Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Sikap Manis Daniel



Sepanjang perjalanan Marin hanya diam memikirkan seseorang yang baru saja dilihatnya sebelum akhirnya dia berlari menghindar dari seseorang itu.


Beruntung ada Daniel yang saat itu segera membawanya pergi dari tempat itu. Meski begitu ia masih khawatir jika seseorang yang dilihatnya itu akan mengetahui keberadaannya.


Sesampainya di depan rumah, Marin tidak segera turun dari mobil, dia masih terdiam, pikirannya masih kacau dan ia masih dirundung ketakutan.


"Marin, apa yang terjadi padamu? kenapa kau terlihat ketakutan?" tanya Daniel pada Marin.


Marin hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Daniel.


"Kenapa kau tadi berlari? kau bahkan tidak memperhatikan jalan raya, pasti ada seseorang yang mengejarmu bukan? siapa dia? apa kau mengenalnya?"


Marin hanya diam dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Daniel kemudian melepaskan seatbelt yang dipakainya dan juga yang dipakai Marin, Daniel menghadap kearah Marin, menarik bahu Marin dan membawanya kedalam dekapannya.


"Tenangkan dirimu Marin, tidak akan ada yang menyakitimu di sini," ucap Daniel dengan mengusap punggung marine berusaha untuk menenangkan Marin.


Marin masih terdiam dalam pelukan Daniel, setidaknya pelukan Daniel bisa meringankan sedikit ketakutannya.


Marin kemudian melepaskan dirinya dari pelukan Daniel.


"Tolong jangan ceritakan hal ini pada Putri, aku tidak ingin dia mengkhawatirkanku," ucap Marin pada Daniel.


"Tapi kau harus menjelaskan padaku apa yang sudah terjadi tadi, aku hanya tidak ingin ada seseorang yang berniat jahat kepadamu Marin!"


"Maafkan aku Daniel, aku tidak bisa menceritakannya padamu, aku mohon kau mengerti, situasi ini benar-benar sulit untukku!" balas Marin memohon.


Daniel menghela nafasnya panjang kemudian menganggukkan kepalanya.


"Baiklah jika itu maumu, aku tidak akan menceritakan apapun pada Nerissa, tapi kau harus janji padaku segera hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu ataupun Nerissa, aku tidak ingin hal yang buruk terjadi pada kalian berdua," ucap Daniel pada Marin.


"Terima kasih Daniel, maaf karena sempat marah padamu karena kejadian kemarin malam," ucap Marin.


"Tidak apa, aku mengerti," balas Daniel dengan mengusap rambut Marin dan tersenyum.


Marin kemudian turun dari mobil Daniel dan masuk kedalam rumahnya, sedangkan Daniel segera meninggalkan rumah Marin untuk kembali pulang.


Marin membuka pintu rumahnya kemudian segera masuk ke kamarnya. Namun sebelum ia masuk Nerissa memanggilnya.


"Apa kau pulang bersama Daniel?" tanya Nerissa pada Marin.


"Iya, aku tidak sengaja bertemu dengannya dan dia memaksa untuk mengantarku pulang," jawab Marin beralasan.


"Kenapa dengan kakimu? apa kau terluka?" tanya Nerissa yang baru menyadari plester luka di kaki Marin.


"Aaaahhhh.... ini hanya luka kecil, Daniel sudah mengobatinya, besok pasti akan sembuh," jawab Marin.


"Kenapa kau bisa terluka? apa yang terjadi padamu?" tanya Nerissa khawatir.


"Aku...... aku tidak sengaja terjatuh di jalan tadi," jawab Marin.


Nerissa kemudian menghampiri Marin dan membantu Marin berjalan ke arah ranjangnya.


"Apa ini sakit?" tanya Nerissa pada Marin.


"Tidak Putri, ini hanya luka kecil kau jangan khawatir, bagaimana keadaanmu? apakah sudah benar-benar membaik?" jawab Marin sekaligus bertanya untuk mengalihkan perhatian Nerissa dari lukanya.


"Iya, aku sudah benar-benar membaik sekarang, apa aku boleh tidur di sini malam ini?"


"Tentu saja boleh," jawab Marin dengan tersenyum.


Nerissa kemudian merebahkan badannya di ranjang Marin dan menarik selimut Marin.


"Marin tentang dongeng yang kau ceritakan padaku, aku tiba-tiba memikirkannya," ucap Nerissa pada Marin.


"Apa yang kau pikirkan tentang dongeng itu Putri?" kemarin.


"Mermaid itu meninggal di daratan karena jantungnya yang membeku, aku takut jika aku juga akan berakhir seperti itu juga," jawab Nerissa.


"Jangan terlalu memikirkannya Putri, kita hanya perlu menjauh dari air selama kita memiliki kaki, dengan begitu kita tidak akan merasa kedinginan dan jantung kita akan baik-baik saja," ucap Marin.


"Tapi aku masih tidak mengerti kenapa genggaman tangan Alvin terasa begitu hangat, siapa sebenarnya dia? kenapa dia bisa memiliki kekuatan seperti itu?"


"Aku juga tidak tahu Putri, tapi sebaiknya kita fokus untuk mencari mahkota milikmu agar kita bisa segera mendapatkan mutiara biru dan kembali ke Seabert secepatnya," balas Marin.


"Aku juga harus mempelajari kekuatanku dengan baik sebelum kita kembali ke Seabert Marin, setelah aku mendapatkan mahkota milikku aku akan mempelajari kekuatanku lebih jauh," ucap Nerissa.


"Aku akan selalu mendukungmu Putri, aku juga akan selalu menemanimu," balas Marin.


"Terima kasih Marin," ucap Nerissa sambil memeluk Marin yang berbaring disampingnya.


"Tidurlah Putri, aku juga harus segera tidur!" ucap Marin dengan berpura-pura menguap.


"Baiklah, selamat malam Marin," ucap Nerissa.


"Selamat malam Putri, tidur yang nyenyak dan mimpi yang indah," balas Marin.


"Kau juga," ucap Nerissa sambil menenggelamkan kepalanya di bawah guling.


Tanpa Nerissa tahu, Marin belum bisa tertidur sama sekali sampai jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.


Marin masih memikirkan seseorang yang dilihatnya di jalan raya beberapa waktu yang lalu.


"kenapa ayah ada di sini? bukankah ayah sudah tidak pernah ke daratan lagi? apa yang ayah cari? apakah ayah sudah mengetahui keberadaanku dan putri nerissa di sini? apa yang harus aku lakukan sekarang aku benar-benar bingung?" batin Marin bertanya-tanya dalam hati.


Ya, seseorang yang Marin lihat saat di jalan raya adalah ayahnya, Cadassi. Ia tidak mengerti kenapa ayahnya bisa berada di daratan saat itu.


Marin ragu apakah ia harus menceritakan hal itu kepada Nerissa dan atau tidak. Ia takut Nerissa akan semakin khawatir dan kehilangan fokusnya untuk mencari mahkota.


Mengingat keadaan Nerissa yang baru saja membaik, Marin tidak ingin membuat keadaan Nerissa kembali memburuk.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Marin berdering, sebuah pesan dari Daniel


apakah sudah tidur


Karena Marin belum juga terpejam, Marin pun segera membalas pesan Daniel.


belum, aku belum mengantuk sama sekali


apa kau masih memikirkan kejadian di jalan raya tadi


iya


aku akan meminta seseorang untuk mengawasi rumahmu mulai sekarang jadi kau tidak perlu khawatir lagi


tidak perlu, kau tidak perlu melakukan hal sejauh itu, lagi pula kejadian tadi cukup jauh dari rumahku


kalau begitu tidurlah jangan terlalu memikirkan hal itu


baiklah aku akan tidur


selamat malam dan mimpi indah untukmu


Marin tersenyum tipis membaca pesan terakhir dari Daniel. Laki-laki yang dulu dianggapnya sangat menyebalkan perlahan mulai menampakan sikap manisnya, tidak hanya pada Nerissa tapi juga padanya.


Marin bisa melihat dengan jelas kekhawatiran Daniel padanya beberapa waktu yang lalu. Marin kemudian memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar.


Marin kemudian menaruh ponselnya di meja dan memejamkan matanya agar segera tertidur.


**


Malam sebelum Marin bertemu dengan Cadassi.


Malam itu Cadassi pergi ke tepi pantai setelah memakan rumput laut, ekor Cadassipun berubah menjadi kaki.


Cadassi berjalan ke arah jalan raya untuk mencari kendaraan yang akan membawanya ke kota.


Karena sudah sering berada di daratan meski tidak dalam waktu yang lama Cadassi sedikit banyak memahami bagaimana kehidupan di daratan.


Cadassi pergi sedikit jauh dari pantai untuk mendapatkan bahan ramuan yang akan ia gunakan untuk memberikan ramuan pada Ratu Nagisa.


Cadassi berjalan di antara para manusia tanpa membuat mereka curiga sama sekali padanya. Dari kejauhan ia seperti melihat seseorang yang ia kenal sedang berlari ke arah gang sempit yang berada di dekat jalan raya.


"Marin?"


Cadassi berlari cepat hendak menghampiri seseorang yang dilihatnya itu. Namun kemudian ia menghentikan langkahnya.


"mungkin aku terlalu merindukan Marin yang memang sangat mirip dengan ibunya, tidak mungkin Marin berada di daratan apa lagi di tempat ramai seperti ini," ucap Cadassi dalam hati kemudian berjalan untuk mencari kendaraan yang membawanya kembali ke pantai.


Cadassi kembali ke Seabert dengan membawa bahan ramuan yang sudah didapatkannya dari daratan.


Ramuan yang akan dibuatnya kali itu adalah ramuan yang bisa melumpuhkan dan melemahkan Ratu meski hanya dalam satu kali teguk.


Cadassi membuka pintu rumahnya dan tanpa sengaja menabrak anaknya, membuat bahan ramuan yang dibawanya jatuh tercecer.


"Maaf ayah, aku tidak sengaja," ucap Chubasca sambil membantu mengumpulkan bahan ramuan yang terjatuh.


Tanpa sepengetahuan Cadassi, diam-diam Chubasca mengambil sedikit bahan ramuan sang ayah dan menyembunyikannya.


"Kau mau ke mana?" tanya Cadassi pada Chubasca.


"Aku ingin pergi ke istana untuk menanyakan keadaan Putri Nerissa pada Ratu Nagisa!" jawab Chubasca..


"Apa kau hanya akan terus memikirkan Putri Nerissa? kenapa kau tidak mengkhawatirkan marin sama sekali? dia adikmu Chubasca, sudah seharusnya kau memikirkannya dan mengkhawatirkan nya!"


"Marin jauh lebih berpengalaman daripada Putri Nerissa, Marin juga lebih berani daripada Putri Nerissa, jadi aku tidak punya alasan untuk menghawatirkan Marin ayah," balas Chubasca.


"Tapi dia adikmu Chubasca, kau harus......"


"Baiklah.... baiklah..... aku akan menanyakannya pada Ratu Nagisa," ucap Chubasca memotong ucapan sang ayah kemudian berenang menjauh dari sang ayah begitu saja.


Cadassi hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Chubasca, kemudian segera masuk ke kamarnya dan membuat ramuan di ruangan kecil di dalam kamarnya.


Sedangkan Chubasca segera pergi ke istana dengan membawa bahan ramuan yang masih ia sembunyikan.


"Apa Putri Nerissa sudah kembali?" tanya Chubasca pada Morgan.


"Belum, pasti ada acara penyambutan jika putri Nerissa sudah kembali," jawab Morgan.


"Berapa lama lagi dia akan kembali? kenapa lama sekali?" tanya Chubasca yang sudah tidak sabar untuk melihat kecantikan Putri Nerissa.


"Entahlah...... aku juga tidak tahu, kenapa kau selalu menanyakan hal itu padaku? bukankah kau sudah menanyakan nya tadi pagi, tadi siang dan beberapa hari yang lalu?" balas Morgan kesal karena berkali kali Chubasca datang hanya untuk menanyakan pertanyaan yang sama.


"Hahaha..... aku akan menanyakannya setiap hari tiga kali sehari sampai Putri Nerissa benar-benar kembali," balas Chubasca.


"Jau memang semenyebalkan itu Chubasca, pergilah jangan menggangguku," balas Morgan.


"Chubasca, apa yang kau lakukan disini?" tanya Ratu Nagisa yang baru saja kembali ke istana.


"Selamat malam Ratu, saya ke sini untuk menanyakan keberadaan Putri Nerissa pada Morgan," jawab Chubasca.


"Aku dengar dari Morgan kau sering kemari untuk menanyakan Nerissa, kenapa?"


"Maafkan saya Ratu Nagisa, saya hanya merindukan nya saya ingin bertemu dengan Putri Nerissa karena saya rasa sudah sangat lama saya tidak bertemu dengan Putri Nerissa," jawab Chubasca.


"Nerissa dan Marin sedang aku tugaskan Chubasca, aku akan segera membuat pesta pengumuman saat mereka berdua sudah kembali jadi jangan khawatir, kau akan segera mengetahui saat mereka sudah kembali," ucap Ratu Nagisa.


"Baik Ratu, saya permisi," balas Chubasca.


Ratu Nagisa hanya menganggukkan kepalanya kemudian masuk ke dalam istana. Sedangkan Chubasca berenang ke arah perpustakaan.


Chubasca menghabiskan beberapa jam di dalam perpustakaan untuk mencari tahu tentang tanaman yang diam-diam diambilnya dari sang ayah.


Mentari pagi hampir saja menembus jendela perpustakaan saat Chubasca masih sibuk membaca.


Bertumpuk-tumpuk buku dan berpuluh-puluh buku tampak berserakan di meja perpustakaan namun Chubasca belum juga menemukan penjelasan tentang tanaman yang dibawanya.


"tanaman apa ini sebenarnya? kenapa tidak ada di buku manapun? aah Marin.... aku benar-benar membutuhkanmu, saat ini hanya kau yang bisa menjawab pertanyaanku sekarang!" ucap Chubasca sambil memijit kepalanya yang pusing karena sudah membaca begitu banyak buku.


Tak lama kemudian nermaid penjaga perpustakaan datang dan begitu terkejut karena melihat perpustakaan yang sudah berantakan.


"Apa kau yang melakukan semua ini?" tanya mermaid penjaga perpustakaan dengan geram.


"Diamlah, aku sedang fokus membaca, jangan menggangguku," balas Chubasca yang masih mencari buku lain.


"Apa kau tidak sadar apa yang sudah kau lakukan disini?" tanya mermaid penjaga yang semakin kesal pada Chubasca.


"Aku sedang mencari buku, jadi diamlah jangan menggangguku atau aku tidak akan pernah keluar dari perpustakaan ini seumur hidupku," balas Chubasca.


"Ya, kau tidak akan pernah keluar dari perpustakaan ini karena kau harus membereskan semua ini sebelum kau keluar dari sini!" ucap mermaid penjaga.


"Apa?? membereskan semua ini? bukankah semua ini tugasmu? kau yang harus membereskan semuanya bukan aku!" balas Chubasca sambil beranjak dari duduknya.


"Kau yang sudah membuat semua ini berantakan jadi kau yang harus membereskan nya!"


Chubasca tersenyum tipis kemudian memutar kedua tangannya dengan pelan menciptakan gelombang kecil diatas tangannya.


"Apa kau mau perpustakaan ini lebih berantakan lagi?" tanya Chubasca dengan senyum menyeringai.


"Aku akan melaporkanmu pada Ratu, akan kupastikan kau akan mendekam di penjara kegelapan!" ucap mermaid penjaga tanpa rasa takut.


"Hahaha...... silakan saja, justru kau yang akan mendekam di penjara kegelapan karena kau lalai mengerjakan tugasmu, ini sudah pagi dan perpustakaan masih terlihat berantakan, ini semua salahmu bukan salahku!" balas Chubasca dengan tertawa penuh kemenangan.


"Kau memang sangat menyebalkan, memang seharusnya kau mendekam di penjara kegelapan dari dulu bukannya berada di ruang isolasi, jika bukan karena ayahmu seorang penasihat istana pasti kau sudah mendekam di penjara kegelapan dari dulu!" ucap mermaid penjaga dengan kesal.


"Itulah istimewanya diriku, tidak seperti dirimu hahaha....." balas Chubasca dengan tertawa kencang.


Sedangkan Mermaid penjaga hanya mendengus kesal kemudian merapikan buku-buku yang berserakan di meja dan mengembalikan ke tempat semula.


Sebagai mermaid laki-laki dengan ekor biru, Chubasca memang cukup tampan namun kenakalan dan kesombongannya membuat ketampanannya tertutupi oleh sikapnya yang selalu menimbulkan masalah itu.


.


.


.


.


MINAL AIDZIN WAL FAIZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN πŸ™πŸ™


SEMOGA KITA SEMUA BISA MENGAWALI SEMUA HAL DENGAN KEBAIKAN DAN KEBERKAHAN, AMIIIN πŸ™πŸ™