
Hari telah berganti, pagi-pagi sekali Nerissa sudah mandi dan bersiap untuk berlibur bersama Alvin. Tak lupa ia mengenakan hiasan rambut yang merupakan mahkota pemberian ayah dan bundanya.
Sembari menunggu Alvin, Nerissa menemani Marin yang saat itu sedang memasak di dapur.
"Kenapa kau suka sekali makan makanan manusia Marin?" tanya Nerissa pada Marin yang sedang memotong ayam.
"Di daratan aku adalah manusia putri, jadi aku harus benar-benar menjadi layaknya manusia sungguhan," jawab Marin.
"Tapi rasanya terasa aneh di lidahku," ucap Nerissa.
"Kau akan terbiasa jika lebih sering memakannya, jangan hanya memakan rumput laut kering saja!" balas kemarin yang membuat Nerissa terkekeh.
"Kemana kau akan berlibur bersama Alvin Putri?" tanya Marin pada Nerissa.
"Entahlah aku juga tidak tahu, aku membiarkan Alvin memutuskan sendiri kemana harus berlibur hari ini," jawab Nerissa.
"Kau selalu seperti ini Putri, kau yang mengajak Alvin tetapi Alvin juga yang harus memutuskan tempatnya, Alvin pasti sangat kesal padamu!"
"Tidak, dia sama sekali tidak keberatan untuk memutuskan kemana tujuan kita berlibur," balas Nerissa.
"Itu karena dia menyukaimu," ucap Marin.
"Hahaha.... apa yang kau ucapkan Marin, ada ada saja!" balas Nerissa lalu meninggalkan dapur.
"kau memang sangat tidak peka Putri, sudah jelas Alvin menyukaimu," ucap Marin dalam hati sambil tersenyum.
sedangkan Nerissa duduk di ruang tengah sambil menunggu Alvin.
"Alvin menyukaiku? yang benar saja!" ucap Nerissa dalam hati.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah, Nerissapun segera berpamitan pada Marin lalu keluar dari rumahnya untuk menghampiri Alvin yang sudah menunggunya.
"Kemana kita akan pergi Alvin?" tanya Nerissa pada Alvin saat ia sudah berada di dalam mobil Alvin.
Alvin hanya tersenyum kemudian mengambil syal dan menunjukkannya pada Nerissa.
"Aku akan menutup matamu menggunakan ini!" ucap Alvin pada Nerissa.
"Kenapa?"
"Aku akan membukanya saat kita sudah sampai di tempat tujuan kita aku yakin kau akan menyukainya," jawab Alvin.
"Bagaimana jika aku tidak menyukainya?"
"Tidak mungkin Nerissa, aku tahu kau pasti menyukainya," jawab Alvin yakin.
"Baiklah aku akan menurutimu," ucap Nerissa kemudian membiarkan Alvin mengikat syal di kepalanya untuk menutup matanya.
"Apa perjalanan kita akan lama Alvin?" tanya Nerissa saat mobil sudah mulai meninggalkan rumahnya.
"Tidak terlalu lama, semoga saja tidak macet agar kita bisa cepat sampai," jawab Alvin.
Sepanjang perjalanan Nerissa dan Alvin banyak bercerita tentang berbagai hal. Meski Nerissa hanya melihat gelap dalam pandang matanya, ia tidak takut karena ada Alvin di sampingnya.
Ia yakin Alvin akan melindunginya seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya, saat Alvin membantunya keluar dari kolam renang ketika ia tenggelam.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai, Alvin menghentikan mobilnya di tempat parkir.
"Apa kita sudah sampai? apa aku sudah bisa melepas penutup mataku?" tanya Nerissa yang sudah tidak sabar untuk melihat kemana Alvin membawanya.
"Bersabarlah, kita harus keluar dari mobil dulu," jawab Alvin.
"Baiklah," ucap Nerissa sambil meraba pintu berniat untuk membuka pintu mobil Alvin.
Namun Alvin menahan tangan Nerissa, membuat Nerissa kembali merasakan debaran dalam dadanya saat Alvin menyentuh tangannya.
"Tunggu sebentar, aku akan membuka pintunya untukmu," ucap Alvin kemudian keluar dari mobil lalu membuka pintu untuk Nerissa.
"Pegang tanganku dan menunduklah sedikit!" ucap Alvin sambil memberikan tangannya pada Nerissa.
Nerissapun meraih tangan Alvin lalu memegangnya dan sedikit menundukkan kepalanya saat dia keluar dari mobil Alvin.
"Kenapa berisik sekali Alvin? dimana kita sekarang?" tanya Nerissa yang mendengar suara yang begitu berisik.
Alvin kemudian memegang kedua bahu Nerissa dari belakang, menghadapkan Nerissa ke arah bianglala besar yang tampak dari tempat parkir.
"Bersiaplah, aku akan membuka penutup matamu!" ucap Alvin pada Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya tidak sabar untuk melihat suasana di sekitarnya.
"Satu, dua, tiga," ucap Alvin menghitung lalu membuka penutup mata Nerissa.
Nerissapun membuka matanya, mengerjap beberapa saat lalu melihat apa yang ada di depannya. Nerissa terdiam kemudian mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
"Itu...... bukankah itu yang pernah kita lihat saat kita sedang makan berdua?" tanya Nerissa sambil menunjuk bianglala yang berada tak jauh di hadapannya.
Alvin menganggukkan kepalanya kemudian meraih tangan Nerissa dan menggandengnya, mengajaknya untuk masuk ke antrian tiket.
Setelah mendapatkan tiket, Alvin dan Nerissapun masuk ke dalam taman bermain yang cukup besar itu.
Disana terdapat bermacam-macam wahana bermain, baik untuk anak-anak maupun dewasa.
Nerissa berdiri dengan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Ia tidak menyangka jika Alvin akan mengajaknya ke tempat itu karena sepengetahuannya tempat itu belum buka.
Suara teriakan histeris, canda dan tawa terdengar memenuhi tempat itu, memberikan energi positif pada Nerissa.
"Apa kau menyukainya? atau aku membawamu berlibur ke tempat yang salah?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Aku menyukainya Alvin, sangat menyukainya..... aku sudah tidak sabar untuk mencoba semua wahana permainan yang ada disini," jawab Nerissa bersemangat.
"Baiklah kalau begitu, apa yang pertama kali ingin kau coba disini?" tanya Alvin pada Nerissa
"Tentu saja itu," jawab Nerissa sambil menunjuk bianglala besar di hadapannya.
Alvin menganggukkan kepalanya kemudian mengajak Nerissa untuk berbaris di antrian bianglala.
Setelah beberapa lama menunggu, mereka pun masuk ke dalam keranjang besar yang perlahan berjalan naik ke atas.
"Waaaah..... pemandangannya semakin bagus jika dilihat dari sini Alvin!" ucap Nerissa yang memperhatikan pemandangan di bawahnya saat ia berada tepat di titik paling atas.
"Iya kau benar," balas Alvin.
Perlahan keranjang yang mereka naiki berjalan turun ke bawah membuat mereka kembali ke titik awal.
Setelah turun dari bianglala, Nerissa mengajak Alvin untuk mencoba banyak permainan lainnya.
Menit demi menit berlalu berganti menjadi jam yang sudah banyak terlewati, Nerissa tampak begitu bersemangat mencoba setiap permainan yang ada di sana.
Nerissa sama sekali tidak tampak lelah meski sudah banyak permainan yang ia coba, mulai dari permainan yang biasa sampai permainan yang menegangkan yang membuatnya harus berteriak histeris.
Nerissa begitu menikmati liburannya bersama Alvin saat itu. Baginya waktu berjalan begitu sangat cepat saat ia menyadari jika matahari sudah berada tepat di atas kepalanya.
"Apa kau tidak lelah Nerissa? kita sudah berada disini dari pagi dan dari pagi juga kau belum beristirahat sama sekali dari semua permainan yang ada di sini!" tanya Alvin pada Nerissa.
"Maaf Alvin, aku terlalu bersemangat, apa kau sudah lelah?"
Saat sedang berjalan ke arah kafe yang merupakan bagian dari taman bermain itu, samar-samar Nerissa mendengar suara kucing.
"Ada apa Nerissa?" tanya Alvin yang melihat Nerissa tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Aku seperti mendengar suara kucing, sepertinya dia sedang kesakitan Alvin," jawab Nerissa sambil berjalan ke arah sumber suara.
Alvinpun berjalan mengikuti Nerissa.
Tak lama kemudian Nerissa melihat seekor kucing kecil yang tengah terjepit di antara besi besi besar.
Dengan hati-hati Nerissa mengambil kucing itu dari tempatnya terperangkap.
Setelah Nerissa berhasil mengambilnya, ia menyadari jika kucing itu terluka pada bagian kakinya.
Tanpa pikir panjang Nerissa menyentuh luka itu berniat untuk mengobatinya dan tak butuh waktu lama luka yang ada pada kaki kucing itupun menghilang.
Nerissa tersenyum senang saat kucing itu menjilati tangannya seolah berterima kasih padanya karena sudah menyelamatkannya.
"Lihatlah Alvin, dia sangat lucu," ucap Nerissa sambil menggendong kucing itu di hadapan Alvin.
"Iya, tapi......"
Alvin menghentikan ucapannya saat ia menyadari luka yang ada pada kaki kucing itu menghilang.
"Kenapa Alvin?" tanya Nerissa pada Alvin yang hanya diam tidak melanjutkan ucapannya.
"Bukankah tadi kakinya terluka?" tanya Alvin sambil merebut kucing yang Nerissa pegang untuk memastikan kaki kucing itu.
"Mmmmm.... tidak, mungkin kau salah lihat, dia hanya mengeong karena dia terperangkap di antara besi-besi besar itu," ucap Nerissa memberi alasan.
"Benarkah? tapi aku tadi benar-benar melihatnya terluka Nerissa, aku yakin aku melihat kakinya berdarah di bagian ini," ucap Alvin sambil memegang salah satu kaki kucing itu.
"Tidak Alvin, kau salah lihat.... kucing ini baik-baik saja," ucap Nerissa sambil kembali merebut kucing itu dari Alvin lalu menurunkannya, membiarkannya pergi agar Alvin tidak menanyakan hal itu terus-menerus.
"Apa aku salah lihat?" tanya Alvin bergumam.
"Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar," ucap Nerissa sambil menarik tangan Alvin ke arah kafe.
Meski sebenarnya tidak sedang lapar saat itu, Nerissa sengaja melakukan hal itu untuk mengalihkan pertanyaan Alvin tentang kucing yang baru saja mereka lihat.
Alvin dan Nerissapun makan siang berdua di kafe sekaligus beristirahat untuk beberapa saat.
"Terima kasih karena sudah mengajakku ke
sini Alvin, aku sangat senang hari ini," ucap Nerissa pada Alvin.
"Aku ingat kau pernah memberitahuku jika kau ingin menaiki bianglala, karena aku tahu taman bermain ini sudah buka jadi aku memutuskan untuk mengajakmu ke sini karena aku yakin kau pasti akan menyukainya," ucap Alvin.
"Kau benar, aku memang sangat menyukainya tapi sepertinya tujuan kita untuk berlibur berubah," ucap Nerissa.
"Berubah bagaimana maksudmu Nerissa?" tanya Alvin.
"Aku ingin mengajakmu berlibur agar bisa meringankan beban pikiranmu tentang pekerjaan kantor, tetapi malah aku yang bersenang-senang di sini!" jawab Nerissa.
"Aku juga bersenang-senang disini Nerissa, menghabiskan waktu bersamamu sangat menyenangkan, kau juga sudah berhasil untuk meringankan beban pikiranku tentang pekerjaan kantor yang menumpuk," ucap Alvin.
Nerissa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang mendengar ucapan Alvin. Tiba-tiba ia teringat ucapan Marin padanya pagi tadi.
itu karena dia menyukaimu
"aaahhhh tidak..... apa yang sedang aku pikirkan, mana mungkin Alvin menyukaiku," ucap Nerissa dalam hati.
Setelah selesai makan siang dan beristirahat Nerissa dan Alvin kembali ke taman bermain.
Karena sudah banyak wahana permainan yang mereka mainkan, merekapun memutuskan untuk berjalan berjalan saja di sekitar sana.
"Lihat disana, apa kau mau menaikinya?" ucap Alvin sekaligus bertanya sambil menunjuk ke arah perahu yang ada di danau.
Nerissa hanya diam melihat ke arah jari Alvin menunjuk. Nerissa memang sangat bersemangat untuk mencoba banyak permainan, tetapi untuk yang satu itu dia ragu.
Nerissa takut terjadi sesuatu yang membuatnya tercebur ke danau. Meski ada Alvin di sampingnya, ia tidak ingin merusak liburan mereka saat itu jika ia benar benar tercebur ke danau.
"Ada apa Nerissa? apa kau takut?" tanya Alvin membuyarkan lamunan Nerissa.
Nerissa kemudian menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.
"Aku akan menjagamu Nerissa, aku akan pastikan apa yang kau takutkan itu tidak akan terjadi!" ucap Alvin berusaha meyakinkan Nerissa.
"Tapi....."
"Kau percaya padaku bukan?" tanya Alvin sambil menatap kedua mata Nerissa dengan dalam membuat Nerissa luluh seketika.
"Aku percaya padamu Alvin kau pasti akan memastikan bahwa aku tidak akan tenggelam disana, benar bukan?"
"Tentu saja, jangan mengkhawatirkan hal itu, nikmati saja pemandangan yang ada dan aku akan selalu menjagamu Nerissa!" jawab Alvin kemudian meraih tangan Nerissa dan menggandengnya ke arah danau.
Setelah beberapa lama mengantri, sebuah perahu berhenti di depan Alvin dan Nerissa.
"Hilangkan ketakutanmu Nerissa, percaya saja padaku!" ucap Alvin pada Nerissa kemudian menggandeng tangan Nerissa untuk masuk ke dalam perahu kecil itu.
Jantung Nerissa berdetak dengan kencang saat ia sudah berada di atas perahu. Terlebih saat perahu perlahan berjalan meninggalkan dermaga, Nerissa tidak melepaskan tangan Alvin dari genggamannya sedetikpun.
Tanpa ia sadar ia tidak bisa menyembunyikan kegugupan dan ketakutannya saat itu.
"Lihatlah Nerissa, ada buih ikan disana," ucap Alvin sambil menunjuk ke arah beberapa ikan yang tampak naik ke permukaan air.
Nerissapun segera membawa pandangannya ke arah jari Alvin menunjuk.
"Ikan-ikan itu bersenang-senang disini Nerissa, seharusnya kau juga bisa bersenang-senang disini," ucap Alvin pada Nerissa.
"kau tidak tahu Alvin betapa menakutkannya saat aku tahu jantungku membeku, rasanya duniaku telah berakhir saat itu juga," ucap Nerissa dalam hati dengan raut wajah yang masih ketakutan.
Sedangkan Alvin masih berusaha untuk menghilangkan ketakutan Nerissa, ia berusaha untuk membuat Nerissa tenang dan nyaman berada di atas perahu kecil itu.
Alvin kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Nerissa, membuat Nerissa berusaha meraih tangan Alvin namun Alvin sudah lebih dulu memegang bahu Nerissa lalu menariknya ke dalam dekapan Alvin.
Satu tangan Alvin mendekap bahu Nerissa, sedangkan satu tangannya yang lain menggenggam tangan Nerissa.
"Ketakutan hanya akan melemahkanmu Nerissa, kau harus bisa melawannya dan lihatlah keindahan di sekelilingmu Nerissa!" ucap Alvin pada Nerissa.
Nerissa hanya dia mendengarkan ucapan Alvin. Jantungnya yang berdetak kencang karena ketakutan kini terasa berbeda ia rasakan.
Debaran yang ia rasakan saat itu terasa sangat indah saat ia berada dalam dekapan Alvin.
Genggaman tangan dan dekapan Alvin padanya membuatnya nyaman dan sedikit menghilangkan rasa takut yang ia rasakan saat itu.
Perlahan Nerissa mulai benar-benar merasakan kenyaman yang tanpa sadar sudah menggeser rasa takut yang sedari tadi ia rasakan.
"Apa disini juga ada ikan yang besar?" tanya Nerissa pada Alvin.
"Tidak, ikan yang ada disini hanyalah ikan air tawar yang berukuran kecil, lihatlah ikan itu melompat!" jawab Alvin sambil menunjuk salah satu ikan yang baru saja melompat tak jauh darinya.
Nerissa menganggukkan kepalanya dan memperhatikan sekelilingnya dengan rasa bahagia yang saat itu ia rasakan