
Sebelum kedatangan Nerissa, Amanda sudah merencanakan sesuatu untuk membuat Nerissa meninggalkan Alvin.
Karena Amanda tahu jika Nerissa adalah gadis yang baik, iapun berniat untuk memanfaatkan kebaikan Nerissa.
Amanda menyiapkan tali yang sudah diikat ke langit-langit kamarnya dengan bantuan satpam yang bekerja di rumahnya.
Amanda berencana saat Nerissa datang ia akan mengancam untuk bunuh diri jika Nerissa membiarkan Alvin meninggalkannya.
Saat Amanda mendengar Nerissa memanggilnya, Amandapun bersiap dengan berdiri di atas kursi dan menempatkan kepalanya ke dalam tali yang sudah dia siapkan untuk berpura-pura menggantungkan dirinya disana.
Namun tiba-tiba kursi yang dipijaknya bergoyang dan tak butuh waktu lama kursi itupun terjatuh, membuat kepala Amanda benar-benar tergantung pada tali yang sudah dia siapkan untuk membohongi Nerissa.
Untuk beberapa saat Amanda berusaha melepaskan ikatan tali yang mencekik lehernya hingga tak lama kemudian ia pun kehilangan kesadarannya.
Yang membuat Amanda heran adalah saat Amanda tersadar ia sudah tidak merasakan sakit di lehernya sama sekali, ia merasa seolah tidak terjadi apa-apa padanya padahal ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana rasa sakit yang ia rasakan saat ia tergantung beberapa saat yang lalu.
Amanda semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi ketika ia melihat Nerissa yang tampak lemas tak berdaya dengan hidungnya yang mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Belum sempat Amanda mengetahui apa yang sebenarnya terjadi Alvin sudah datang dan membawa Nerissa pergi darinya.
Amanda kemudian menghampiri Pak satpam yang berjaga di depan rumahnya.
"Apa bapak tahu apa yang terjadi setelah Nerissa masuk ke kamar saya Pak?" tanya Amanda.
"Tidak non, bapak sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di dalam," jawab Pak satpam yang membuat Amanda semakin terheran-heran.
Amanda kemudian meminta bantuan Pak satpam untuk melepas tali yang ada di langit-langit kamarnya.
Meskipun belum menemukan jawaban dari pertanyaannya, Amanda memutuskan untuk melupakan hal itu karena apapun yang terjadi rencana yang sudah disiapkannya gagal, iapun memikirkan rencana lain yang harus ia lakukan untuk membuat Nerissa meninggalkan Alvin.
"jika Alvin tidak bisa meninggalkan Nerissa, maka Nerissalah yang harus meninggalkan Alvin," ucap Amanda dalam hati.
Setelah Pak satpam membereskan kamarnya, Amandapun mengambil ponselnya di meja lalu membaringkan badannya di ranjang sambil menghubungi Alvin.
Tak butuh waktu lama, Amandapun tersenyum senang saat Alvin menerima panggilannya.
"Alvin aku......"
"Apa yang sudah kau lakukan pada Nerissa, Amanda?" tanya Alvin tanpa basa-basi.
"Aku tidak melakukan apapun padanya Alvin, aku bahkan merasa aneh padanya," jawab Amanda.
"Berhentilah mengganggu Nerissa, jika sampai aku tahu kau menyakiti Nerissa maka jangan salahkan aku jika aku tidak akan bisa memaafkanmu lagi," ucap Alvin.
"Aku benar-benar tidak melakukan apapun padanya Alvin, aku hanya memesan bunga dan dia mengantarnya padaku, aku juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba seperti itu, apa kau tidak percaya padaku?"
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu setelah kebohongan yang sudah kau lakukan? bibi bahkan masih takut untuk kembali ke rumahku karena ancamanmu!"
"Kalau itu masalahnya aku akan membantumu untuk meyakinkan bibi agar kembali ke rumahmu, aku akan......"
"Tidak perlu, kau tidak perlu lagi mencampuri semua urusanku, aku akan menyelesaikan semua masalahku sendiri dan sekali lagi aku ingatkan padamu jangan pernah menyakiti Nerissa atau aku benar-benar tidak akan pernah memaafkanmu selamanya," ucap Alvin lalu mengakhiri panggilan dari Amanda.
Amandapun melempar ponselnya karena kesal.
**
Di sisi lain, Nerissa yang sudah tersadar masih terdiam lemah di ranjangnya bersama Marin yang duduk di sebelahnya.
"Apa yang terjadi padamu Putri? kenapa kau seperti ini lagi?" tanya Marin mengkhawatirkan Nerissa.
Nerissa terdiam beberapa saat mengingat kejadian sebelum ia pingsan.
"Aku hanya ingin membantu Amanda, sepertinya dia berniat untuk bunuh diri, untunglah aku belum terlambat saat itu," ucap Nerissa yang membuat Marin begitu terkejut.
Bagaimana mungkin Nerissa mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menolong perempuan yang sudah jahat padanya.
"Apa kau tidak sadar kau sudah membahayakan nyawamu Putri? apa kau lupa apa yang sudah Amanda perbuat padamu?"
"Aku tidak mungkin diam saja Marin, jika aku membiarkannya bisa saja nyawanya tidak tertolong lagi, terlepas dari apa yang dia lakukan padaku aku hanya tidak ingin seseorang terluka di hadapanku apalagi sampai kehilangan nyawanya," balas Nerissa.
"Tapi itu membahayakan dirimu Putri, apa kau tidak memikirkan itu?"
Nerissa hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengucapkan apapun, sedangkan Marin hanya menghela nafasnya melihat sikap Nerissa.
"Sepertinya Amanda benar-benar menyukai Alvin," ucap Nerissa.
"Kau juga menyukainya, kau bahkan mencintainya sedangkan Amanda menyukai Alvin hanya untuk memanfaatkannya," balas Marin.
"Amanda bahkan membahayakan nyawanya hanya karena Alvin meninggalkannya Marin!"
"Sudahlah Putri, berhenti memikirkan Amanda, abaikan saja semua yang dilakukannya, anggap kau tidak pernah mengenalnya!" ucap Marin.
"Tapi....."
"Apa kau masih tidak mengerti cara hidup di dunia manusia ini Putri? kaupun tahu tidak semua manusia itu baik, banyak dari mereka yang memanfaatkan kebaikan orang lain, banyak dari mereka yang bersikap munafik dan banyak dari mereka yang bersikap egois hanya untuk kepentingannya sendiri," ucap Marin memotong ucapan Nerissa.
Nerissa hanya terdiam, dalam hatinya ia membenarkan ucapan Marin. Tetapi di sisi lain, ia juga merasa bersalah jika sampai Amanda benar-benar kehilangan nyawanya hanya karena Alvin yang lebih memilih dirinya.
Marin kemudian meraih tangan Nerissa dan menggenggamnya.
"Putri, Ratu Nagisa sedang menunggu kita sekarang, Seabert membutuhkanmu saat ini jadi lebih baik jangan terlalu melibatkan dirimu dalam masalah ini, lebih baik fokus saja untuk mencari mutiara biru milik Ratu Nagisa sembari menjalani kehidupan kita disini dengan baik," ucap Marin.
"Kau benar Marin, tidak seharusnya aku memikirkan Amanda dengan berlebihan," balas Nerissa.
"Aku sudah membuatkan ramuan untukmu, minumlah ini akan menyegarkanmu," ucap Marin sambil memberikan segelas ramuan untuk Nerissa.
"Terima kasih Marin," ucap Nerissa lalu meminum ramuan buatan Marin.
"Beristirahatlah, setelah itu hubungi Alvin karena dia sangat mengkhawatirkanmu tadi," ucap Marin lalu beranjak dari duduknya.
Nerissa menganggukkan kepalanya lalu kembali merebahkan badannya.
Setelah Marin meninggalkan kamarnya, Nerissapun mengambil ponselnya yang ada di meja lalu mencari nama Alvin di penyimpanan kontaknya.
"pertemuan kita mungkin sudah ditakdirkan, begitupun rasa yang ada di hatiku untukmu tetapi dengan perbedaan dunia kita apakah mungkin ada jalan untuk kita bisa bersama selamanya?" tanya Nerissa dalam hati sambil menatap nama Alvin di penyimpanan kontaknya.
Meskipun berkali-kali ia menyadarkan dirinya tentang dunianya yang berbeda dengan Alvin namun dalam hati kecilnya selalu ada harapan untuk bisa bersama Alvin selamanya.
**
"Sudah aku duga, Ricky hanya ingin peragaan busana kita batal dilaksanakan," ucap Daniel pada Alvin.
"Kau benar dan sekarang aku sudah memberitahu papanya tentang rencana peragaan busana itu jadi jika ada masalah tentang acara itu maka Rickypun akan mendapat masalah karena dianggap tidak bisa menghandle dengan baik acara peragaan busana kita," balas Alvin.
"Papa Ricky sangat mempercayaimu Alvin, kau harus bisa menggunakan kesempatan ini dengan baik," ucap Daniel yang dibalas anggukan kepala Alvin.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Alvin berdering, sebuah panggilan dari Nerissa. Sebelum menerima panggilan Nerissa, Alvin membawa pandangannya pada Daniel karena ia segan untuk menerima panggilan Nerissa di hadapan Daniel, mengingat Daniel adalah kekasih Nerissa, setidaknya itu yang ia tahu saat itu.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Daniel yang merasa Alvin tengah menatapnya saat itu.
"Nerissa menghubungiku," jawab Alvin sambil menunjukkan layar ponselnya pada Daniel.
Daniel hanya menganggukan kepalanya pelan lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan meeting.
Alvinpun menerima panggilan Nerissa setelah Daniel keluar dari ruangan meeting.
"Halo Nerissa, bagaimana keadaanmu?" tanya Alvin setelah ia menerima panggilan Nerissa.
"Aku sudah membaik, terima kasih sudah mengantarku pulang Alvin," jawab Nerissa.
"Apa kau bisa menceritakan padaku tentang apa yang terjadi tadi?" tanya Alvin.
"Tidak ada apapun yang terjadi Alvin, aku hanya datang untuk mengantar buket bunga pesanan Amanda dan tiba-tiba kepalaku terasa pusing," jawab Nerissa berbohong.
"Jujurlah padaku Nerissa, jangan menyembunyikan apapun dariku," ucap Alvin yang meragukan jawaban Nerissa.
"Apa kau tidak mempercayaiku?" tanya Nerissa.
"Bukan begitu, aku hanya takut jika Amanda menyakitimu!"
"Tidak Alvin, aku juga tidak akan membiarkan Amanda menyakitiku jadi jangan khawatir aku bisa menjaga diriku dengan baik," ucap Nerissa meyakinkan.
"Baguslah kalau begitu, tapi akan lebih baik jika kau tidak menemui Amanda lagi, dia perempuan yang sangat manipulatif, dia memiliki banyak rencana untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, aku hanya tidak ingin kau terperangkap dalam rencananya itu," ucap Alvin.
"Iya aku mengerti," balas Nerissa.
"Beristirahatlah Nerissa, aku harus kembali melanjutkan pekerjaanku," ucap Alvin.
Setelah panggilan berakhir, Alvin memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya lalu keluar dari ruangan meeting kemudian masuk ke ruangannya.
Saat ia baru saja membuka pintu, ia mendapati Daniel yang sudah duduk disana.
"Apa kau menungguku?" tanya Alvin pada Daniel.
"Bagaimana keadaan Nerissa? dia baik-baik saja bukan?" balas Daniel bertanya setelah beberapa waktu lalu Alvin menceritakan apa yang terjadi pada Nerissa di rumah Amanda.
"Dia baik-baik saja, dia bilang Amanda tidak melakukan apapun padanya, dia hanya merasa tiba-tiba pusing setelah mengantar buket bunga pesanan Amanda," jawab Alvin.
"Apa kau mempercayainya?" tanya Daniel.
"Entahlah, sepertinya ada yang Nerissa sembunyikan dariku, tetapi aku berusaha untuk mempercayainya sembari mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," jawab Alvin.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, Alvin," ucap Daniel.
"Ada apa?" tanya Alvin.
"Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Nerissa," jawab Daniel yang membuat Alvin begitu terkejut.
"Apa kau serius?" tanya Alvin tak percaya.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, meskipun hanya sandiwara nyatanya masih sulit baginya untuk melepaskan Nerissa.
"Kenapa? apa karena aku?" tanya Alvin.
Daniel menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Aku akan jujur padamu sekarang," ucap Daniel yang membuat Alvin mengernyitkan keningnya.
"Apa maksudmu?" tanya Alvin tak mengerti.
"Sebenarnya aku tidak benar-benar memiliki hubungan dengan Nerissa, aku dan Nerissa bersepakat untuk bersandiwara di depanmu dan Amanda, aku udah Nerissa melakukan hal itu hanya untuk meyakinkan apakah kau benar-benar telah melupakan Nerissa dan memilih Amanda, karena aku tidak ingin kau terjebak pada masa lalu yang pernah menyakitimu," jawab Daniel menjelaskan.
Alvin hanya terdiam mendengarkan ucapan Daniel, ia sudah sempat menduga jika hubungan Nerissa dan Daniel hanyalah sandiwara, namun melihat keseriusan Nerissa dan Daniel ia pun berpikir jika Nerissa dan Daniel benar-benar memiliki hubungan yang serius.
"Jangan menyalahkan Nerissa karena akulah yang mengajaknya untuk bersandiwara," ucap Daniel.
"Tidak ada yang harus aku salahkan Daniel, justru aku sangat berterima kasih, dengan sandiwara itu sekarang aku tahu tentang apa yang aku rasakan sebenarnya, tentang kebimbangan yang sempat membuatku ragu sebelumnya," balas Alvin.
"Jika Nerissa tidak benar-benar mencintaimu aku akan dengan mudah mendapatkannya saat kau meninggalkannya, tetapi karena dia sangat mencintaimu dia sama sekali tidak melihat ke arahku bahkan setelah kau mencampakkannya begitu saja," ucap Daniel.
"Apa kau masih mencintainya?" tanya Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.
Alvin hanya menghela nafasnya lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya.
"Jangan khawatir, aku pasti bisa melupakannya, bagiku yang terpenting hanyalah kebahagiaannya, selagi kau bisa membuatnya bahagia maka aku akan merelakannya untukmu tetapi jika kau menyakitinya aku akan kembali berusaha untuk mendapatkannya," ucap Daniel.
"Bagaimana aku bisa memulai hubungan yang baru dengan perempuan yang kau cintai Daniel, aku akan menjadi teman yang sangat jahat jika aku melakukan hal itu," ucap Alvin sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku tidak berpikir seperti itu, justru aku akan sangat senang jika kau bisa membahagiakan Nerissa seperti yang Nerissa inginkan, setelah Nerissa menemukan kebahagiaannya maka aku juga akan menemukan kebahagiaanku yang lain," balas Daniel.
"Apa kau yakin?" tanya Alvin memastikan karena ia tidak ingin menyakiti hati teman baiknya hanya karena perempuan.
"Tentu saja, aku memang menyukai Nerissa tapi mungkin cintaku tidak sebesar cintamu padanya dan juga dia sangat mencintaimu, jika kalian sudah saling mencintai tidak ada yang bisa aku lakukan selain menyerah dan mencari kebahagiaanku yang lain," jawab Daniel.
Daniel kemudian beranjak dari duduknya, sebelum keluar dari ruangan Alvin ia membawa pandangannya pada Alvin.
"Bahagiakan dia Alvin, jangan biarkan setetes air matapun jatuh dari kedua matanya," ucap Daniel lalu keluar dari ruangan Alvin.
Alvin hanya terdiam di tempat duduknya, bagian dari memorinya mengulas kebersamaannya bersama Nerissa sejak pertama kali ia bertemu Nerissa.
Gadis cantik dengan rambut coklat terang yang sering ia temui saat malam di tepi pantai tiba-tiba saja datang ke rumahnya bersama sahabatnya.
Sampai waktu membawa mereka pada hubungan yang cukup rumit, meski begitu Alvin tidak akan membiarkan hubungannya dengan Daniel berantakan karena keegoisan diri sendiri.
Bagi Alvin persahabatannya dengan Daniel tidak bisa dinilai dengan apapun. Sebesar apapun rasa cintanya pada Nerissa, baginya Daniel tetaplah seseorang yang berharga dalam hidupnya yang tidak akan pernah ia biarkan pergi darinya.