
Waktu berjalan terasa begitu lambat bagi Alvin, ia sedang berada di ruangannya saat itu, hanya duduk terdiam menatap layar komputer di hadapannya.
Ia tidak bisa berlama-lama membiarkan hubungannya memburuk dengan Daniel, ia harus memikirkan cara untuk memperbaiki hubungannya dengan Daniel.
Tiba-tiba pintu ruangan Alvin terbuka, Ricky masuk dengan membawa 2 map dan melemparnya ke arah meja kerja Alvin.
"Aku tidak mau tahu, kau harus menghadiri pertemuan ini siapapun partnermu besok!" ucap Ricky lalu segera keluar dari ruangan Alvin begitu saja.
Alvin hanya menghela nafasnya, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya, melonggarkan dasi yang terasa semakin mencekik lehernya.
Alvin mengambil map yang baru saja diberikan oleh Ricky, membukanya, membacanya beberapa saat lalu menaruhnya dengan kasar di atas mejanya.
Alvin memijat keningnya berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya. Bagaimanapun juga ia harus tetap profesional dan tidak melibatkan masalah pribadinya dalam pekerjaannya di kantor.
Alvin kemudian berusaha untuk menghubungi Daniel namun Daniel masih belum menerima panggilannya sampai beberapa kali Alvin menghubungi Daniel namun hanya sia-sia.
Alvin kemudian menaruh ponselnya dan menghubungi seseorang yang akan menggantikan Daniel untuk menghadiri pertemuan bersamanya.
"Fokus Alvin, jangan biarkan masalah pribadimu mengganggu pekerjaanmu!" ucap Alvin sambil mengerjakan pekerjaannya.
Beberapa kali Alvin menghapus laporan yang sudah ia ketik dengan rapi karena tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Ia benar-benar merasa kacau saat itu, membuatnya tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi pada pekerjaannya, alhasil iapun pulang terlambat karena belum menyelesaikan pekerjaannya.
Kriiiiiing kriiiiiing kriiiiiing
Telepon di meja kerja Alvin berbunyi, Alvinpun mengangkatnya sambil melanjutkan mengetik laporan yang harus segera ia selesaikan.
"Kau belum menyerahkan laporanmu Alvin!" ucap Ricky pada Alvin.
"Iya aku sedang mengerjakannya," balas Alvin.
"Kau tahu deadlinemu sebelum jam pulang kantor bukan?"
"Aku tau, aku akan segera menyelesaikannya sekarang juga, jadi tunggu sebentar dan bersabarlah!" ucap Alvin.
"Aku tahu kau dan Daniel sedang bertengkar tetapi jangan seperti anak kecil yang lalai dari tanggung jawabnya hanya karena pertengkaran kalian yang kekanak-kanakan itu!" ucap Ricky kesal.
Tuuuuutttt tuuuuutttt tuuuuutttt
Alvin memutus sambungan teleponnya begitu saja, pikirannya sedang kacau saat itu jadi dia tidak ingin pikirannya semakin kacau karena mendengar omelan Ricky padanya.
Ia sadar ia sudah lalai dalam pekerjaannya karena terlalu memikirkan masalah pribadinya tetapi apa yang Ricky lakukan tidak membantu sama sekali dan hanya membuatnya semakin tertekan.
Setelah beberapa lama berkutat dengan pekerjaannya, Alvin pun menyelesaikan pekerjaannya dengan baik kemudian segera keluar dari ruangannya untuk menyerahkan hasil laporannya pada Ricky.
Alvin mengetuk pintu ruangan Ricky beberapa kali sebelum membukanya. Ia melihat Ricky sedang bersama papanya saat itu. Alvin pun masuk dan menyerahkan hasil laporannya pada Ricky.
"Papa lihat anak kesayangan papa ini terlambat memberikan laporannya pada Ricky, apa cara kerja seperti ini yang selalu papa banggakan pada Ricky?" ucap Ricky membicarakan Alvin pada sang papa.
Mendengar ucapan Ricky, papa Ricky kemudian membawa pandangannya pada Alvin.
"Maaf om, ada sedikit masalah yang mengganggu pikiran Alvin, Alvin janji ini tidak akan terulang lagi," ucap Alvin pada papa Ricky.
"Apapun masalahmu jika itu tidak menyangkut perusahaan maka jangan membuatnya mempengaruhi kinerjamu Alvin!" ucap papa Ricky mengingatkan.
"Baik om, Alvin permisi!" ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala papa Ricky.
Alvin kemudian keluar dari ruangan Ricky dan meninggalkan kantor.
Saat tengah berjalan ke arah tempat parkir tanpa sengaja Alvin berpapasan dengan Daniel. Alvin segera mempercepat langkahnya untuk mengejar Daniel yang menghindarinya.
"Kita harus bicarakan masalah kita Daniel, jangan bersikap seperti anak kecil!" ucap Alvin pada Daniel.
Daniel hanya diam mengabaikan Alvin kemudian membuka pintu mobilnya namun Alvin segera menutup pintu mobil yang baru saja dibuka oleh Daniel.
"Apa kita harus seperti ini hanya karena seorang perempuan? apa persahabatan kita hanya sebatas ini Daniel?" tanya Alvin pada Daniel.
"Kau tanyakan itu pada dirimu sendiri Alvin, kau yang menghianati persahabatan kita!" balas Daniel dengan raut wajah kesal karena menahan emosi.
"Aku hanya berteman dengan Nerissa sama seperti aku berteman dengan Marin, Nerissa mengajakku berlibur karena dia menemukan obat tidur milikku!" ucap Alvin berusaha menjelaskan pada Daniel.
"Berteman? apa kau juga menyimpan foto Marin dalam ponselmu? apa kau juga sering memperhatikan foto Marin? apa kau sering bertemu dengan Marin tanpa sengaja? apa kau juga sering mengantarkan Marin pulang? jangan membawa Marin dalam masalah kita Alvin, dia tidak ada hubungannya dengan semua ini!" balas Daniel yang semakin kesal.
"Aku....."
"Dan tentang obat tidur itu, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu tetapi Nerissa memberitahuku bahwa kau mengkonsumsi obat itu karena masalah pekerjaan yang mengganggu pikiranmu padahal aku tahu tidak ada masalah apapun dalam pekerjaanmu, kau bahkan bisa menjalankan rencanamu dengan lancar bukan?"
Alvin hanya diam tanpa berkata apapun, ia tidak mungkin menceritakan pada Daniel tentang obat tidur yang sudah beberapa hari ia konsumsi.
"Kenapa kau hanya diam? apa ini hanya alasanmu untuk semakin dekat dengan Nerissa? apa semua itu hanya sandiwaramu demi membuat Nerissa semakin dekat denganmu dan menjauh dariku?"
"Tidak Daniel, aku sama sekali tidak berniat seperti itu, aku tahu kau menyukai Nerissa dan aku akan sangat senang jika kau bisa menjalin hubungan dengan Nerissa, aku hanya......"
"Jangan munafik Alvin, aku sudah tidak mempercayai ucapanmu sama sekali!" ucap Daniel lalu membuka pintu mobilnya lalu masuk dan menyalakan mesin mobilnya.
"Aku akan menjauhinya jika memang itu yang kau inginkan, aku akan melupakan semua tentangnya jika hanya dengan itu persahabatan kita bisa kembali!" ucap Alvin pada Daniel.
Daniel hanya diam meski ia mendengar ucapan Alvin dengan jelas. Ia segera mengendarai mobilnya meninggalkan Alvin begitu saja.
"Menjauhinya? melupakannya? aku tidak yakin kau akan melakukan itu hanya demi persahabatan kita yang sudah kau khianati!" ucap Daniel dengan tersenyum tipis.
Sedangkan Alvin masih berdiri di tempatnya melihat mobil Daniel yang semakin jauh meninggalkannya.
"persahabatan kita lebih penting dari apapun Daniel, kau satu-satunya orang yang aku percaya di dunia ini dan aku tidak ingin kehilanganmu!" ucap Alvin dalam hati kemudian berjalan ke arah mobilnya.
Alvinpun mengendarai mobilnya meninggalkan kantor. Sepanjang perjalanan Alvin masih memikirkan hubungannya dengan Daniel yang semakin memburuk.
"aku akan menjauhinya jika memang itu yang kau inginkan, aku akan melupakan semua tentangnya jika hanya dengan itu persahabatan kita bisa kembali!"
Alvin menghela nafasnya mengingat ucapannya pada Daniel. Dalam hatinya ia tidak menginginkan hal itu terjadi tetapi jika memang hanya itu yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki hubungannya dengan Daniel maka ia akan melakukan hal itu demi menjaga persahabatannya.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Nerissa sedang berbaring di ranjangnya menatap bintang-bintang yang ada di langit-langit kamarnya.
Ia tersenyum, melihat bintang-bintang itu membuat Nerissa mengingatkan kebersamaannya bersama Alvin saat mereka berlibur kemarin.
Nerissa kemudian mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi Alvin. Namun sampai beberapa kali Nerissa mencoba, Alvin tidak juga menerima panggilannya.
Nerissa kemudian mengirimkan pesan pada Alvin.
"Bagaimana keadaanmu Alvin? apa kau sudah membaik?"
Menit demi menit telah berlalu hingga sampai satu jam Alvin belum juga membalas pesan Nerissa, ia kemudian mengirim pesan lagi pada Alvin.
Raut wajah Nerissa yang sebelumnya senang kini tampak layu karena Alvin belum juga membalas pesannya dan tidak menerima panggilannya.
Nerissa kemudian menghubungi nomor telepon rumah Alvin untuk memastikan apakah Alvin sudah pulang atau belum.
"Halo dengan siapa saya bicara?" tanya bi sita yang menerima telepon Nerissa.
"Ini Nerissa bi, apa Alvin sudah pulang?"
"Tuan Alvin sudah ada di rumah non, apa ada yang harus bibi sampaikan pada Tuan Alvin?" jawab bi Sita sekaligus bertanya.
"Apa Alvin sedang sibuk bi?"
"Sepertinya tidak karena tuan Alvin sedang berada di kamar sekarang, jika sedang sibuk pasti Tuan Alvin berada di ruang kerjanya," jawab bi Sita.
"Ooh baik Bi terima kasih, tolong jangan memberitahu Alvin kalau Nerissa menghubungi bibi ya!"
"Baik non!"
Panggilan berakhir, Nerissa menghempaskan badannya di ranjang. Ia mulai kesal pada Alvin yang mengabaikannya tiba-tiba.
Tooookkkk tooookk tooookkk
Suara ketukan pintu membuat Nerissa beranjak dari ranjangnya.
"Putri, Daniel mencarimu!" ucap Marin setelah Nerissa membuka pintu kamarnya.
"Dia di sini?" tanya Nerissa pada Marin dengan berbisik.
"Iya, dia menunggumu di depan," jawab Marin.
"Apa kau tidak bisa mengatakan padanya bahwa aku sudah tidur?"
"Kalau kau memang tidak menyukainya setidaknya jangan menghindarinya Putri, itu akan semakin menyakiti hatinya, bukankah kau masih menganggapnya sebagai teman baikmu?"
"Kau benar, tetapi aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik saat ini, jadi aku.....
"Kau harus menemuinya, aku sudah mengatakan padanya untuk memanggilmu keluar!" ucap Marin memotong ucapan Nerissa kemudian berlalu pergi begitu saja.
Nerissa menghela nafasnya kesal kemudian merapikan rambutnya dan keluar untuk menghampiri Daniel yang menunggunya di depan rumah.
"Hai Nerissa, apa aku mengganggumu?" sapa Daniel sekaligus bertanya saat Nerissa berjalan ke arahnya.
"Tidak, aku hanya sedang berbaring di kamar," jawab Nerissa.
"Weekend nanti kau bisa meluangkan waktumu untukku bukan?" tanya Daniel pada Nerissa.
"Iya bisa, kemana kita akan pergi?" jawab Nerissa sekaligus bertanya.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya untuk rencana berlibur kita berdua, tetapi aku tidak akan memberitahumu kemana aku mengajakmu pergi, kau akan tahu setelah kita sampai di sana," jawab Daniel.
"Itu tidak akan jauh bukan?"
"Tidak, hanya sekitar satu jam dari sini, kita akan kembali pulang sebelum malam, aku janji," jawab Daniel yang dibalas anggukan kepala Nerissa.
Untuk beberapa saat mereka berdua duduk ditemani keheningan karena Nerissa hanya diam, begitu juga dengan Daniel.
Tanpa Nerissa tahu, Daniel memperhatikan raut wajah Nerissa yang tampak tidak bersemangat malam itu. Entah kenapa Nerissa seperti tampak sedang bersedih.
"Jika kau tidak ingin berlibur denganku katakan saja Nerissa, aku tidak akan memaksamu!" ucap Daniel yang berpikir jika raut wajah Nerissa seperti itu karena Nerissa memaksakan dirinya untuk menerima ajakan Daniel berlibur.
"Kenapa kau mengatakan seperti itu Daniel? aku sudah berjanji padamu bahwa aku akan berlibur denganmu weekend nanti!"
"Tetapi raut wajahmu terlihat tidak bersemangat, aku tidak akan memaksamu jika kau memang tidak ingin pergi Nerissa!"
Nerissa menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan. Ia tersenyum tipis lalu membawa pandangannya pada Daniel.
"Apa aku terlihat seperti itu?" tanya Nerissa pada Daniel.
"Iya, kau terlihat seperti sedang sedih dan tidak bersemangat," jawab Daniel.
"Jangan salah paham Daniel, ini bukan karenamu, suasana hatiku memang sedang tidak baik-baik saja saat ini, maaf jika aku membuatmu tidak nyaman," ucap Nerissa yang merasa bersalah karena ia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya pada Alvin saat itu.
Entah kenapa ia merasa Alvin sedang mempermainkannya. Alvin yang tiba-tiba mengakui bahwa dirinya mengingat Nerissa kemudian berkata jika akan menjauhi Nerissa, namun tak lama setelah itu Alvin meminta maaf dan kembali mendekati Nerissa.
Setelah dengan mudahnya Nerissa luluh dengan usaha Alvin untuk meminta maaf mereka pun kembali dekat dan tanpa aba-aba Alvin kembali menjauh dari Nerissa, membuat Nerissa semakin kesal pada Alvin.
"Apa yang terjadi denganmu Nerissa? ceritakan saja padaku!"
"Aku hanya sedang kesal pada Alvin, aku tidak mengerti ke mana arah jalan pikirannya," jawab Nerissa.
"Ada apa dengan Alvin? apa dia mengganggumu?" tanya Daniel.
"Dia pernah mengatakan padaku bahwa dia ingin menjauhiku karena dia tahu kau menyukaiku, hal itu membuatku sangat marah dan kecewa padanya tapi kemudian dia meminta maaf dan kita kembali berteman, setelah kita berteman sekarang dia mengabaikanku lagi, dia benar-benar sangat jahat!" ucap Nerissa menjelaskan.
Mendengar hal itu Daniel hanya terdiam, ia tidak pernah tahu jika Alvin pernah berniat untuk menjauhi Nerissa sebelumnya.
"Aku hanya ingin mempunyai banyak teman Daniel, aku ingin berteman denganmu dan aku juga ingin berteman dengan Alvin, apa aku tidak boleh berteman dengan kalian berdua? apa aku harus memilih salah satu di antara kalian berdua? apa aku tidak bisa memiliki kalian berdua sebagai temanku?" tanya Nerissa membuyarkan lamunan Daniel.
"Kau bisa berteman dengan siapapun yang menurutmu baik padamu Nerissa, aku memang menyukaimu tetapi aku tidak berhak untuk membatasi dengan siapa kau boleh berteman," jawab Daniel.
"Itu juga yang sudah aku katakan pada Alvin, tetapi sepertinya Alvin ragu karena dia tidak ingin menyakiti perasaanmu jika dia tetap berteman denganku," ucap Nerissa.
Daniel hanya tersenyum tipis dengan pandangan kosong menerawang ke arah jauh.
"Aaahhhh dinginnya..... apa kita masuk ke rumah saja Daniel?" tanya Nerissa sambil mengusap kedua lengannya yang terasa dingin.
"Masuklah, aku akan pulang sekarang!" jawab Daniel.
"Kenapa? apa aku melakukan kesalahan padamu?"
"Tidak, ini sudah malam, angin malam juga tidak baik untukmu," jawab Daniel kemudian beranjak dari duduknya.
"Daniel aku mohon jangan marah pada Alvin, aku yang meminta untuk berteman dengannya walaupun dia memilih untuk menjauhiku dan sekarang aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, aku tidak tahu apa yang membuatnya mengabaikanku lagi malam ini!" ucap Nerissa pada Daniel.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum dan mengusap kepala Nerissa.
"Masuklah, aku akan pulang!" ucap Daniel yang dibalas anggukan kepala Nerissa.
Nerissa kemudian berjalan meninggalkan Daniel, ia berbalik dan melambaikan tangannya pada Daniel sebelum membuka pintu dan masuk ke rumahnya.
Sedangkan Daniel segera mengendarai mobilnya, meninggalkan rumah Nerissa.