
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Nerissa memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Bi Sita.
"Apa yang sedang kau pikirkan Putri? apa kau ragu jika bi Sita benar-benar pulang kampung?" tanya Marin pada Nerissa.
"Jika bi Sita memang benar-benar pulang kampung pasti Amanda yang memaksa bi Sita, aku sangat tahu bahwa bi Sita tidak mungkin pulang kampung jika tidak terjadi sesuatu di kampungnya," balas Nerissa.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu Putri?" tanya Marin tidak mengerti.
"Sikap bi Sita terlihat aneh saat aku baru saja sampai di rumah Alvin bersama Daniel, bi Sita yang biasanya menyambutku tiba-tiba pergi begitu saja setelah membuka pintu dan sekarang bi Sita tiba-tiba pulang kampung saat aku sangat membutuhkannya," jawab Nerissa menjelaskan.
"Apa mungkin bi Sita tahu kejadian yang sebenarnya Putri?"
"Bisa jadi, jika memang bi Sita tahu kejadian yang sebenarnya Amanda pasti tidak ingin Bi Sita memberitahukan hal itu pada Alvin, jadi Amanda memaksa bi Sita untuk pulang kampung."
Marin mengangguk anggukkan kepalanya memahami maksud ucapan Nerissa.
"Semakin hari kau semakin cerdas Putri, aku sangat bangga padamu hehehe....." Ucap Marin memuji.
"Selama kita berteman apa baru kali ini aku terlihat cerdas Marin?"
"Kau ingin aku menjawab jujur atau tidak?" balas Marin bertanya.
"Tentu saja jujur!"
"Kalau begitu jangan salahkan aku jika apa yang aku katakan ini menyakitkan untuk didengar!"
"Tidak perlu terlalu kau jelaskan Marin, aku tahu selama ini aku tidak pernah menggunakan otakku dengan baik, karena aku hanya Putri yang pemalas yang tidak mengerti apapun tentang dunia ini," balas Nerissa yang membuat Marin terkekeh.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Putri? apa kau akan menyerah untuk membuktikan pada Alvin bahwa kau tidak bersalah?"
"Menyerah? tentu saja tidak, aku akan memikirkan bagaimana caranya, tapi yang pasti aku tidak akan membiarkan Alvin membenciku hanya karena sandiwara yang Amanda buat!"
"Kali ini aku menyerah Putri, satu satunya saksi yang bisa membantumu sudah tidak ada disini, aku tidak tahu apa yang sebaiknya kau lakukan untuk membuat Alvin percaya padamu," ucap Marin.
"Tidak apa, aku akan memikirkannya sendiri," balas Nerissa.
Sesampainya di rumah, Nerissa dan Marin melihat mobil Daniel yang terparkir di depan rumah mereka. Tak lama kemudian Danielpun keluar dari mobilnya.
"Kalian berdua dari mana? apa kalian tidak membawa ponsel?" tanya Daniel pada Marin dan Nerissa.
Nerissa dan Marinpun kompak menggelengkan kepala mereka berdua.
"Apa kalian tidak tahu seberapa khawatirnya aku dan Alvin saat kalian berdua menghilang tiba-tiba? dan sekarang kalian mengulanginya lagi!"
"Maaf Daniel, aku dan Marin terburu-buru untuk keluar dari rumah jadi tidak sempat membawa ponsel," balas Nerissa.
"Kalian berdua pergi kemana dan kenapa harus terburu-buru?"
"Aku dan Marin baru saja pergi ke rumah Alvin untuk menemui bi Sita, tapi satpam disana bilang bi Sita baru saja pulang kampung," jawab Nerissa menjelaskan.
"Pulang kampung? kenapa tiba-tiba sekali?" tanya Daniel.
"Itu juga yang aku tanyakan Daniel, sekarang aku harus memikirkan cara lain untuk membuat Alvin percaya padaku," balas Nerissa.
"Kalian mau ngobrollah, aku masuk dulu!" ucap Marin yang hendak berjalan masuk ke dalam rumah, namun Daniel menahan tangan Marin.
"Duduklah dan lihatlah bulan malam ini bersinar sangat terang, apa kau tidak ingin menikmatinya?" ucap Daniel sambil mendongakkan kepala Marin melihat ke arah langit malam.
"Aku lebih baik berbaring di kamar daripada duduk disini melihat bulan bersamamu," balas Marin lalu beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Daniel hanya menghela nafasnya lalu duduk di samping Nerissa.
"Dia selalu saja galak padaku," gerutu Daniel.
"Apa kau kesini untuk menemui Marin?" tanya Nerissa pada Daniel.
"Tidak juga, aku kesini untuk menemui siapapun yang mau mengobrol denganku hehehe....." jawab Daniel.
**
Malam telah berlalu, haripun berganti. Pagi-pagi sekali Cordelia datang ke rumah Alvin setelah beberapa lama ia tidak bertemu dengan Alvin.
Dengan membawa dua kantong belanja, Cordelia berjalan penuh semangat lalu memencet bel beberapa kali hingga akhirnya pintu terbuka.
Cordelia begitu terkejut saat melihat Amanda yang membuka pintu.
"Kau........"
"Lama tidak bertemu, ada perlu apa kau kesini sepagi ini?" ucap Amanda sekaligus bertanya.
"Kenapa kau ada disini? bukankah kau ada di luar negeri bersama suamimu?" balas Cordelia bertanya.
"Anak kecil jangan terlalu banyak bertanya, lebih baik pulanglah dan lanjutkan main-mainmu di rumah!" balas Amanda yang hendak menutup pintu namun ditahan oleh Cordelia.
"Apa kau tidak tahu kalau aku sering kesini? apa Alvin tidak memberitahumu bahwa aku sering memasak untuknya?" tanya Cordelia yang menerobos masuk melewati Amanda.
"Itu dulu sebelum aku datang, sekarang aku tidak mengizinkanmu untuk datang lagi kesini," ucap Amanda sambil menarik pakaian Cordelia bagian belakang, membuat Cordelia menghentikan langkahnya.
"Lepaskan, kau tidak tahu betapa mahalnya pakaianku ini, aku akan menuntut ganti rugi padamu jika pakaianku ini kotor dan rusak karenamu," ucap Cordelia kesal.
Namun bukannya melepaskannya, Amanda malah menarik pakaian Cordelia, membuat Cordelia mundur beberapa langkah hingga akhirnya terjatuh.
"Uuppsss soryy," ucap Amanda dengan tersenyum penuh kemenangan.
Cordelia tersenyum tipis lalu beranjak dan dengan cepat menarik rambut Amanda, menjambaknya dengan kencang, membuat Amanda berteriak kesakitan.
Mendengar keributan, Alvinpun segera keluar dari kamarnya dan begitu terkejut saat melihat Amanda dan Cordelia yang sedang bertengkar dengan saling menarik dan menjambak rambut mereka.
"Delia, Amanda stop!" ucap Alvin berteriak yang membuat Cordelia dan Amanda menghentikan keributan mereka.
Amanda lalu membawa langkahnya memeluk Alvin manja.
"Alvin...... tanganku sakit," ucap Amanda sambil menunjukkan luka pada telapak tangan Amanda yang kembali berdarah.
"Aku akan mengganti perbannya lagi nanti," balas Alvin.
"Alvin, kenapa dia ada disini? bukankah dia sudah menikah dan tinggal di luar negeri?" tanya Cordelia pada Alvin.
"Dia belum menikah, apa yang kau lakukan disini sebagai ini Delia?" jawab Alvin sekaligus bertanya.
"Aku datang membawa bahan masakan karena ingin memasak untukmu Alvin, tetapi dia mencegahku dan memaksaku untuk pulang," jawab Cordelia sambil menunjuk ke arah Amanda.
"Aku hanya tidak ingin dia mengganggu kita Alvin," ucap Amanda pada Alvin.
"Apa kau bisa datang lain kali Delia?" tanya Alvin pada Cordelia.
"Aku baru saja pulang dari luar kota dan belum sempat menginjakkan kakiku di rumah, aku segera kesini karena aku merindukanmu, apa kau akan mengusirku begitu saja sekarang?" ucap Cordelia bertanya pada Alvin.
Alvin menghela nafasnya tanpa mengatakan apapun lalu berjalan pergi begitu saja.
"Aku boleh memasak disini bukan?" tanya Cordelia setengah berteriak.
"Asal jangan membuat keributan," balas Alvin yang membuat Cordelia tersenyum senang, sedangkan Amanda hanya menghela nafasnya kasar karena Alvin mengizinkan Cordelia untuk memasak disana.
Setelah beberapa lama berkutat dengan masakannya di dapur, Cordeliapun menyiapkan masakannya yang baru saja selesai di meja makan.
"Maaf Amanda, karena aku tidak tahu kau ada disini jadi aku hanya berbelanja untuk dua porsi, untukku dan Alvin!" ucap Cordelia pada Amanda.
"Ngomong-ngomong dimana bibi? aku dari tadi belum melihat bibi disini," tanya Cordelia.
"Bibi pulang kampung," jawab Alvin singkat.
"Kenapa? apa anaknya sakit lagi?" tanya Cordelia.
"Iya, Amanda yang memberi tahuku," jawab Alvin.
Cordelia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Kedatangan Amanda yang tiba-tiba membuat Cordelia semakin kesal karena saingannya untuk mendapatkan Alvin bertambah.
Terlebih Cordelia tahu bagaimana sifat Amanda yang sebenarnya, bagaimana masa lalu Alvin bersama Amanda yang membuat Cordelia sangat membenci Amanda.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang saat Cordelia menghentikan mobilnya di depan toko bunga Marin.
"Aku tidak percaya akan melakukan ini," ucap Cordelia lalu keluar dari mobilnya.
Dengan langkah penuh percaya diri, Cordelia berjalan masuk ke toko bunga Marin dan mendapati Marin yang sedang duduk bersama Nerissa disana.
"Kali ini aku tidak akan mencari masalah dengan kalian berdua, aku ke sini karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu Nerissa," ucap Cordelia.
"Duduklah!" balas Nerissa.
Cordeliapun duduk di samping Nerissa sambil membawa pandangannya pada Marin yang tampak menatapnya dengan pandangan tidak suka.
"Apa kau akan terus menatapku seperti itu Marin?" tanya Cordelia pada Marin.
"Tentu saja, aku bahkan tidak akan melepaskan pandanganku sedetikpun darimu," balas Marin.
"Terserah kau saja," ucap Cordelia sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Marin padanya.
"Apa yang membawamu kesini Delia? apa yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Nerissa pada Cordelia.
"Aku kesini hanya untuk memastikan sesuatu, tentang hubunganmu dengan Alvin!"
"Apa maksudmu?" tanya Nerissa tak mengerti.
"Sebenarnya seperti apa hubungan kalian berdua? aku yakin kalian berdua tidak sekedar berteman!"
"Aku hanya berteman dengannya, sama seperti Marin yang juga berteman dengan Alvin," jawab Nerissa.
"Aku sangat mengenal Alvin, aku tidak menyukaimu karena kau adalah perempuan yang dekat dengan Alvin selain aku, jika saja Alvin tidak selalu membelamu maka tidak ada alasan untukku tidak menyukaimu," ucap Cordelia.
"Iya aku tahu itu," balas Nerissa.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Alvin sekarang? apa kalian masih berteman dekat?"
Nerissa menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun
"Apa maksudmu? apa kalian berdua bertengkar?"
"Jika kau bertanya padaku apa aku masih berteman dekat dengan Alvin, aku sendiri tidak tahu jawabannya, aku tidak yakin apakah Alvin masih menganggapku sebagai temannya atau tidak," jawab Nerissa.
"Apa ini karena Amanda?" terka Cordelia yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Cordelia.
"Apa kau juga mengenalnya?" tanya Nerissa.
"Tentu saja, dia adalah perempuan paling jahat yang pernah aku temui," jawab Cordelia.
"Kau juga sama jahatnya dengannya," sahut Marin.
"Kau diam saja Marin, aku tidak berbicara denganmu!" ucap Cordelia pada Marin.
"Apa kau sudah lama mengenal Amanda, Delia?" tanya Nerissa yang terkejut saat dia tahu bahwa Cordelia juga mengenal Amanda.
"Aku tidak begitu mengenalnya, hanya saja aku tahu bahwa dia adalah masa lalu yang buruk bagi Alvin, dia meninggalkan Alvin demi laki-laki lain dan sekarang dia tiba-tiba datang untuk mendekati Alvin lagi setelah dia gagal dengan pernikahannya," jawab Cordelia.
"Apa kau kesini hanya untuk memastikan itu?" tanya Nerissa.
"Aku sangat terkejut saat melihat Amanda di rumah Alvin tadi pagi dan aku berpikir bagaimana hubungan Alvin denganmu saat Amanda kembali datang dalam kehidupan Alvin, itu kenapa aku datang kesini," jawab Cordelia.
"Seperti yang kau lihat, Alvin lebih memilih Amanda, jadi kau tidak perlu khawatir lagi jika Alvin akan bersamaku," ucap Nerissa.
"Tapi aku tidak rela jika Alvin benar-benar kembali dengan perempuan jahat itu, setidaknya Alvin harus mendapatkan perempuan yang baik seperti aku hehehe...."
Nerissa hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Cordelia yang penuh percaya diri.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Nerissa pada Cordelia.
"Aku akan menemui Daniel, aku yakin Daniel juga tidak menyukai Amanda karena kita sama-sama tahu bagaimana gilanya Alvin saat Amanda meninggalkan Alvin begitu saja," jawab Cordelia.
Nerissa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Cordelia.
"Kapan pertama kali kau bertemu Amanda, Nerissa? apa dia langsung menunjukkan sikap aslinya padamu?" tanya Cordelia penasaran.
Nerissapun menceritakan awal pertemuannya dengan Amanda, saat ia mengantarkan buket bunga pesanan milik Amanda.
"Aku pikir dia perempuan yang baik, tapi semakin kesini aku semakin yakin bahwa dia memang tidak pantas untuk Alvin, dia sangat jahat, licik dan manipulatif!" ucap Nerissa di akhir ceritanya.
"Apa dia sudah melakukan sesuatu padamu?" tanya Cordelia yang semakin penasaran.
Nerissapun menceritakan kejadian saat Amanda menuduh Nerissa mendorong Amanda ke arah aquarium, Nerissa juga menceritakan tentang kepergian bibi yang tiba-tiba.
"Sepertinya kau benar-benar tidak beruntung Nerissa!" ucap Cordelia pada Nerissa.
"Sepertinya begitu, bi Sita satu-satunya yang aku harapkan untuk memberikan saksi pada Alvin bahwa aku tidak bersalah, tapi sekarang bi Sita sudah pergi dan tidak tahu kapan akan kembali."
"Bagaimana jika kita menemui bibi?" tanya Cordelia yang membuat Nerissa mengernyitkan keningnya.
"Menemui bibi? di kampung?" tanya Nerissa memastikan.
"Iya, kita bisa menemui bibi di kampung dan menanyakan apa yang membuat bibi tiba-tiba pulang kampung, sekaligus bertanya tentang kesaksian bibi saat Amanda memfitnahmu!" jawab Cordelia.
"Bagaimana kita bisa menemui bi Sita di kampung? apa kau tahu dimana tempat tinggal bi Sita di kampung?" tanya Nerissa.
"Tentu saja aku tahu, bibi sudah tinggal bersama Alvin sangat lama, aku bahkan mengenal anak bi Sita yang tinggal di kampung," jawab Cordelia penuh percaya diri.
"Benarkah? apa kau tidak sedang membohongiku sekarang?"
"Tidak ada untungnya jika aku membohongimu sekarang, jika aku bisa membuktikan pada Alvin bahwa Amanda berbohong itu adalah keuntungan untukku tidak hanya untukmu, itu kenapa aku mau membantumu untuk menemui bibi di kampung," jawab Cordelia menjelaskan.
"Tidak!" sahut Marin yang membuat Nerissa dan Cordelia membawa pandangan mereka pada Marin.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi berdua bersama Cordelia, putri, aku sama sekali tidak mempercayainya," ucap Marin.
"Lalu apa kau mau ikut untuk menemui bibi?" tanya Cordelia pada Marin.
"Aku akan memberitahu Daniel tentang hal ini, lebih baik kalian bicarakan dulu dengan Daniel," jawab Marin.
"Aku setuju," ucap Nerissa sambil menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, terserah kalian saja," balas Cordelia pasrah.