
Marin dan Daniel masih berada di dalam taksi yang akan membawa mereka ke kantor polisi. Setelah berpikir beberapa saat Marinpun memutuskan untuk tidak mengakui bahwa mutiara yang ada di gubuk itu adalah miliknya.
"Aku tidak tahu apapun tentang mutiara itu, bisa jadi mutiara itu sudah ada disana sebelum aku dan ayah masuk kesana," ucap Marin pada Daniel.
"Apa kau yakin Marin? atau mungkin ayahmu yang membawa mutiara itu dan hendak memberikannya padamu?"
"Tidak mungkin Daniel, pasti ada orang lain yang memilikinya," balas Marin berusaha meyakinkan Daniel.
"Itu mutiara sungguhan yang memiliki nilai jual yang sangat tinggi Marin, tidak mungkin seseorang sengaja meninggalkannya disana," ucap Daniel.
"Lalu apa yang kau mau Daniel? apa kau mau aku mengakui barang yang bukan milikku?"
"Bukan begitu maksudku, aku hanya...."
"Aaahhh kepalaku pusing sekali...." ucap Marin sambil menunduk dan memegang kepalanya.
"Apa yang terjadi padamu Marin? apa kita harus kembali ke rumah sakit?" tanya Daniel khawatir.
"Kepalaku terasa sangat pusing Daniel, tapi aku tidak ingin kembali lagi ke rumah sakit," jawab Marin berbohong.
Marin sengaja berpura-pura pusing agar Daniel tidak mengajaknya ke kantor polisi karena ia tidak ingin berbohong terlalu jauh pada polisi.
"Baiklah, sandarkan kepalamu dan tutup matamu, lebih baik kita pulang sekarang dan beristirahatlah di rumah," ucap Daniel lalu meminta supir taksi mengubah arah ke rumahnya.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, taksipun berhenti, Marin dan Danielpun keluar dari taksi dengan membawa koper besar milik Marin.
"Apa mama dan papamu akan mengizinkanku untuk tinggal disini Daniel?" tanya Marin ragu.
"Mama pasti akan sangat senang jika kau tinggal disini!"
"Bagaimana dengan papamu?" tanya Marin khawatir.
"Papa sangat sibuk dengan pekerjaannya, bisa jadi papa tidak menyadari keberadaanmu disini, lagi pula papa juga tidak terlalu peduli tentang keadaan rumah ini," jawab Daniel.
Dengan ragu Marinpun membawa langkahnya mengikuti Daniel untuk masuk ke dalam rumah besar di hadapannya.
Baru saja pintu terbuka, sudah ada wanita paruh baya yang menyambut Daniel dan Marin.
"Tolong siapkan kamar tamu bi, sebentar lagi teman Daniel akan menggunakannya," ucap Daniel yang dibalas anggukan kepala bibi.
Marin tersenyum tipis saat Daniel mengatakan kata "teman" di hadapannya, membuatnya semakin tersadar akan posisinya dalam hidup Daniel.
"Kau bisa tidur di kamarku untuk sementara sembari menunggu bibi menyiapkan kamar tamu untukmu," ucap Daniel pada Marin.
"Apa tante Yasmin sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Marin.
"Sudah, mama sudah kembali ke rumah tadi pagi, apa kau ingin menemui mama terlebih dahulu?" jawab Daniel sekaligus bertanya.
Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, bagaimanapun juga ia harus menemui sang pemilik rumah sebelum ia tinggal disana untuk sementara.
"Ayo ikutlah denganku," ucap Daniel lalu berjalan ke arah kamar sang mama diikuti oleh Marin.
Daniel mengetuk pintu kamar sang mama beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka dan sang mama berdiri di balik pintu.
"Marin, kau disini rupanya!" ucap mama Daniel yang tampak senang melihat kedatangan Marin.
"Marin baru keluar dari rumah sakit ma, lebih baik mama mengajak Marin mengobrol di dalam kamar agar Marin bisa beristirahat," ucap Daniel pada sang mama.
"Ayo Marin, masuklah dan beristirahatlah di kamar tante," ucap Mama Daniel sambil menarik tangan Marin agar masuk ke dalam kamarnya.
Marinpun membawa langkahnya masuk dan duduk di dalam kamar mama Daniel.
"Apa yang terjadi padamu Marin? kenapa kau bisa berada di rumah sakit?" tanya Mama Daniel dengan raut wajah yang tampak khawatir.
"Mmmm.... Marin......."
"Dia kelelahan dan tiba-tiba pingsan," sahut Daniel menjawab pertanyaan sang mama.
"Lalu bagaimana keadaanmu sekarang Marin? apa kau sudah membaik?" tanya Mama Daniel.
"Marin sudah membaik tante, jadi Marin bisa segera meninggalkan rumah sakit," jawab Marin.
"Baguslah kalau begitu, kau harus menjaga kesehatanmu Marin," ucap Mama Daniel.
"Sebenarnya Marin menemui tante karena ada yang ingin Marin sampaikan pada tante, Marin ingin meminta izin untuk menginap di rumah ini tante," ucap Marin pada Mama Daniel.
"Menginap? benarkah? berapa lama kau akan menginap disini?" tanya Mama Daniel.
"Ada sesuatu yang terjadi di rumah Marin yang membuat Marin dan Nerissa tidak bisa kembali pulang kesana ma, jadi untuk sementara Marin akan tinggal disini dan Nerissa tinggal di rumah Alvin sampai mereka berdua mendapatkan tempat tinggal yang baru dan lebih aman," sahut Daniel menjawab pertanyaan sang mama.
"Apa yang terjadi di rumahmu Marin? apa ada orang jahat yang mengganggumu?" tanya Mama Daniel khawatir.
Marin hanya terdiam dengan membawa pandangannya pada Daniel, seolah memberi kode Daniel agar membantunya untuk menjawab pertanyaan mamanya.
"Sudahlah ma, jangan terlalu banyak bertanya pada Marin, Marin baru saja pulang dari rumah sakit, dia masih pusing dan harus segera beristirahat," ucap Daniel pada sang mama.
"Mama bertanya karena mama mengkhawatirkannya Daniel, jika memang ada orang jahat yang mengganggunya kau harus membantunya dan menangkap orang jahat itu!" balas mama Daniel.
"Iya ma Daniel mengerti, mama jangan terlalu memikirkannya yang terpenting sekarang apa mama mengizinkan Marin untuk tinggal disini?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu? sudah pasti mama mengizinkannya, mama sangat senang karena kau membawa Marin tinggal disini," jawab mama Daniel.
"Terima kasih banyak tante, Marin janji akan segera pindah dari rumah ini setelah Marin mendapatkan tempat tinggal yang baru," ucap Marin pada Mama Daniel.
"Tidak perlu terburu-buru Marin, tante sangat senang jika kau berlama-lama tinggal disini," balas mama Daniel.
Tak lama kemudian bibi mengetuk pintu kamar mama Daniel dan memberitahu jika bibi sudah selesai membereskan kamar tamu.
Daniel pun mengantar Marin masuk ke kamarnya yang berada di lantai 2 dan bersebelahan dengan kamar Daniel.
"Apa kamar ini cukup nyaman untukmu?" tanya Daniel setelah ia mengantar Marin ke kamar.
"Kamar ini bahkan jauh lebih luas daripada kamarku," balas Marin yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Kau tidak takut tidur sendirian bukan?" tanya Daniel memastikan.
"Aku bukan gadis penakut Daniel, kau tahu itu!"
"Hahaha baiklah beristirahatlah, ketuk saja pintu kamarku jika kau membutuhkan sesuatu, kamarku ada di sebelah kamarmu," ucap Daniel yang dibalas anggukan kepala Marin.
"Kalau kau takut tidur sendirian kau juga bisa memanggilku untuk menemanimu," ucap Daniel dengan mengedipkan satu matanya yang membuat Marin menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Daniel hanya terkekeh lalu berjalan keluar dari kamar Marin, membiarkan Marin beristirahat di dalam kamar barunya.
**
Di tempat lain Alvin menghentikan mobilnya saat dia sudah sampai di rumahnya. Alvin kemudian membawa koper Nerissa masuk ke dalam rumahnya bersama Nerissa yang berjalan di sampingnya.
"Iya non, bibi kembali, bibi mohon maaf atas apa yang sudah terjadi beberapa waktu yang lalu non," ucap bibi pada Nerissa.
"Bibi tidak perlu meminta maaf, itu bukan kesalahan bibi dan terima kasih sudah kembali untuk menjaga Alvin," balas Nerissa lalu memeluk bibi.
"Beristirahatlah di kamarmu Nerissa, bibi selalu membersihkan kamarmu meski kau tidak ada disana," ucap Alvin pada Nerissa.
"Terima kasih Bi, bibi baik sekali," ucap Nerissa pada bibi.
Nerissa kemudian naik ke lantai 2 bersama Alvin lalu masuk ke kamar yang akan ia tempati untuk sementara sebelum ia menemukan tempat tinggal baru.
"Katakan padaku jika ada sesuatu yang kau butuhkan Nerissa!" ucap Alvin pada Nerissa yang sudah duduk di tepi ranjang.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, Nerissa tidak bisa berhenti memikirkan Cadassi sejak Nerissa mendengar cerita Marin tentang pertemuan Marin dengan ayahnya.
"kenapa Cadassi tiba-tiba ada disini dan kenapa Cadassi bisa melukai Marin seperti itu? apa yang sebenarnya cadasi lakukan di daratan?" tanya Nerissa dalam hati.
Melihat Nerissa yang lebih banyak diam, Alvin kemudian duduk di samping Nerissa dan menggenggam tangannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan Nerissa?" tanya Alvin dengan menatap wajah cantik Nerissa yang tampak sedang melamun.
Nerissa hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan memberikan senyumnya pada Alvin.
"Jangan terlalu memikirkan masalah Marin dan ayahnya, aku yakin Daniel akan menjaga Marin dengan baik di rumahnya," ucap Alvin yang seolah mengerti isi pikiran Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu membawa dirinya mendekat dalam dekapan Alvin.
"Beristirahatlah dan jangan terlalu membebani pikiranmu dengan hal itu," ucap Alvin sambil membaringkan Nerissa di ranjang.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya lalu melepas hiasan rambut yang ia pakai dan meletakkannya di meja.
Alvin lalu membawa pandangannya ke arah hiasan rambut milik Nerissa, entah kenapa hiasan rambut itu selalu mencuri perhatiannya saat ia tengah bersama Nerissa.
"Dari mana kau mendapatkan hiasan rambut ini nerissa? ini terlihat sangat cantik dan cocok untukmu!"
"Ini adalah pemberian bunda, Alvin," jawab Nerissa.
"Apa hiasan rambut ini sedang rusak sekarang?" tanya Alvin yang membuat Nerissa mengernyitkan keningnya.
"Apa maksudmu?" tanya Nerissa tak mengerti.
"Aku beberapa kali melihat hiasan rambut ini bercahaya, apa ada tombol di sekitarnya yang bisa membuatnya mengeluarkan cahaya?" jawab Alvin sekaligus bertanya.
"Bercahaya?" tanya Nerissa mengulangi ucapan Alvin.
"Iya, aku beberapa kali melihatnya bercahaya, kenapa kau terkejut seperti itu? apa kau baru mengetahuinya?"
"Aku juga beberapa kali melihatnya bercahaya dan aku juga tidak tahu apa yang membuatnya bercahaya, apa kau ingat kapan kau melihatnya bercahaya Alvin?"
"Mmmmm.... aku pertama kali melihatnya bercahaya setelah aku menyatakan perasaanku padamu dan sepertinya setiap aku memelukmu benda ini selalu bercahaya," jawab Alvin sambil berusaha menggali ingatannya.
Nerissa terdiam mendengar ucapan Alvin, ia berusaha memikirkan tentang kemungkinan yang membuat mahkota miliknya bercahaya saat Alvin memeluknya.
"Mungkin ada sesuatu yang salah dengan hiasan rambut milikmu, apa kau mau aku memeriksanya?" tanya Alvin yang segera dibalas gelengan kepala oleh Nerissa.
"Tidak Alvin, tidak perlu, ini adalah barang pemberian Bunda jadi aku tidak ingin siapapun mengotak-atiknya," jawab Nerissa.
"Baiklah kalau begitu, sekarang beristirahatlah, aku akan keluar!" ucap Alvin lalu beranjak dari duduknya.
Sepeninggalan Alvin, Nerissa terdiam dengan menatap mahkota pemberian sang Bunda yang sudah berbentuk hiasan rambut di tangannya.
"apa yang sebenarnya membuat mahkota ini bercahaya? apa mahkota ini hanya bercahaya saat Alvin yang memelukku?" tanya Nerissa dalam hati.
Nerissa kemudian membaringkan badannya di ranjang. Ulasan ingatan tentang mimpinya tiba-tiba memenuhi kepalanya ditambah dengan pertanyaan tentang mahkota miliknya yang tiba-tiba bercahaya di saat-saat tertentu ketika ia bersama Alvin.
"siapa laki-laki yang ada dalam mimpiku itu? jika memang dia laki-laki yang menerima mutiara biru milik Bunda lalu di mana aku bisa menemukannya? aku harus bisa segera menemukan laki-laki itu dan mengambil kembali mutiara milik Bunda," ucap Nerissa dalam hati.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Nerissa dan Alvin sedang menikmati makan malam yang sudah disiapkan oleh bibi.
"Apa kau masih memikirkan tentang Marin dan ayahnya?" tanya Alvin pada Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Apa kau ingin menemui Marin?" tanya Alvin.
"Tidak Alvin, Marin pasti sangat terkejut dengan apa yang dilakukan ayahnya padanya jadi aku akan membiarkannya menenangkan dirinya terlebih dahulu," jawab Nerissa.
"Apa kau mengenal ayah Marin sebelumnya?"
"Aku mengenalnya dan sejauh yang aku tahu ayah Marin sangat menyayangi Marin, entah apa yang sudah terjadi yang membuatnya melukai Marin seperti itu," jawab Nerissa.
"Habiskan makananmu, setelah ini aku akan mengajakmu keluar untuk melupakan beban pikiran yang ada di kepalamu saat ini," ucap Alvin pada Nerissa.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Nerissa.
"Kau akan mengetahuinya nanti," ucap Alvin tanpa menjawab pertanyaan Nerissa.
Setelah selesai makan malam, Alvinpun mengendarai mobilnya keluar dari rumah bersama Nerissa.
Setelah beberapa lama berkendara Alvinpun menghentikan mobilnya di depan sebuah toko bunga.
Alvin kemudian memesan dua buket bunga tulip merah lalu segera membawanya kembali masuk ke dalam mobil setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Kau tahu apa arti bunga tulip merah ini Nerissa?" tanya Alvin.
"Cinta sejati?" terka Nerissa yang dibalas anggukan kepala oleh Alvin.
"Aku sengaja membeli dua buket bunga tulip merah, satu untuk mama papa dan yang satu lagi untukmu," ucap Alvin lalu memberikan satu buket bunga tulip merah pada Nerissa.
"Terima kasih Alvin," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Alvin.
Alvin kemudian mengendarai mobilnya ke arah pantai Pasha. Sesampainya disana ia mengambil buket bunga tulip yang lain dan membawanya ke arah tepi pantai bersama Nerissa.
"Kenapa kau membawa buket bunga tulip itu kesini?" tanya Nerissa.
Alvin hanya tersenyum lalu menggandeng tangan Nerissa untuk menaiki batu karang besar yang ada disana, Alvin kemudian menaruh buket bunga tulip merah yang dibawanya di atas batu karang besar itu.
"Jika aku merindukan mama dan papa aku selalu mendatangi tempat ini dan membawa buket bunga tulip merah yang sering papa berikan untuk mama," ucap Alvin pada Nerissa.
"Kenapa harus di tempat ini?" tanya Nerissa tak mengerti.
"Lebih dari 20 tahun yang lalu ombak besar menghantam kapal yang aku naiki bersama mama dan papa, semua yang ada di kapal itu tidak terselamatkan kecuali aku, aku seperti mendapat kesempatan kedua dalam hidupku karena hanya aku yang selamat dalam kejadian mengerikan yang merenggut kedua orang tuaku," jawab Alvin menjelaskan.
Nerissa yang mendengar hal itu seketika terdiam membeku seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.