
Setelah berhasil keluar dari rumah hantu, Nerissa duduk di kursi yang ada di depan pintu keluar, sedangkan Alvin berjongkok di depan Nerissa untuk memeriksa kaki Nerissa yang terluka.
"Ini pasti sangat sakit, aku akan mencarikan obat untukmu!" ucap Alvin kemudian berdiri hendak meninggalkan Nerissa untuk mencari obat, namun Nerissa segera meraih tangan Alvin, menahan Alvin agar tidak meninggalkannya.
"Tidak perlu Alvin, ini sama sekali tidak sakit!" ucap Nerissa.
"Bagaimana mungkin tidak sakit Nerissa, kakimu terluka dan berdarah seperti itu!"
"ini pasti karena aku memakai mahkota ini, aku jadi tidak bisa merasakan sakit sama sekali walaupun kakiku terluka seperti ini!" ucap Nerissa dalam hati.
"Tunggu sebentar dan jangan pergi kemana-mana!" ucap Alvin kemudian berlari meninggalkan Nerissa.
Nerissa hanya diam karena sudah tidak bisa menahan Alvin agar tidak pergi, ia juga tidak mempunyai alasan yang tepat untuk menjelaskan kenapa ia tidak bisa merasakan sakit sama sekali pada luka yang ada di kakinya.
Di sisi lain Marin dan Daniel yang masih berada di dalam rumah hantu berjalan santai, tidak menghiraukan hantu-hantu yang mengganggu mereka berdua.
"Apa kau tidak takut marin?" tanya Daniel pada Marin yang tampak santai.
"Aku tahu mereka semua manusia sama sepertimu, jadi untuk apa aku takut pada mereka," jawab Marin.
"Waaaahh..... kau benar-benar gadis yang langka Marin, kau patut untuk dibudidayakan hahaha......" ucap Daniel yang membuat Marin segera mencubit pinggang Daniel, membuat Daniel meringis menahan sakit di pinggangnya.
"Apa kau pikir aku sejenis tanaman?"
"Hahaha..... aku hanya bercanda, kau sensitif sekali!" balas Daniel sambil menggosok pinggangnya yang masih terasa sakit karena cubitan Marin.
"Yang menakutkan itu adalah manusia yang berpura-pura baik tetapi ternyata memiliki niat jahat!" ucap Marin.
"Kau benar, manusia pada dasarnya memang baik tetapi tidak sedikit manusia yang menakutkan seperti itu," balas Daniel dengan menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Marin.
Marin dan Danielpun membawa langkah mereka ke arah pintu keluar yang tak jauh dari mereka berdua.
Tak seperti para pengunjung lain yang berteriak histeris karena gangguan dari para hantu yang ada di sana, Marin dan Daniel justru hanya mengobrol santai bahkan bercanda di dalam rumah hantu itu.
Sampai akhirnya merekapun sampai di pintu keluar. Marin segera berlari kecil saat ia melihat Nerissa yang duduk seorang diri di depan pintu keluar.
"Dimana Alvin, Putri? kenapa kau sendirian?" tanya Marin pada Nerissa.
Belum sempat Nerissa menjawab pertanyaan Marin, Daniel sudah bertanya tentang luka yang ia lihat di kaki Nerissa.
"Apa yang terjadi padamu Nerissa? kenapa kau bisa terluka?" tanya Daniel.
"Aku tidak sengaja terjatuh tadi, tapi aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil," jawab Nerissa.
"Aku akan mencarikan obat untukmu!" ucap Daniel yang hendak pergi, namun segera Nerissa tahan.
"Jangan Daniel, tunggu saja disini, Alvin sudah mencarikan obat untukku!" ucap Nerissa pada Daniel.
Daniel tersenyum tipis lalu membawa langkahnya duduk di samping Nerissa.
"Aku akan memarahi Alvin karena tidak bisa menjagamu dengan baik Putri!" ucap Marin pada Nerissa.
"Jangan menyalahkannya Marin, aku yang tidak berhati-hati!" balas Nerissa.
"Kalau dia bisa menjagamu dengan baik kau tidak akan terluka seperti ini!" ucap Marin.
Tak lama kemudian Alvin datang dengan membawa perlengkapan untuk mengobati luka di kaki Nerissa.
Alvin berjongkok di depan Nerissa, membersihkan luka di kaki Nerissa kemudian mengolesinya dengan obat dan menutupnya dengan perban.
"Sepertinya lebih baik kita pulang sekarang," ucap Alvin dengan membawa pandangannya pada Daniel, seolah meminta persetujuan Daniel karena Daniel yang memiliki rencana berlibur hari itu.
"Iya kau benar, lebih baik kita pulang!" balas Daniel setuju.
"Kenapa kita harus pulang? bukankah kita baru saja datang?" tanya Nerissa yang tidak ingin segera pulang.
"Kakimu terluka Nerissa, kau tidak akan bisa menikmati permainan disini jika kakimu terluka seperti ini," ucap Daniel pada Nerissa.
"Daniel benar putri, sebaiknya kita pulang saja, kita bisa berlibur lain waktu!" sahut Marin.
"Tapi aku baik-baik saja, aku bisa berdiri, aku bisa berjalan dan aku tidak merasa luka ini terlalu sakit," ucap Nerissa.
"Jangan memaksakan dirimu Nerissa!" ucap Alvin.
"Kita harus pulang Putri, kau jangan......"
"Marin, aku baik-baik saja!" ucap Nerissa memotong ucapan Marin sambil membawa arah matanya ke arah hiasan rambut yang ia pakai saat itu.
Marin yang memahami kode Nerissapun membawa pandangannya ke arah rambut Nerissa dan menyadari jika Nerissa sedang memakai mahkota yang dibentuk seperti hiasan rambut, artinya Nerissa tidak akan merasakan sakit meski dirinya sedang terluka.
Marinpun tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.
"Lagi pula kau baru saja kesini dan baru mencoba dua permainan, apa kau ingin segera pulang?" tanya Nerissa pada Marin dengan tersenyum.
"Aaahh.... kau benar putri, rasanya sangat sayang jika kita harus segera pulang," balas Marin yang juga tersenyum penuh arti pada Nerissa.
"Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran Marin? apa kau tidak melihat kaki Nerissa yang terluka?" tanya Daniel pada Marin.
"Bukankah Putri sudah bilang bahwa dia baik-baik saja? dia juga bisa berjalan bahkan berlari!" jawab Marin.
"Tapi......."
"Aku baik-baik saja Daniel, aku tidak ingin pulang sekarang, aku masih ingin menikmati banyak permainan disini, jadi aku mohon jangan memaksaku pulang," ucap Nerissa dengan membawa pandangannya memohon pada Daniel.
Daniel menghela nafasnya, melihat wajah Nerissa yang memohon padanya membuatnya dengan mudah luluh begitu saja.
"Bagaimana menurutmu Alvin?" tanya Daniel pada Alvin.
"Baiklah, tidak akan ada yang memaksamu pulang, tetapi kau tidak boleh mencoba permainan yang berbahaya disini, lagi pula kau sudah mencoba banyak permainan disini sebelumnya, jadi sekarang kau harus lebih banyak duduk disini karena kakimu masih terluka!" ucap Alvin menjawab pertanyaan Daniel sambil membawa pandangannya menatap Nerissa yang duduk di hadapannya.
Nerissa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang. Tidak hanya senang karena ia tidak dipaksa untuk pulang, tetapi ia juga senang melihat Alvin yang memberikan perhatian padanya.
"Jadi sekarang permainan apa lagi yang harus kita coba?" tanya Marin dengan membawa pandangannya pada Daniel, Alvin dan Nerissa.
"Apa aku boleh menaikinya?" tanya Marin sambil menunjuk permainan roller coaster yang saat itu sedang melaju kencang.
"Apa kau yakin?" balas Daniel bertanya pada Marin.
"Tentu saja, sepertinya itu sangat menyenangkan," jawab Marin penuh keyakinan.
"Kau benar Marin, permainan itu memang sangat menyenangkan, ayo kita....."
"Tidak, kau tidak boleh menaikinya Nerissa!" sahut Alvin motong ucapan Nerissa.
"Kenapa? bukankah aku hanya duduk disana?" tanya Nerissa pada Alvin.
"Lebih baik kau menaiki permainan itu saja!" jawab Alvin sambil menunjuk sebuah ayunan yang tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Ayunan?" tanya Nerissa memastikan.
"Iya, kau hanya perlu duduk dan Daniel akan mendorongnya dari belakang!" jawab Alvin.
"Lebih baik kau saja yang menemani Nerissa, aku ingin menaiki roller coaster bersama Marin!" ucap Daniel kemudian beranjak dari duduknya, menarik tangan Marin dan mengajaknya berlari meninggalkan Alvin dan Nerissa begitu saja.
Marinpun hanya diam mengikuti Daniel berlari dengan satu tangannya memegang dadanya yang tengah berdebar saat itu, karena Daniel menggenggam tangannya sambil berlari ke arah antrian roller coaster.
Sedangkan Alvin dan Nerissa sama-sama terdiam melihat Daniel dan Marin yang semakin menjauh dari mereka berdua.
"Sepertinya mereka berdua semakin dekat," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.
"Apa kau bisa berdiri Nerissa?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Tentu saja," jawab Nerissa kemudian berdiri dan berlari kecil ke arah ayunan, membuat Alvin begitu terkejut dan khawatir karena kaki Nerissa yang terluka cukup parah saat itu.
Alvinpun berdiri di belakang Nerissa yang tengah duduk di ayunan sambil memperhatikan luka yang ada pada kaki Nerissa.
"Apa kau tidak merasa sakit pada kakimu Nerissa?" tanya Alvin sambil mendorong ayunan Nerissa dengan pelan.
"Tidak, ini hanya luka kecil Alvin," jawab Nerissa.
"Luka itu cukup dalam Nerissa, aku bahkan menghabiskan banyak kapas untuk membersihkan lukanya!" ucap Alvin.
"Berhenti mengkhawatirkanku Alvin, kau selalu saja membuatku bingung!" ucap Nerissa.
"Apa maksudmu?" tanya Alvin sambil menghentikan dorongannya pada ayunan Nerissa.
"Setelah kau berkata jujur padaku tentang apa yang kau sembunyikan dari Daniel aku pikir kita bisa berteman dekat seperti sebelumnya, tetapi kau tiba-tiba menghilang begitu saja, Daniel bilang kau sedang sibuk dengan pekerjaanmu tetapi saat pergi kesini tadi kau bersikap sangat dingin padaku, aku tidak mengerti apa salahku padamu yang membuatmu bersikap dingin seperti itu!" jawab Nerissa sambil menundukkan kepalanya bersedih.
Alvin terdiam beberapa saat mendengarkan ucapan Nerissa padanya. Ia sadar apa yang dia lakukan mungkin terlihat jahat untuk Nerissa tetapi ia memiliki alasan kenapa dia melakukan hal itu pada Nerissa.
Namun Alvin tidak bisa menjelaskan semuanya pada Nerissa, karena ia tidak ingin Nerissa merasa bersalah karena pertengkaran yang terjadi di antara dirinya dengan Daniel.
"Katakan padaku apa kesalahanku Alvin? aku tidak ingin kau pergi tiba-tiba seperti itu, aku tidak ingin kau menjauhiku dan bersikap dingin padaku, katakan padaku apa kesalahanku agar aku bisa memperbaikinya tanpa harus membuatmu menjauhiku seperti itu!" ucap Nerissa pada Alvin.
"lupakan tentang hal itu Alvin, aku tidak akan mempermasalahkannya lagi, yang terpenting adalah Nerissa bisa bahagia entah bersamaku atau bersamamu, atau bisa jadi bersama laki-laki lain nantinya,"
Tiba-tiba Alvin teringat ucapan Daniel padanya, saat Daniel menahannya agar tidak pulang.
"aku tidak tahu pasti apa rencanamu sebenarnya Daniel, tetapi menjauhi Nerissa secara tiba-tiba mungkin memang sebuah kesalahan yang sudah aku lakukan pada Nerissa, aku akan menyelesaikan masalah kita pelan-pelan agar semuanya menjadi jelas," ucap Alvin dalam hati.
Alvin menghela nafasnya panjang kemudian membawa langkahnya ke hadapan Nerissa dan berjongkok di hadapan Nerissa yang saat itu masih duduk di ayunan.
"Tidak ada kesalahan yang kau lakukan padaku Nerissa, aku minta maaf karena kesibukan kantor membuatku mengabaikanmu beberapa hari ini, aku juga minta maaf jika menurutmu aku tiba-tiba bersikap dingin padamu, ada sedikit masalah yang mengganggu pikiranku beberapa hari ini, tetapi aku janji akan segera menyelesaikannya," ucap Alvin dengan membawa pandangannya menatap kedua mata Nerissa yang tertunduk.
"Katakan padaku jika kau membutuhkan waktu untuk sendiri, maka aku tidak akan mengganggumu dan aku akan menunggumu sampai kesibukanmu selesai, tetapi jangan tiba-tiba mengabaikanku dan bersikap dingin padaku," balas Nerissa.
"Iya Nerissa, aku tidak akan melakukan hal itu lagi," ucap Alvin dengan memberikan senyumnya pada Nerissa yang tampak bersedih saat itu.
"jika memang aku harus menjauhimu setidaknya aku tidak akan membuatmu menungguku Nerissa, aku akan menyelesaikan semuanya satu persatu tanpa harus membuatmu bersedih," ucap Alvin dalam hati kemudian beranjak dan kembali mendorong ayunan Nerissa dengan pelan.
Di sisi lain Marin dan Daniel baru saja duduk pada roller coaster yang siap untuk meluncur dengan kecepatan tinggi.
"Kau yakin tidak akan ketakutan bukan?" tanya Daniel pada Marin.
"Jangan meremehkanku Daniel, bukankah kau tahu aku gadis yang langka," balas Marin yang membuat Daniel mengacungkan jempolnya pada Marin.
Tak lama kemudian roller coaster pun mulai meluncur mengikuti arah rel naik, turun dan meliuk-liuk dengan kecepatan tinggi.
Marin dan Daniel berteriak menikmati adrenalin yang terpacu saat itu. Tanpa sadar saat Marin dan Daniel mengangkat tangan mereka, tangan mereka berdua saling menggenggam di udara.
Raut kebahagiaan dan keceriaan tampak sangat jelas terlihat dari wajah mereka berdua. Kesedihan yang Daniel rasakan tentang masalah keluarganya seolah hilang begitu saja saat ia berada di atas roller coaster berteriak dan saling menggenggam dengan Marin yang berada di sampingnya.
Hingga akhirnya roller coaster pun berhenti, Marin dan Daniel saling menatap untuk beberapa saat ketika roller coaster baru saja berhenti, tanpa sadar mereka berdua masih saling menggenggam sampai penjaga roller coaster melepas pengaman yang terpasang di badan mereka.
Marin dan Danielpun turun, meninggalkan area roller coaster.
"Waaaahh....... rasanya sangat menyenangkan, sudah lama aku tidak merasa sebahagia ini!" ucap Daniel yang merasa puas dengan permainan yang baru saja dicobanya.
Marin tersenyum senang melihat Daniel yang tampak bahagia saat itu.
"sejak kapan dia terlihat sangat tampan seperti ini, laki-laki menyebalkan ini kenapa selalu membuatku berdebar......" ucap Marin dalam hati sambil memegang dadanya yang berdebar.
Marin kemudian menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan pikirannya saat itu.
"tidak...... dadaku berdebar bukan karena dia, pasti karena aku baru saja menaiki roller coaster itu, tentu saja dadaku menjadi berdebar seperti ini," ucap Marin sambil mengganggu anggukkan kepalanya pelan.
"Ayo Marin, kita coba yang lain!" ucap Daniel sambil menarik tangan Marin, menggandengnya berlari ke arah permainan lain yang memacu adrenalin.
Marin hanya diam membiarkan Daniel menggandeng tangannya. Entah kenapa debaran dalam dadanya memberikan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan selama ini.
Marin memang selalu berusaha untuk membuat dirinya sendiri bahagia, namun bersama Daniel saat itu ia bisa merasakan kebahagiaan lain yang berbeda dari yang sebelumnya ia rasakan selama hidupnya.
Marin tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi, kebahagiaan yang ia rasakan saat itu terpancar jelas dari raut wajahnya yang semakin terlihat cantik dengan senyum yang tergambar pada paras cantiknya.