
Di Seabert.
Seperti biasa, Cadassi pegi ke istana pagi pagi sekali untuk memberikan ramuan obat pada Ratu.
Setelah memastikan Cadassi meninggalkan rumah, Chubasca pun segera masuk ke kamar sang ayah.
Dia berdiri terdiam di depan pintu ruangan kecil yang ada disana. Ia ragu apakah ia harus masuk atau tidak. Ia kemudian mengingat ucapan Marin padanya.
Putri Nerissa sudah keterlaluan, aku membencinya
"Marin tidak mungkin mengatakan itu jika tidak terjadi sesuatu yang serius diantara mereka, tapi Putri Nerissa tidak mungkin melakukan sesuatu yang membuat Marin membencinya dengan sengaja," batin Chubasca dalam hati.
"Jawabannya ada di ruangan itu," batin Chubasca mengulangi ucapan Marin padanya.
"Baiklah jika memang satu satunya jawaban ada di ruangan itu, apa boleh buat, aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian berdua yang melibatkan ayah," ucap Chubasca lalu semakin mendekat ke arah pintu dan melepas tali yang cukup rumit dan kuat itu satu per satu.
Setelah semuanya berhasil terlepas, Chubasca pun segera masuk dan melihat apa yang ada di dalamnya.
"Tidak ada apa apa disini selain bahan yang ayah gunakan untuk membuat ramuan," ucap Chubasca setelah ia berkeliling ruangan kecil itu.
Di sisi lain, Marin sudah membulatkan tekadnya untuk kembali masuk ke kamar sang ayah.
Jauh dalam hatinya ia berpikir jika Nerissa tidak mungkin mengatakan hal buruk tentang ayahnya tanpa sebab, namun ucapan Nerissa sangat melukai hatinya karena meragukan kesetiaan sang ayah pada istana.
"Mungkin kau hanya salah paham putri, aku akan membuktikan padamu bahwa apa yang kau pikirkan tentang ayah itu salah," batin Marin dalam hati.
Setelah beberapa lama menunggu sang ayah benar benar meninggalkan rumah, Marin kemudian masuk ke kamar sang ayah.
Namun ia begitu terkejut karena melihat pintu ruangan kecil disana sudah terbuka.
Ia pun segera mendekat dan tiba tiba Chubasca keluar dari dalam, membuat Marin semakin terkejut.
"Aaa.... Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Marin pada Chubasca.
"Tentu saja mencari jawaban, apa lagi," balas Chubasca.
"Lalu apa yang kau temukan? Apa yang ada di dalam sana?" Tanya Marin penasaran.
"Tidak ada apapun selain bahan yang ayah pakai untuk membuat ramuan," jawab Chubasca.
Marinpun bernapas lega, kini ia bisa yakin jika sang ayah memang tidak seperti yang Putri Nerissa pikirkan.
"Ayo keluar, aku akan menutupnya kembali sebelum ayah pulang!" Ucap Chubasca pada Marin.
"Tunggu sebentar, biarkan aku masuk untuk memastikannya!" Ucap Marin lalu segera berenang masuk ke dalam ruangan kecil itu diikuti oleh Chubasca.
Marin berkeliling dan memperhatikan satu per satu tanaman dan bahan ramuan yang ada disana.
Namun ia begitu terkejut saat melihat wadah kosong yang ada disana. Wadah kosong itu terlihat seperti bekas digunakan sang ayah untuk mencampurkan bahan ramuan.
Yang membuat Marin terkejut adalah adanya sisa bahan yang tertinggal disana dan itu bukanlah bahan yang seharusnya digunakan untuk ramuan.
Marin kemudian membuka semua tempat penyimpanan yang ada disana untuk mencari bahan berbahaya itu.
"Apa yang kau cari Marin? Kita harus segera keluar dari sini!"
Saat membuka tempat penyimpanan terakhir, Marin melihat tanaman yang pernah ia tunjukkan pada Nerissa saat mereka sedang berada di ruang baca.
efek dari bahan ini adalah untuk melemahkan siapapun yang meminumnya, tapi karena dua bahan ini dicampur dengan bahan ramuan yang lain, efeknya akan sedikit lebih lambat namun bisa dipastikan siapapun yang meminum cairan itu akan melemah secara perlahan tanpa disadari hingga akhirnya....... sudah tak terselamatkan lagi
"Kau tau tentang tanaman ini?" Balas Marin bertanya.
"Tidak, aku hanya tau karena ayah sering membawanya bersama bahan yang lain," jawab Chubasca.
"Jangan pernah mencoba tanaman ini atau kau akan kehilangan kekuatanmu dengan perlahan," ucap Marin lalu keluar dari ruangan itu.
Chubasca hanya mengernyitkan keningnya tidak mengerti maksud dari ucapan Marin.
"Hei, bantu aku mengikat tali ini lagi!" Ucap Chubasca pada Marin, namun Marin tidak menghiraukannya dan tetap berenang keluar dari kamar sang ayah.
"Dasar adik tidak berguna!" Kesal Chubasca kemudian mengikat pintu ruangan kecil itu seperti semula.
Chubasca kemudian menghampiri Marin dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi namun Marin masih tidak memberinya jawaban.
"Ayolah Marin, kau bilang jawabannya ada di ruangan itu, aku sudah masuk kesana dan aku tidak menemukan jawaban apapun disana!" Ucap Chubasca.
"Gunakan otakmu jika kau memang ingin mengetahui jawabannya!" Balas Marin yang membuat Chubasca semakin kesal.
"Baiklah, aku akan memberi tahu ayah kalau kau baru saja masuk ke ruangan itu!" Ancam Chubasca.
"Dan aku masuk karena kau yang membukanya," balas Marin yang membuat Chubasca menyerah.
Adiknya itu memang terkenal pintar, sejak mereka kecil, Chubasca tidak akan pernah menang jika berdebat dengan Marin.
Chubasca pun berenang keluar dari kamar Marin.
Di dalam kamarnya, Marin masih memikirkan apa yang baru saja dilihatnya. Ia tidak percaya kenapa sang ayah memiliki bahan ramuan itu.
"Apa ayah benar benar melakukan hal itu? Apa ayah ada hubungannya dengan kematian Raja? Tapi kenapa? Kenapa ayah melakukan semua itu?" Batin Marin bertanya tanya.
"Tidak, bisa jadi ayah membuat ramuan itu bukan untuk Raja dan Ratu, mungkin saja ayah membuatnya untuk..... Untuk...... Aaaahhhh tidak...... Ayahku bukan orang jahat, ayah tidak mungkin sengaja menggunakan bahan itu untuk melumpuhkan kekuatan mermaid lain, tapi......."
Marin memukul mukul kepalanya karena kesal. Fakta yang baru saja dilihatnya sudah cukup membuktikan bahwa sang ayah memang membuat ramuan berbahaya itu, namun ia masih tidak bisa mempercayainya.
Selama ini ia sangat mengagumi sang ayah, baginya ayahnya adalah satu satunya panutan dalam hidupnya. Jadi tidak mudah baginya untuk menerima fakta yang sangat berbanding terbalik dengan apa yang selama ini ia percayai.
**
Di tempat lain, Alvin baru saja sampai di kantornya. Ia berjalan ke arah pintu utama disusul dengan Daniel yang berlari ke arahnya.
"Aku dengar proposal pengajuan yang dibuat timmu sudah ditandatangani oleh Ricky, apa itu benar?" Tanya Daniel pada Alvin.
"Iya benar," jawab Alvin.
"Ada angin apa dia tiba tiba menyetujui idemu?"
"Entahlah, yang pasti acara peragaan busana itu harus berjalan dengan lancar," jawab Alvin.
"Aku akan selalu siap membantumu Alvin, tapi kau juga harus berhati hati, Ricky pasti sudah merencanakan sesuatu sebelum memutuskan untuk menandatangani proposal itu!" Ucap Daniel mengingatkan.
"Kau tenang saja Daniel, aku akan mengikuti permainannya dengan hati hati, aku tidak akan lengah kali ini," balas Alvin dengan menepuk pundak Daniel.
Sama seperti Ricky, Alvin pun diam diam merencanakan sesuatu untuk memblokir rencana jahat Ricky.
Alvin sudah memikirkan kemungkinan apa yang akan Ricky perbuat pada perusahaan, mengingat pertemuan Ricky dengan Reza dan permintaan Ricky agar para pemegang saham menjual sahamnya dengan segera.
Alvin sudah bisa menebak kemana arah permainan Ricky.