Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Dejavu



Daniel yang baru saja keluar dari kamarnya begitu terkejut saat melihat dua perempuan keluar dari kamar orang tuanya. Meski hanya melihatnya sekilas Daniel masih mengingat dengan jelas salah satu perempuan yang keluar dari kamar orang tuanya.


Danielpun berlari kecil menghampiri Nerissa dan Marin.


"Tunggu!" ucap Daniel yang membuat Nerissa dan Marin seketika menghentikan langkah mereka.


Daniel membawa langkahnya mendekati Nerissa dan Marin dengan senyum di wajahnya, membuat marine hanya bisa terdiam dengan degup jantung yang berdetak semakin kencang seiring dengan langkah Daniel yang semakin mendekat ke arahnya.


"Sepertinya kita pernah bertemu," ucap Daniel pada Marin.


"Mmmm.... benarkah..... maaf sepertinya aku tidak mengingatnya," balas Marin gugup.


"Aku bertemu denganmu di rumah sakit, apa kau tidak mengingatku?" ucap Daniel sekaligus bertanya.


Marin hanya tersenyum canggung dengan menggelengkan kepalanya sambil membawa pandangannya pada Nerissa, takut jika Daniel masih mengingatnya.


"Mereka berdua memang terapis dari rumah sakit, mereka kesini untuk membantu penyembuhan papamu, wajar jika dia tidak mengingatmu karena dia pasti melihat banyak orang di rumah sakit," ucap mama Daniel.


"Aaahh iya, apa aku bisa meminta waktu kalian sebentar?" tanya Daniel pada Marin dan Nerissa.


"Boleh," jawab Nerissa dengan menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu kalian mau ngobrollah di ruang tamu, mama akan menemani papa di kamar," ucap mama Daniel lalu berjalan masuk meninggalkan Daniel bersama Nerissa dan Marin.


"Sebelumnya perkenalkan namaku Daniel, aku bekerja di Atlanta Group, ini kartu namaku," ucap Daniel sambil memberikan kartu namanya pada Nerissa dan Marin.


"Aku dan temanku sedang mengadakan peragaan busana beberapa hari lagi dan ada masalah mendesak yang harus segera aku selesaikan, aku berpikir jika kalian berdua bisa membantuku," lanjut Daniel.


"Membantu? apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu?" tanya Nerissa.


"Aku ingin kalian berdua menjadi model di acara peragaan busana di kantorku, apa kalian bersedia?" jawab Daniel sekaligus bertanya, membuat Nerissa dan Marin saling pandang untuk beberapa saat


Dejavu


Itulah yang Nerissa dan Marin pikirkan saat itu. Mereka masih mengingat dengan jelas bagaimana Daniel meminta Nerissa dan Marin untuk menjadi model acara peragaan busana di tempatnya bekerja saat mereka baru saling mengenal dan mereka tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi lagi setelah Nerissa menghapus memori Daniel.


"Maaf sepertinya kita tidak bisa, lagi pula kita tidak berbakat dalam hal itu"ucap Nerissa menolak.


"Kalian jangan khawatir, kalian hanya perlu mengenakan pakaian yang sudah timku siapkan dan berjalan di panggung tanpa harus melakukan apapun, aku yakin kalian berdua bisa melakukan," ucap Daniel.


"Kau bahkan belum mengenal kita, apa kau tidak takut jika kita akan merusak acaramu itu?" tanya Marin.


"Tentu saja tidak, kalian berdua datang ke


sini untuk membantu penyembuhan papa, aku percaya kalian tidak hanya cantik tapi juga baik," jawab Daniel.


"Tapi aku tidak akan memaksa kalian, aku hanya meminta tolong karena masalah ini benar-benar mendesak dan aku membutuhkan kalian berdua atau acara yang sudah lama aku siapkan bersama temanku ini akan selesai dengan penuh kekecewaan," lanjut Daniel.


Nerissa terdiam beberapa saat, ia memikirkan apa yang harus ia lakukan. Ia tidak ingin terlibat terlalu jauh lagi dengan dunia manusia namun ia juga tidak ingin membiarkan acara peragaan busana itu tidak berjalan dengan lancar.


"Kalian boleh memikirkannya dahulu dan segera hubungi aku jika kalian sudah mengambil keputusan, acara itu akan dilaksanakan tiga hari lagi, jadi aku harap kalian segera menghubungiku sebelum acara itu dilaksanakan," ucap Daniel.


Nerissa menganggukkan kepalanya lalu berpamitan pada Daniel.


"Dimana rumah kalian? aku bisa mengantar kalian pulang," tanya Daniel.


"Terima kasih, tapi kita harus pergi ke tempat lain sebelum pulang, permisi," ucap Nerissa tanpa menjawab pertanyaan Daniel lalu berjalan keluar dari rumah Daniel bersama Marin.


Nerissa dan Marinpun meninggalkan rumah Daniel dengan menggunakan taksi. Tanpa sadar mereka meminta sopir taksi itu untuk mengantarkan mereka berdua ke alamat dimana mereka berdua pernah tinggal.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai. Saat mereka turun dari taksi barulah mereka menyadari kenapa mereka berada di tempat itu.


"Putri, kenapa kau membawaku kesini?" tanya Marin pada Nerissa.


"Entahlah Marin, aku juga tidak sadar jika aku menyebutkan alamat ini pada sopir taksi," jawab Nerissa.


"Sepertinya ada yang menggantikan


ku berjualan bunga disini, ayo kita kesana Putri!" ucap Marin sambil menarik tangan Nerissa ke arah toko bunga yang dulu dimiliki Marin.


Marin merasa sangat senang bisa berada di toko bunga itu lagi, meskipun toko bunga itu sekarang bukanlah miliknya.


Marin dan Nerissa memilih beberapa bunga untuk dijadikan buket bunga. Tak lama kemudian pengunjung lainpun datang, Marin begitu terkejut karena melihat Daniel yang memasuki toko bunga itu.


"Apa kau mengikuti kita?" tanya Marin pada Daniel.


"Tentu saja tidak, aku memang berlangganan disini, kau bisa bertanya padanya," jawab Daniel sambil menunjuk si penjual bunga.


"Iya, dia memang berlangganan disini, dia sering membeli bunga disini untuk mamanya," ucap si penjual bunga.


Marin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan lalu kembali memilih bunga bersama Nerissa.


"Bunga ini sangat cocok untukmu, cantik dan ceria," ucap Daniel yang tiba-tiba memberikan setangkai bunga tulip kuning pada Marin lalu berjalan keluar dari toko bunga itu.


Marin hanya terdiam dengan memegang setangkai bunga tulip kuning pemberian Daniel, ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya bersama dengan degup jantungnya yang berdetak kencang saat itu.


Sedangkan Nerissa yang melihat hal itu hanya tersenyum senang sambil memberikan beberapa bunga pilihannya pada si penjual bunga agar membuatkannya buket bunga.


Setelah mendapatkan 2 buket bunga Nerissa dan Marinpun keluar dari toko bunga itu.


"Berhentilah tersenyum Marin, kau seperti orang gila," ucap Nerissa pada Marin yang tidak berhenti tersenyum menatap buket bunga yang dipegangnya, karena dalam buket bunga itu ada satu tangkai bunga tulip kuning yang Daniel berikan padanya.


"Bilang saja jika kau iri hehehe....." balas Marin.


"Iya benar, kau memang membuatku iri," ucap Nerissa yang membuat Marin terkekeh.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Marin? apa kita harus membantu Daniel?" tanya Nerissa.


"Terserah kau saja Putri, aku akan ikuti semua keputusanmu," jawab Marin.


"Aku tahu Alvin sudah bekerja sangat keras untuk acara peragaan busana itu, pasti Ricky yang membuat acara itu kacau," ucap Nerissa.


"Aku pikir kita harus membantunya, setelah itu kita bisa kembali ke Seabert setelah memastikan acara mereka berjalan dengan lancar," ucap Marin.


"Aku setuju denganmu," balas Nerissa dengan menganggukkan kepalanya penuh senyum.


"Sekarang kemana kita harus pergi? kita bahkan tidak punya tempat tinggal," tanya Marin pada Nerissa.


"Jangan khawatir, kita bahkan bisa tinggal dimanapun yang kita mau dengan mutiara yang kita miliki," jawab Nerissa.


"Waahh sepertinya kau sudah berpengalaman tinggal di daratan sekarang," ucap Marin dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tentu saja, bukankah kau yang mengajariku?" balas Nerissa yang membuat mereka berdua tertawa.


**


Malam sebelum peragaan busana digelar, Daniel sedang di rumah Alvin untuk membicarakan tentang peragaan busana yang akan dilaksanakan besok malam.


Ponsel Daniel berdering, sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya.


"Halo Daniel, ini aku Nerissa yang ke rumahmu bersama temanku beberapa hari yang lalu," ucap Nerissa memperkenalkan diri saat Daniel sudah menerima panggilannya.


"Aahh iya, akhirnya kau menghubungiku, apa kau sudah memutuskannya?" tanya Daniel.


"Iya, aku dan Marin akan membantu acaramu, tetapi aku dan Marin tidak bisa menjanjikan apapun karena kami berdua memang tidak berbakat dalam hal itu," jawab Nerissa.


"Tidak masalah, datanglah ke kantorku besok malam atau jika perlu aku sendiri yang akan menjemput kalian berdua," ucap Daniel.


"Tidak perlu, aku dan Marin akan datang kesana sendiri."


"Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak, sampaikan terima kasihku juga pada temanmu."


Setelah mengakhiri panggilan Nerissa, Danielpun bersorak senang sambil memukul-mukul Alvin yang baru saja keluar dari rumah sakit tadi pagi.


"Apa yang kau lakukan Daniel? apa yang membuatmu senang seperti itu?" tanya Alvin sambil beranjak dari duduknya menghindar dari pukulan Daniel.


"Kau akan melihatnya sendiri besok malam," ucap Dani tanpa menjawab pertanyaan Alvin.


Sebenarnya Daniel menyembunyikan tentang masalah yang terjadi pada acara peragaan busana dari Alvin, karena ia tidak ingin masalah itu menjadikan bukan pikiran bagi Alvin dan sekarang ia bisa bernafas lega karena masalah itu sudah menemukan jalan keluar dengan bersedianya Nerissa dan Marin untuk menjadi model di acara peragaan busana itu.


**


Hari yang ditunggu telah tiba, Daniel sedang berdiri menunggu kedatangan Nerissa dan Marin di pintu utama Atlanta grup.


Setelah beberapa lama menunggu, dua gadis cantik yang ditunggu itupun mulai menampakkan diri.


"Apa kita terlambat?" tanya Nerissa pada Daniel.


"Tidak, ayo masuklah!" jawab Daniel lalu mengajak Nerissa dan Marin memasuki gedung dimana acara peragaan busana itu akan segera digelar.


Nerissa dan Marinpun berjalan mengikuti Daniel lalu masuk ke ruangan tempat mereka akan bersiap siap.


Di sisi lain Daniel dan Alvin juga sedang bersiap-siap untuk menjadi modal dalam acara yang mereka siapkan sendiri.


"Apa tidak ada orang lain yang bisa menggantikanku Daniel?" protes Alvin.


"Tidak ada, semua mata akan tertuju padamu dan acara ini pasti akan lebih sukses jika kau ikut andil di dalamnya," jawab Daniel yang membuat Alvin hanya bisa menghela nafasnya pasrah.


Tepat saat Alvin dan Daniel baru saja keluar dari ruangan mereka, Nerissa dan Marinpun baru keluar dari ruangan lain.


Alvin terdiam beberapa saat menatap Nerissa yang berada di hadapannya saat itu. Ia mencoba menggali ingatannya tentang gadis cantik yang berdiri di hadapannya.


"Sangat cantik bukan? yang berbaju biru itu milikku," ucap Daniel berbisik pada Alvin.


Alvin hanya tersenyum tipis lalu membawa langkahnya mendekati Nerissa yang mengenakan pakaian berwarna merah muda saat itu.


"Sepertinya kita pernah bertemu, apa kau masih mengingatku?" ucap Alvin sekaligus bertanya pada Nerissa.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum gugup karena Alvin mengingatnya saat ia masuk ke ruangan Alvin ketika Alvin masih dirawat di rumah sakit beberapa hari yang lalu.


"Namaku Alvin," ucap Alvin sambil mengulurkan tangannya.


"Nerissa," balas Nerissa sambil menerima uluran tangan Alvin.


"Ayo, ini waktunya kalian berdua untuk keluar!" ucap Daniel sambil menarik tangan Alvin dan Nerissa.


"Tunggu dulu, kenapa harus berdua?" tanya Alvin yang ragu untuk membuka tirai besar di hadapannya


"Jangan banyak bertanya, kalian hanya perlu berjalan berdampingan lalu kembali lagi kesini," jawab Daniel sambil membuka tirai besar di hadapannya yang membuat Alvin dan Nerissa mau tak mau harus keluar berdua.


Nerissa berjalan dengan anggun di samping Alvin, namun entah kenapa ia tiba-tiba kehilangan keseimbangan tubuhnya dan hampir saja terjatuh jika Alvin tidak segera menopang tubuhnya.


Melihat hal itu semua yang ada disanapun bersorak termasuk Daniel dan Marin yang ada di belakang panggung.


Nerissa dan Alvin saling menatap untuk beberapa saat hingga lampu tiba-tiba redup dan alunan indah piano mengiringi adegan romantis itu.


"Apa kau terluka?" tanya Alvin berbisik pada Nerissa dengan masih berada dalam posisi yang sama.


"Tiii.... tidak," jawab Nerissa gugup.


Alvin tersenyum lalu membantu Nerissa untuk kembali berdiri tegak dan membungkukkan badannya ke arah penonton bersama Nerissa, membuat semua yang ada disana kembali bertepuk tangan dengan riuh.


Nerissa dan Alvinpun kembali berjalan masuk ke belakang panggung, bergantian dengan Daniel dan Marin yang keluar untuk berjalan di atas panggung.


Nerissa segera menjatuhkan dirinya di tempat duduk yang ada di belakang panggung, ia berusaha untuk menenangkan degup jantungnya yang berdetak sangat cepat saat itu


"kenapa kejadian ini terulang lagi?" tanya Nerissa rissa dalam hati.


"sepertinya kalian berdua saling terikat," jawab suara misterius yang tiba-tiba mengejutkan Nerissa.


"Minumlah, sepertinya kejadian tadi cukup membuatmu panik," ucap Alvin sambil menyodorkan minuman pada Nerissa.


Nerissapun menerima minuman pemberian air dengan tersenyum canggung.


Tak lama kemudian Daniel dan Marinpun datang dan duduk di samping Nerissa.


"Kalian berdua terlihat sangat serasi," ucap Daniel dengan membawa pandangannya pada Nerissa dan Alvin.


"Apa kau baik-baik saja Putri?" tanya Marin pada Nerissa yang masih terlihat gugup saat itu.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan masih tersenyum canggung, berusaha menutupi kegugupannya.


"Setelah acara ini selesai, staf dan pengisi acara akan makan malam bersama, kalian berdua harus ikut!" ucap Daniel pada Nerissa dan Marin.


"Maaf tapi aku dan Marin tidak bisa ikut, ada hal lain yang harus kita lakukan setelah ini," ucap Nerissa menolak.


"Kemana kalian akan pergi? aku akan mengantar kalian," tanya Alvin.


"Terima kasih, tapi aku dan Marin akan pergi sendiri," jawab Nerissa.


Tiba-tiba seorang staf memanggil Alvin dan Daniel, membuat mereka berdua harus pergi meninggalkan Nerissa dan Marin.


Nerissa dan Marinpun memanfaatkan kesempatan itu untuk segera berganti pakaian dan pergi dari tempat itu.


Sebelum itu Nerissa mencari waktu yang tepat untuk menemui Alvin dan Daniel untuk menghapus memori mereka berdua tentang dirinya dan Marin.


"Apa kau harus menghapus memori mereka Putri?" tanya Marin yang seolah tidak setuju dengan apa yang Nerissa lakukan.


"Mereka tidak boleh mengingat kita sedikitpun Marin, hal itu hanya akan membuat mereka gelisah dan bisa jadi akan mengganggu kehidupan mereka selanjutnya," jawab Nerissa.


Nerissa dan Marin kemudian memesan taksi yang mengantar mereka ke pantai Pasha, tempat dimana mereka akan kembali ke Seabert.