
Masih di malam yang sama, Cordelia masih berada di rumah Alvin. Karena ponselnya yang sudah lowbat Cordelia buru-buru mengisi daya ponselnya setelah ia mengunggah foto di sosial medianya.
Namun baru saja ia mencolokkan charger ke ponselnya tiba-tiba ponselnyapun padam. Cordelia membiarkannya lalu mengambil remote TV dan menyalakan TV sambil menunggu Alvin keluar dari kamar.
Menit menitpun berlalu Alvin keluar dari kamarnya dan menghampiri Cordelia di ruang tengah.
"Makan malam kita batal," ucap Alvin lalu duduk di samping Cordelia.
"Batal? kenapa?"
"Papamu yang membatalkannya," jawab Alvin.
"Apa papa menghubungimu?" tanya Cordelia yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.
"Baiklah kalau begitu, kita makan malam berdua saja disini!" ucap Cordelia pada Alvin.
"Pesan saja makanan kesukaanmu, aku tidak lapar" balas Alvin.
"Apa kau tahu di dekat sini ada tempat makan yang baru buka? karena sekarang adalah malam opening kau bisa mendapatkan menu istimewa di sana jika membelinya secara langsung!"
"Apa kau ingin makan malam di sana?" tanya Alvin menerka.
Cordelia hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum manis pada Alvin.
"Aku lelah Delia, kau pergi saja membelinya atau memesannya dari sini!" ucap Alvin yang enggan untuk pergi membeli makanan yang Cordelia inginkan.
"Ayolah Alvin kalau kau tidak ingin makan disana kau bisa membelinya dan membawanya pulang, aku akan menunggumu di sini!" ucap Cordelia.
"Kenapa tidak kau saja yang pergi membelinya? aku tidak sedang lapar sekarang!"
"Aku sangat lapar Alvin, apa kau tega membiarkanku kelaparan? kau tahu bukan perutku akan sakit jika terlalu lama menahan lapar!"
"Tapi....."
"Anggap saja ini ucapan terima kasihmu karena aku sudah membantu membereskan masalah artikel itu sampai tuntas, bagaimana?"
"Aku sudah mengikuti ajakanmu untuk makan siang tadi, bukankah itu sudah cukup?"
"Aku mengajakmu makan siang berdua Alvin, tetapi kau malah mengajak Nerissa dan Daniel, kau membuatku semakin kesal!" ucap Cordelia sambil melipat kedua tangannya di dada.
Alvin menghela nafasnya kemudian beranjak dari duduknya.
"Baiklah aku akan pergi membelinya, setelah itu aku sudah tidak berhutang terima kasih lagi padamu!"
"Oke baiklah," balas Cordelia dengan senyum mengembang.
Alvin kemudian menyambar kunci mobilnya dan keluar dari rumah untuk membeli makanan yang cordelia inginkan.
Sedangkan Cordelia masih duduk di depan TV menunggu Alvin kembali.
**
Di sisi lain, Nerissa sedang berada di kamar Marin malam itu. Ia menemani Marin yang sedang sibuk dengan buku penjualannya.
Sedangkan Nerissa hanya berbaring dengan memainkan ponselnya.
Tiba tiba ada beberapa notifikasi artikel yang muncul di ponselnya.
Mahkota Buruan Kolektor Berhasil Ditemukan
Mahkota dengan Harga Tak Terhingga yang Sangat Cantik
Model Cantik Cordelia dengan Mahkota Termahal
Beberapa judul artikel itu cukup membuat rasa penasaran Nerissa memuncak. Nerissa pun membuka artikel itu satu persatu dan dia begitu terkejut saat melihat foto Cordelia yang sedang mengenakan mahkota yang selama ini Nerissa cari.
"mahkota ini..... ini mahkota pemberian bunda dan ayah bukan? iya...... ini pasti mahkota milikku, kenapa Delia bisa memakainya? apa dia yang menemukannya?" batin Nerissa bertanya dalam hati sambil memperhatikan dengan seksama foto yang terpampang di layar ponselnya saat itu.
"Apa yang kau lihat Putri? kenapa kau serius sekali?" tanya Marin yang melihat Nerissa tampak begitu serius memperhatikan ponselnya.
Nerissa kemudian memperlihatkan artikel yang dibacanya pada Marin.
"Marin lihatlah, bukankah ini mahkota milikku?" ucap Nerissa sambil memperlihatkan artikel dan foto Cordelia pada Marin.
Saat melihat foto Cordelia yang mengenakan sebuah mahkota di kepalanya, Marinpun terkejut karena menyadari mahkota itu adalah milik Nerissa.
Mahkota yang selama ini Nerissa dan Marin cari untuk mendapatkan mutiara biru yang bisa menyelamatkan Seabert kini ada di depan mata mereka.
"Kau benar putri, ini mahkota milikmu yang hilang, tapi kenapa Cordelia bisa memakai mahkota itu? apa dia yang menemukan mahkota itu di pantai?"
"Entahlah Marin, tapi aku harus mengambilnya kembali, aku membutuhkan mahkota itu agar aku bisa segera menemukan mutiara biru milik bunda!" balas Nerissa sambil berusaha menghubungi Cordelia.
Sudah berkali-kali Nerissa menghubungi Cordelia namun tidak pernah tersambung.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang Marin? aku tidak bisa menghubungi Cordelia sama sekali, aku harus segera mendapatkan mahkota itu sebelum mahkota itu berpindah tangan!"
"Sepertinya tidak akan mudah untuk mendapatkan mahkota itu Putri, seperti yang artikel itu tulis mahkota itu adalah mahkota buruan kolektor dengan harga yang sangat mahal!"
"Aku tetap akan mengambilnya dari Cordelia Marin, apapun yang terjadi!" ucap Nerissa sambil membuka sosial media milik Cordelia.
Saat melihat foto Cordelia yang ada di artikel, Nerissa merasa tidak asing dengan lukisan yang ada di belakang Cordelia.
Nerissa segera membuka foto yang baru saja Cordelia unggah untuk memastikan dugaannya. Setelah memperhatikan lebih lama, Nerissapun yakin dimana Cordelia mengambil fotonya saat itu.
Nerissa kemudian beranjak dari duduknya dan merapikan rambutnya bersiap untuk menghampiri Cordelia saat itu juga.
"Kemana kau akan pergi Putri? kau bahkan tidak tahu di mana Cordelia tinggal bukan?"
"Aku memang tidak tahu di mana tempat tinggal Cordelia, tapi aku tahu dimana dia sekarang," jawab Nerissa yakin.
"Memangnya dimana dia sekarang?" tanya Marin.
"Di rumah Alvin, aku akan ke sana sekarang, jika kau mau ikut denganku cepat beranjak dari dudukmu, jika kau tidak ingin ikut denganku aku yang akan pergi kesana sendiri!" jawab Nerissa sambil membuka pintu kamarnya bersiap untuk segera keluar.
"Tunggu Putri, aku ikut denganmu!" ucap Marin lalu segera menutup bukunya dan menyambar ponselnya lalu berlari mengikuti Nerissa.
Nerissa dan Marin masih berdiri di depan rumah mereka untuk menunggu taksi datang.
"Apa kau yakin Cordelia berada di rumah Alvin sekarang?" tanya Marin pada Nerissa.
"Aku yakin Marin," jawab Nerissa yakin.
"Dari mana kau tahu jika dia berada di rumah Alvin sekarang? apa kau baru saja menghubungi Alvin?"
"Bukankah lukisan itu bisa saja milik orang lain? bisa jadi Delia juga memilikinya!"
"Tidak Marin, aku tahu itu adalah kamar Alvin karena aku pernah bermalam di kamarnya!" ucap Nerissa dengan pasti.
"Apa? kau..... kau..... bermalam di kamar Alvin? apa kau juga tidur bersama Alvin?" tanya Marin yang begiru terkejut dengan apa yang Nerissa ucapkan.
Nerissapun segera menutup mulutnya karena tanpa sadar ia sudah mengucapkan rahasianya sendiri.
"Cepat ceritakan padaku Putri, kenapa kau bisa bermalam di kamar Alvin bukan di kamar yang ada di lantai dua?" tanya Marin yang sudah tidak sabar untuk mendengarkan cerita Nerissa.
"Ini bukan waktunya untuk bercerita Marin, kita harus segera menemui Delia dan mengambil mahkota itu dari Delia!" ucap Nerissa sambil membuka pintu taksi yang baru saja berhenti di depannya.
"Tapi......."
"Aku akan menceritakan semuanya padamu Marin, tapi tidak sekarang, jadi sekarang tolong pikirkan saja bagaimana caranya agar Delia mau memberikan mahkota itu padaku!" ucap Nerissa memotong ucapan Marin.
Marin menganggukkan kepalanya meski sebenarnya ia sangat penasaran dengan apa yang pernah terjadi antara Nerissa dan Alvin.
Marin berusaha untuk memikirkan apa yang harus ia dan Nerissa lakukan agar Cordelia bisa memberikan mahkota itu pada Nerissa, mengingat harga mahkota itu teramat sangat mahal di dunia manusia.
Malam itu juga Nerissa harus bisa mendapatkan mahkota itu jika tidak ingin mahkota itu berpindah tangan semakin jauh darinya.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, taksi pun berhenti di depan rumah Alvin. Nerissa dan Marinpun segera turun dari taksi dan masuk ke rumah Alvin.
Karena sudah tidak sabar untuk menemui Cordelia, Nerissa memencet bel sampai beberapa kali.
Di sisi lain Cordelia yang sedang menonton TV merasa sangat terganggu dengan suara bel yang berbunyi.
"Bi Sita, tolong itu siapa yang berisik di depan?" ucap Cordelia bertanya dengan setengah berteriak namun tidak ada jawaban dari Bi Sita yang saat itu sedang berada di belakang.
"Tidak mungkin Alvin bukan yang memencet bel? ini rumahnya sendiri tidak mungkin dia melakukan hal itu!" ucap Cordelia lalu mengabaikan suara bel yang terus berbunyi.
Namun semakin lama dibiarkan seseorang yang memencet bel itu seperti tidak menyerah, membuat Cordelia semakin merasa terganggu.
"Pasti itu Daniel, awas saja kau akan habis di tanganku malam ini!" ucap Cordelia sambil menggenggam kedua tangannya dan beranjak dari duduknya.
Dengan kesal Cordelia membuka pintu dan begitu terkejut saat ia melihat Nerissa dan Marin berdiri di sana.
"Apa yang kau lakukan di sini? apa kau tidak tahu sopan santun? kau....."
"Dimana mahkota itu?" tanya Nerissa tanpa basa-basi.
"Mahkota apa maksudmu?" tanya Cordelia tidak mengerti.
"Jangan berpura-pura lupa Delia, kau sudah membuat heboh sosial media dengan mahkota yang kau pakai!" sahut Marin.
"Aku membuat heboh sebuah sosial media? apa benar?" tanya Cordelia tak percaya.
"Kau....." Nerissa menghentikan ucapannya karena cordelia berlari pergi begitu saja.
Cordelia segera mengambil ponselnya yang ada di meja dan ia baru menyadari jika ponselnya sedang dalam keadaan mati saat itu.
Cordeliapun segera menyalakan ponselnya dan dalam sekejap notifikasi dari ponselnya tidak berhenti sedetikpun.
Cordelia membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang terjadi saat itu. Ia tidak menyangka mahkota yang dipakainya untuk berfoto ternyata memiliki nilai jual yang sangat tinggi bahkan menjadi incaran para kolektor barang mewah dan langka.
"Tunggu dulu..... kenapa Nerissa datang ke sini untuk menanyakan mahkota itu? tidak mungkin mahkota itu miliknya bukan?" tanya Cordelia pada dirinya sendiri kemudian kembali menghampiri Nerissa dan Marin yang masih ada di depan pintu rumah Alvin.
"Kenapa kau menanyakan mahkota itu padaku? apa kau ingin membelinya?" tanya Cordelia pada Nerissa.
"Mahkota itu milikku jadi kau harus mengembalikannya padaku!" jawab Nerissa tegas.
"Hahahaha..... mahkota itu milikmu? apa kau sedang bermimpi sekarang? kau mungkin memiliki mutiara yang sangat mahal tetapi bukan berarti mahkota itu juga milikmu, jadi jangan menipuku Nerissa, aku tidak sebodoh itu!" ucap Cordelia tak percaya.
"Mahkota itu benar-benar milik Putri, kau harus mengembalikannya pada Putri, Delia!" ucap Marin pada Delia.
"Apa kau memiliki bukti kalau mahkota itu milikmu Nerissa? jika kau tidak memiliki buktinya, maka kau tidak bisa mengaku bahwa mahkota itu milikmu!" balas Cordelia.
"Tetapi mahkota itu benar-benar milikku Delia, mahkota itu pemberian kedua orang tuaku, aku......."
"Berhenti mengarang cerita Nerissa, aku memang tidak tahu siapa kalian berdua sebenarnya tetapi untuk memiliki mahkota mewah dan langka itu benar-benar kebohongan terkonyol yang pernah kalian ucapkan!" ucap Cordelia memotong ucapan Nerissa.
"Jika kau mau aku membelinya darimu baiklah, aku akan memberikan mutiara berapapun yang kau inginkan tapi tolong kembalikan mahkota itu padaku!" ucap Nerissa pada Cordelia.
"Mutiara?" tanya Cordelia memastikan.
"Iya, kau ingat aku pernah memberimu lima butir mutiara bukan? aku akan memberimu sebanyak apapun yang kau inginkan asalkan kau mengembalikan mahkota itu padaku!" jawab Nerissa meyakinkan.
Cordelia diam beberapa saat untuk memikirkan ucapan Nerissa. Bukan hanya tentang berapa harga mutiara yang Nerissa tawarkan tetapi ia juga memikirkan siapa sebenarnya Nerissa.
Lima butir mutiara yang Cordelia dapatkan dari Nerissa bahkan bisa membeli perusahaan besar, bagaimana dengan banyak mutiara yang Nerissa janjikan padanya? ia tidak mengerti dari mana Nerissa bisa mendapatkan mutiara yang begitu banyak, semua itu terasa tidak masuk akal bagi Cordelia.
"Hahaha..... kalian berdua benar-benar penipu ulung, tapi kalian salah karena aku tidak akan mudah tertipu!" ucap Cordelia pada Nerissa dan Marin.
"Aku mohon padamu Delia, tolong kembalikan mahkota itu padaku aku benar-benar membutuhkannya!" ucap Nerissa memohon.
"Apa kau akan berlutut padaku jika aku bisa memberikan mahkota itu padamu? apa kau juga akan meninggalkan Alvin jika kau bisa mendapatkan mahkota itu dariku?" tanya Cordelia yang membuat Nerissa terdiam seketika.
Bukan karena tidak ingin berlutut di hadapan Cordelia, tetapi ia tidak ingin meninggalkan Alvin jika ia sudah mendapatkan mahkota miliknya.
Tetapi ia sadar tujuannya pergi ke daratan adalah untuk mengambil kembali mutiara biru milik sang Bunda dengan bantuan mahkota miliknya.
Itu artinya mutiara biru dan mahkota itu lebih penting dari semua hal termasuk Alvin, laki-laki yang selalu membuat hatinya berdebar.
"aku tidak mungkin memilih bertahan untuk Alvin dengan mengorbankan mahkota yang akan membawaku pada mutiara biru, kau tahu pasti Nerissa jalan apa yang harus kau pilih tetapi.... kenapa hatiku ragu!" ucap Nerissa dalam hati.
Sedangkan Cordelia hanya tersenyum tipis melihat Nerissa yang terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaannya.
"mutiara darimu memang sangat mahal Nerissa, tetapi aku tidak akan menjatuhkan harga diriku hanya untuk materi yang bisa aku dapatkan dengan usahaku sendiri, membuat Alvin menjauh darimu adalah hal yang sangat menguntungkan untukku lebih dari seberapa banyakpun mutiara yang kau berikan padaku!" ucap Cordelia dalam hati.
"Aku tidak akan meminta mutiara sebutirpun padamu, kau bisa memiliki mahkota itu asalkan kau berlutut sekarang juga di hadapanku dan berjanji untuk menjauh dari Alvin!" ucap Cordelia pada Nerissa.
Nerissa masih terdiam dengan kedua mata menatap Cordelia yang tersenyum penuh kemenangan di hadapannya.
Nerissa tahu Cordelia sengaja memanfaatkan kesempatan itu untuk membuatnya menjauhi Alvin.
Meski Nerissa tahu apa yang sebenarnya harus ia lakukan tetapi ada keraguan dalam hatinya saat ia harus memilih untuk menjauh dari Alvin.
Entah kenapa ada sesuatu yang menahannya untuk mengiyakan ucapan Cordelia saat itu.
"sadarkan dirimu Nerissa, kau dan Alvin berbeda, mahkota itu jauh lebih penting daripada Alvin!" ucap Nerissa berusaha menyadarkan dirinya sendiri yang enggan untuk menjauh dari Alvin.