Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Ungkapan Perasaan Alvin



Setelah Cordelia lebih tenang, Alvinpun mengajak Cordelia untuk turun dari rooftop. Alvin lalu mengajak cordelia masuk ke ruangannya.


"Apa kau mendengar semuanya Alvin?" tanya Cordelia pada Alvin.


"Iya, aku mendengar semua percakapanmu dengan Ricky," jawab Alvin sambil mengerjakan pekerjaannya.


"Aku tidak mengerti apa yang aku lakukan nanti jika kau meninggalkanku begitu saja setelah kau bersama Nerissa," ucap Cordelia dengan menundukkan kepalanya.


"Aku tidak akan melakukan hal itu Delia, apa kau tidak mempercayaiku?"


"Aku mempercayaimu Alvin, hanya saja ketakutan itu masih ada," jawab Delia.


"Aku mengerti, kau tidak perlu terlalu memikirkannya, jalani saja apa yang ada di hadapanmu kau akan tahu jawaban dari semua pertanyaanmu setelah kau menjalaninya," ucap Alvin.


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu tentang Nerissa."


"Ada apa dengan Nerissa?" tanya Alvin.


"Dia berbohong padamu," jawab Cordelia yang membuat Alvin menghentikan tangannya yang sedari tadi sibuk mengetik.


"Apa maksudmu?" tanya Alvin dengan membawa pandangannya pada Cordelia.


"Luka yang ada di tangan Nerissa bukan karena dia jatuh dari sepeda, tetapi karena dia menyelamatkanku dari mobil yang hampir saja menabrakku," jawab Cordelia menjelaskan.


"Benarkah? tapi kau juga baik-baik saja bukan?" tanya Alvin khawatir.


"Aku baik-baik saja, aku tidak terluka sama sekali, justru Nerissa yang terluka tetapi dia menolak saat aku ingin mengobati lukanya," jawab Cordelia.


"Aku sudah mengobati lukanya tetapi dia tidak menceritakan kejadian itu sama sekali padaku!"


"Mungkin dia tidak ingin kau mengkhawatirkannya Alvin," ucap Cordelia yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.


"Aku harus pergi sekarang, aku harus meluruskan masalahku dengan Nerissa," ucap Cordelia lalu beranjak dari duduknya.


"Berhati-hatilah Delia," ucap Alvin yang dibalas anggukan kepala Cordelia lalu keluar dari ruangan Alvin.


Tak lama setelah Cordelia keluar, pintu ruangan Alvin kembali terbuka, Danielpun masuk dan duduk di hadapan Alvin.


"Apa Delia baru saja dari sini?" tanya Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.


Alvin kemudian menjelaskan semua yang terjadi antara Cordelia dengan Ricky beberapa waktu lalu.


"Waaaah dia benar-benar gila, dia bahkan tidak melihat Delia sebagai adiknya," ucap Daniel dengan menggelengkan kepalanya setelah mendengar cerita Alvin.


"Kau benar, Ricky bersikap baik hanya untuk memanfaatkan Delia," balas Alvin.


"Aku yakin Ricky tidak akan tinggal diam, dia pasti menyiapkan rencana lain untuk menggagalkan peragaan busana bulan depan," ucap Daniel.


"Jangan khawatir, aku sudah mempersiapkan semuanya dengan baik, termasuk kemungkinan buruk yang akan terjadi nanti," balas Alvin.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya, ia mempercayai Alvin sepenuhnya karena ia tahu Alvin memang selalu penuh perhitungan dalam melakukan apapun.


**


Di sisi lain, Cordelia mengendarai mobilnya ke arah toko bunga Marin, tidak hanya untuk bertemu dengan Nerissa tetapi juga untuk menemui Marin.


Sesampainya disana, seperti biasa Marin tidak pernah menyambutnya dengan hangat.


"Lebih baik kau pergi, aku tidak akan membiarkanmu menemui Putri," ucap Marin.


"Aku kesini untuk menemuimu juga Marin," balas Cordelia.


"Ada perlu apa kau menemuiku? aku tidak akan mudah terpengaruh denganmu Delia!"


Cordelia tersenyum tipis lalu membawa langkahnya duduk pada kursi yang ada di dalam toko bunga.


"Jika aku meminta maaf padamu kau tidak akan mempercayaiku bukan?"


"Tentu saja tidak, kau sama liciknya dengan Amanda," jawab Marin tanpa ragu.


"Aaahh rupanya aku sejahat itu di matamu," ucap Cordelia sambil menggangguk anggukkan kepalanya pelan.


"Tidak perlu berbasa-basi Delia, sebenarnya apa tujuanmu kesini?" tanya Marin yang sudah kesal pada Cordelia.


Entah kenapa melihat wajahnya saja sudah membuat emosi Marin naik.


"Ada satu hal yang baru aku sadari Marin, satu hal yang mengubah cara berpikirku dan hanya dengan satu hal ini bisa membuatku cukup berani untuk meminta maaf padamu dan juga Nerissa," ucap Cordelia bersungguh-sungguh.


"Kau tidak perlu berpura-pura lagi Delia, kau juga pernah meminta maaf dan kau melakukan kesalahanmu lagi, kau selalu memanfaatkan kebaikan Putri hanya untuk....."


"Aku bersungguh-sungguh kali ini Marin, aku tahu kau tidak akan mudah percaya padaku tapi itu tidak akan merubah keputusanku," ucap Cordelia memotong ucapan Marin.


"Jangan salahkan aku jika aku tidak bisa mempercayaimu Delia, aku seperti ini karena sikap burukmu sendiri."


"Iya aku mengerti, aku juga tidak akan memaksamu untuk memaafkanku, lambat laun kau akan mengerti bahwa aku benar-benar meminta maaf dan menyesali semua yang sudah aku lakukan," ucap Cordelia.


Tak lama kemudian Nerissa datang lalu masuk ke dalam toko bunga. Nerissa terdiam beberapa saat ketika melihat Cordelia yang duduk di dalam toko bunga.


"dia pasti memintaku untuk memutuskan apakah aku harus meninggalkan Alvin atau tidak," ucap Nerissa dalam hati.


"Delia, aku....."


"Lupakan apa yang aku katakan padamu kemarin Nerissa, aku kesini untuk meminta maaf padamu," ucap Cordelia yang segera beranjak dari duduknya.


"Meminta maaf?" tanya Nerissa tak percaya.


"Duduklah ada hal penting yang ingin aku katakan padamu," ucap Cordelia sambil menarik tangan Nerissa untuk duduk.


Nerissapun mengikuti langkah Cordelia lalu duduk di samping Cordelia.


"Aku sudah memikirkan semuanya baik-baik Nerissa, tentang apa yang pernah aku katakan padamu lupakan saja, maaf jika itu mengganggu pikiranmu," ucap Cordelia.


"Lalu bagaimana dengan Alvin?" tanya Nerissa.


"Dia baik-baik saja, aku sudah memutuskan untuk merelakan impianku, tidak hanya demi Alvin tapi juga demi diriku sendiri, karena aku tidak ingin menyesal suatu hari nanti," jawab Cordelia.


Nerissa hanya terdiam, ia masih berusaha untuk mencerna dengan baik setiap ucapan Cordelia padanya.


"Aku kesini untuk meminta maaf padamu Nerissa, aku juga sudah meminta maaf pada Marin, tetapi sepertinya dia tidak bisa memaafkanku, tapi aku mengerti mungkin memang sulit bagi kalian berdua untuk memaafkanku setelah apa yang sudah aku lakukan," ucap Cordelia.


"Sebenarnya apa yang terjadi Delia? kenapa kau tiba-tiba seperti ini?" tanya Nerissa.


"Ada satu hal yang baru aku sadari Nerissa, tentang perasaanku pada Alvin, mungkin selama ini aku sudah salah mengartikan perasaanku padanya," jawab Cordelia


"Apa maksudmu?" tanya Nerissa tak mengerti.


"Aku berpikir bahwa aku mencintai Alvin sebagai kekasihku, tetapi sekarang aku sadar bahwa aku menyayanginya seperti rasa sayang seorang adik kepada kakaknya, aku membencimu karena aku takut Alvin meninggalkanku karenamu, aku takut aku kehilangan kasih sayang seorang kakak karena hanya dari Alvinlah aku bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari seorang kakak," jawab Cordelia menjelaskan.


"Aku baru menyadarinya sekarang Nerissa, aku memang sempat menolak fakta itu tapi semakin lama aku memikirkannya aku semakin sadar jika aku memang membutuhkan kasih sayang Alvin layaknya seorang kakak, bukan seorang kekasih," ucap Cordelia.


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Alvin sekarang?" tanya Nerissa.


"Tidak ada yang berubah Nerissa, hanya saja aku masih takut jika suatu hari nanti Alvin akan meninggalkanku karena perempuan lain yang dekat dengannya, rasanya sangat menyedihkan jika aku kehilangan satu-satunya kakak yang sangat menyayangiku seperti Alvin," jawab Cordelia.


"Alvin tidak mungkin meninggalkan adiknya, sebesar apapun kemarahan Alvin padamu dia tidak pernah membencimu Delia," ucap Nerissa.


"Iya kau benar, mungkin aku tidak akan terlalu takut jika perempuan yang dekat dengan Alvin itu adalah dirimu," balas Cordelia yang membuat Nerissa tersenyum canggung.


"Aku tahu kau mencintainya Nerissa dan aku juga tahu bahwa Alvin sangat mencintaimu, aku tidak akan menjadi penghalang lagi diantara kalian berdua, apa kau bisa mempercayaiku Nerissa?"


Nerissa terdiam untuk beberapa saat, dalam hatinya ia mempercayai Cordelia karena ia memang tidak pernah berpikiran buruk pada manusia.


Namun ia masih ragu untuk memulai hubungan yang baru dengan Alvin.


"Aku mengerti jika kau masih meragukanku, aku akan membuktikan padamu dan juga Marin bahwa kali ini aku bersungguh-sungguh meminta maaf pada kalian berdua," ucap Cordelia.


"Delia, aku......"


"Kau tidak perlu terlalu memikirkannya, jalani saja hubunganmu dengan Alvin seperti yang kau inginkan," ucap Cordelia memotong ucapan Nerissa lalu beranjak dari duduknya.


"Aku pergi dulu," ucap Cordelia lalu berjalan keluar dari toko bunga Marin.


Setelah Cordelia keluar, Marinpun segera membawa langkahnya duduk di samping Nerissa.


"Apa kau mempercayainya Marin?" tanya Nerissa pada Marin.


"Entahlah Putri, tapi sepertinya dia bersungguh-sungguh," jawab Marin namun terdengar ragu.


"Benarkah? tidak biasanya kau mempercayai Delia dengan mudah!"


"Aku tidak sepenuhnya mempercayainya, hanya saja dia terlihat lebih meyakinkan daripada permintaan maafnya yang dulu," balas Marin.


"Aku sependapat denganmu," ucap Nerissa dengan menganggukkan kepalanya pelan.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Nerissa dan Marin berjalan pulang dari minimarket.


"Besok aku ingin menutup toko bunga, tapi aku malah mendapatkan pesanan buket bunga yang sangat banyak," ucap Marin menggerutu.


"Semangatlah Marin, aku akan membantumu," ucap Nerissa menyemangati Marin.


"Terima kasih Putri, kau memang yang terbaik," ucap Marin sambil mengacungkan ibu jarinya pada Nerissa.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di samping Nerissa dan Marin, membuat Nerissa dan Marin menghentikan langkah mereka.


"Masuklah, aku akan mengantar kalian pulang," ucap Alvin dari balik kemudi.


Nerissa dan Marinpun masuk ke dalam mobil Alvin.


Alvin lalu mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa. Sesampainya disana mereka pun turun dari mobil.


"Apa aku bisa berbicara denganmu sebentar?" tanya Alvin pada Nerissa.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya lalu duduk di kursi yang ada di depan rumahnya, sedangkan Marin segera masuk ke dalam rumah.


"Apa tadi siang Delia menemuimu?" tanya Alvin pada Nerissa.


"Iya, dia meminta maaf padaku dan Marin," jawab Nerissa.


"Apa kalian memaafkannya? apa kalian mempercayai semua ucapannya?" tanya Alvin.


"Aku selalu memaafkannya Alvin, tapi untuk mempercayai ucapannya entahlah, karena sudah berkali-kali aku mempercayai ucapan seseorang yang pada akhirnya mengecewakanku," jawab Nerissa.


"Aku mengerti, tetapi ada satu hal yang harus kau tahu Nerissa," ucap Alvin lalu menceritakan tentang kejadian di ruangan Ricky saat Cordelia dan Ricky tengah bertengkar.


"Padahal aku sangat tahu jika impian terbesar Delia adalah menghadiri acara fashion di Paris," ucap Alvin di akhir ceritanya.


"Sebenarnya seperti apa hubungan Ricky dengan Delia? kenapa Ricky melakukan hal itu pada Delia?" tanya Nerissa.


"Mereka memang saudara sedarah, tetapi sejauh yang aku tahu Ricky tidak pernah benar-benar menganggap Delia sebagai adiknya, dari kecil Ricky selalu memanfaatkan Delia hanya untuk kesenangannya sendiri," jawab Alvin.


"Itu yang membuat Delia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang kakak tapi dia mendapatkan kasih sayang itu darimu, benar begitu?"


"Kau benar, apa yang Delia rasakan dia anggap sebagai cinta antara seorang perempuan dan laki-laki, tanpa dia sadar bahwa apa yang dia rasakan sebenarnya hanyalah sebatas hubungan kakak beradik yang saling menyayangi," ucap Alvin.


"Dan dia tidak ingin kakak yang disayanginya pergi meninggalkannya karena perempuan lain," lanjut Nerissa yang dibalas anggukan kepala Alvin.


Nerissa menghela nafasnya lalu membawa pandangannya menatap hamparan gelap langit malam itu.


"satu persatu masalah Nerissa selesai Bunda, rasanya Nerissa semakin dekat dengan mutiara biru milik Bunda," ucap Nerissa dalam hati.


"Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayai Delia, aku hanya ingin kau tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya," ucap Alvin pada Nerissa.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada Alvin. Entah kenapa dalam hatinya ada perasaan lega seolah baru saja keluar dari ruangan sempit yang sudah lama menghimpitnya.


"Bagaimana dengan Amanda?" tanya Nerissa.


"Dia sudah tidak pernah menghubungiku lagi, mungkin dia sudah lelah melakukan sesuatu yang hanya sia-sia untuknya," jawab Alvin.


"Semoga dia bisa menjalani hidupnya dengan lebih baik," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.


"Bagaimana hubunganmu dengan Daniel sekarang Nerissa?" tanya Alvin.


"Masih sama seperti yang dulu, tidak ada yang berubah dari hubunganku dengan Daniel," jawab Nerissa.


"Apa kau tidak memiliki perasaan apapun padanya setelah semua yang terjadi di antara kalian berdua?" tanya Alvin.


"Apa maksudmu Alvin? tidak ada apapun yang terjadi diantara aku dan Daniel, kita hanya bersandiwara menjadi sepasang kekasih tidak lebih dari itu," balas Nerissa.


"Apa sikap manis Daniel tidak membuatmu jatuh cinta padanya?" tanya Alvin memastikan.


"Aku tidak jatuh cinta pada seseorang hanya karena sikap manisnya padaku Alvin," jawab Nerissa.


Alvin tersenyum kemudian beranjak dari duduknya dan meraih tangan Nerissa agar ikut berdiri di hadapannya.


Dengan masih menggenggam tangan Nerissa, Alvin menatap kedua mata Nerissa dengan dalam.


"Nerissa, sejak pertemuan kita yang pertama kali di tepi pantai kau sudah berhasil mewarnai hidupku yang abu-abu, aku tidak tahu kapan perasaan ini tumbuh dalam hatiku, yang aku tahu aku mencintaimu Nerissa dan semakin lama perasaanku padamu semakin besar, membuatku takut untuk kehilanganmu," ucap Alvin yang membuat Nerissa terdiam tak mampu mengatakan apapun.


"Jika boleh aku berharap, aku berharap kau memiliki perasaan yang sama sepertiku, aku berharap aku bisa memiliki hubungan yang serius denganmu, tapi jika itu membebanimu maka apapun keputusanmu akan aku terima karena aku hanya ingin kau bisa menjalani hidupmu dengan bahagia tanpa terbebani oleh apa yang sudah aku sampaikan padamu," lanjut Alvin.


"aku juga memiliki perasaan yang sama sepertimu Alvin, tetapi apa gunanya jika pada akhirnya kita akan berpisah, hubungan yang kau maksud itu hanya akan memberikan luka yang semakin dalam padaku," ucap Nerissa dalam hati.