Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Amanda Berulah



Di bawah remang cahaya bulan malam itu Daniel nekat menemui Marin di kamarnya, ia bahkan menerobos masuk ke dalam kamar Marin tanpa izin.


Entah kenapa malam itu ia begitu ingin menemui Marin setelah ia mengantar Nerissa pulang.


Namun saat dia sudah berada di dalam kamar Marin tiba-tiba saja pintu kamar kemarin diketuk oleh Nerissa.


"Marin, kau sedang bersama siapa?"


Mendengar pertanyaan Nerissa, Marin dan Daniel hanya saling menatap untuk beberapa saat sebelum ketukan pintu yang kedua kali membuyarkan lamunan mereka berdua.


"Cepat bersembunyi," ucap Marin berbisik sambil menarik Daniel lalu membuka pintu lemarinya.


"Apa tidak ada tempat lain Marin? ini sangat sempit!" protes Daniel.


"Jangan banyak protes, masuk saja!" balas Marin lalu mendorong Daniel masuk dan menutup pintu lemarinya.


Tepat saat Mari baru saja menutup pintu lemari, Nerissa membuka pintu kamar Marin.


"Kenapa kau belum tidur? kau tidak sedang bersama seseorang bukan?" tanya Nerissa sambil membawa pandangannya ke sekeliling kamar Marin.


"Aku belum mengantuk Putri, aku..... aku sedang menonton film," jawab Marin sambil mengambil ponselnya di meja.


"Aku seperti mendengar kau sedang berbicara tadi," ucap Nerissa curiga.


"Pasti kau salah dengar, mungkin yang kau dengar itu dialog yang ada di film yang aku lihat," ucap Marin memberi alasan.


"Benarkah? mungkin sepertinya iya," ucap Nerissa sambil menggangguk anggukkan kepalanya lalu berjalan ke arah ranjang Marin dan membaringkan badannya disana.


"Apa kau baru saja pulang Putri? sepertinya kau sangat lelah!"


"Aku memang baru saja pulang, tapi aku tidak merasa lelah sama sekali," balas Nerissa.


"Lebih baik kau segera beristirahat di kamarmu Putri, lihatlah kantung matamu semakin terlihat jelas," ucap Marin yang berusaha agar Nerissa keluar dari kamarnya.


"Benarkah? apa ini karena aku kurang tidur?" tanya Nerissa sambil beranjak dari ranjang Marin dan memperhatikan wajahnya di cermin.


"Tentu saja Putri, bukankah aku sudah memberitahumu jika kau jarang tidur maka kantung matamu akan semakin terlihat jelas!"


"Biarlah aku tidak peduli," balas Nerissa lalu kembali menjatuhkan dirinya di ranjang Marin.


"Aku ingin tidur disini malam ini," ucap Nerissa sambil membawa pandangannya pada Marin yang masih berdiri di depan lemarinya.


"Kenapa Putri? bukankah kamarmu lebih nyaman?"


"Apa aku tidak boleh tidur disini?"


"Tentu saja boleh, tapi....."


"Aku sedang bingung Marin," ucap Nerissa sambil beranjak dan duduk di tepi ranjang Marin.


"Apa yang membuatmu bingung Putri? ceritalah!"


"Kau kemarilah, kenapa kau berdiri di depan lemari dari tadi? apa jangan-jangan kau menyembunyikan laki-laki di dalam sana?" tanya Nerissa dengan pandangan penuh intimidasi.


"Hahaha...... apa yang kau katakan Putri? kau terlalu banyak menonton film," balas Marin dengan tertawa canggung lalu duduk di samping Nerissa.


"Lagipula siapa yang kau sembunyikan disana, kau pasti tidak mungkin membiarkan laki-laki masuk ke dalam kamarmu bukan? kecuali laki-laki itu Daniel hahaha...."


"Kenapa tiba-tiba membicarakan Daniel? kau ada-ada saja Putri," balas Marin gugup.


"Hmmm..... andai saja aku bisa memilih kepada siapa aku jatuh cinta, aku pasti tidak akan memilih Alvin, Marin," ucap Nerissa sambil menundukkan kepalanya.


"Apa dia menyakitimu lagi Putri?" tanya Marin yang hanya dibalas galengan kepala oleh Nerissa.


"Lalu apa yang terjadi dan apa yang membuatmu bingung?" tanya Marin.


"Aku tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta pada Alvin, padahal sekarang aku tahu bahwa dia masih belum melupakan masa lalunya sedangkan di sisi lain ada Daniel yang begitu baik padaku, aku merasa sangat jahat pada Daniel, apa sebaiknya aku hentikan saja kebohongan ini?"


"Kenapa Putri? bukankah ini ide Daniel juga?"


"Dia belum benar-benar melupakan perasaannya padaku dan apa yang kita lakukan sekarang akan semakin menyakiti perasaannya," ucap Nerissa.


"Ini adalah pilihan Daniel sendiri Putri, meskipun dia sudah tidak mengharapkanmu lagi, menghapusmu dari hatinya bukanlah hal yang mudah seperti kau yang tidak mudah menghapus Alvin dari hatimu!"


"Aku tahu itu dan itu sangat menyakitkan, aku tidak ingin Daniel terus-menerus merasa tersakiti dengan perasaannya sendiri."


"Daniel melakukan rencana ini bukan tanpa alasan Putri, dia melakukan hal ini untuk menjaga Alvin dari perempuan egois seperti Amanda, dia juga melakukan hal ini untukmu!"


"Apa kau tidak merasa aku sangat jahat pada Daniel, Marin?"


"Tentu saja tidak, justru kau akan sangat jahat jika kau pergi menjauh darinya begitu saja," jawab Marin.


"Tapi aku merasa sangat jahat Marin, tidak hanya pada Daniel tapi juga padamu," ucap Daniel sambil membawa pandangannya pada Marin.


"Kenapa kau jahat padaku? memangnya apa yang sudah kau lakukan padaku Putri?"


"Aku tahu kau pasti sedang menyembunyikan lukamu saat ini, apa yang terjadi padaku dan Daniel sekarang pasti melukai hatimu bukan?"


"Apa yang kau bicarakan Putri, aku sama sekali tidak mengerti," balas Marin sambil membawa pandangannya menghindar dari Nerissa.


"Jujurlah padaku Marin, kamu menyukai Daniel bukan?"


Marin terdiam beberapa saat lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat karena ia ingat ada Daniel yang berada di dalam lemari pakaiannya yang tentu saja mendengar obrolannya dengan Nerissa.


"Bagaimana bisa aku menyukai laki-laki yang selalu membuatku naik darah sepertinya, kau terlalu banyak berpikir Putri, kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah!" ucap Marin lalu menarik Nerissa agar beranjak dari ranjangnya.


Nerissa melepaskan tangannya dari Marin lalu menggenggam kedua tangan Marin.


"Daniel laki-laki yang baik Marin, jika saja aku bisa aku pasti akan membuatnya jatuh cinta padamu agar tidak ada lagi yang merasa tersakiti diantara kita," ucap Nerissa menatap kedua mata Marin.


Marin segera menarik tangannya dari genggaman Nerissa dan mengalihkan pandangannya dari Nerissa.


"Tidak ada yang tersakiti disini Putri, aku hanya berteman dengannya, kau pun tahu aku tidak bisa berharap lebih pada siapapun disini dan apa yang Daniel lakukan sekarang itu karena keinginannya sendiri, jadi kau jangan terlalu memikirkannya Putri," ucap Marin sambil berdiri membelakangi Nerissa.


"Suatu saat nanti kau harus jujur pada Daniel tentang perasaanmu Marin, biarkan dia tahu apa yang selama ini kau pendam tentangnya," ucap Nerissa lalu berjalan keluar dari kamar Marin.


Sedangkan Marin masih terdiam di tempatnya berdiri, mendongakkan kepalanya menatap langit-langit kamarnya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"untuk apa aku mengatakan sesuatu yang hanya akan menyakitiku, bukankah aku tahu dunia kita jelas berbeda dan perbedaan yang jelas di antara kita adalah dua hati dengan perasaan yang berbeda," ucap Marin dalam hati bersama setetes air mata yang membasahi pipinya.


Marinpun segera menghapus air mata di pipinya dan mengibaskan kedua tangannya di depan matanya.


Tiba-tiba pintu lemari Marin terbuka, membuat Marin segera berbalik membelakangi Daniel yang baru saja keluar dari lemari.


"Akhirnya aku bisa keluar dari sini, disini sempit sekali," ucap Daniel dengan suara yang sangat pelan namun bisa didengar dengan jelas oleh Marin.


"Pulanglah sebelum Putri kembali masuk kesini," ucap Marin dengan masih berdiri membelakangi Daniel.


Danielpun membawa langkahnya pada Marin, namun Marin yang menyadari jika Daniel mendekatinya segera berbalik ke arah lain agar Daniel tidak melihat wajah sendunya karena baru saja menangis.


Menyadari Marin yang tampak menghindar dari pandangannya, Danielpun memegang kedua bahu Marin dan dengan satu kali gerakan membuat Marin berdiri tepat di hadapannya.


"Ada apa denganmu? apa kau menangis?" tanya Daniel melihat kedua mata Marin yang sembab saat itu.


"Tidak, sepertinya ada debu yang masuk ke mataku," jawab Marin sambil mendongakkan kepalanya dan mengerjapkan matanya beberapa kali.


Daniel yang masih memegang kedua bahu Marin mendorong Marin dengan pelan, membuat Marin mundur beberapa langkah hingga punggung Marin menyentuh dinding kamarnya.


"Apa yang kau lakukan Daniel? lepaskan aku!" ucap Marin sambil berusaha melepaskan tangan Daniel dari kedua bahunya.


Daniel hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun, kedua tangan Daniel yang berada di bahu Marin tiba-tiba saja berpindah memegang kedua pipi Marin, membawa pandangan Marin menatap wajah Daniel.


Marin yang terkejut hanya bisa terdiam, debaran dalam dadanya seolah memberikan isyarat padanya untuk terdiam tanpa perlawanan.


Daniel kemudian semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Marin. Mereka saling menatap untuk beberapa lama, bahkan Marin bisa merasakan hembusan nafas Daniel di wajahnya, membuat debaran dalam dadanya semakin memburu.


Saat Daniel semakin mendekat padanya, entah mendapat bisikan dari mana Marin memejamkan matanya begitu saja.


Melihat hal itu Daniel tersenyum dan mengusap pipi marin dengan lembut.


"Bagaimana aku bisa melihat matamu jika kau memejamkannya?" tanya Daniel yang membuat Marin segera membuka matanya dan mendorong Daniel dengan kuat.


Daniel kembali mendekat lalu menarik tangan Marin, membuat Marin dengan cepat berdiri di hadapan Daniel dengan jarak yang sangat dekat.


Marinpun berusaha menarik tangannya dari Daniel.


"Diamlah Marin, aku harus memeriksa matamu!" ucap Daniel yang masih menggenggam erat tangan Marin.


"Aku baik-baik saja, mataku sudah sembuh, sekarang lepaskan aku dan cepatlah keluar dari sini!" ucap Marin sambil menarik tangannya dengan kasar.


Setelah tangannya terlepas dari Daniel, Marinpun berjalan ke arah jendela dan membukanya lebar-lebar.


Daniel hanya tersenyum tipis lalu berjalan ke arah jendela.


"Apa itu sangat menyakitkan, Marin?" tanya Daniel sebelum ia keluar dari kamar Marin.


"Aaa.... apa maksudmu?" tanya Marin gugup.


"Tanganmu, sepertinya aku menggenggamnya terlalu keras, maafkan aku!"


"Tidak, ini sama sekali tidak sakit, cepatlah keluar!" balas Marin sambil mendorong Daniel agar segera keluar dari kamarnya.


Danielpun keluar dari kamar Marin melalui jendela, namun saat Marin akan menutup jendelanya, Daniel menahan tangan Marin dan satu tangannya yang lain menepuk-nepuk kepala Marin dengan pelan.


"Beristirahatlah, tidurlah yang nyenyak dan mimpi indah, aku akan menjaga bulan agar tetap bersinar untukmu," ucap Daniel dengan tersenyum sambil mengusap kepala Marin, lalu berjalan pergi begitu saja.


Marin terdiam di tempatnya berdiri untuk beberapa saat lalu segera menutup jendela kamarnya saat melihat mobil Daniel sudah pergi dari depan rumahnya.


"Sikapmu kadang terlalu manis untuk seseorang yang sangat menyebalkan sepertimu," ucap Marin sambil tersenyum lalu menjatuhkan dirinya di ranjang.


"Sepertinya Daniel tidak mendengar percakapanku dengan Putri, lebih baik memang seperti itu karena aku tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan Daniel," ucap Marin lalu memejamkan matanya.


**


Hari telah berganti, seperti biasa Marin dan Nerissa sedang sibuk di toko bunga.


"Putri, ada pesanan paket bunga untuk diantar ke rumah Alvin, apa sebaiknya aku meminta tolong orang lain untuk mengantarnya?" ucap Marin sekaligus bertanya pada Nerissa.


"Tidak perlu, aku bisa mengantarnya," balas Nerissa.


"Apa kau yakin? bagaimana jika ada Amanda disana?"


"Itu bukan masalah buatku Marin, aku akan menunjukkan pada mereka berdua bahwa hubungan mereka berdua tidak mempengaruhiku sama sekali," balas Nerissa dengan tersenyum penuh semangat.


"Kau benar Putri, memang seharusnya seperti itu, Amanda akan merasa menang saat melihat kau bersedih dan menangis karena dia berhasil mengambil Alvin darimu!"


Marin kemudian menyiapkan buket bunga yang harus Nerissa antar beberapa jam lagi. Setelah buket bunga pesanan Alvin selesai dibuat, Nerissapun mengantarnya ke rumah Alvin dengan menggunakan taksi.


Sesampainya di rumah Alvin, dengan ragu Nerissa membawa langkahnya masuk dan memencet bel beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka.


"Akhirnya kau datang Nerissa, aku sudah lama menunggumu!" ucap Amanda.


"Sepertinya aku belum terlambat, bukankah kau memesannya tepat jam 10 siang dan aku sudah sampai di sini sebelum jam 10!"


"Aahhh iya, itu tidak penting, masuklah ada yang ingin aku bicarakan padamu!" ucap Amanda sambil meraih tangan Nerissa, namun Nerissa menghindar.


"Aku tidak bisa, aku harus segera pergi untuk mengantar buket bunga yang lain," ucap Nerissa menolak.


"Hanya sebentar saja Nerissa, ini tentang ikan yang ada di akuarium, sepertinya ikan-ikan itu akan mati," ucap Amanda yang membuat Nerissa memutuskan untuk mengikuti Amanda masuk ke dalam rumah Alvin.


"Lihatlah, ikan-ikan ini terlihat sangat lemas," ucap Amanda sambil menunjuk ikan yang ada di dalam akuarium dengan hiasan aquascape yang dibuat oleh Nerissa dan Alvin.


"Apa menurutmu bentuk aquascape ini tidak disukai oleh ikan-ikan ini?" lanjut Amanda bertanya.


"Sepertinya ada masalah dengan saluran oksigennya," balas Nerissa lalu memeriksa keadaan akuarium itu secara keseluruhan dan benar saja ada sesuatu yang mengganggu saluran oksigen yang masuk ke dalam akuarium itu.


"Tolong katakan pada Alvin untuk memperhatikan saluran oksigen di akuarium yang lain jika dia tidak ingin kehilangan ikannya," ucap Nerissa pada Amanda lalu berjalan pergi meninggalkan Amanda.


"Aduh...... kepalaku pusing sekali, sepertinya aku akan pingsan," ucap Amanda sambil menundukkan kepalanya dan mengernyitkan keningnya.


Nerissa yang mendengar hal itu segera berbalik menghampiri Amanda.


"Apa yang terjadi padamu Amanda?" tanya Nerissa sambil memegang bahu Amanda, namun Amanda tiba-tiba mundur beberapa langkah dan menabrak akuarium di belakangnya.


Akuarium itupun pecah bersama dengan ikan-ikan yang mulai menggelepar di lantai.


"Amanda, Nerissa apa yang terjadi?" tanya Alvin yang tiba tiba datang, ia begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya saat itu.


"Dia mendorongku Alvin," jawab Amanda sambil menunjuk ke arah Nerissa yang sedang sibuk menyelamatkan ikan-ikan yang menggelepar di lantai.