Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Restu - ENDING



Hari hari telah berlalu. Perlahan Alvin dan Daniel bisa menerima sepenuhnya bagaimana masa lalu Nerissa dan Marin yang sesungguhnya.


Meskipun mereka berasal dari dunia yang berbeda, tapi tidak ada lagi keraguan dalam hati mereka tentang cinta yang selama ini mereka yakini.


Jalan takdir yang berliku pada akhirnya membawa mereka kembali pada sang pemilik hati.


Malam itu, di bawah terang bulan purnama Nerissa dan Alvin duduk di tepi pantai menunggu kedatangan Ratu Nagisa.


Setelah beberapa lama menunggu, cahaya biru mulai tampak menembus gelapnya laut malam itu.


Perlahan, ratu Nagisa berenang mendekati Nerissa dan Alvin yang sudah menunggunya di tepi pantai.


Nerissa tersenyum senang melihat sang bunda yang sudah sangat dirindukannya. Nerissa segera memeluk sang bunda yang kini sudah ada di hadapannya.


"Apa dia menjagamu dengan baik Nerissa?" tanya Ratu Nagisa dengan membawa pandangannya pada Alvin.


"Tentu saja bunda, Alvin sengaja menemani Nerissa bertemu bunda karena ada yang ingin dia sampaikan pada bunda," ucap Nerissa.


"Benarkah? apa itu?" tanya Ratu Nagisa pada Alvin.


"Alvin ingin berterima kasih ratu, Alvin minta maaf karena baru menyadari jika ratu Nagisa lah yang sudah menyelamatkan Alvin saat Alvin masih kecil, Alvin sangat berterima kasih karena ratu Nagisa sudah memberikan kesempatan hidup untuk Alvin," ucap Alvin.


"Semua itu sudah menjadi bagian dari takdir yang membawamu mengenal Nerissa, Alvin," balas Ratu Nagisa.


"Alvin berjanji akan menjaga Nerissa dengan baik Ratu," ucap Alvin.


"Jangan memanggilku seperti itu, apa kau tidak berniat untuk menikahi Nerissa?" ucap Ratu Nagisa sekaligus bertanya yang membuat Alvin salah tingkah.


"Tentu saja Alvin ingin menikahinya Ratu, mmmmm.... bunda......" balas Alvin ragu.


"Begitu lebih baik, aku harap kau bisa mencintainya seperti dia yang sangat mencintaimu," ucap Ratu Nagisa.


Alvin menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan. Di bawah cahaya bulan yang menerangi malam itu, Alvin, Nerissa dan sang bunda membicarakan banyak hal tentang rencana pernikahan yang sudah Alvin dan Nerissa persiapkan.


**


Di tempat lain, Marin sedang berdua dengan Daniel di rumahnya. Mereka sedang menonton acara tv favorit Marin. Meskipun Daniel tidak menyukainya, ia tetap menontonnya karena Marin yang memaksanya.


"Marin, apa kau tidak bosan melihat acara ini setiap hari?" tanya Daniel yang melihat Marin tampak fokus dengan tv di depannya.


"Pulanglah jika kau sudah bosan," balas Marin tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.


Daniel hanya menghela nafasnya lalu memeluk Marin.


"Lepaskan tanganmu atau aku akan menghajarmu!" ucap Marin namun tidak dihiraukan oleh Daniel.


"Daniel, lepaskan!" ucap Marin sambil berusaha melepaskan tangan Daniel yang melingkar di pinggangnya.


"Kenapa? apa kau tidak menyukai pelukanku?" tanya Daniel.


"Jangan memaksaku untuk benar benar menghajarmu Daniel," balas Marin yang mulai kesal karena Daniel mengganggunya.


"Coba saja," ucap Daniel yang membuat Marin segera melepaskan kedua tangan Daniel dengan paksa lalu menghujani Daniel dengan pukulan bertubi-tubi.


Namun Daniel segera menahan kedua tangan Marin lalu mendorong Marin, membuat Marin jatuh terlentang di atas sofa dengan Daniel yang berada tepat di atas Marin.


Tangan Daniel masih menahan kedua tangan Marin dengan erat, kedua mata mereka saling menatap tanpa ada kata yang terucap.


Detik jam yang terdengar perlahan mengantarkan Daniel mendaratkan kecupannya di bibir Marin, membuat Marin terbelalak tak percaya dengan apa yang Daniel lakukan.


Saat Marin akan melepaskan tangannya dari Daniel, Daniel segera menggenggam tangan Marin dan kembali mendaratkan kecupannya di bibir Marin.


Namun berbeda dari sebelumnya, Marin hanya diam membiarkan bibirnya tersapu hangatnya kecupan Daniel yang semakin lama semakin dalam.


Marin dan Daniel seolah tenggelam ke dalam lautan cinta yang mereka ciptakan bersama degupan dalam dada mereka.


CEKLEKK!!


Suara handle pintu yang terbuka membuat Daniel seketika melepaskan tautannya pada Marin.


"Sepertinya kita salah alamat," ucap seorang laki laki yang baru saja membuka pintu rumah Marin.


"Tidak ayah, kita......" Chubasca menghentikan ucapannya saat ia melihat apa yang dilakukan Marin dan Daniel di atas sofa.


"Ayah, Chubasca!" ucap Marin yang segera mendorong Daniel, membuat Daniel terjatuh dari sofa.


"Marin, apa yang kau lakukan?" tanya Chubasca dengan berteriak.


"Aku hanya...... aku......"


"Kau... laki laki brengsek, apa yang sudah kau lakukan!" ucap Chubasca yang segera menghampiri Daniel dengan penuh emosi.


Namun Marin segera menahan Chubasca agar tidak menghajar Daniel.


"Jaga sikapmu, ini rumahku!" ucap Marin pada Chubasca.


"Lebih baik kita kembali Chubasca, sepertinya kedatangan kita mengganggu mereka," ucap Cadassi.


"Tidak ayah, bukan begitu, ayah duduklah dulu!" ucap Marin sambil menarik tangan sang ayah agar duduk.


"Aa..... yah...." ucap Daniel gugup saat Marin memanggil pria di hadapannya dengan panggilan ayah.


"Daniel, ini ayah dan kakakku, aku sudah menceritakan tentang mereka padamu bukan?" ucap Marin pada Daniel.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia merasa sangat malu karena ayah dan kakak Marin melihat apa yang baru saja ia lakukan pada Marin.


Jika saja bisa, Daniel benar benar ingin menghilang dari tempat itu saat itu juga.


"Tidak perlu merasa malu, aku bisa memahaminya," ucap Cadassi yang seolah mengerti isi pikiran Daniel saat itu.


"Daniel minta maaf om, Daniel tidak bermaksud untuk kurang ajar," ucap Daniel dengan menundukkan kepalanya.


"Kau tetap saja payah seperti dulu!" sahut Chubasca yang segera mendapat pukulan dari Marin.


Cadassi, Chubasca, Marin dan Danielpun membicarakan banyak hal tentang hubungan mereka berdua.


Daniel juga mengungkapkan keseriusannya dengan Marin pada Cadassi dan Chubasca.


"Daniel harap, Daniel bisa mendapatkan restu dari om dan kak Chu...... Chuba...."


Marin hanya terkekeh mendengar Daniel yang sulit mengucapakan nama sang kakak.


"Menyebutkan namaku saja kau tidak bisa, benar benar payah!" ucap Chubasca.


"Hehe... maaf kak," ucap Daniel dengan menggaruk tengkuknya yang membuat Marin dan sang ayah terkekeh.


Pada akhirnya Cadassi dan Chubascapun memberikan restu mereka pada Marin dan Daniel.


**


Hari yang ditunggu telah tiba. Dengan balutan gaun putih yang dipadukan dengan warna merah muda, Nerissa berjalan dengan anggun menyusuri karpet merah yang dihiasi dengan banyak bunga di sekitarnya.


Hari itu adalah hari dimana Alvin akan mengucapakan janji sucinya pada Nerissa di depan semua orang.


Semua yang ada disanapun tampak bahagia melihat pasangan pengantin yang tengah berdiri di pelaminan dengan aura kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah Nerissa dan Alvin.


Dengan pernikahan itu, Nerissa dan Alvin memulai lembar awal kehidupan baru mereka sebagai pasangan suami istri.