
Di daratan.
Dengan penuh semangat Alvin meninggalkan rumahnya untuk pergi ke kantor. Seharusnya ia sedang libur hari itu, tapi ia harus pergi ke kantor untuk memantau persiapan peragaan busana.
Sesampainya di kantor, sudah ada Daniel yang menunggu kedatangannya.
"Aku pikir kau tidak akan datang!" ucap Daniel pada Alvin.
"Tentu saja aku datang, apa semuanya berjalan dengan baik?"
"Pastinya, apa kau lupa siapa penanggung jawab acara ini?" balas Daniel menyombongkan diri.
"Yaaa.... kau memang selalu bisa diandalkan," ucap Alvin dengan menepuk bahu Daniel.
Setelah beberapa lama berada di kantor, Alvinpun mengajak Daniel untuk menemaninya membeli pakaian yang akan ia kenakan saat night party di pantai nanti malam.
Merekapun berangkat ke pusat perbelanjaan terdekat.
"Apa menurutmu aku juga perlu membeli sepatu?" tanya Alvin pada Daniel.
"Hmmmm.... kenapa kau tiba tiba jadi bersemangat seperti ini? apa kau akan menemui seseorang disana nanti?" balas Daniel bertanya.
"Tidak.... aku.... aku hanya ingin membelinya saja," jawab Alvin beralasan.
"Oke baiklah, percayakan penampilanmu pada master Daniel ini hahaha....." ucap Daniel lalu memilih pakaian yang cocok untuk Alvin.
Setelah beberapa lama berada di dalam pusat perbelanjaan, Alvin dan Daniel pun pulang ke rumah masing masing.
Dengan bersenandung riang Alvin berjalan memasuki rumahnya setelah memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.
Saat akan masuk ke kamarnya, Bi Sita memanggilnya.
"Maaf Tuan, tadi ada tamu yang datang mencari Tuan Alvin," ucap bi Sita pada Alvin.
"Tamu? siapa bi?" tanya Alvin.
"Bibi lupa menanyakan namanya Tuan, dia perempuan, cantik dan rambutnya panjang," jawab bi Sita.
"Apa dia mengatakan sesuatu pada bibi?"
"Dia hanya menanyakan keberadaan Tuan setelah itu pergi," jawab bibi.
Alvin diam beberapa saat mendengar jawaban bibi. Ia mencoba untuk berpikir siapa perempuan yang bibi maksud.
"Mungkin teman kantor Alvin bi," ucap Alvin lalu melanjutkan langkahnya masuk ke kamarnya.
Di dalam kamar, Alvin segera menaruh barang barang yang baru saja dibelinya. Alvin kemudian membuka laci di bawah lemarinya dan mengeluarkan sebuah kotak lalu membukanya.
Di dalamnya ada dua gelang berwarna biru dan merah muda, beberapa lembar surat dan sebuah foto seorang perempuan.
Alvin terdiam menatap semua barang yang ada di dalam kotak itu. Ia lalu berdiri dan membuang kotak berserta isinya ke dalam tempat sampah di kamarnya.
Alvin lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang, menatap langit langit kamarnya bersama ulasan memori masa lalunya yang tiba tiba memutar kembali di otaknya.
Alvin kemudian memejamkan matanya, membiarkan bayangan seorang perempuan menari nari dalam gelap pandangnya.
**
Di Seabert.
Nerissa dan Marin sedang berada di ruang baca. Mereka memikirkan apa yang pertama kali harus mereka lakukan saat mereka di daratan.
"Yang pasti kau harus bisa menghasilkan uang dulu," ucap Marin pada Nerissa.
"Uang?"
"Iya, kau harus punya uang untuk memenuhi kebutuhan hidupmu di daratan Putri," ucap Marin.
"Bagaimana caraku mendapatkan uang? apa aku harus bekerja seperti manusia?"
"Tentu saja tidak, kau bisa menangis dan menjual air mata mutiaramu agar kau mendapatkan uang," jawab Marin.
"Aaahhh.... iya... aku pernah membaca tentang itu di buku yang kau tulis," balas Nerissa yang baru saja mengingat beberapa bagian dari tulisan Marin.
"Kau juga harus menemukan mahkotamu terlebih dahulu Putri, agar kau tau dimana mutiara biru Ratu berada," ucap Marin.
"Iya Marin, kau benar, karena cuma mahkota itu yang bisa membawaku pada mutiara biru bunda," balas Nerissa.
"Dan satu lagi, selama kau berada di daratan, kau harus mempelajari kekuatanmu dengan baik agar kau bisa menggunakannya saat kau kembali ke lautan untuk mengalahkan Ran!" ucap Marin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.
Malam itu, Nerissa dan Marinpun bersiap untuk pergi ke daratan. Nerissa memeluk erat sang bunda sebelum pergi meninggalkan istana.
"Jaga dirimu baik baik sayang, kembalilah bersama mutiara biru bunda," ucap bunda Ratu pada Nerissa.
"Nerissa akan segera kembali setelah mendapatkan mutiara biru itu bunda," balas Nerissa yang semakin erat memeluk sang bunda
Dengan bantuan Ratu, Nerissa dan Marinpun meninggalkan istana tanpa sepengetahuan siapapun.
Nerissa dan Marin berenang ke arah tepi pantai yang sudah beberapa kali mereka datangi. Saat mereka sudah berada beberapa meter dari bibir pantai, mereka melihat suasana pantai yang tampak berbeda.
Terlihat banyak lampu berwarna warni di sekitar tepi pantai.
"Ada apa ini Marin? kenapa banyak lampu lampu?" tanya Nerissa pada Marin.
"Entahlah Putri, tapi seharusnya sudah tidak ada orang lagi disana karena ini sudah sangat malam," jawab Marin.
"Apa kita kembali besok saja?" tanya Nerissa.
"Tidak Putri, Ratu sudah membantu kita untuk keluar dari istana dengan diam diam, kita tidak mungkin kembali ke istana sekarang," jawab Marin.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Marin?"
Marin terdiam beberapa saat untuk berpikir.
"Aku akan mencoba kesana untuk memastikan keadaan disana," ucap Marin pada Nerissa.
"Jangan, itu sangat berbahaya Marin!"
"Aku akan berhati hati, kau tunggu saja disini!" ucap Marin kemudian berenang ke arah tepi pantai.
Setelah Marin sampai di tepi pantai dan memastikan tidak ada manusia disana, Marinpun memutar gelang mutiara miliknya 7 kali agar ekornya berubah menjadi kaki.
Marin lalu melambaikan tangannya pada Nerissa, memberi isyarat agar Nerissa segera menghampirinya.
Nerissa pun berenang ke arah Marin dengan hati hati dan waspada.
"Lihatlah Putri, tidak ada siapapun disini!" ucap Marin pada Nerissa.
Nerissa kemudian mendekat ke bibir pantai, memutar 7 kali gelang mutiaranya dan seketika ekornya berubah menjadi sepasang kaki.
"Yeeeeyyyy, kita berhasil Putri," ucap Marin bersorak senang.
Marin kemudian berlari kesana kemari, karena terlalu senang ia tidak sadar jika sudah terlalu jauh dari Nerissa.
Nerissa yang menyadari tidak ada Marin di sebelahnya segera berdiri dengan kedua kakinya, namun ia seketika terjatuh.
"Aaahhh, kaki ini!" ucap Nerissa kesal.
Nerissa kemudian kembali berdiri dengan hati hati, saat hendak melangkahkan kakinya ia kembali terjatuh terjerembab di atas pasir pantai.
Tidak seperti Marin yang sudah lincah menggunakan kakinya, Nerissa masih belum terbiasa dan sedikit kesulitan dengan adanya kaki di bagian bawah tubuhnya.
Nerissa lalu mencoba untuk kembali berdiri, kali ini ia lebih fokus dan hati hati dalam melangkahkan kakinya.
Satu langkah, dua langkah ia lalui dengan baik.
"Aku bisa!" ucap Nerissa senang.
Namun baru saja ia merasa bangga pada dirinya sendiri, ia kembali tersandung kakinya sendiri dan hampir saja terjatuh jika seseorang tidak segera menolongnya.
Seseorang itu menarik tangan Nerissa, membuat Nerissa seketika memutar badannya dan terjatuh ke dalam dekapan seseorang di belakangnya.
"Apa kau baik baik saja?" tanya seorang laki laki yang menolong Nerissa.