Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Keputusan Ratu (2)



Ketegangan masih terasa menyelimuti kamar Ratu Nagisa. Marin dan Nerissa berusaha menata hati mereka agar bisa menerima semua keputusan yang Ratu berikan.


"Aku sudah membuat keputusan Marin dan aku harap kau bisa menerimanya dengan baik," ucap Ratu Nagisa pada Marin.


Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan tetap menunduk, seolah beban berat menahan kepalanya untuk tetap tertunduk ke bawah.


"Aku tidak akan memasukkan Cadassi ke dalam penjara kegelapan," ucap Ratu Nagisa yang membuat Marin dan Nerissa begitu terkejut.


Marin seketika mengangkat kepalanya dan membawa pandangannya pada Ratu Nagisa untuk menyakinkan apa yang baru saja ia dengar.


"Perbuatan ayahmu memang keterlaluan dan sudah seharusnya dia menghabiskan sisa hidupnya di penjara kegelapan, tapi aku tidak akan melakukan hal itu sekarang," ucap Ratu Nagisa.


"Apa bunda yakin? apa bunda akan memaafkan Cadassi begitu saja?" tanya Nerissa pada sang bunda.


"Tentu saja bunda tidak bisa memaafkannya begitu saja, bunda sudah memikirkan hal ini baik baik dan menurut bunda ini adalah keputusan terbaik," jawab sang bunda.


"Apa kau keberatan Marin?" tanya Ratu Nagisa pada Marin.


"Tidak Ratu, saya sangat berterima kasih karena Ratu tidak memasukkan ayah ke dalam penjara kegelapan, saya benar benar berterima kasih Ratu, apa yang harus saya lakukan untuk membalas kebaikan Ratu?"


"Mudah saja, temani Nerissa ke daratan," jawab Ratu Nagisa yang membuat Marin dan Nerissa semakin terkejut.


"Ke daratan? apa maksud bunda?" tanya Nerissa tak mengerti.


"Marin, apa kau bersedia menemani Nerissa ke daratan?" tanya Ratu Nagisa pada Marin tanpa menjawab pertanyaan Nerissa.


"Saya bersedia Ratu," jawab Marin tanpa ragu.


"Berjanjilah padaku kalau kau akan selalu menjaga Nerissa dan pastikan dia selalu baik baik saja selama dia jauh dariku, apakah kau bisa berjanji padaku Marin?"


Marin menganggukan kepalanya cepat. Tanpa Ratu mintapun, Marin pasti akan selalu menjaga Nerissa karena baginya Nerissa lebih dari sekedar teman biasa.


"Saya akan berjanji untuk selalu menjaga dan memastikan Putri Nerissa baik baik saja Ratu, Ratu bisa percayakan itu pada saya," ucap Marin meyakinkan Ratu Nagisa.


"Terima kasih Marin, aku tau kau teman yang baik untuk Nerissa," ucap Ratu Nagisa yang dibalas senyum dan anggukan kepala Marin.


Marin begitu senang karena Ratu tidak memberikan hukuman pada ayahnya, selain itu ia juga diperintahkan Ratu untuk menemani Nerissa pergi ke daratan, tempat yang sangat ia sukai.


"Kau kenapa sayang? apa kau tidak menyetujui keputusan bunda?" tanya Bunda ratu pada Nerissa.


"Nerissa senang karena Marin tidak harus pergi ke penjara kegelapan, tapi.... tapi kenapa Nerissa harus pergi ke daratan bunda?" jawab Nerissa sekaligus bertanya.


"Sayang, apa kau mencintai Pangeran Merville?" tanya bunda Ratu pada Nerissa.


"Tentu saja tidak," jawab Nerissa cepat.


"Kalau begitu pergilah ke daratan dan dapatkan mutiara biru milik bunda agar kau bisa mengalahkan Pangeran Merville," ucap Ratu Nagisa.


"Mutiara biru milik bunda?"


"Iya, kekuatan terbesar milik bunda sudah lama bunda simpan di dalam mutiara biru itu dan bunda sudah memberikannya pada anak laki laki yang hampir meninggal saat kapal yang dia tumpangi karam karena permainan Chubasca," jawab bunda Ratu.


"Lalu apa yang akan Nerissa lakukan dengan mutiara biru itu? apa Nerissa bisa mengalahkan pangeran Merville dengan mutiara biru itu?" tanya Nerissa.


"Tentu saja, kau bahkan bisa menjadi mermaid terkuat di seluruh lautan jika kau menggunakan kekuatan terbesar dari mutiara biru ayahmu dan juga mutiara biru bunda, dengan begitu kau tidak perlu lagi menikah dengan Pangeran Merville," jawab Ratu Nagisa menjelaskan.


"Mahkota milikmu yang akan memberikan petunjuk dimana letak mutiara biru itu," jawab bunda Ratu.


"mahkota? aaahhh aku lupa, aku bahkan belum menemukan dimana mahkotaku berada," batin Nerissa dalam hati sambil membawa pandangannya pada Marin.


"Tenang saja Putri, aku akan membantumu," ucap Marin yang seolah mengerti isi pikiran Nerissa karena ia tau jika Nerissa belum menemukan mahkota miliknya.


"Aaahhh iya.... terima kasih Marin," ucap Nerissa yang hanya dibalas senyum dan anggukan kepala Marin.


"Kalau begitu Nerissa keluar dulu bunda, ada yang harus Nerissa lakukan di ruang baca," ucap Nerissa pada sang bunda.


Bunda Ratu hanya menganggukkan kepalanya, membiarkan Nerissa pergi bersama Marin.


Di ruang baca, Nerissa masih memikirkan perintah sang bunda yang mengharuskannya untuk pergi ke daratan.


"Apa yang kau pikirkan Putri?" tanya Marin pada Nerissa.


"Entahlah Marin, aku ragu, apakah aku harus pergi ke daratan atau tidak," jawab Nerissa.


"Ratu pasti sudah memikirkan keputusannya dengan baik Putri, apa yang membuatmu ragu?"


"Aku tidak ingin meninggalkan bunda sendirian disini Marin, terlebih aku tau jika ada rencana jahat yang mengancam keselamatan bunda," jawab Nerissa.


"Maafkan aku Putri, ini semua karena ayahku," ucap Marin yang masih merasa bersalah karena tindakan sang ayah.


"Ini bukan salahmu Marin, aku tau kau berbeda dengan ayahmu," balas Nerissa.


"Terima kasih karena sudah menerimaku lagi setelah perkataan buruk yang aku ucapkan padamu Putri, aku minta maaf karena sempat tidak mempercayaimu!"


"Tidak apa, aku sudah melupakannya, aku harap kita bisa berteman baik seperti sebelumnya."


"Tidak Putri, aku akan berusaha menjadi temanmu yang lebih baik lagi, seperti janjiku pada Ratu, aku akan menjagamu dan memastikan kau baik baik saja selama kau bersamaku," ucap Marin dengan penuh semangat.


"Terima kasih Marin, kau memang yang terbaik," ucap Nerissa dengan memeluk Marin.


"Aku sangat menyayangimu Putri," ucap Marin dengan membalas pelukan Nerissa dengan erat.


"Aku juga," balas Nerissa.


Ratu Nagisa yang diam diam melihat hal itu hanya tersenyum kemudian berbalik dan kembali ke kamarnya.


Meski sebenarnya berat, Ratu harus merelakan sang anak untuk pergi ke daratan demi keselamatan Seabert.


Sebenarnya Ratu bisa saja memberikan hukuman pada Cadassi, namun mengingat Marin yang merupakan teman baik Nerissa, Ratu tidak sampai hati jika harus membiarkan Marin mengikuti ayahnya untuk masuk ke dalam penjara kegelapan.


Karena masalah ini melibatkan Pangeran Merville, tidak akan mudah bagi Ratu untuk lepas dari incaran Pangeran Merville.


Jika Cadassi saja sudah bisa diperdaya oleh Pangeran Merville demi mutiara biru, bukan tidak mungkin jika para pengawal, Morgan ataupun mermaid lain yang ada di istana bersekutu dengan Pangeran Merville tanpa sepengetahuan Ratu.


Itu kenapa Ratu memilih untuk diam dan berpura pura tidak mengetahui rencana Cadassi dan Pangeran Merville.


Dengan begitu Ratu bisa menyiapkan Nerissa untuk bisa menyerang Pangeran Merville sehingga tidak ada lagi otak dari segala kejahatan yang ada di Seabert.