
Nerissa beranjak dari tidurnya dan segera mandi lalu bersiap untuk membantu Marin membuka toko bunga.
Namun saat Nerissa keluar dari kamar dan berjalan ke arah toko bunga, ia belum melihat Marin di sana. Nerissapun segera membawa langkahnya ke arah kamar Marin untuk memastikan Marin baik-baik saja karena Marin tidak pernah terlambat bangun untuk membuka toko sebelumnya.
Ia takut apa yang ia lakukan semalam memberikan dampak yang buruk pada Marin.
Nerissa mengetuk pintu kamar Marin beberapa kali namun belum ada jawaban, Nerissapun membuka pintu kamar Marin tanpa izin dan melihat Marin yang masih terbaring di ranjangnya.
Nerissapun segera menghampiri Marin dan berusaha untuk membangunkannya.
"Marin, bangunlah!" ucap Nerissa sambil menggoyangkan sedikit badan Marin.
Nerissa melakukan hal itu sampai beberapa kali hingga akhirnya Marin menggeliat namun matanya masih terpejam.
"Bangunlah Marin, kau sudah terlambat untuk membuka toko bungamu!" ucap Nerissa pada Marin.
"Mmmm..... sepertinya aku akan libur hari ini Putri," balas Marin tanpa membuka matanya.
"Kenapa? apa kau sedang tidak baik-baik saja?" tanya Nerissa sambil menempelkan telapak tangannya di kening Marin.
"Aku hanya merasa lelah saja dan ingin tidur lebih lama," jawab Marin.
"Baiklah kalau begitu, istirahatlah!" ucap Nerissa kemudian keluar dari kamar Marin.
Nerissa kemudian duduk di depan televisi karena tidak ada apapun yang bisa ia kerjakan. Satu jam pun berlalu Nerissa sangat merasa bosan karena hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun.
"Kenapa Marin belum bangun juga? apa yang sebenarnya terjadi padanya? apa dia seperti ini karena semalam aku masuk ke dalam memorinya?" batin Nerissa bertanya.
Nerissa mendengus kesal dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Mengingat apa yang terjadi semalam membuatnya semakin kesal karena menurutnya kekuatan yang ia miliki tidak bisa membantunya untuk menemukan mutiara biru apalagi membantu Seabert dari kebusukan Cadassi dan Pangeran Merville.
Namun tiba-tiba ia mengingat mimpinya tentang sang Bunda.
dengarkan Bunda sayang, kau adalah Putri Bunda yang baik hati dan penyayang, Bunda yakin kau tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan juga, kau pasti tahu ayah dan bunda tidak pernah mengajarkan kekerasan ataupun kejahatan dalam bentuk apapun, kau pasti mengerti maksud bunda bukan?
"Aku tidak boleh membahas kejahatan dengan kejahatan, aku tidak boleh melakukan kekerasan untuk membalas perbuatan Cadassi dan pangeran Merville, lalu apa yang harus Nerissa lakukan Bunda? Nerissa seperti berjalan tanpa arah di sini, sampai kapan akan terus seperti ini Bunda?" tanya Nerissa pada dirinya sendiri sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Nerissa kemudian beranjak dari duduknya lalu mengambil pisau di dapur untuk mengupas apel. Saat tengah mengupas apel tanpa sengaja jarinya tergores pisau yang membuat jarinya berdarah.
"Aaahhhh.... kau memang bodoh sekali Nerissa, mengupas apel saja tidak bisa!" ucap Nerissa pada dirinya sendiri lalu segera membasuh darah di jarinya pada alir yang mengalir.
Beberapa saat kemudian Nerissa tersenyum melihat jarinya yang terluka.
"Aku akan mencobanya," ucap Nerissa dalam hati.
Nerissa kemudian memegang luka yang ada pada jarinya dan berkonsentrasi agar luka pada jarinya bisa sembuh dengan segera.
Tanpa menunggu lama saat Nerissa mengangkat tangannya yang memegang luka di jarinya, ia begitu terkejut karena luka itu tiba-tiba menghilang. Ia tidak lagi merasakan perih karena luka akibat sayatan pisau pada jarinya.
"Lukaku menghilang? apa aku sedang bermimpi sekarang?" tanya Nerissa sambil melihat ke sekelilingnya.
Nerissa kemudian mencubit dirinya sendiri dan mengaduh kesakitan akibat cubitannya.
"Tidak..... aku tidak sedang bermimpi sekarang, aku benar-benar bisa menyembuhkan lukaku sendiri," ucap Nerissa yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Apa yang kau katakan Putri? apa kau sedang mengigau?" tanya Marin yang sudah berada di belakang Nerissa tanpa Nerissa tahu.
"Marin...... sejak kapan kau berada di sana?" balas Nerissa bertanya dengan sedikit gugup.
"Baru saja, saat kamu mengatakan bahwa kau sedang tidak bermimpi dan bisa menyembuhkan lukamu sendiri, apa maksudnya Putri?"
"Mmmm.... aku..... aku...."
"Kalau kau masih mengantuk kembalilah tidur, aku tidak akan membuka toko bunga hari ini karena aku hanya ingin beristirahat di rumah!" ucap Marin memotong ucapan Nerissa sambil menguap dan mengambil air minum.
"Baiklah," balas Nerissa kemudian berjalan masuk ke kamarnya.
Saat Marin sedang minum, ia melihat apel dan pisau yang ada di meja.
"Darah? apa ini darah Putri? apa Putri terluka saat mengupas apel?" tanya Marin pada dirinya sendiri kemudian segera berlari kecil ke arah kamar Nerissa.
Marin membuka pintu kamar Nerissa tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Ada apa marin? kau membuatku terkejut saja!" tanya Nerissa yang terkejut dengan kedatangan Marin yang tiba-tiba.
Marin tidak menjawab pertanyaan Nerissa, ia segera berdiri di hadapan Nerissa dan meraih tangan Nerissa untuk memastikan apakah jari Nerissa terluka atau tidak.
"Ada apa Marin? katakan padaku!"
"Aku melihat apel dan pisau di meja dan terdapat bercak darah disana, aku pikir kau terluka saat mengupas apel, tetapi tidak ada luka sama sekali di jarimu Putri!" jawab Marin.
Nerissa hanya dia mendengar ucapan Marin. Ia berpikir untuk memberitahu Marin tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa kau baik-baik saja Putri? atau ada bagian lain yang terluka? aku akan segera mengobatinya jika memang kau terluka!" ucap Marin mengkhawatirkan Nerissa.
"iya aku harus memberitahu Marin tentang apa yang terjadi semalam, Marin sudah sangat baik padaku, sudah seharusnya aku lebih terbuka padanya tentang semua yang terjadi padaku, tentang semua yang aku rasakan!" ucap Nerissa dalam hati.
"Kenapa Putri? kenapa kau diam saja?" tanya Marin yang melihat Nerissa hanya terdiam tanpa menjawab apapun.
"Aku tidak terluka Marin, aku baik-baik saja," jawab Nerissa.
"Lalu darah yang ada di pisau itu?"
"Aku akan menceritakan semuanya padamu jadi dengarkan aku baik-baik," ucap Nerissa.
Marin menganggukkan kepalanya bersiap untuk mendengarkan semua cerita Nerissa.
Nerissapun menceritakan pada Marin tentang kekuatan yang ia miliki dan ia sadari sejak ia masih berada di Seabert. Nerissa juga menjelaskan apa yang terjadi padanya saat ia memasuki memori Daniel dan Marin.
Tak lupa Nerissa menjelaskan pada Marin tentang suara misterius yang ia dengar saat ia memasuki memori Daniel ataupun Marin.
Semua ucapan yang dijelaskan oleh suara misterius itu Nerissa ceritakan pada Marin hingga tidak ada apapun lagi yang Nerissa sembunyikan dari Marin.
Marin terdiam menelan ludahnya saat mendengar semua yang Nerissa jelaskan padanya, semua itu terasa tidak masuk akal namun ia tahu hal seperti itu wajar dimiliki oleh keturunan raja dan ratu.
"Aku sudah menceritakan semuanya padamu Marin, maaf karena baru memberitahumu sekarang," ucap Nerissa di akhir ceritanya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Marin? aku bahkan tidak tahu apa kekuatan ini bisa menghentikan rencana Cadassi dan Pangeran Merville? aku tidak tahu apa aku bisa menyelamatkan Seabert dengan kekuatan ini!" ucap Nerissa tak bersemangat.
"Dengan kekuatan yang kau miliki pasti ada cara yang bisa kita lakukan untuk melawan ayahku dan Pangeran Merville, Putri!" ucap Marin berusaha berpikir positif.
"Bagaimana caranya Marin? aku bahkan tidak tahu apa kekuatan yang aku miliki ini berguna atau tidak!"
"Jangan bicara seperti itu Putri, kekuatan yang kau miliki pasti sangat berguna, kau hanya perlu fokus untuk benar-benar memahami semua kekuatan yang kau miliki, aku yakin akan ada jalan untuk kita bisa melawan ayah dan pangeran Merville!" ucap Marin pada Nerissa.
Nerissa menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Marin.
**
Di tempat lain Alvin baru saja sampai di kantornya dan segera masuk ke ruang kerjanya.
Baru saja Alvin duduk dan menyalakan komputer di mejanya, seseorang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
"Apa-apaan ini Alvin?" tanya Ricky sambil melemparkan sebuah map di meja kerja Alvin.
Alvin lalu mengambil map itu dan membacanya.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan Alvin? beberapa saat yang lalu kau sangat ingin perusahaan ini tetap berdiri tetapi kau malah menolak klien besar yang sudah susah payah aku dapatkan!" ucap Ricky dengan penuh emosi.
"Aku tetap pada pendirianku Ricky, aku ingin perusahaan ini tetap berdiri dan membuatnya jauh lebih baik dari sebelumnya!"
"Aku adalah presiden direktur disini Alvin, semua keputusan ada di tanganku, kau tidak bisa......"
"Aku sudah mendapatkan izin dari papamu sendiri, papamu sudah memberikan wewenang padaku untuk membantumu memajukan perusahaan ini, jadi inilah yang aku lakukan demi kebaikan perusahaan!"
"Kebaikan perusahaan apa yang kau maksud? kau akan menolak klien besar yang sudah susah payah untuk aku dapatkan!"
"Klien besar itu tidak sesuai dengan perusahaan kita Ricky, aku tahu pasti tujuan mereka bersedia menjadi klien perusahaan kita karena mereka hanya ingin Atlanta Grup semakin kehilangan jati diri dengan memasukkan fashion ciri khas mereka pada fashion milik kita!" ucap Alvin dengan tegas.
"Apa kau pikir aku tidak memikirkan hal itu sebelumnya? justru karena itu mereka akan membawa Atlanta Grup semakin dikenal banyak orang, mereka akan......"
"Atlanta Grup akan tetap dikenal banyak orang sebagai Atlanta Grup yang sesungguhnya, bukan karena campur tangan perusahaan lain, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi Ricky!" ucap Alvin memotong ucapan Ricky.
"Aku juga tidak akan membiarkanmu melakukan apapun yang kau inginkan Alvin, kau tidak bisa mencegah keputusanku!"
"Aku sudah mendapatkan izin dari papamu, sekarang lakukan saja apa yang kau inginkan jika kau memang tidak ingin posisimu aman saat ini!" ucap Alvin yang membuat Ricky semakin geram kemudian keluar dari ruangan Alvin.
Ricky kemudian menghubungi papanya untuk memastikan tentang apa yang baru saja Alvin ucapkan padanya.
Belum sampai Ricky menghubungi sang papa, pintu ruangannya terbuka tiba-tiba dan sang papa pun masuk.
"Kenapa papa kesini?" tanya Ricky pada sang papa.
"Papa tahu kau pasti akan mencari papa, jadi papa sengaja kesini sebelum kau menghubungi papa!" jawab papa Ricky kemudian duduk di depan meja kerja Ricky.
"Apa sebenarnya yang papa inginkan? kenapa papa menyetujui penolakan Alvin pada klient besar yang sudah susah payah Ricky dapatkan?"
"Papa memang sudah lama meminta Alvin untuk membantumu mengelola perusahaan, bukankah papa sudah pernah bilang kau harus banyak belajar dari Alvin, Ricky!"
"Ricky sudah banyak berusaha pa dan itu adalah salah satu usaha Ricky untuk memajukan Atlanta Grup dengan mendapatkan klient besar yang akan....."
"Yang akan menjatuhkan Atlanta Grup? itu maksudmu?" ucap sang papa memotong ucapan Ricky.
"Kenapa papa berkata seperti? itu justru klient besar kita yang akan membawa Atlanta Grup menjadi jauh lebih maju daripada saat ini!"
"Kau memang belum banyak berubah Ricky, kau tidak bisa membaca situasi yang sebenarnya terjadi, sangat jauh berbeda dengan Alvin yang bisa cepat tanggap pada situasi yang ada!" ucap sang papa yang kecewa dengan sikap Ricky.
"Berhenti membandingkan Ricky dengan Alvin pa, Ricky dan Alvin memiliki cara kerja yang berbeda!"
"Dan cara kerjamu itu salah total Ricky, itu kenapa papa meminta Alvin untuk mendampingimu agar perusahaan ini tidak semakin jatuh!"
"Tapi pa....."
"Keputusan papa tidak akan berubah, papa akan tetap mengizinkan Alvin untuk menolak klien besar mu itu!" ucap sang papa sambil beranjak dari duduknya.
Ricky hanya diam dengan menggenggam kedua tangannya karena kesal pada sikap sang papa.
"Jika kau masih ingin mempertahankan posisimu lakukan tugasmu dengan benar atau kau akan benar-benar tersingkirkan dari posisimu saat ini!" ucap sang papa sebelum keluar dari ruangan Ricky.
Ricky menggebrak mejanya dengan kasar saat sang papa sudah benar-benar keluar dari ruangannya.
Ia tidak menyangka akan mendapat ancaman seperti itu dari papanya sendiri.
"aku tidak akan membiarkan hal ini terus terjadi, aku tidak bisa membiarkan papa lebih mempercayai Alvin daripada aku, meskipun aku presiden direktur disini tetapi aku seperti tidak mempunyai kekuatan apapun karena papa lebih mempercayai Alvin!" ucap Ricky geram dalam hati.
Waktu pun berlalu jam telah berganti. Alvin menyimpan semua file pekerjaannya dan membereskan meja kerjanya sebelum meninggalkan ruangannya.
Tooookkkk tooookk tooookkk
Daniel mengetuk pintu ruangan Alvin sebelum ia masuk.
"Apa kau akan pergi?"tanya Daniel pada Alvin.
"Iya, aku akan makan siang di luar," jawab Alvin.
"Apa kau ingin menemui seseorang?" tanya Daniel yang hanya dibalas yang bukan kepala Alvin.
"Siapa?" lanjut Daniel bertanya.
"Yang pasti bukan Nerissa, jadi jangan khawatir!" jawab Alvin sambil tersenyum tipis kemudian meninggalkan Daniel begitu saja.
Daniel masih berdiri di tempatnya memikirkan siapa seseorang yang akan Alvin temui saat itu.
Di sisi lain Alvin yang sudah meninggalkan kantor, mengendarai mobilnya ke arah kafe yang tak begitu jauh dari kantor tempatnya bekerja.
Sesampainya di kafe, Alvin segera membawa langkahnya masuk. Alvin memperhatikan setiap bangku yang ada disana untuk mencari seseorang yang sudah menunggunya.
Alvin tersenyum saat seorang perempuan melambaikan tangan padanya. Alvin pun segera membawa langkahnya ke arah si perempuan.
Perempuan itu pun berdiri, menyambut kedatangan Alvin. Mereka berpelukan sebelum duduk di kursi masing-masing.