Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Kemarahan Marin



Nerissa sedang berada di ruang baca bersama Marin. Ia meminta tolong Marin untuk membantunya menganalisa cairan yang ada dalam botol yang dipegang Nerissa.


"Sepertinya aku pernah mencium bau cairan ini," ucap Marin setelah ia membuka botol itu dan mengendus isinya.


"Apa yang kau tau tentang bau cairan ini Marin?" tanya Nerissa.


"Ini cairan yang biasa dipakai ayahku untuk membuat ramuan saat Raja dan Ratu sakit," jawab Marin.


"Apakah ayahmu membuat ramuan yang sama untuk Raja dan Ratu?"


"Entahlah, aku tidak tau pasti," jawab Marin lalu menuangkan cairan itu ke dalam wadah.


Marin kemudian berkonsentrasi dengan memperhatikan tekstur, warna dan bau dari cairan yang ada di hadapannya lalu menulisnya di sebuah kertas.


Sedangkan Nerissa segera mencari buku yang berisi tentang bahan ramuan yang biasa dipakai oleh anggota istana.


"Aku tidak tau yakin kalau ini adalah bahan ramuan yang ayahku buat untuk Raja dan Ratu," ucap Marin.


"Kenapa?"


"Bau dari cairan ini memang biasa digunakan untuk membuat ramuan obat, tapi bahan yang lainnya seperti bukan termasuk bahan yang seharusnya dipakai untuk membuat ramuan obat," jawab Marin yang membuat Nerissa mengernyitkan keningnya tidak mengerti.


"Aku tidak mengerti maksudmu Marin, tolong jelaskan dengan kata kata yang mudah ku mengerti," ucap Nerissa.


Marin lalu merebut buku yang Nerissa pegang, ia lalu membuka halaman demi halaman buku itu dan menunjukkan sesuatu pada Nerissa.


"Ini adalah bahan yang ayahku pakai untuk membuat ramuan, aku sangat mengenal baunya, tapi tekstur dan warnanya berbeda dengan yang seharusnya, itu berarti ada bahan lain yang dicampurkan pada cairan ini, tapi aku rasa itu bukan bahan yang seharusnya dipakai untuk membuat ramuan," ucap Marin menjelaskan lalu beranjak dari duduknya dan mengambil buku yang lain.


Setelah beberapa lama membolak balik halaman demi halaman di buku itu, Marin kemudian menunjukkan sesuatu pada Nerissa.


"Ini, dua bahan ini adalah campuran yang ada pada cairan itu, efek dari bahan ini adalah untuk melemahkan siapapun yang meminumnya, tapi karena dua bahan ini dicampur dengan bahan ramuan yang lain, efeknya akan sedikit lebih lambat namun bisa dipastikan siapapun yang meminum cairan itu akan melemah secara perlahan tanpa disadari hingga akhirnya....... sudah tak terselamatkan lagi," ucap Marin menjelaskan.


Nerissa seketika terdiam tak percaya dengan apa yang didengarnya. Jika apa yang Marin katakan memang benar, itu artinya Cadassi berniat untuk membunuh Ratu secara perlahan.


"Kenapa Putri? darimana kau mendapatkan cairan ini?" tanya Marin tak mengerti.


"Kau tidak akan mempercayai ucapanku Marin, meskipun aku mengatakan yang sesungguhnya," ucap Nerissa tanpa menjawab pertanyaan Marin.


"Tentu saja aku akan mempercayaimu Putri, katakan saja padaku!" balas Marin.


"Cairan itu adalah..... ramuan yang Cadassi berikan untuk bunda," ucap Nerissa yang membuat Marin membelalakkan matanya tak percaya.


"Hahaha..... kau sangat lucu Putri, ayahku memang membuat ramuan untuk Raja dan Ratu, tapi bukan ramuan ini," balas Marin tak percaya.


"Tak apa jika kau tidak mempercayaiku saat ini, tapi itu lah yang sebenarnya terjadi Marin," ucap Nerissa.


"Jadi, apa kamu menuduh ayahku berniat meracuni Raja dan Ratu?" tanya Marin yang terlihat emosi.


"Aku tidak tau apa yang Cadassi berikan pada ayah, tapi cairan itu memang ramuan yang Cadassi berikan pada bunda Marin, aku sendiri yang menerima ramuan itu dari tangan Cadassi!" jawab Nerissa menjelaskan.


"Kau keterlaluan Putri, aku tau kau mungkin marah pada ayahku karena ayahku memintamu untuk menikahi pangeran Merville, tapi menuduh hal buruk itu pada ayahku adalah kesalahan terbesar yang pernah kau lakukan Putri!" ucap Marin lalu berenang menjauh meninggalkan Nerissa.


Nerissa mengentikan ucapannya karena Marin yang sudah berenang menjauh darinya.


"apa yang harus aku lakukan sekarang? apa aku harus memberi tahu bunda? tapi apa bunda akan mempercayaiku? karena Cadassi adalah penasihat istana kepercayaan ayah dan bunda sejak lama, pasti sulit untuk membuat bunda percaya padaku," batin Nerissa dalam hati.


**


Di daratan.


Siang itu Ricky sedang berada di sebuah restoran untuk bertemu dengan seseorang. Setelah beberapa lama menunggu, seseorang itupun datang.


"Maaf saya baru menyelesaikan meeting di tempat lain," ucap Pak Reza lalu duduk di hadapan Ricky.


"Tidak apa pak, saya sangat berterima kasih karena pak Reza sudah menyempatkan waktu untuk menemui saya," balas Ricky.


"Tentu saja Ricky, kita akan menjadi partner kerja, jadi sudah sewajarnya kita bertemu untuk membahas bisnis kita," ucap Reza.


"Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan terkait dengan kesepakatan yang sudah kita buat, sepertinya ini akan berjalan lebih lambat dari dugaan saya," ucap Ricky.


"Kenapa? bukankah mudah saja untuk mendorong para pemegang saham menjual sahamnya saat perusahaan sedang diujung tanduk seperti ini?" tanya Reza.


"Ada satu orang yang menghambat jalan saya Pak, saya yakin Pak Reza pasti tau," jawab Ricky.


"Alvin?" terka Reza yang hanya dibalas anggukan kepala Ricky.


"Alvin Anggara, dia memang sedikit keras kepala, kau harus bisa meyakinkan dia untuk menjual sahamnya, dengan begitu kita bisa melanjutkan rencana kita dengan mudah," ucap Reza.


"Saya akan mengusahakannya secepat mungkin pak, tolong pak Reza bisa bersabar dan memahami situasi saya saat ini," balas Ricky.


"Baiklah, saya akan menunggumu, lagipula tidak ada ruginya jika saya bisa bersabar menunggu," ucap Reza.


"Terima kasih Pak Reza," ucap Ricky yang hanya dibalas anggukan kepala Reza.


Sebenarnya, tanpa siapapun tau, Ricky sudah merencanakan banyak hal sebelum ia ditunjuk oleh sang papa untuk menjadi presiden direktur.


Sang papa yang selalu membandingkan dirinya dengan Alvin dan sikap Alvin yang selalu bisa mencuri perhatian banyak orang membuat Ricky iri.


Karena Ricky tau jika Atlanta Grup sebenarnya bukan milik keluarganya, ia pun berniat untuk menjatuhkan Atlanta Grup agar Alvin ataupun sang papa tidak bisa lagi memiliki Atlanta Grup.


Ricky hanya perlu membiarkan Atlanta Grup hancur dengan sendirinya. Setelah memastikan saham perusahaan itu terjun bebas, ia akan mempengaruhi para pemegang saham untuk menjual saham mereka pada Ricky.


Saat saham Ricky sudah berada di puncaknya, ia akan memberikan perusahaan itu pada Reza, rival Atlanta Grup dan sebagai gantinya Ricky akan mendapatkan beberapa persen saham di perusahaan Reza dan juga posisi yang cukup kuat di perusahaan itu.


Baginya itu lebih baik daripada harus mengelola perusahaan yang suatu saat nanti bisa jadi akan jatuh ke tangan Alvin.


Sekaligus ia ingin memperlihatkan pada sang papa jika ia bisa mengambil keputusan besar yang jauh lebih menguntungkan dirinya.


Dengan begitu sang papa akan berhenti membandingkan dirinya dengan Alvin.