
Rintik hujan masih turun dengan derasnya, Alvin mengendarai mobilnya mengikuti arah GPS pada ponselnya untuk menemui Amanda.
Setelah beberapa lama berkendara, Alvinpun sampai di sebuah jalan kecil tempat Amanda terjebak bersama mobilnya.
Alvin kemudian memarkirkan mobilnya di tepi jalan kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri jalanan kecil di hadapannya.
Setelah beberapa lama berjalan di tengah guyuran hujan, Alvinpun melihat mobil Amanda, Alvin semakin mempercepat langkahnya ke arah mobil Amanda.
"Amanda!" panggil Alvin saat ia sudah berada di samping mobil Amanda.
Amandapun segera membuka pintu mobilnya, membiarkan Alvin masuk dan duduk di balik kemudi.
"Apa kau baik-baik saja? tidak terjadi sesuatu padamu bukan?" tanya Alvin mengkhawatirkan Amanda.
"Aku baik-baik saja Alvin, tetapi kau basah kuyup seperti ini karena aku!"
"Ini bukan apa-apa, pakai sabuk pengamanmu aku akan berusaha mengeluarkan mobilmu dari sini!" ucap Alvin lalu berusaha untuk mengeluarkan mobil Amanda yang terjebak di jalanan kecil dan curam itu.
Setelah beberapa lama berusaha, tiba-tiba satu ban bagian belakang mobil Amanda tergelincir ke arah jurang, namun Alvin berhasil menahan agar mobil itu tidak benar-benar jatuh ke dalam jurang.
"Aaaaaaa!!!!!!!!" teriak Amanda ketakutan saat mobilnya hampir saja terjatuh ke dalam jurang.
"Tenanglah Amanda, aku tidak akan membiarkanmu terjatuh ke dalam sana!" ucap Alvin lalu melepas sabuk pengaman Amanda.
"Apa yang kau lakukan Alvin kenapa kau melepasnya?" tanya Amanda sambil menahan sabuk pengaman yang ia pakai.
"Turunlah, ini sangat berbahaya!" ucap Alvin yang meminta Amanda untuk turun dari mobil karena tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Amanda jika ia gagal untuk mengeluarkan mobil Amanda dari jalan yang curam itu.
"Tidak Alvin, aku tidak mungkin meninggalkanmu di dalam mobil ini sendirian!"
"Percayalah padaku Amanda, aku mohon keluarlah!"
"Tapi Alvin......."
"Aku pasti akan baik-baik saja, turunlah dan tunggu aku di belakang!" ucap Alvin dengan menatap ke dalam mata Amanda.
Amanda diam beberapa saat, membiarkan Alvin melepas sabuk pengamanannya. Amanda lalu mendekat ke arah Alvin memberikan satu kecupannya pada Alvin kemudian keluar dari mobil dan berjalan ke arah belakang mobil untuk menunggu Alvin.
Sedangkan Alvin terdiam beberapa saat setelah Amanda mencium pipinya, ia tidak menyangka Amanda akan melakukan hal itu padanya.
Saat rintik hujan tiba-tiba semakin deras, Alvinpun tersadar dari lamunannya. Alvin kembali berusaha dengan lebih hati-hati untuk mengeluarkan mobil Amanda yang terjebak saat itu.
Setelah beberapa lama berkutat dengan jalanan curam licin dan kecil, Alvin pun berhasil membawa mobil Amanda menjauh dari jalanan berbahaya itu.
Alvin lalu meminta Amanda untuk segera kembali masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih Alvin, lagi lagi kau menyelamatkanku!" ucap Amanda sambil sesekali menggaruk tengkuk lehernya.
Alvin yang menyadari hal itu segera mendekat ke arah Amanda dan menyibakkan rambut panjang Amanda.
"Amanda lehermu memerah," ucap Alvin yang melihat ruam merah di sekitar leher Amanda.
"Ini hanya sedikit gatal, bukan masalah besar," balas Amanda sambil menggaruk wajah dan tangannya.
"Kau tidak alergi hujan bukan?" tanya Alvin memastikan setelah ia melihat ruam di wajah dan tangan Amanda.
"Aku tidak tahu, tetapi aku sering seperti ini jika terkena hujan sejak aku tinggal di luar negeri," jawab Amanda yang mulai merasa panas pada ruam-ruam di leher, tangan dan wajahnya.
"Berhenti menggaruknya Amanda, kau membuatnya semakin parah!" ucap Alvin lalu segera mengendarai mobil Amanda menjauh dari tempat itu.
"Ini terasa sangat gatal dan panas Alvin," ucap Amanda sambil memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
"Bertahanlah Amanda, aku akan membawamu ke rumah sakit!" ucap Alvin sambil menancap gas meninggalkan area hutan tempat ia menemui Amanda.
"Dadaku terasa sesak Alvin, aku merasa pusing," ucap Amanda yang sudah diambang batas kesadarannya.
"Bertahanlah sebentar lagi Amanda!" ucap Alvin sambil menggenggam tangan Amanda.
Alvin semakin mempercepat laju mobilnya tidak ada yang lain yang ia pikirkan saat itu selain keadaan Amanda yang tampak semakin memburuk.
Sesampainya di rumah sakit terdekat, Alvin segera membuka pintu mobilnya membantu Amanda untuk keluar dari mobil.
Baru saja Amanda menginjakkan kakinya, Amanda sudah kehilangan kesadarannya, Alvinpun segera membopong Amanda masuk ke dalam rumah sakit.
**
Di sisi lain Nerissa masih berada di gazebo yang ada di bawah bukit perkebunan teh. Karena ia merasa hangat setelah meminum minuman dari seseorang yang tidak ia kenal, iapun kembali meminumnya sampai habis tanpa ragu.
Meski Nerissa merasa kepalanya sedikit pusing, ia tetap berterima kasih pada seseorang yang memberinya minuman itu karena tubuhnya kini menjadi hangat dan sudah tidak merasa dingin lagi.
"Terima kasih, tubuhku menjadi hangat sekarang!" ucap Nerissa tersenyum manis dengan kedua mata yang tampak sayu.
Laki-laki itu pun tersenyum lalu menggeser posisi duduknya mendekati Nerissa.
"Ikutlah denganku, disini sangat sepi dan tidak aman untuk gadis cantik sepertimu!" ucap laki-laki itu sambil memegang bahu Nerissa, namun Nerissa segera menggeser posisi duduknya dan menepis tangan laki-laki yang memegang bahunya.
"Aku akan memberimu banyak minuman ini jika kau ikut denganku!" ucap laki-laki itu berusaha membujuk Nerissa yang sudah terpengaruh oleh minuman alkohol yang diminumnya.
Laki-laki itu menarik tangan Nerissa dan tanpa perlawanan Nerissapun mengikuti ajakan laki-laki itu.
Nerissa turun dari gazebo tanpa mengenakan sepatunya, ia juga membiarkan laki-laki itu memegang kedua bahunya, membawanya berjalan ke arah gubuk kecil yang tidak terlalu jauh dari gazebo tempat Nerissa menunggu Alvin.
"Kau cantik sekali seperti bidadari," ucap laki-laki itu memuji kecantikan Nerissa.
"Aku mermaid, bukan bidadari," balas Nerissa dengan tertawa kecil.
"Hahaha..... kalau begitu kau adalah Ratu mermaid yang tercantik!"
"Bukan, aku Putri mermaid dan bundakulah ratunya," ucap Nerissa yang membuat laki-laki itu terkekeh.
"Terserah kau saja, yang pasti sekarang kau milikku hahaha......"
Dengan langkah yang sempoyongan, Nerissa hanya mengikuti langkah laki-laki yang memegang kedua bahunya tanpa bisa memikirkan apapun.
"Aaahhh...... kepalaku terasa pusing," ucap Nerissa sambil memegangi kepalanya.
"Percepat langkahmu agar kau bisa segera beristirahat denganku disana," balas laki-laki itu.
Nerissa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada laki-laki yang berniat jahat padanya.
Nerissa sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi, alkohol yang diminumnya sudah mempengaruhi dirinya sepenuhnya.
Saat laki-laki itu akan membuka pintu, tiba-tiba seseorang datang dan menendang laki-laki itu dari belakang, membuat laki-laki itu terjatuh, begitu juga Nerissa yang ikut terjatuh saat laki-laki itu terjatuh.
"Brengsek kau! apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Daniel setelah menghujani laki-laki itu dengan pukulannya.
"Siapa kau, apa kau mengenalnya?"
"Dia kekasihku, sekali lagi kau menyentuhnya kau akan habis di tanganku!" ucap Daniel lalu memberikan pukulan terakhirnya pada laki-laki itu.
"Nerissa tunggu!" ucap Daniel berteriak namun tidak dihiraukan oleh Nerissa.
Dengan bertelanjang kaki Nerissa berjalan menaiki bukit perkebunan teh. Ia bahkan tidak sadar saat kakinya terluka karena menginjak bebatuan tajam yang ada di sana.
Nerissa baru menghentikan langkahnya saat ia terpeleset jatuh terduduk pada kubangan air.
Daniel yang melihat hal itupun segera membantu Nerissa berdiri.
"Jangan menyentuhku, kau terasa sangat dingin!" ucap Nerissa sambil mendorong Daniel.
"bau alkohol, sepertinya laki-laki itu baru saja memberi Nerissa alkohol," ucap Daniel dalam hati sambil kembali membantu Nerissa berdiri.
"Ayo pergi dari sini!" ucap Daniel sambil memegang kedua bahu Nerissa, membantu Nerissa yang berjalan sempoyongan untuk masuk ke dalam mobil.
"Tunggu dulu!" ucap Nerissa lalu melepas kedua tangan Daniel dari bahunya dan berlari ke arah kubangan air yang berada di dekatnya.
Nerissa menjatuhkan dirinya disana dan bermain air seperti anak kecil.
"Lihatlah, aku sudah seperti mermaid sekarang!" ucap Nerissa yang tampak sangat senang.
"Kau tidak memiliki ekor seperti mermaid Nerissa!"
"Itu karena aku sudah menukar ekorku dengan kaki, apa kau tidak melihatnya, kakiku ini sebenarnya ekor yang sangat cantik," ucap Nerissa sambil mengangkat kedua kakinya.
"Baiklah, kau memang mermaid yang sangat cantik, ekormu juga terlihat sangat cantik, sekarang ayo kita pergi dari sini!" balas Daniel sambil mengulurkan tangannya pada Nerissa.
Nerissa hanya menggelengkan kepalanya kemudian mendongakkan kepalanya dan membuka mulutnya, membiarkan air hujan masuk ke dalam mulutnya.
"Apa yang kau lakukan Nerissa? ayo kita pergi dari sini!" ucap Daniel yang kembali membantu Nerissa untuk berdiri.
Tiba-tiba Nerissa menutup mulutnya, ia merasa sesuatu bergejolak di dalam perutnya dan hendak keluar dari mulutnya.
"Sepertinya air hujan ini membuat perutku mual," ucap Nerissa namun kembali mendongakkan kepalanya dengan membuka mulutnya.
"Berhenti meminum air hujan Nerissa, berapa banyak alkohol yang sudah kau minum hingga membuatmu seperti ini!"
Saat Daniel akan membawa Nerissa masuk ke dalam mobil, Nerissa tiba-tiba berbalik dan memuntahkan seluruh isi perutnya tepat ke arah Daniel.
"Aaahhh ini bau sekali, cepat lepaskan pakaianmu, kau sangat bau!" ucap Nerissa sambil mendorong Daniel menjauh darinya.
Daniel hanya tersenyum tipis, kemudian melepaskan jaketnya yang terkena muntahan dari Nerissa.
"Aku sudah melepasnya, apa kau merasa lebih baik sekarang?" tanya Daniel yang dibalas anggukan kepala Nerissa.
Nerissa kemudian masuk ke dalam mobil, begitu juga Daniel yang duduk di balik kemudi dengan pakaian yang basah dan kotor.
"Oke baiklah, sekarang kita pergi dari sini!" ucap Daniel kemudian menyalakan mesin mobilnya.
Nerissa hanya diam dengan pandangan sayu, ia menatap Daniel yang duduk di sebelahnya.
"Ternyata kau laki-laki yang tampan," ucap Nerissa sambil menyentuh pipi Daniel
"Aku memang laki-laki tampan, apa kau mau menjadi kekasih laki-laki tanpa ini?"
Nerissa menggelengkan kepalanya dengan cepat dengan kedua mata yang hampir terpejam.
"Kenapa? apa kau tidak ingin mempunyai kekasih yang tampan sepertiku?" tanya Daniel.
"Karena aku tidak mencintaimu," jawab Nerissa membuat Daniel terkekeh.
"Lalu siapa yang kau cintai?"
"Namanya Alvin, dia laki-laki tampan dan baik, aku sangat menyukainya dan sekarang aku benar-benar mencintainya!" ucap Nerissa dengan mata terpejam dan senyum yang mengembang.
"Dengan keadaanmu yang seperti ini kau bahkan masih mencintai Alvin!" ucap Daniel dengan tersenyum tipis.
"Tidurlah, aku akan membawamu ke villa!" ucap Daniel sambil mengusap kepala Nerissa dengan lembut.
Sesampainya di villa, Daniel segera turun dari mobil lalu menggendong Nerissa masuk ke dalam villa.
Daniel membawa Nerissa masuk ke dalam salah satu kamar yang ada disana, ia kemudian meminta bibi yang ada disana untuk mengganti pakaian Nerissa dengan pakaian sang mama yang ada disana.
Setelah mengganti pakaian Nerissa, bibi pun keluar dari kamar untuk mengambil kotak P3K karena melihat kaki Nerissa yang terluka.
"Kenapa bibi mengambil kotak P3K?" tanya Daniel yang baru saja berganti pakaian di kamar lain.
"Kakinya terluka tuan, bibi akan mengobatinya," jawab bibi.
"Berikan pada Daniel bi, Daniel yang akan mengobatinya," ucap Daniel lalu masuk ke dalam kamar dengan membawa kotak P3K pemberian bibi.
Daniel duduk di tepi ranjang, menatap gadis cantik yang terpejam di hadapannya.
"Kenapa kau bisa ada disini Nerissa? kenapa kau bisa seperti ini? aku benar-benar tidak akan memaafkan Alvin jika Alvin yang membuatmu seperti ini!" ucap Daniel sambil membelai pipi Nerissa.
Daniel kemudian melihat ke arah kaki Nerissa dan melihat kaki Nerissa yang terluka lalu mengobatinya.
"Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu Alvin, jika apa yang terjadi pada Nerissa karena ulahmu!" ucap Daniel menahan emosi dalam dirinya.
Melihat apa yang terjadi pada Nerissa, membuatnya begitu marah. Entah apa yang terjadi jika Daniel tidak melihat Nerissa saat itu, sudah pasti laki-laki yang membawa Nerissa itu bukanlah laki-laki yang baik.
**
Waktupun berlalu, sinar mentari yang datang setelah hujan kini tampak malu-malu pulang ke peraduannya.
Daniel masih berada di kamar, menunggu Nerissa terbangun dari tidurnya. Sudah beberapa jam lamanya Nerissa masih terpejam di ranjang Daniel.
Flashback sebelum Daniel bertemu Nerissa.
Hari itu Daniel berencana untuk pergi memeriksa villa milik keluarganya, ia berniat untuk mengajak mama dan papanya berlibur ke villa sebelum mama dan papanya benar-benar berpisah.
Dengan apa yang akan ia lakukan itu Daniel berharap mama dan papanya bisa merubah keputusan mereka berdua.
Meskipun Daniel mengatakan tidak keberatan dengan keputusan kedua orang tuanya, tetapi dalam hatinya ia tidak ingin perpisahan menjadi keputusan akhir dalam masalah keluarganya.
Saat melewati bukit perkebunan teh yang tidak jauh dari villa keluarganya, Daniel melihat seorang laki-laki yang berjalan dengan seorang perempuan di bawah lebatnya hujan saat itu.
Pada awalnya Daniel hanya berpikir jika laki-laki dan perempuan itu adalah muda-mudi yang terjebak hujan saat mereka menikmati pemandangan bukit perkebunan teh.
Namun saat Daniel melihat wajah perempuan yang akan masuk ke dalam gubuk kecil itu Daniel segera menghentikan mobilnya.
Tanpa pikir panjang Daniel berjalan cepat ke arah laki-laki itu lalu menendangnya dari belakang.
Emosi sudah memenuhi dirinya saat itu, tanpa ragu ia melayangkan tinjunya pada laki-laki yang membawa Nerissa ke dalam gubuk kecil itu.
Flashback off