Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Mengambil Mutiara Biru



Nerissa terduduk lemah di depan ruangan ICU tempat Alvin dirawat. Untuk beberapa saat ia tenggelam dalam kesedihannya saat mengetahui keadaan Alvin yang sedang kritis saat itu.


percayalah Nerissa, selama keadaannya baik-baik saja tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya setelah kau mengambil mutiara itu


Nerissa kemudian teringat ucapan suara misterius padanya yang membuatnya tidak mungkin mengambil mutiara biru itu dalam tubuh Alvin saat Alvin dalam keadaan kritis seperti saat itu.


"kenapa ini harus terjadi padamu Alvin? kenapa semua takdir yang berliku ini harus aku alami bersamamu? tidak bisakah kita pergi dengan damai? tidak bisakah perpisahan kita tanpa harus ada kesedihan yang menyiksa kita?" batin Nerissa menangis dalam hati.


Nerissa kemudian beranjak dari duduknya, ia membawa pandangannya menatap Alvin yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


Tidak ada yang bisa Nerissa lakukan saat itu karena dokter melarang siapapun untuk masuk ke dalam ruangan Alvin sebelum Alvin berhasil melewati masa kritisnya.


"aku mohon bertahanlah Alvin, setelah kau sadar dan terbangun aku akan mengambil mutiara biru darimu dan menghapus ingatanmu tentangku agar aku tidak lagi menjadi beban untukmu, ini bukan pilihanku yang sesungguhnya tapi inilah yang harus aku lakukan karena memang inilah tujuanku sebenarnya datang ke daratan," ucap Nerissa dalam hati.


Tak lama kemudian Daniel dan Marinpun datang. Marin segera berlari ke arah Nerissa dan memeluknya dengan erat, berusaha untuk menenangkan Nerissa yang saat itu tampak sangat kacau.


"Apa yang terjadi padanya Nerissa? bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Daniel pada Nerissa.


"Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi padanya Daniel, seseorang menghubungiku dan memberitahuku bahwa Alvin kecelakaan dan saat aku tiba disini dia sudah terbaring di ranjang seperti itu dan dokter mengatakan padaku bahwa keadaannya sedang kritis saat ini."


"Kenapa kau ada disini Putri? kenapa kau tidak menemani Alvin di dalam?" tanya Marin pada Nerissa.


"Tidak bisa Marin, dokter melarang siapapun untuk masuk sebelum Alvin melewati masa kritisnya," jawab Nerissa.


"Marin, temani Nerissa disini, aku akan menemui polisi untuk mencari tahu tentang penyebab kecelakaan Alvin," ucap Daniel yang dibalas anggukan kepala Marin.


"aku tidak akan membiarkan siapapun yang terlibat dalam kecelakaan ini hidup dengan tenang, cepatlah bangun Alvin aku tidak akan memaafkan siapapun yang menyebabkan kecelakaan ini terjadi padamu," ucap Daniel dalam hati sambil menatap Alvin dari kaca pintu ruang ICU.


Daniel kemudian membawa langkahnya pergi meninggalkan rumah sakit untuk mencari tahu penyebab kecelakaan Alvin.


Sedangkan Nerissa dan Marin masih duduk di depan ruang ICU dengan harapan agar Alvin segera melewati masa kritisnya.


"Tidak ada apapun yang bisa aku lakukan sekarang Marin, aku bahkan tidak bisa menyelamatkan Alvin dengan kekuatan yang aku miliki," ucap Nerissa dengan terisak sambil sesekali menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Bersabarlah sebentar Putri, aku yakin Alvin akan segera melewati masa kritisnya, setelah itu kau harus segera masuk dan menyembuhkannya agar kau bisa mengambil mutiara biru milik Ratu Nagisa!"


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Hatinya terasa sakit terlebih saat ia menyadari bahwa ia harus segera meninggalkan Alvin setelah ia mendapatkan mutiara biru milik sang Bunda.


Meskipun ia tahu perpisahan akan terjadi, namun ia tidak bisa membohongi perasaannya bahwa perpisahan itu teramat sangat menyakitkan baginya.


**


Di tempat lain, Daniel yang baru saja sampai di kantor polisi segera menemui pihak kepolisian yang bertugas untuk memeriksa penyebab kecelakaan yang terjadi pada Alvin.


Salah satu polisi itu menunjukkan pada Daniel rekaman CCTV yang ada di jalan raya sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi.


Dari CCTV itu terlihat mobil Alvin yang melaju dengan kecepatan normal dan tak lama kemudian sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi lalu menabrak mobil Alvin hingga membuat mobil Alvin terbalik dan terseret beberapa meter.


"Bagaimana dengan keadaan sopir truk itu Pak?" tanya Daniel pada polisi.


"Dia mengalami luka ringan dan sedang dirawat di rumah sakit yang sama dengan Alvin," jawab polisi.


"Apa bapak sudah mengintrogasi sopir truk itu?" tanya Daniel.


"Kami sudah menemuinya, tapi dia memilih menggunakan haknya untuk bungkam sembari menunggu pengacara yang akan mendampinginya," jawab polisi.


"Tolong usut kecelakaan ini sampai tuntas karena saya yakin ada dalang yang bersembunyi di balik kecelakaan ini," ucap Daniel pada polisi.


"Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk mendapatkan informasi yang tepat dari sopir truk dan saksi lain yang berada di lokasi kejadian," balas polisi.


Setelah Daniel mendapatkan identitas sopir truk yang menabrak mobil Alvin, Danielpun segera meninggalkan kantor polisi dan kembali ke rumah sakit untuk menemui sopir truk itu.


Namun saat Daniel akan menemui sopir truk itu ada beberapa orang yang berjaga di depan ruangan sopir truk itu.


"Saya hanya ingin melihat keadaannya," ucap Daniel pada seseorang yang berjaga di depan ruangan sopir truk.


"Maaf, tidak ada siapapun yang boleh menjenguknya selain dokter dan pengacara," balas seseorang itu.


"Baiklah kalau begitu," balas Daniel lalu berjalan pergi begitu saja.


Namun bukannya menyerah, Daniel meminta orang suruhannya untuk menyelidiki tentang sopir truk itu mulai dari keluarganya, pekerjaannya, kebiasaannya hingga transaksi keuangannya karena Daniel curiga bahwa ada seseorang yang meminta sopir truk itu untuk sengaja menabrak Alvin.


Daniel kemudian meninggalkan rumah sakit dan mengendarai mobilnya ke arah kantor. Sesampainya di kantor ia segera menemui Ricky di ruangannya.


Daniel kemudian melemparkan sebuah flashdisk di meja Ricky, membuat Ricky yang tengah fokus bekerja begitu terkejut melihat sikap Daniel yang dinilainya kurang ajar padanya.


"Apa maksudmu? apa kau tidak tahu siapa aku?" tanya Ricky yang segera beranjak dari duduknya.


"Itu adalah file kontrak peragaan busana yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi, jika sampai terjadi sesuatu yang membuat peragaan busana itu gagal aku yakin kau adalah penyebabnya karena sekarang file kontrak itu ada di tanganmu," ucap Daniel lalu keluar dari ruangan Ricky begitu saja.


"aku benar-benar tidak akan memaafkanmu, jika apa yang terjadi pada Alvin akibat dari ulahmu," ucap Daniel dalam hati dengan mengepalkan kedua tangannya dengan penuh emosi.


Daniel kemudian masuk ke ruangannya, mengerjakan pekerjaannya dan mengerjakan apa yang Alvin perintahkan padanya dari beberapa hari yang lalu.


Diam-diam Daniel membantu Alvin untuk menjalankan misinya dalam merebut kembali perusahaan Atlanta group dari keluarga Airlangga.


"kau harus segera bangun Alvin, aku tidak akan mungkin bisa menyelesaikan ini sendiri tanpamu, kau harus segera bangun dan rebut apa yang sudah seharusnya menjadi milikmu," ucap Daniel dalam hati.


**


Waktu demi waktu telah berlalu haripun berganti, namun Alvin masih terbaring di ranjangnya dengan keadaannya yang masih kritis.


Di sampingnya selalu ada Marin yang menemaninya meski sudah berkali-kali Daniel memintanya untuk beristirahat di rumah, namun Marin selalu menolak dan memilih untuk menemani Nerissa di rumah sakit.


Malam itu saat Nerissa tengah terpejam, ia seperti mendengar suara misterius yang sering didengarnya ketika ia sedang memasuki memori seseorang.


"kau tidak akan bisa menyembuhkannya Nerissa, dia bukan manusia biasa seperti yang lain, di dalam tubuhnya ada mutiara biru milik Bunda dan setelah kau mengambilnya, kaupun tidak bisa menyembuhkannya begitu saja," ucap suara misterius itu pada Nerissa.


"Kenapa begitu? bukankah aku bisa menyembuhkannya setelah dia melewati masa kritisnya, lalu aku bisa mengambil mutiara biru itu dari tubuhnya setelah dia sembuh!"


"Tidak bisa Nerissa, Alvin sudah terlalu lama hidup dengan mutiara biru itu dan lebih dari 50% hidupnya dipengaruhi oleh mutiara biru itu sekarang!"


"Tapi bukankah kau bilang tidak akan terjadi hal buruk pada Alvin jika aku mengambil mutiara biru itu dari tubuhnya selama Alvin dalam keadaan baik-baik saja!"


"Kau benar, tetapi kecelakaan itu membuat mutiara biru dalam tubuhnya bekerja dengan keras untuk menyelamatkan Alvin, jika tidak ada mutiara biru itu dalam tubuhnya, Alvin dipastikan sudah meninggal saat kecelakaan itu terjadi," jawab suara misterius itu.


"Apa itu artinya hidup Alvin sekarang bergantung pada mutiara biru itu?"


"Iya, bahkan setelah Alvin melewati masa kritisnya ia tetap dalam keadaan koma, dan jika kau mengambil mutiara biru itu dari tubuhnya dia hanya akan menjadi mayat hidup di dunianya."


"Apa maksudmu? kenapa kau berbicara seperti itu?"


"Setelah kau mengambil mutiara biru itu dari tubuhnya, Alvin hanya akan terbaring di ranjang rumah sakit ini selamanya, dia tidak meninggal dia juga tidak benar-benar hidup, dia di antara keduanya, kau mengerti maksudku bukan?"


Seketika Nerissa membuka matanya dan mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Suara misterius yang bisa ia dengar dengan jelas itu seolah bukan mimpi belaka. Ia merasa sedang berbicara secara langsung dengan suara misterius itu.


"Ada apa Putri? apa kau baru saja mimpi buruk?" tanya Marin yang melihat Nerissa tiba-tiba terbangun dari tidurnya.


Nerissa hanya terdiam dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca lalu memeluk Marin dengan erat.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang Marin? aku tidak bisa berdiam diri seperti ini, tolong katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan Alvin," ucap Nerissa dengan terisak.


"Bersabarlah Putri, aku yakin Alvin juga sedang berusaha saat ini," balas Marin sambil mengusap punggung Nerissa, berusaha untuk menenangkan Nerissa.


Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan Alvin dan memberitahu Nerissa bahwa Alvin sudah melewati masa kritisnya.


Marinpun bisa bernafas lega setelah mengetahui keadaan Alvin yang mulai membaik.


"Lihatlah Putri, kesabaranmu tidak berakhir sia-sia bukan? sekarang kau bisa masuk ke ruangannya lalu sembuhkan dia dan ambil mutiara biru dari dalam tubuhnya agar kita bisa segera kembali ke Seabert," ucap Marin pada Nerissa setelah dokter pergi.


"Tidak Marin, aku tidak bisa melakukannya," ucap Nerissa yang membuat Marin mengernyitkan keningnya.


"Apa maksudmu Putri? kenapa kau tidak bisa melakukannya?"


Nerissapun menjelaskan pada Marin tentang percakapannya dengan suara misterius saat ia tengah tertidur beberapa saat yang lalu.


"Apa kau yakin itu suara misterius yang biasa kau dengar? bagaimana jika kau hanya bermimpi saja?" tanya Marin.


"Tidak Marin, aku yakin itu suara yang sama, aku sangat mengenalnya karena suara itu adalah bagian dari diriku," jawab Nerissa yakin.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang Putri?" tanya Marin yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Nerissa.


Nerissa bisa kemudian beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam ruangan Alvin. Hatinya terasa sangat sakit saat melihat Alvin yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit dengan berbagai macam alat kedokteran yang berada pada tubuhnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang Alvin? kau memiliki benda yang membawaku ke daratan dan aku harus mengambilnya demi kesembuhan Bunda juga demi kebaikan bagi duniaku di bawah laut," ucap Nerissa sambil menyentuh dada Alvin.


"Aku bisa merasakannya, benda itu ada di dalam sana, mutiara biru yang selama ini aku cari," ucap Nerissa dengan berusaha menahan tangisnya.


Di tengah kegelisahan Nerissa tentang keputusan yang harus diambilnya, tiba-tiba Marin masuk ke dalam ruangan Alvin dan mengajak Nerissa untuk bersembunyi.


"Ada apa Marin?" tanya Nerissa terkejut.


"Aku melihat ayah di depan, sepertinya ayah mengetahui keberadaan kita," jawab Marin berbisik.


Nerissa terdiam untuk beberapa saat dengan menatap Alvin yang terpejam di atas ranjangnya.


"Sepertinya kita memang harus segera kembali ke Seabert Marin, aku harus segera menyelesaikan masalah di Seabert dan menyembuhkan Bunda dengan mutiara biru itu," ucap Nerissa dengan air mata yang sudah menggenang di kedua sudut matanya.


"Lalu bagaimana dengan Alvin? apa dia akan baik-baik saja?"


"Aku hanya bisa berharap dia akan baik-baik saja, aku tidak punya pilihan lain selain mengambil mutiara biru itu dari tubuhnya Marin," jawab Nerissa dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.


Nerissa kemudian berjalan ke arah Alvin, menggenggam tangan Alvin untuk beberapa saat lalu menaruh tangannya tepat di atas dada Alvin.


"Maafkan aku Alvin, aku berjanji akan mencari cara untuk bisa menyembuhkanmu setelah aku menyelesaikan semua permasalahanku di Seabert," ucap Nerissa dengan rasa sesak dalam dadanya.


Tiba-tiba sebuah cahaya keluar dari dada Alvin dan tak lama kemudian sebuah mutiara biru berada dalam genggaman Nerissa.


Dengan masih menggenggam mutiara biru itu Nerissa kemudian menyentuh kening Alvin untuk memasuki memori Alvin.


Dengan mata yang terpejam Nerissa berusaha untuk menghapus semua memori Alvin tentangnya, ia tidak ingin menyisakan sedikitpun memori tentangnya agar Alvin tidak merasa tersiksa karenanya.


Bersamaan dengan itu air mata Nerissa jatuh tak terbendung hingga melewati pipinya dan jatuh ke lantai menjadi butir-butir mutiara.


Rasa sakit dalam hatinya membuatnya tidak mempedulikan lagi tentang air matanya yang sudah berubah menjadi mutiara.


Baginya tidak ada perpisahan yang lebih menyakitkan dibanding dengan perpisahan yang terjadi padanya dan Alvin saat itu, dimana dia harus meninggalkan Alvin di saat Alvin tengah terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit, dalam keadaan antara hidup dan mati.


"Maafkan aku Alvin, aku harap kau bisa menjalani hidupmu dengan lebih baik setelah ini dan aku harap kau bisa menemukan perempuan lain yang jauh lebih baik daripada aku, yang bisa memberimu cinta dan seluruh hidupnya hanya untukmu!"