
Malam telah datang membentangkan langit gelap tanpa hiasan bulan ataupun bintang yang menyinari.
Daniel masih duduk di tempatnya, tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari gadis cantik yang terbaring di hadapannya.
Tak lama kemudian Nerissapun mengerjapkan matanya, kedua mata yang layu itu kemudian terbuka dan menatap Daniel dengan penuh tanda tanya.
Nerissa kemudian beranjak dengan memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Danielpun segera menghampiri Nerissa, meminta Nerissa untuk tetap tertidur sampai pengaruh alkohol itu benar-benar menghilang darinya.
"Berbaringlah Nerissa, aku tahu kau masih merasa pusing," ucap Daniel yang membuat Nerissa kembali membaringkan badannya di ranjang
"Iya kepalaku memang terasa pusing, tapi kenapa aku bisa ada disini bersamamu? dimana Alvin?" tanya Nerissa yang tidak mengerti dengan situasi yang dihadapinya saat itu.
"Alvin? apa kau sedang bersama Alvin sebelumnya?"
Nerissa terdiam beberapa saat, berusaha menggali ingatannya yang seolah memudar di kepalanya.
"Alvin mengajakku ke bukit perkebunan teh lalu dia memintaku menunggu disana karena dia harus menemui temannya," ucap Nerissa.
"Alvin memintamu untuk menunggunya di perkebunan teh sendirian?" tanya Daniel memastikan dengan raut wajah menahan emosi karena sikap Alvin yang dirasa tidak bertanggung jawab pada Nerissa.
"Iya, aku menunggunya di gazebo di bawah bukit perkebunan teh itu bersama seseorang," jawab Nerissa sambil terus berusaha menggali ingatannya.
"Apa kau ingat apa yang Alvin katakan sebelum dia meninggalkanmu?" tanya Daniel.
"Alvin memberitahuku bahwa temannya membutuhkan bantuannya, jadi dia meninggalkanku untuk membantu temannya yang berada tidak jauh dari perkebunan teh," jawab Nerissa.
"Temannya? siapa temannya?" tanya Daniel.
"Dia tidak memberitahuku siapa nama temannya tetapi..... ah sudahlah Daniel jangan bertanya terlalu banyak, kepalaku masih sangat pusing!"
"Baiklah tunggu disini sebentar, aku akan mengambilkan minuman hangat untukmu," ucap Daniel kemudian beranjak dari duduknya.
"Minuman hangat?" tanya Nerissa setengah berteriak, membuat Daniel membalikkan badannya ke arah Nerissa.
"Iya, aku akan meminta bibi untuk membuatkan minuman hangat untukmu, apa kau keberatan?"
Nerissa menggelengkan kepalanya pelan sambil berusaha mengingat tentang minuman hangat yang tiba-tiba muncul sekilas dalam memorinya.
"Apa ada sesuatu yang lain yang kau butuhkan Nerissa?"
"Tidak ada," jawab Nerissa sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Daniel kemudian keluar dari kamar lalu menghampiri bibi dan meminta bibi untuk membuatkan minuman hangat untuk Nerissa.
Setelah minuman selesai dibuat, Danielpun kembali ke kamar dengan membawa satu gelas minuman hangat lalu memberikannya pada Nerissa.
"Minumlah ini akan menghangatkanmu!"
Nerissa menerima gelas dari Daniel, namun ia hanya memegangnya, ucapan Daniel yang ia dengar seperti tidak asing di telinganya.
"minumlah ini akan menghangatkanmu!" ucap Nerissa dalam hati menirukan ucapan Daniel.
Nerissa kemudian meminum minuman yang Daniel berikan padanya dan seketika Nerissapun teringat pada laki-laki yang memberinya minuman saat ia menunggu Alvin di bawah bukit perkebunan teh.
"Daniel, aku sepertinya mengingat sesuatu!" ucap Nerissa pada Daniel.
"Apa yang kau ingat Nerissa?" tanya Daniel.
Nerissapun menceritakan pertemuannya dengan laki-laki asing itu hingga tiba tiba berakhir di villa bersama Daniel.
"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa aku bisa berada disini bersamamu!" ucap Nerissa di akhir penjelasannya
Danielpun menceritakan pada Nerissa tentang apa yang terjadi, Daniel juga memberi tahu Nerissa tentang minuman apa yang sebenarnya laki-laki itu berikan pada Nerissa.
"Jadi lain kali jangan pernah menerima minuman ataupun makanan dari seseorang yang tidak kau kenal Nerissa!" ucap Daniel yang dibalas anggukan kepala Nerissa.
Nerissa kemudian teringat Alvin, Alvin pasti akan mengkhawatirkannya jika tidak menemukan dirinya di tempatnya menunggu, karena ia sudah berjanji untuk menunggu Alvin disana.
"Daniel, apa kau melihat ponselku?" tanya Nerissa pada Daniel.
"Tidak, kau tidak membawa apapun tadi, apa mungkin laki-laki itu yang mengambilnya?"
Nerissa kemudian menepuk keningnya menyadari kebodohannya sendiri.
"Ada apa Nerissa? apa kau tahu dimana ponselmu?"
"Aku meninggalkan tas dan ponselku di mobil Alvin, apa aku bisa minta tolong padamu Daniel, tolong hubungi Alvin dan beritahu dia jika aku bersamamu sekarang, aku takut dia akan khawatir dan mencariku di bukit perkebunan teh!"
"Alvin sudah meninggalkanmu Nerissa dan kau sekarang mengkhawatirkannya?"
"Dia meninggalkanku untuk membantu temannya Daniel, dia sudah berjanji untuk kembali tetapi aku yang malah meninggalkannya!"
"Baiklah, aku akan menghubunginya, habiskan minumanmu kemudian keluarlah, bibi sudah menyiapkan makan malam untuk kita!" ucap Daniel kemudian keluar dari kamar.
**
Di tempat lain, Alvin masih berada di rumah sakit, ia duduk di samping ranjang Amanda. Alvin hanya terdiam melihat Amanda yang terpejam dengan ruam di wajah, tangan dan lehernya.
"Ada apa denganmu Amanda? kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Alvin dalam hati yang merasa iba melihat keadaan Amanda saat itu.
Tak lama kemudian Amanda mengerjapkan matanya dan membawa pandangannya pada Alvin yang duduk di sampingnya.
"Bagaimana keadaanmu Amanda? apa kau sudah membaik?" tanya Alvin sambil mengusap kepala Amanda dengan lembut.
"Sepertinya aku sudah membaik Alvin, hanya saja masih terasa sedikit gatal di beberapa bagian," jawab Amanda.
"Ini akan membaik setelah kau minum obat selama beberapa hari," ucap Alvin yang dibalas anggukan kepala Amanda.
"Kau mengantarku kesini menggunakan mobilku, bagaimana dengan mobilmu? apa kau meninggalkannya disana?"
"Jangan memikirkan itu, aku sudah meminta seseorang untuk mengantarnya ke rumahku," jawab Alvin
"Maafkan aku karena selalu membawamu dalam kesulitanku!" ucap Amanda.
"Jangan berbicara seperti itu Amanda, aku pasti akan membantumu selagi aku bisa melakukannya untukmu!"
"Terima kasih," ucap Amanda yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Alvin.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Alvin berdering, sebuah panggilan dari Daniel. Alvin membawa pandangannya pada Amanda sebelum ia menerima panggilan Daniel.
"Aku keluar sebentar," ucap Alvin kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Amanda untuk menerima panggilan Daniel.
"Halo Daniel, ada apa?"
"Dimana kau sekarang? teman mana yang membuatmu membiarkan Nerissa menunggu di pinggir jalan seorang diri?" tanya Daniel yang membuat Alvin terdiam seketika.
Entah kenapa setiap bersama Amanda, Alvin selalu melupakan Nerissa tanpa sadar.
"Dimana dia sekarang? apa dia bersamamu?"
"Dia di villa bersamaku, cepat datang jika kau tidak ingin habis ditanganku!" jawab Daniel.
Alvin terdiam beberapa saat, ia berpikir apa yang harus ia katakan pada Daniel dan Nerissa, karena ia tidak mungkin menjemput Nerissa saat itu, bukan hanya karena harus menemani Amanda, tetapi juga karena mobilnya yang sudah dibawa seseorang kembali ke rumahnya.
Alvin tidak mungkin menghampiri Nerissa dan Daniel dengan menggunakan mobil Amanda, karena ia belum menceritakan tentang Amanda pada Daniel ataupun Nerissapun.
"Sepertinya aku tidak bisa kesana," ucap Alvin yang membuat Daniel begitu terkejut.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang Daniel, tetapi aku akan menceritakan semuanya padamu nanti setelah aku sampai di rumah!"
"Sebenarnya siapa yang kau temui Alvin? siapa yang membuatmu meninggalkan Nerissa di pinggir jalan seperti ini?"
"Aku akan memberitahumu nanti Daniel, tidak sekarang, tolong jaga Nerissa dan sampaikan permintaan maafkanku padanya," ucap Alvin lalu mengakhiri panggilan Daniel begitu saja.
Alvin kemudian kembali masuk ke dalam ruangan Amanda dan duduk di samping Amanda.
"Apa kau akan pergi sekarang?" tanya Amanda pada Alvin.
"Tentu saja tidak, aku akan menemanimu dan mengantarmu pulang besok pagi!"
Amanda tersenyum senang saat mengetahui Alvin akan menemaninya dan mengantarnya pulang.
**
Di tempat lain, Nerissa keluar dari kamar dan menghampiri Daniel di meja makan.
"Apa kau sudah menghubungi Alvin, Daniel?" tanya Nerissa pada Daniel.
"Kenapa kau masih mengkhawatirkannya Nerissa, dia bahkan tidak mengingatmu!" batin Daniel bertanya dalam hati.
"Sudah, tetapi dia tidak bisa menjemputmu, jadi aku yang akan mengantarmu pulang besok pagi," jawab Daniel.
"Kenapa dia tidak bisa menjemputku? tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya bukan?" tanya Nerissa khawatir.
"Dia baik-baik saja Nerissa, tetapi dia tidak bisa meninggalkan temannya untuk saat ini, jadi berhentilah mengkhawatirkannya karena tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya," jawab Daniel yang sedikit kesal.
"Tapi aku tidak bisa pulang besok pagi Daniel, bagaimana dengan Marin? dia akan sendirian di rumah!"
"Ini sudah malam Nerissa, lebih baik kau menginap disini, aku sudah meminta seseorang untuk mengawasi Marin disana!"
"Kalau begitu apa aku boleh meminjam ponselmu untuk menghubungi Marin?"
Daniel menganggukan kepalanya lalu memberikan ponselnya pada Nerissa.
"Kenapa tidak ada nama Marin disini?" tanya Nerissa yang tidak menemukan nama Marin di kontak penyimpanan Daniel.
"Aku yang menamainya monster cantik," jawab Daniel sambil menundukkan kepalanya menahan malu.
"Hahaha kau jahat sekali Daniel, bisa-bisanya menyimpan nama Marin seperti itu," ucap Nerissa dengan tertawa.
Daniel hanya tersenyum tipis melihat Nerissa yang tertawa, ia tidak habis pikir pada Nerissa yang masih baik-baik saja meski Alvin sudah meninggalkannya akan membahayakan dirinya.
"Halo Marin, ini aku!" ucap Nerissa setelah Marin menerima panggilannya.
"Putri, kenapa kau memakai ponsel Daniel?"
"Aku akan menceritakannya padamu besok, sekarang aku berada di villa bersama Daniel, sepertinya aku tidak pulang sekarang, apa kau tidak keberatan di rumah sendirian?"
"Tenanglah Putri, jangan mengkhawatirkanku, kau tahu aku gadis pemberani bukan?"
"Iya aku tahu, jaga dirimu baik-baik Marin, Daniel juga sudah meminta seseorang untuk berjaga di sekitar rumah!"
"Kenapa dia melakukan itu? berlebihan sekali!"
"Itu karena dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu Marin," balas Nerissa yang membuat Daniel yang mendengarnya tersenyum tipis.
"Baiklah, nikmati waktumu disana dan jaga dirimu baik-baik Putri," ucap Marin lalu mengakhiri panggilan Nerissa.
Nerissa kemudian mengembalikan ponsel Daniel dan berterima kasih. Nerissa dan Danielpun menikmati makan malam mereka sambil sesekali mengobrol.
Setelah menyelesaikan makan malam dan mengobrol beberapa saat, Daniel pun menyuruh Nerissa kembali ke kamar untuk beristirahat karena mereka besok akan meninggalkan villa pagi-pagi sekali.
"Beristirahatlah Nerissa, kita akan pulang besok pagi-pagi sekali," ucap Daniel.
Nerissapun masuk ke dalam kamar, ia membaringkan badannya di ranjang namun ia masih belum terpejam. Ia masih memikirkan Alvin yang lagi-lagi mengecewakannya.
"sebenarnya kau dimana Alvin? siapa teman yang membuatmu meninggalkanku seperti ini?" batin Nerissa bertanya dalam hati kemudian memejamkan matanya.
Dalam hatinya ada sebuah rasa yang membuatnya ingin menangis saat itu, namun ia berusaha menahannya, ia tetap berusaha untuk berpikir positif tentang sikap Alvin yang dirasa berubah padanya.
**
Malam telah berlalu, pagi-pagi sekali Nerissa sudah menunggu Daniel di depan villa. Ia berdiri mendongakkan kepalanya dan memejamkan matanya, menikmati udara pagi yang terasa begitu segar menusuk hidungnya.
Daniel yang baru saja keluar segera menghampiri Nerissa dan berdiri di samping Nerissa.
"Apa kau baik-baik saja Nerissa?" tanya Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nerissa tanpa membuka matanya.
"Kau tidak perlu menahan apa yang ada di hatimu Nerissa, jika kau ingin marah pada Alvin luapkan saja, dia memang sudah keterlaluan!" ucap Daniel yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Daniel.
"Aku tidak marah padanya Daniel, hanya sedikit kecewa," ucap Nerissa.
"Kau gadis yang baik Nerissa, aku harap kau bisa selalu bahagia dengan perasaan yang ada di hatimu," ucap Daniel sambil membelai rambut Nerissa.
Nerissa hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.
Daniel kemudian mengajak Nerissa masuk ke dalam mobil dan meninggalkan villa. Daniel mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa dengan segala macam pikiran dalam kepalanya.
Daniel masih memikirkan siapa sebenarnya seseorang yang Alvin temui, apakah itu seseorang yang sama saat Alvin membiarkan Nerissa menunggu di taman bermain ataukah itu dua orang yang berbeda.
"siapapun seseorang itu, aku yakin dia bukan sekedar teman untukmu, aku sangat mengenalmu Alvin, aku tidak akan membiarkanmu mengecewakan dan menyakiti Nerissa terlalu jauh," ucap Daniel dalam hati.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Danielpun menghentikan mobilnya di depan rumah Nerissa.
"Terima kasih sudah banyak membantuku Daniel, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku jika tidak ada kau disana," ucap Nerissa sebelum ia keluar dari mobil Daniel.
"Mulai sekarang kau harus jauh lebih berhati-hati Nerissa, tidak semua orang itu memiliki niat yang baik, kau harus lebih waspada!"
"Iya aku mengerti, sekali lagi terima kasih dan maaf sudah merepotkanmu!"
"Kau sama sekali tidak merepotkanku, aku senang bisa membantumu," balas Daniel.
Nerissa kemudian keluar dari mobil Daniel, melambaikan tangannya pada Daniel yang sudah mengendarai mobilnya menjauh dari hadapan Nerissa.
Nerissa kemudian membawa langkahnya masuk ke dalam rumah dan mendapati Marin yang baru saja selesai memasak.
"Kau pulang bersama siapa Putri? Alvin atau Daniel?" tanya Marin.
"Daniel," jawab Nerissa singkat kemudian masuk ke dalam kamar diikuti oleh Marin
"Sebenarnya apa yang terjadi Putri? kenapa kau bisa bersama Daniel? bukannya Alvin yang menjemputmu kemarin?"
"Entahlah Marin, sepertinya ada sesuatu yang berbeda dari Alvin, mungkin selama ini aku memang sudah salah mengartikan sikap Alvin padaku," ucap Nerissa sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa kau mengatakan hal itu Putri? apa yang sudah Alvin lakukan padamu? apa Alvin menyakitimu?"
Nerissa hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian merebahkan badannya di ranjang.
"Keluarlah Marin, aku ingin beristirahat dulu!"
"Baiklah Putri, beristirahatlah dan jangan terlalu memikirkan Alvin, tujuan kita kesini hanyalah untuk mendapatkan mutiara biru, apa yang terjadi di antara kita, Daniel dan Alvin hanyalah angin lewat yang tidak perlu terlalu kau pikirkan!" ucap Marin kemudian keluar dari kamar Nerissa.
"iya, Daniel dan Alvin hanyalah angin lewat untukku dan Marin, tidak seharusnya aku dan Marin terlalu memikirkan mereka berdua, pada akhirnya kita akan menjalani kehidupan kita di dunia kita masing-masing!" ucap Nerissa dalam hati.