
Hujan baru saja reda, namun hawa dinginnya masih terasa memeluk erat. Daniel membawa langkahnya keluar dari rumah lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya. Daniel mengendarai mobilnya meninggalkan rumah untuk menemui Nerissa, memastikan bahwa Nerissa baik-baik saja.
Sesampainya di rumah Nerissa, Daniel segera berjalan ke arah pintu, namun belum sampai ia mengetuk pintu seseorang menarik tangannya dengan cepat.
"Marin, kau membuatku terkejut!" ucap Daniel saat ia menyadari Marin yang menarik tangannya.
"Apa kau ingin menemui Putri?" tanya Marin yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.
"Lebih baik jangan, beri dia waktu untuk sendiri," ucap Marin melarang Daniel menemui Nerissa.
"Bagaimana keadaannya? apa dia baik-baik saja?" tanya Daniel khawatir.
"Aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi tidak disini," ucap Marin sambil menarik tangan Daniel menjauh dari rumah.
"Kita akan kemana Marin?" tanya Daniel yang berjalan mengikuti Marin.
"Jangan banyak bertanya Daniel, ikuti saja aku!" balas Marin tanpa menjawab pertanyaan Daniel.
Danielpun hanya diam mengikuti langkah Marin, hingga akhirnya ia menghela nafasnya kesal karena Marin mengajaknya berjalan cukup jauh hanya untuk duduk di mini market tempat mereka berdua beberapa kali bertemu.
"Kau mengajak aku berjalan hanya untuk duduk disini?" tanya Daniel yang sudah duduk di hadapan Marin.
"Aku tidak ingin Putri mendengarkan percakapan kita," balas Marin.
"Kita bisa kesini dengan menggunakan mobilku Marin, tidak perlu berjalan sejauh ini!"
"Apa kau bercanda? ini sangat dekat dari rumahku Daniel, badanmu saja yang sudah tua, berjalan sedekat ini saja sudah lelah!" balas Marin mencibir lalu mengeluarkan satu botol minuman dari kantong belanjanya dan memberikan pada Daniel.
"Apa kau baru saja brbeelanja?" tanya Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Marin.
"Kau belum mengetuk pintu rumah bukan?" tanya Marin.
"Belum, aku baru saja sampai dan kau sudah menarik tanganku," jawab Daniel.
"Untuk sementara ini biarkan Putri menenangkan dirinya dulu, sepertinya masalahnya kali ini cukup berat," ucap Marin.
"Apa dia sudah menceritakan sesuatu padamu?" tanya Daniel.
"Putri melihat Alvin sedang memeluk seorang perempuan saat Putri mengantarkan buket bunga ke rumah perempuan itu," jawab Marin.
"Memeluk perempuan? apa kau mengenal perempuan itu?"
"Dia adalah pelanggan toko bungaku, aku tidak terlalu mengenalnya tetapi putri yang lebih mengenal perempuan, itu namanya Amanda," jawab Marin menjelaskan.
"Amanda, sudah kuduga," ucap Daniel pelan yang cukup didengar oleh Marin.
"Apa maksudmu? apa kau mengenalnya?" tanya Marin.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengucapkan apapun.
"Siapa Amanda? kenapa Alvin memeluknya? apa mereka berdua mempunyai hubungan yang dekat?" tanya Marin penasaran.
"Amanda adalah masa lalu Alvin, walaupun mereka berdua tidak mempunyai hubungan yang pasti tetapi mereka berdua sangat dekat, saat Alvin akan melamarnya, Amanda pergi memilih laki-laki lain dan meninggalkan Alvin begitu saja, Alvin bahkan hampir gila hanya karena Amanda," jawab Daniel menjelaskan.
"Apa sebegitu cintanya Alvin pada Amanda?"
"Entah karena rasa cintanya yang besar atau rasa kecewanya yang lebih besar, tapi yang pasti Amanda sekarang datang untuk kembali mendekati Alvin karena laki-laki yang dipilihnya sudah meninggalkannya."
"Waaaah jahat sekali, bukankah dia sangat egois?"
"Iya kau benar, aku memang sangat marah saat aku tahu Alvin kembali berhubungan dengan Amanda, bukan hanya karena Alvin yang mulai menjauh dari Nerissa tapi aku juga tidak ingin Alvin kembali dikecewakan oleh Amanda."
"Tetapi jika Alvin sudah memilih Amanda maka tidak ada harapan lagi untuk Putri."
"Aku tidak yakin Marin, aku sangat mengenal Alvin, walaupun aku sangat membenci sikapnya beberapa hari ini tetapi aku tidak yakin jika dia akan merelakan Nerissa pergi darinya, aku yakin dia juga memiliki perasaan yang sama seperti Nerissa."
"Bukankah sudah jelas bahwa Alvin lebih memilih Amanda dan mengabaikan Putri?"
"Amanda adalah masa lalu yang sangat membekas dalam hidup Alvin, jadi tidak akan mudah baginya untuk melupakan Amanda tapi seperti yang kau tahu Amanda bukan perempuan yang baik."
"Biarkan saja Alvin bersama Amanda jika memang Alvin lebih memilih Amanda, Alvin juga bukan laki-laki yang baik untuk Putri, Alvin tidak mungkin meninggalkan putri jika dia memang mencintai Putri," ucap Marin kesal.
"Masalahnya tidak sesederhana itu Marin, kau tidak akan pernah bisa melogikakan cinta, apa yang ada di hatimu berbeda dengan apa yang ada di kepalamu, mungkin Nerissa bisa membenci Alvin saat ini, tapi hatinya tetap milik Alvin," ucap Daniel.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan Putri menyimpan Alvin dalam hatinya, Putri berhak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik daripada Alvin, seseorang yang bertanggung jawab dan mencintai Putri dengan tulus," balas Marin lalu menyeruput minuman di hadapannya.
"Sekeras apapun usahamu, kau tidak akan bisa merubah apa yang ada di dalam hati seseorang Marin, sebenci apapun kau padaku kau tidak akan pernah bisa melupakanku jika kau sudah jatuh cinta padaku!" ucap Daniel yang membuat Marin tersedak mendengar kalimat terakhir Daniel.
"Hahaha..... jangan gugup itu hanya perumpamaan hahaha....." ucap Daniel sambil memberikan minumannya pada Marin.
"Kau tidak lucu sama sekali!" ucap Marin kesal.
"Kenapa? apa kau sudah jatuh cinta padaku?" balas Daniel bertanya yang membuat Marin segera melempar botol kosong di hadapannya pada Daniel, membuat Daniel hanya terkekeh melihat sikap Marin.
"Apa Alvin sudah menemui Nerissa?" tanya Daniel yang dibalas gelengan kepala Marin.
Setelah beberapa lama mengobrol, Daniel dan Marinpun meninggalkan minimarket itu, berjalan berdua ke arah rumah Marin.
"Jangan mempengaruhi Nerissa tentang keputusan yang akan diambil Marin, biarkan dia sendiri memutuskan bagaimana hubungannya dengan Alvin nantinya," ucap Daniel pada Marin.
"Keputusan apa maksudmu, sudah pasti Putri akan menjauh dari Alvin, aku bahkan akan membantu Putri untuk menghilangkan semua memorinya tentang Alvin!"
"Kenapa kau penuh semangat sekali Marin? bukankah kau dulu yang paling mendukung Alvin untuk dekat dengan Nerissa?"
"Itu dulu saat aku belum benar-benar mengenal Alvin, sekarang aku menyesal karena sudah mendukungnya!"
"Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan Marin, kau terlalu mudah untuk menilai seseorang."
"Sudahlah cepatlah pulang, jangan membicarakan Alvin lagi di hadapanku apalagi di hadapan Putri!"
"Baiklah, jaga Nerissa baik-baik dan hubungi aku jika terjadi sesuatu padanya," ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Marin.
Daniel kemudian membawa langkahnya masuk ke dalam mobil, lalu mengendarai mobilnya ke arah rumah Alvin.
Bagaimanapun juga Alvin adalah sahabat dekatnya, ia juga yang sudah memperkenalkan Amanda pada Alvin. Sedikit banyak ia ikut berperan dalam hubungan Amanda dan Alvin.
Meskipun Daniel sangat kecewa pada sikap Alvin yang mengabaikan Nerissa, tetapi Daniel tidak bisa membiarkan Alvin kembali dikecewakan oleh Amanda.
Daniel tidak ingin masa lalu buruk yang hampir membuat Alvin gila kembali terulang hanya karena perempuan egois seperti Amanda.
**
Di kamarnya, Alvin berkali-kali menghubungi Nerissa namun tidak pernah tersambung. Ia ingin menjelaskan pada Nerissa tentang siapa Amanda sebenarnya, namun ia ragu untuk bertemu langsung pada Nerissa.
Ia takut akan membuat Nerissa bersedih dan menangis di hadapannya, karena ia tahu ia sangat lemah pada kesedihan Nerissa ataupun Amanda.
"Apa aku harus menemuinya sekarang?" tanya Alvin pada dirinya sendiri.
Tooookkk tooookkk tooookkk
"Permisi tuan, di luar ada den Daniel yang mencari tuan!" ucap bi Sita dari luar kamar Alvin setelah mengetuk pintu beberapa kali.
"Baik Bi, Alvin akan segera keluar," balas Alvin lalu beranjak dari ranjangnya.
Alvin membawa langkahnya keluar dari kamarnya lalu menghampiri Daniel yang menunggunya di teras rumah.
Alvin hanya berdiri di pintu rumahnya, membawa pandangannya pada Daniel yang duduk tak jauh darinya.
"Aku ke sini hanya ingin memastikan sesuatu padamu," ucap Daniel.
"Jika kau memintaku untuk meninggalkan Amanda maka jawabanku tidak, jadi kau tidak perlu memastikan apapun lagi tentang Amanda."
"Apa ini berarti kau benar-benar melepaskan Nerissa?"
Alvin diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Daniel.
"Setidaknya temui Nerissa dan jelaskan padanya tentang hubunganmu dengan Amanda."
"Apa yang harus aku jelaskan padanya dan untuk apa aku menjelaskannya!"
"Kenapa kau jadi seegois ini Alvin? apa hanya karena Amanda kau menyakiti Nerissa yang sama sekali tidak bersalah padamu?"
"Aku tidak pernah berniat menyakitinya Daniel, aku juga tidak pernah mengatakan padanya bahwa aku menyukainya apalagi mencintainya, lalu kenapa aku harus menjelaskan hubunganku dengan Amanda padanya?"
Mendengar jawaban Alvin, emosi dalam diri Daniel semakin memuncak namun ia berusaha untuk menahannya.
Danielpun beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan Alvin.
"Baiklah, sepertinya kau memang benar-benar ingin melepaskan Nerissa, jika ini keputusanmu maka jangan pernah menemui Nerissa lagi dan aku akan pastikan kali ini kau yang akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan Nerissa demi perempuan egois seperti Amanda," ucap Daniel lalu berjalan pergi begitu saja meninggalkan Alvin.
Daniel kemudian masuk ke dalam mobilnya dan menghubungi Marin untuk meminta alamat rumah Amanda.
Setelah mendapatkan alamat rumah Amanda, Danielpun segera mengendarai mobilnya ke arah rumah Amanda.
Sesampainya disana, Daniel segera membawa langkahnya ke arah pintu rumah dan mengetuknya beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka.
Senyuman Amanda yang penuh semangat saat membuka pintu tiba-tiba pudar saat melihat Daniel yang berdiri di hadapannya.
"Kenapa kau terkejut? apa kau berharap Alvin yang datang?" tanya Daniel.
"Ada apa kau kemari?" balas Amanda bertanya.
"Aku hanya ingin memastikan apa sebenarnya tujuanmu datang dan kembali mendekati Alvin."
"Aku tidak berusaha untuk mendekatinya, tetapi takdir yang membawa kita untuk kembali bersama."
"Jangan membawa takdir dalam kelicikanmu Amanda!"
"Apa maksudmu Daniel? apa kau masih membenciku karena masa laluku dengan Alvin?"
"Bagiku itu tidak hanya sekedar masa lalu, apa yang sudah kau lakukan pada Alvin tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku!"
"Jangan berlebihan Daniel, Alvin sudah memaafkanku dan kita sudah berbaikan jadi tidak ada masalah lagi di antara kita."
"Aku tidak peduli dengan kebodohan Alvin dan juga kemunafikanmu, aku hanya tidak ingin kehadiranmu membuat orang lain terluka."
"Apa kau marah padaku karena Nerissa? apa jangan-jangan kau menyukainya?"
"Tidak ada urusannya denganmu," balas Daniel tanpa menjawab pertanyaan Amanda.
"Asal kau tahu Daniel, aku pulang kesini karena aku sudah berpisah dengan Steve, aku kesini karena aku memang berniat untuk mendekati Alvin, selagi Alvin masih menerimaku, aku akan berusaha untuk membuat Alvin patuh padaku dan tidak akan ada perempuan lain selain aku di mata Alvin, apalagi Nerissa, gadis penjual bunga rendahan," ucap Amanda yang membuat Daniel begitu geram.
"Jangan pernah membawa Nerissa dalam masalah ini atau kau akan benar-benar menyesalinya," ucap Daniel lalu pergi meninggalkan Amanda begitu saja.
Daniel mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Amanda dengan emosi yang memuncak dalam dirinya.
**
Di tempat lain Marin mengetuk pintu kamar Nerissa beberapa kali sebelum akhirnya ia masuk dan menghampiri Nerissa yang terbaring di ranjang.
"Apa kau baru pulang Marin?" tanya Nerissa yang dibalas anggukan kepala Marin.
"Marin, apa menurutmu Alvin tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku?" tanya Nerissa sambil memeluk bonekanya.
"Kenapa kau menanyakan hal itu Putri? kenapa juga kau masih mengingatnya!"
"Aku selalu merasa Alvin juga menyukaiku Marin, hatiku memang sangat sakit melihat Alvin berpelukan dengan Amanda, tetapi aku juga tidak bisa menutup mata atas sikap Alvin padaku selama ini," ucap Nerissa.
"Setelah apa yang kau lihat, apa kau benar-benar masih mencintainya Putri?"
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah tanpa mengatakan apapun.
"Baiklah aku akan memberitahumu sesuatu, setelah ini terserah kau, apa kau masih mencintai Alvin atau kau akan melupakan Alvin seumur hidupmu!" ucap Marin yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Marin.
"Apa yang ingin kau katakan padaku Marin?"
Marinpun menjelaskan tentang siapa Amanda sebenarnya dan bagaimana hubungan Alvin dengan Amanda di masa lalu.
Semua hal tentang Amanda dan Alvin yang sudah Daniel ceritakan padanya ia ceritakan pada Nerissa, membuat Nerissa terdiam tanpa mampu berkata apapun lagi.
"Pikirkan baik-baik apa yang harus kau lakukan Putri, aku benar-benar tidak ingin kau kecewa dan terluka karena manusia seperti Alvin dan Amanda!" ucap Marin di akhir penjelasannya.
"Jika Alvin kembali menerima Amanda, apa itu artinya Alvin masih mencintai Amanda?" tanya Nerissa.
"Bisa jadi, Alvin bahkan mengabaikanmu bukan?"
"Kau benar Alvin memang mengabaikanku, tetapi dia pasti punya alasan yang tepat kenapa dia meninggalkanku dan lebih memilih Amanda."
"Kenapa kau masih berusaha untuk berpikir positif Putri, sudah jelas Alvin lebih memilih Amanda daripada dirimu, tolong lupakan dia dan......."
"Jika aku bisa aku pasti sudah melupakannya Marin, hatiku terasa sangat sakit saat melihat dia berpelukan dengan Amanda, untuk beberapa saat aku ingin segera pergi menjauh darinya apalagi saat mendengar masa lalunya bersama Amanda, tetapi aku tidak bisa membohongi perasaanku Marin, aku masih mengharapkannya," ucap Nerissa dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Aku akan menemui Alvin besok, aku akan mendengar penjelasannya secara langsung," lanjut Nerissa.
"Tidak Putri, jangan melakukan itu, itu hanya akan membuat hatimu semakin sakit," ucap Marin melarang.
"Setidaknya aku bisa melihat dan mendengar sendiri bahwa dia lebih memilih Amanda dan meninggalkanku, dengan begitu aku akan lebih bisa melupakannya," ucap Nerissa.
Marin hanya menghela nafasnya, menyerah pada keputusan yang Nerissa buat.
"Daniel benar, cinta memang tidak bisa dilogika sama sekali, apa yang ada di hati sangat berbeda dengan apa yang ada di kepala," ucap Marin dalam hati.