
Dunia yang berbeda bukan alasan untuk memisahkan dua hati yang berlabuh menjadi cinta. Pada akhirnya takdir yang hampir tidak mungkin terjadi nyatanya mampu menyatukan dunia yang berbeda berkat kekuatan cinta yang mereka miliki.
Nerissa dan Alvin menjalani kehidupan mereka sebagai pasangan suami istri yang bahagia dengan perbedaan dunia yang sempat memisahkan mereka.
Pagi itu, dengan perutnya yang mulai membuncit Nerissa berjalan keluar dari kamarnya setelah beberapa lama berdandan.
"Waaahhh istriku semakin cantik dengan perut buncit itu," ucap Alvin memuji kecantikan Nerissa.
"Jangan meledekku, aku hampir tidak menemukan pakaian yang cocok untuk aku kenakan karena perut buncit ini," balas Nerissa.
"Aku tidak meledekmu sayang, kau memang selalu terlihat cantik bahkan semakin cantik saat kandunganmu semakin membesar," ucap Alvin.
"Benarkah?" tanya Nerissa meragukan Alvin.
"Tentu saja," balas Alvin sambil berjongkok di hadapan Nerissa.
Alvin mengusap perut Nerissa sambil menempelkan telinganya disana.
"Katakan pada bunda bahwa dialah perempuan paling cinta di dunia ini," ucap Alvin yang membuat Nerissa tersipu.
"Ayo berangkat, aku tidak ingin terlambat sampai disana," ucap Nerissa yang membuat Alvin segera beranjak.
Alvin lalu mengendarai mobilnya meninggalkan rumahnya bersama Nerissa. Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai.
Alvin dan Nerissa turun dari mobil lalu berjalan ke arah halaman rumput yang luas dengan dekorasi khas pengantin yang terlihat begitu cantik dengan di dominasi oleh bunga bunga berwarna putih.
Nerissa dan Alvinpun duduk di salah satu bangku saat acara akan segera dimulai. Menit demi menitpun berlalu.
Detik detik menegangkan bagi kedua mempelai telah terlewati. Semua yang ada disanapun terbawa pada suasana bahagia yang terpancar dari raut sepasang pengantin yang baru saja sah menjadi suami istri.
Nerissa dan Alvin kemudian beranjak dari duduknya untuk memberi selamat pada kedua pengantin yang sudah duduk di pelaminan saat itu.
"Selamat Marin, akhirnya kau benar benar menikah dengan Daniel," ucap Nerissa dengan memeluk Marin.
"Tapi dia membuatku kesal Putri," ucap Marin dengan memanyunkan bibirnya.
"Heiii, kalian baru saja sah menjadi suami istri, apa kalian akan bertengkar sekarang?" sahut Alvin.
"Apa yang membuatmu kesal Marin? kesalahan apa lagi yang dilakukan Daniel kali ini?" tanya Nerissa.
"Aku sudah memintanya untuk menyiapkan semua bunga berwarna putih, tapi lihatnya ada beberapa bunga yang berwarna merah dan ungu," jawab Marin sambil menunjuk beberapa bunga yang berwarna merah dan ungu.
"Waahhh iya benar Marin, Daniel benar benar keterlaluan," ucap Nerissa.
"Astaga Marin, tempat ini sudah didominasi oleh bunga bunga putih, bahkan bunga ungu dan merah itu tidak sampai 10 tangkai," ucap Daniel membela diri.
"Kalian berdua berlebihan sekali," sahut Alvin.
"Apa? berlebihan?" balas Nerissa dan Marin bersamaan.
"Sepertinya kita dalam masalah Daniel," ucap Alvin pelan pada Daniel.
"Apa yang harus kita lakukan Alvin? bukankah kau sudah profesional dalam hal ini?" tanya Daniel berbisik.
Alvin tersenyum lalu mengelus perut buncit Nerissa.
"Jaga emosimu sayang, kau tidak ingin bayi kita mendengar pertengkaran kita bukan?" tanya Alvin sambil mengelus perut Nerissa.
Nerissa hanya tersenyum lalu menarik tangan Alvin untuk diajak turun dari pelaminan. Sebelum itu Alvin membawa pandangannya pada Daniel lalu mengedipkan satu matanya pada Daniel.
Daniel kemudian membawa pandangannya pada Marin dan dengan ragu menyentuh perut Marin. Namun dengan cepat Marin memukul tangan Daniel.
"Ini berbeda, kau tidak bisa menirunya!" ucap Marin kesal.
"Apa kita harus membuatnya sekarang agar aku bisa meniru Alvin?" tanya Daniel berbisik yang membuat Marin segera memukul lengan tangan Daniel.
Danielpun hanya terkekeh lalu memeluk Marin.
"Maafkan aku, aku akan meminta Alvin mengambil bunga merah dan ungu itu!" ucap Daniel.
"Seharusnya kau melakukannya dari tadi," balas Marin.