Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Makan Malam Nerissa dan Delia



Cordelia dan Alvin masih berada di toko bunga Marin. Cordelia yang berniat meminta maaf pada Nerissa dan Marin dibuat kesal oleh ucapan Marin padanya.


"Kau tidak akan pernah menang melawan Putri Nerissa,"


Setelah Cordelia melepaskan pelukannya pada Marin ia hanya tersenyum tipis, menyembunyikan kekesalannya dari Alvin.


"Karena kalian sudah memaafkanku, aku akan mengajak kalian berdua makan malam di rumahku, bagaimana?" ucap Cordelia sekaligus bertanya pada Nerissa dan Marin.


Nerissa dan Marin saling memandang sebelum menjawab pertanyaan Cordelia. Dalam hati, mereka sama sama ragu untuk mengiyakan ajakan Cordelia.


"Apa kau hanya mengajak mereka berdua?" sahut Alvin bertanya.


"Kau boleh ikut jika mau," jawab Cordelia.


"Baiklah, aku akan ikut," ucap Alvin.


"Bagaimana Nerissa, Marin? apa kalian berdua bersedia?" tanya Cordelia pada Nerissa dan Marin yang belum memberinya jawaban.


"Baiklah, aku dan Putri akan datang," jawab Marin.


Setelah Marin mendengar Alvin akan ikut makan malam, Marinpun mengiyakan ajakan Cordelia karena ia percaya tidak akan ada hal buruk yang terjadi saat Alvin bersama mereka


"Datanglah ke rumah ku pukul 8 nanti malam, kau bisa menjemput mereka bukan?" ucap Cordelia sambil bertanya pada Alvin.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Cordelia.


"Baiklah kalau begitu, ayo Alvin, kau harus segera berangkat ke kantor!" ucap Cordelia sambil berjalan keluar dari toko bunga Marin sambil menarik tangan Alvin.


"Aku pergi dulu Nerissa, Marin!" ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Nerissa dan Marin


Sepeninggalan Cordelia dan Alvin, Nerissa dan Marin kembali pada kesibukan mereka berdua.


"Bagaiman menurutmu putri? apa Delia benar benar meminta maaf pada kita?"


"Seperti yang kau dengar, Delia sendiri yang berniat untuk meminta maaf pada kita, bukan Alvin yang menyuruhnya," jawab Nerissa.


"Apa kau tidak berpikir jika dia sedang merencanakan sesuatu pada kita?"


"Jngan terlalu berpikir buruk Marin, mungkin saja dia sudah menyesali hal buruk yang pernah dia lakukan pada kita," jawab Nerissa.


"Bagaimana jika dia...."


"Lebih baik segera selesaikan pesananan buket bunga itu agar aku bisa segera mengantarnya, jngan terlalu memikirkan hal yang tidak penting seperti itu!" ucap Nerissa memotong ucapan Marin.


"Hehehe.... baiklah," balas Marin kemudian kembali fokus untuk mengerjakan buket bunga pesananan pelanggannya.


Setelah buket bunga selesai dibuat, Marin pun memberikannya pada Nerissa berserta alamat tempat tinggal sang pelanggan.


Nerissapun meletakkan buket bunga itu di keranjang sepedanya kemudian mengayuhnya meninggalkan toko bunga.


Tak lama setelah kepergian Nerissa, Daniel sampai di depan toko bunga Marin.


"Selamat pagi," ucap Daniel dengan senyum di wajah tampannya.


Marin hanya tersenyum tipis sambil merapikan beberapa bunga di hadapannya.


"Dimana Nerissa?" tanya Daniel sambil menghampiri Marin.


"Baru saja berangkat," jawab Marin


"Berangkat? berangkat mengantar bunga?" tanya Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Marin


"Kenapa kau memintanya mengantar bunga Marin? dia baru saja keluar dari rumah sakit dan....."


"Dia sudah baik baik saja Daniel, dia sudah sembuh dan kembali sehat, dia sendiri yang memaksa untuk mengantar bunga, jadi berhenti memarahiku karena kesalahan yang tidak aku lakukan!" ucap Marin panjang.


Melihat Marin yang berbicara panjang tanpa henti membuat Daniel tersenyum tipis. Entah kenapa sikap Marin yang seperti itu membuatnya terlihat menggemaskan di mata Daniel.


"Pulanglah, jangan membuatku kesal!" ucap Marin.


"Kau lucu sekali," ucap Daniel dengan menatap gadis di hadapannya yang masih sibuk dengan bunga bunga di sekitarnya.


Mendengar apa yang Daniel ucapakan, Marin segera membawa pandangannya pada Daniel.


"Aku hanya ingin menyampaikan pesan mama untukmu, nanti malam mama mengajakmu makan malam bersama," ucap Daniel pada Marin.


"Nanti malam?"


"Iya, aku sudah memesan restoran untuk mama dan papa makan malam berdua, tetapi mama malah memintaku untuk mengajakmu, jadi kita makan malam berempat," jawab Daniel menjelaskan.


"Mmmm..... apa aku harus ikut?"


"Aku tidak memaksamu Marin, tetapi mama pasti akan sangat senang jika kau datang, ini adalah makan malam pertama mama dan papa setelah mereka mulai bertengkar setiap hari," jawab Daniel.


"aku sangat ingin datang, tapi bagaimana dengan makan malam di rumah Cordelia? aku sudah lebih dulu mengiyakan ajakannya tadi," tanya Marin dalam hati.


"Ada apa Marin? apa kau sudah ada janji nanti malam?" tanya Daniel yang melihat Marin hanya terdiam


"Mmmm.... sebenarnya Cordelia baru saja mengajak aku dan Putri untuk makan malam di rumahnya," jawab Marin ragu.


"Delia? kenapa dia tiba tiba mengajak kalian makan malam?"


"Tadi pagi dia datang dan meminta maaf padaku dan putri lalu mengajak kita makan malam di rumahnya," jawab Marin


"Hanya kalian berdua?" tanya Daniel.


"Tidak, Alvin juga ikut, dia yang akan menjemputku dan Putri," jawab Marin.


Daniel mengangguk anggukkan kepalanya mendengar jawaban Marin, ia berpikir setidaknya Cordelia tidak akan melakukan hal buruk jika ada Alvin bersama mereka.


"Sebenarnya aku tidak ingin mengecewakan Tante Yasmin, tapi aku sudah lebih dulu mengiyakan ajakan Delia tadi, aku jadi bingung," ucap Marin sambil mendudukkan dirinya di kursi.


"Aku akan berbicara pada Delia kalau kau tidak bisa ikut, jadi biarkan Nerissa dan Alvin yang akan makan malam bersama Delia, bagiamana menurutmu?"


"Bagaimana dengan putri? apa dia mau pergi hanya dengan Alvin? apa Delia juga tidak akan marah karena aku tiba tiba tidak datang?"


"Kau bisa bicarakan hal itu dengan Nerissa, soal Delia serahkan saja padaku!" jawab Daniel.


"Mmmm.... tapi.... apa Putri akan baik baik saja? kau tau sendiri bukan bagiamana sikap Delia pada Putri? aku bahkan tidak yakin jika dia benar benar meminta maaf dengan tulus!"


"Ada Alvin yang akan menjaganya, jika saja mama mau makan malam berdua dengan papa pasti aku akan ikut makan malam kalian bersama Delia, tidak peduli dia mengajakku atau tidak, tapi mama memaksaku untuk ikut makan malam dan mengajakmu," ucap Daniel.


Marin masih terdiam mendengar ucapan Daniel. Ada sedikit keraguan dalam hatinya untuk memilih kemana dia harus datang saat makan malam nanti.


"Aku tidak akan memaksamu Marin, pikirkan dulu dan bicarakan dengan Nerissa," ucap Daniel pada Marin.


"Jika aku menolak, Tante Yasmin pasti akan sangat kecewa padaku bukan?"


"Jangan terbebani oleh mama Marin, walaupun kau tidak bisa datang, sikap mama padamu tidak akan berubah," jawab Daniel.


"Benarkah?"


"Tentu saja, mama juga tidak akan memaksamu untuk datang," jawab Daniel.


"Baiklah, aku akan bicarakan hal ini dengan Putri, tapi aku tidak bisa berjanji apapun padamu Daniel," ucap Marin.


"Aku mengerti, hubungi aku jika kau sudah menentukan keputusanmu, aku pergi dulu!" ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Marin.


Danielpun keluar dari toko bunga Marin, mengendarai mobilnya ke arah tempat kerjanya.


**


Waktu berlalu, matahari sudah berada tepat di atas kepala, meninggalkan terik yang cukup menyengat.


Nerissa sedang berada di toko bunga bersama Marin saat itu. Sudah beberapa lama mereka mengobrol namun Marin masih ragu untuk memberi tahu Nerissa tentang apa yang Daniel katakan padanya.


"Mmmm..... terserah kau saja Putri," jawab Marin.


"Kau kenapa Marin? seperti ada yang sedang mengganggu pikiranmu, apa kau ragu untuk datang makan malam di rumah Delia?"


"Mmmmm.... sebenarnya...... mmmmm..... aku......"


"Katakan saja Marin, jangan memaksakan dirimu jika kau memang tidak ingin pergi," ucap Nerissa.


"Bukan begitu Putri, sebenarnya Daniel tadi menemuiku, dia mengatakan padaku bahwa mamanya mengajakku makan malam, tapi seperti yang kau tau aku sudah mengiyakan ajakan Delia terlebih dahulu," ucap Marin.


"Lalu kau bingung harus datang ke acara Delia atau mamanya Daniel?" tanya Nerissa menerka.


Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan menutup wajah menggunakan kedua tangannya.


"Lebih baik kau pergi makan malam bersama Daniel dan mamanya, soal Delia aku akan memberi tahunya nanti," ucap Nerissa.


"Tapi bagaimana denganmu Putri?"


"Tenang saja, aku bisa menjaga diriku sendiri Marin, lagipula ada Alvin juga disana," jawab Nerissa.


"Tapi aku....."


"Tidak ada tapi tapi, makan malam bersama mama daniel lebih penting daripada makan malam bersama Delia!" ucap Nerissa memotong ucapan Marin.


"Kau yakin akan baik baik saja Putri?" tanya Marin memastikan.


"Jangan mengkhawatirkanku Marin, aku sudah banyak belajar memahami sifat sifat manusia disini, lagipula kau sebenarnya juga tidak ingin menolak ajakan mama Daniel bukan?"


"Iya, Daniel bilang ini adalah makan malam pertama mama dan papanya setelah beberapa lama, jadi aku tidak ingin mengecewakan Tante Yasmin, putri!"


"Kalau begitu kau harus bersiap mulai sekarang, kita harus menutup toko bunga lebih awal untuk membeli pakaian yang akan kau pakai nanti malam!" ucap Nerissa sambil beranjak dari duduknya diikuti oleh Marin.


Setelah menutup toko bunga, Nerissa dan Marinpun pergi ke pusat perbelanjaan yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka untuk membeli beberapa pakaian, tas dan sepatu.


Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, merekapun kembali pulang. Marin segera menghubungi Daniel saat ia sudah sampai di rumah.


"Halo Daniel, apa aku menggangumu?" tanya Marin saat Daniel sudah menerima panggilannya.


"Tidak, justru aku menunggumu dari tadi," jawab Daniel.


"Aku sudah memberi tahu Putri tentang makan malam nanti dan dia memintaku untuk datang ke acara mama dan papamu Daniel," ucap Marin.


"Baiklah, aku akan menjemputmu jam 7 nanti," balas Daniel.


"Baiklah!"


Panggilan berakhir, Marin merebahkan badannya di ranjang dengan tersenyum senang.


Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Daniel sampai di rumah Marin.


Marinpun meninggalkan Nerissa dan pergi bersama Daniel.


"Masih ada waktu satu jam sebelum......"


Tooookkk tooookkk tooookkk


Suara ketukan pintu membuat Nerissa menghentikan ucapannya, iapun segera berjalan ke arah pintu dan begitu terkejut saat melihat Cordelia di depan rumahnya.


"Kenapa kau kesini? ada apa?" tanya Nerissa pada Cordelia.


"Kebetulan aku lewat di depan rumahmu jadi sekalian aku ingin menjemputmu, kau sudah siap bukan?"


"Sudah, tapi Alvin bilang....."


"Aku akan memberi tahu Alvin kalau kau berangkat bersamaku jadi dia akan menyusul nanti," ucap Cordelia memotong ucapan Nerissa.


"Tapi....."


"Ayo, mama dan papa sudah menunggumu di rumah!"


"Mama dan papa?"


"Iya, kita akan makan malam bersama keluargaku, anggap saja ini salah satu caraku untuk bisa berteman denganmu," ucap Cordelia dengan tersenyum pada Nerissa.


"Baiklah....."


Karena terburu buru, Nerissa hanya mengambil tasnya tanpa membawa ponselnya yang tergeletak di meja.


Ia kemudian berjalan mengikuti Cordelia masuk ke dalam mobil.


Setelah beberapa lama berkendara, Cordelia membawa mobilnya memasuki rumah besar dengan halaman yang sangat luas.


Cordelia pun keluar dari mobil diikuti oleh Nerissa yang berjalan pelan di belakangnya.


"Tunggulah disini, aku akan memanggil mama dan papa!" ucap Cordelia kemudian meninggalkan Nerissa begitu saja.


Tak lama kemudian mama dan papa Cordeliapun datang. Mereka semuapun duduk mengelilingi meja makan.


"Selamat datang di rumah kami yang sederhana Nerissa, Delia sudah banyak bercerita tentangmu pada kami," ucap papa Cordelia, Johan Airlangga.


Nerissa hanya tersenyum dengan menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.


Tak lama kemudian makananpun datang.


"Ini makanan pembuka, makanlah sembari menunggu Alvin datang!" ucap Cordelia yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.


Entah makanan apa yang ada di hadapannya saat itu, tetapi yang pasti Nerissa tampak ragu untuk memakannya.


"Aku dengar dari Delia kau cukup dekat dengan Alvin, dari mana kau mengenalnya?" tanya papa Cordelia pada Nerissa.


"Saya mengenal Alvin dari Daniel," jawab Nerissa.


"Ooohhh jadi kau lebih dulu mengenal Daniel?"


"Iya pa, Daniel lebih dulu mengenal Nerissa dan sepertinya dia sangat menyukai Nerissa, benar bukan?" sahut Cordelia sambil membawa pandangannya pada Nerissa di akhir kalimatnya.


"Kita hanya berteman Delia," jawab Nerissa.


"Cinta juga berawal dari teman Nerissa, dulu Alvin sempat tinggal di keluarga kami, membuat Alvin sangat dekat dengan Delia, bahkan tidak ada perempuan lain yang dekat dengan Alvin selain Delia, pada awalnya mereka memang hanya berteman, tetapi sebagai orang tua yang sudah mempunyai banyak pengalaman rasanya tidak mungkin jika sampai sekarang mereka hanya berteman," ucap papa Cordelia sambil membawa pandangannya pada Cordelia.


"Aaaahh papa, jangan mengatakan hal itu di depan Nerissa, Delia malu," balas Cordelia.


"Kenapa kau malu? dia juga pasti menyukaimu Delia, kalau tidak dia pasti sudah mempunyai pacar selama ini, tetapi kenyataannya dia masih sendiri sampai sekarang, itu karena dia menunggu waktu yang tepat untuk melamarmu menjadi istrinya," sahut mama Cordelia.


"Benarkah? apa menurut papa juga seperti itu?" tanya Cordelia.


"Papa setuju dengan mama, Alvin laki laki yang baik, selama ini dia hanya dekat denganmu dan selalu menjaga jarak dengan perempuan lainnya," balas papa Cordelia.


Mendengar percakapan Cordelia dengan mama dan papanya membuat Nerissa hanya terdiam membisu.


Tidak hanya karena canggung berada di situasi seperti itu, ia juga tidak ingin lebih lama mendengar obrolan yang terasa menyakitkan untuk ia dengar.


Bahkan makanan yang ada di hadapannya terasa susah untuk ia telan saat ia mendengar percakapan Cordelia dengan mama dan papanya.


"Bagaimana menurutmu Nerissa? apa mungkin Alvin akan melamarku?" tanya Cordelia membuyarkan lamunan Nerissa.


"Aku tidak tau, Alvin tidak pernah membicarakan hal itu padaku," jawab Nerissa dengan berusaha tersenyum.


"Jika memang benar seperti itu, mama dan papa akan sangat senang hati menerima lamaran Alvin untukmu Delia," ucap mama Cordelia.


"Terima kasih ma," balas Cordelia dengan tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Nerissa hanya diam tanpa mengucapkan apapun.