissa? bukankah kau perempuan pertama yang Daniel kenalkan pada mamanya?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Tidak Alvin, Marin yang lebih dulu mengenal mama Daniel sedangkan aku baru bertemu mama Daniel pagi tadi," jawab Nerissa.
Mendengar jawaban Nerissa tanpa sadar Alvin tersenyum tipis karena ia berpikir jika Nerissalah perempuan pertama yang Daniel kenalkan pada sang mama.
"Kenapa kau tersenyum sendiri Alvin?" tanya Nerissa yang melihat Alvin tersenyum tanpa alasan.
Alvin hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan berusaha menahan senyumnya.
Liftpun berhenti, pintu lift terbuka Nerissa dan Alvin pun keluar dari lift.
"Apa kau mau menunggu Daniel di sini?" tanya Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.
Alvin dan Nerissa kemudian berpisah, Nerissa menunggu Daniel di depan resepsionis sedangkan Alvin segera menemui seseorang yang sudah menunggunya.
Hampir 30 menit telah berlalu Nerissa masih duduk di tempatnya menunggu Daniel keluar menghampirinya.
Alvin yang melihat Nerissa masih duduk di depan resepsionis pun segera menghampiri Nerissa.
"Kenapa kau masih di sini? apa Daniel belum menemuimu?" tanya Alvin pada Nerissa.
Nerissa hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengucapkan apapun.
"Tentang rencanaku untuk mengajakmu belajar berenang bagaimana? apa kau masih takut untuk belajar berenang Nerissa?" tanya Alvin yang sudah duduk di samping Nerissa.
"Berenang? sepertinya aku tidak akan bisa berenang selamanya Alvin, aku tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi!" balas Nerissa.
"Aku akan mengajarimu dengan hati-hati Nerissa, apa kau tidak percaya padaku?"
"Bukan begitu Alvin, aku hanya.... aku....."
"aku tidak sepertimu Alvin, aku bukan manusia yang bisa belajar berenang jika ingin bisa berenang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku ketika aku belajar berenang nanti, aku tidak ingin merasakan apa yang aku rasakan kemarin Alvin karena itu sangat menyakitkan dan membuatku takut!" ucap Nerissa dalam hati.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu, jangan terlalu memikirkannya aku hanya ingin kau bisa lebih menjaga dirimu sendiri Nerissa," ucap Alvin yang mengerti ketakutan dan kekhawatiran Nerissa.
Tak lama kemudian Daniel dan sang mamapun keluar dari lift lalu menghampiri Nerissa dan Alvin di depan resepsionis.
"Nerissa, tante pergi dulu ya, Daniel yang akan mengantarmu pulang nanti!" ucap mama Daniel pada Nerissa.
"Baik tante," balas Nerissa.
"Aku kembali ke ruanganku dulu, masih ada yang harus aku selesaikan!" ucap Alvin pada Nerissa kemudian beranjak dari duduknya meninggalkan Daniel dan Nerissa.
"Jam makan siang tinggal 10 menit lagi, setelah itu aku akan mengantarmu pulang," ucap Daniel pada Nerissa.
"Apa itu artinya aku harus menunggumu lagi?" tanya Nerissa yang sudah cukup bosan menunggu Daniel terlalu lama.
"Hanya 10 menit Nerissa, setelah itu aku akan mengajakmu makan siang berdua, apa kau keberatan?"
Nerissa menghela nafasnya sambil menyandarkan punggungnya di sofa.
"Baiklah, aku akan menunggumu," jawab Nerissa.
Daniel tersenyum sambil mengusap rambut Nerissa.
"Jika kau bosan menunggu disini datang saja ke ruanganku!" ucap Daniel pada Nerissa.
"Tidak, aku menunggumu disini saja," balas Nerissa.
"Baiklah kalau begitu, aku lanjutkan pekerjaanku dulu, aku akan segera kembali 10 menit lagi," ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.
Tak lama setelah kepergian Daniel, seorang perempuan cantik menghampiri Nerissa dan duduk di sebelahnya.
Nerissa kembali menghela nafasnya saat ia melihat siapa yang duduk di sebelahnya. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk bisa menahan emosinya karena ia sedang berada di tempat Alvin dan Daniel bekerja, ia tidak ingin membuat keributan di sana yang bisa membuat malu Daniel ataupun Alvin.
Jadi apapun yang akan Cordelia katakan nanti Nerissa akan berusaha untuk mengabaikannya.
Namun sampai beberapa lama Cordelia hanya diam dengan memainkan ponselnya seolah tidak melihat Nerissa di sampingnya.
"Kau menunggu Alvin atau menunggu Daniel?" tanya Cordelia tiba-tiba.
"Daniel," jawab Nerissa singkat.
"Baguslah, karena aku ke sini untuk mengajak Alvin makan siang berdua," ucap Cordelia.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya pada Delia.
"Suasana hatiku sedang baik saat ini, jadi tolong jangan menggangguku atau kau akan menyesal karena sudah merusak suasana hatiku!" lanjut Delia berkata sambil tetap memainkan ponselnya.
Nerissa hanya tersenyum dengan kembali menganggukkan kepalanya.
"padahal dia yang selalu menggangguku!" ucap Nerissa dalam hati.
10 menit pun berlalu Daniel belum juga memunculkan batang hidungnya di lobby. Tiba-tiba Cordelia berdiri dari duduknya kemudian berlari kecil dan memeluk Alvin yang baru saja keluar dari lift.
Nerissa yang melihat hal itu hanya terdiam beberapa saat, namun segera mengalihkan pandangannya karena tidak ingin terganggu dengan apa yang ia lihat saat itu.
"Kau selalu seperti ini Delia, lepaskan!" ucap Alvin sambil mendorong kedua bahu Delia.
"Apa kau tidak meliht aku sedang bahagia sekarang? jadi tolong jangan merusak kebahagiaanku hari ini karena apa yang membuatku bahagia juga akan membuatmu senang Alvin!"
"Memangnya apa yang membuatmu bahagia hari ini?" tanya Alvin.
"Aku minta maaf tentang artikel yang sempat heboh kemarin, sekarang aku sudah benar-benar menyelesaikan semuanya, aku sudah mengetahui siapa sebenarnya yang membuat berita heboh itu!"
"Siapa? bukankah dirimu sendiri?"
"Aku tidak sebodoh itu Alvin, aku juga tidak ingin karirmu hancur karena hal itu," jawab Cordelia.
"Lalu siapa dalang dibalik artikel itu?"
"Dia temanku, tetapi dia tidak bermaksud untuk membuat berita itu menjadi besar, dia tidak tahu jika dampaknya akan menjadi seheboh itu tetapi aku sudah memaksanya untuk membuat klarifikasi karena kecerobohannya itu!"
"Jadi?"
"Jadi semua berita tentang kau dan aku adalah sebuah kesalahpahaman sekarang tidak ada lagi artikel yang memberitakan tentang hubungan kita yang lebih dari sekedar teman, itu yang kau mau bukan?"
"Bagus!" balas Alvin sambil menepuk-nepuk kepala Cordelia.
Cordelia tersenyum senang kemudian kembali memeluk Alvin namun dengan cepat Alvin mendorong Delia.
"Aku hanya terlalu senang Alvin, apa aku tidak boleh memelukmu?"
"Tidak di sini Delia, ini tempat aku bekerja!"
"Baiklah jika begitu, aku akan memelukmu sepuasnya di rumah nanti!" ucap Delia yang membuat Alvin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Apa kau senggang sekarang? apa kau bisa menyempatkan waktumu untuk makan siang berdua denganku? aku rasa kita harus merayakan hal ini!"
Alvin terdiam beberapa saat ketika matanya menatap Daniel yang berjalan menghampiri Nerissa.
"Bagaimana jika kita merayakannya dengan Daniel dan Nerissa?" tanya Alvin pada Cordelia.
Alvin tidak menghiraukan ucapan Cordelia, ia berjalan begitu saja meninggalkan Cordelia untuk menghampiri Daniel dan Nerissa yang hendak meninggalkan kantor.
"Daniel tunggu!" ucap Alvin setengah berteriak saat memanggil Daniel.
Daniel pun menghentikan langkahnya begitu juga Nerissa.
"Aku dan Delia akan makan siang berdua, jika kalian tidak keberatan kalian bisa ikut denganku dan Delia!" ucap Alvin pada Daniel dan Nerissa.
"Bagaimana menurutmu Nerissa?" tanya Daniel pada Nerissa.
Nerissa menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Daniel.
"Baiklah aku dan Nerissa akan ikut dengan kalian!" ucap Daniel pada Alvin dan Cordelia yang baru saja datang menghampiri Alvin.
"Kau mengajak mereka berdua Alvin?" tanya Cordelia pada Alvin.
"Tentu saja, hal yang menyenangkan harus disebar luaskan bukan?" balas Alvin sambil menarik tangan Delia lalu berjalan mendahului Daniel dan Nerissa.
Alvin sengaja menarik tangan Cordelia agar Cordelia tidak banyak bertanya dan menolak jika Daniel dan Nerissa ikut makan siang bersama mereka berdua.
Nerissa yang melihat hal itu hanya diam entah mengapa ada perasaan tidak nyaman yang ia rasakan di hatinya.
Daniel kemudian meraih tangan Nerissa lalu menggandengnya.
Alvin, Cordelia, Nerissa dan Daniel pun meninggalkan kantor. Mereka berempat makan siang di restoran yang tidak jauh dari kantor.
Selama perjalanan ke restoran Nerissa hanya diam tidak banyak bicara.
"Ada apa denganmu Nerissa? jika kau keberatan untuk makan siang bersama Alvin dan Delia kita bisa makan siang berdua di tempat lain!" ucap Daniel pada Nerissa.
"Tidak apa Daniel, aku hanya sedang mengantuk saja," balas Nerissa beralasan.
Nerissa berusaha untuk tetap menjaga suasana hatinya, meski ia merasa ada sesuatu yang mengganggu di hatinya saat melihat kedekatan Alvin dan Cordelia.
Sesampainya disana mereka pun segera mencari tempat duduk, karena restoran itu cukup ramai jadi tidak banyak tempat duduk yang tersisa.
Alvin duduk di samping cordelia dengan Nerissa yang berada di hadapan Alvin dan Daniel yang berada di samping Nerissa.
"Restoran ini terkenal dengan ayam bakarnya yang sangat enak, itu kenapa restoran ini selalu penuh saat jam makan siang!" ucap Delia sambil memilih menu makanan.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.
Setelah menunggu beberapa lama makanan dan minuman yang dipesan pun datang.
Nerissa diam beberapa saat menatap ikan yang sudah dibakar di hadapannya. Ia berusaha untuk tetap tenang meski sebenarnya ia merasa sedih melihat ikan di hadapannya saat itu.
"Ini bukan ikan laut Nerissa, ini ikan air tawar, apa kau mau mencobanya?" ucap Daniel sekaligus bertanya pada Nerissa.
"Tapi mereka sama-sama ikan Daniel," balas Nerissa sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau tidak akan tahu betapa lezatnya ikan ini sebelum kau mencobanya Nerissa!" ucap Delia sambil menaruh ikan itu di atas piring Nerissa.
Nerissa begitu terkejut dengan apa yang Delia lakukan namun ia hanya diam menatap ikan di hadapannya. Ia berusaha untuk tetap tenang seperti apa yang pernah Marin ucapkan padanya.
"Jangan memaksakan diri Nerissa, makan saja apa yang ingin kau makan!" ucap Alvin sambil mengambil ikan di piring Nerissa, kemudian meletakkannya di piring Cordelia.
Alvin kemudian mengambil ayam bakar dan menaruhnya di piring Nerissa.
"Terima kasih Alvin," ucap Nerissa pada Alvin yang sudah menyelamatkannya dari situasi yang tidak membuatnya nyaman itu.
"Kau perhatian sekali padanya Alvin, bisa bisa kau membuat Daniel cemburu hahaha....." ucap Cordelia sambil membawa pandangannya pada Daniel.
Daniel hanya diam sambil mengunyah makanan miliknya seolah tidak peduli pada apa yang baru saja terjadi, meski sebenarnya apa yang Delia ucapkan memang benar adanya.
Setelah selesai makan siang Daniel mengantar Nerissa kembali ke toko bunga, sedangkan Alvin dan Cordelia kembali ke kantor.
"Terima kasih sudah mengantarku Daniel!" ucap Nerissa saat ia sudah turun dari mobil.
Daniel hanya menganggukan kepalanya dengan tersenyum kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan toko bunga Marin untuk kembali ke kantor.
Nerissa kemudian masuk ke toko bunga, merebahkan badannya di kursi yang ada di sana.
"Kenapa kau terlihat tidak bersemangat seperti itu Putri? apa Daniel membuat masalah lagi?" tanya Marin lalu duduk di samping Nerissa.
"Tidak Marin, justru Daniel yang mengantarku pulang!" jawab Nerissa.
"Lalu apa yang membuatmu lesu seperti ini Putri?"
Nerissa menggelengkan kepalanya pelan lalu menyandarkan kepalanya di bahu Marin.
"Marin apa menurutmu aku bisa belajar berenang?" tanya Nerissa pada Marin.
"Belajar berenang? siapa yang akan mengajarimu berenang Putri? bukankah kau tahu itu sangat berbahaya untukmu?"
"Iya aku tahu itu sangat berbahaya, aku juga ragu untuk menerima ajakan Alvin belajar berenang!" ucap Nerissa.
"Apa Alvin yang mengajakmu untuk belajar berenang?" tanya Marin yang hanya dibalas sanggulkan kepala Nerissa.
"Dia ingin mengajariku berenang agar aku bisa lebih menjaga diriku dengan baik," ucap Nerissa.
Marin diam beberapa saat memikirkan apakah mermaid bisa berenang dengan menggunakan kaki jika dia belajar berenang.
"Apa yang Alvin ucapkan memang benar putri tetapi aku khawatir padamu, aku takut kejadian yang sama terulang lagi jika kau berenang menggunakan kakimu!" ucap Marin pada Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, ia mengerti kekhawatiran Marin padanya karena ia sendiri pun takut jika hal buruk itu terjadi lagi padanya.
Meski begitu dalam hatinya kecilnya sebenarnya ia ingin belajar berenang. Ia ingin melihat apakah ia bisa berenang dengan menggunakan kedua kakinya atau tidak.
**
Waktu berlalu, hari sudah malam, Alvin sudah berada di rumahnya bersama Cordelia yang ikut pulang bersamanya.
"Cepat mandi, mama dan papa sudah menunggumu di rumah!" ucap Delia sambil mendorong Alvin masuk ke kamarnya.
Alvin hanya diam menurut, mengingat papa Cordelia sendiri yang meminta Alvin untuk datang makan malam bersama di rumahnya.
Saat Alvin sedang mandi, Cordelia masuk ke kamar Alvin berniat untuk meminjam charger.
Karena tidak melihat charger di meja Alvin, Cordelia pun membuka laci yang ada di samping tempat tidur Alvin.
Cordelia terdiam beberapa saat menatap mahkota yang ada di dalam laci. Cordelia ingat ia pernah tidak sengaja menginjak mahkota itu di mobil Alvin.
Dalam hatinya cordelia bertanya-tanya tentang mahkota yang ada di hadapannya saat itu.
"Cantik sekali mahkota ini, tapi kenapa Alvin menyimpan mahkota ini? dan dari mana dia mendapatkan mahkota secantik ini?"
Cordelia kemudian mengambil ponselnya lalu menyalakan kameranya dan mengarahkannya pada mahkota yang kini sudah ada di tangannya.
"semua orang pasti akan iri melihat mahkota cantik ini ada di tanganku!" batin Cordelia tersenyum senang.
Cordelia kemudian mengunggah foto mahkota itu ke akun social medianya tanpa ia tahu siapa pemilik sebenarnya mahkota itu.
"Alvin tidak akan marah bukan? aku hanya memotretnya lalu mengembalikannya!" ucap Delia pada dirinya sendiri kemudian keluar dari kamar Alvin setelah menemukan charger yang ia cari.