
Daniel masih berada di rumah Nerissa dan Marin, ia masih berusaha untuk menghubungi mereka berdua namun tidak ada satupun panggilan dari Daniel yang diterima oleh Nerissa ataupun Marin.
Daniel kemudian menghubungi Alvin untuk menanyakan keberadaan Nerissa yang mungkin saja diketahui oleh Alvin.
"Halo Alvin, apa kau masih di rumah?" tanya Daniel setelah Alvin menerima panggilannya.
"Iya, kenapa?" balas Alvin bertanya.
"Apa kau tahu dimana Nerissa dan Marin sekarang? sepertinya mereka tidak sedang berada di rumah!" tanya Daniel.
"Aku tidak tahu Daniel mereka tidak mengatakan apapun padaku, apa kau sudah menghubungi mereka berdua?"
"Aku sudah hampir satu jam disini, aku sudah berkali-kali mengetuk pintu dan menghubungi mereka berdua namun tidak ada jawaban sama sekali," jawab Daniel panik yang membuat Alvin ikut khawatir.
"Aku akan ke kantor polisi sekarang, cobalah untuk menghubungi Nerissa ataupun Marin dan segera hubungi aku jika mereka sudah menerima panggilanmu!" ucap Daniel lalu mengakhiri panggilannya pada Alvin.
Daniel segera kembali masuk ke mobilnya lalu mengendarai mobilnya ke arah kantor polisi yang berada tak jauh dari rumah Marin dan Nerissa.
Sesampainya disana Daniel segera melaporkan tentang keberadaan Nerissa dan Marin yang tiba-tiba saja menghilang.
"Mohon tunggu sampai 24 jam ke depan, jika masih tidak ada kabar dari mereka berdua kami akan segera menindaklanjuti kasus ini!" ucap sang polisi.
"Apa tidak bisa segera dicari sekarang pak? karena mereka berdua tidak seperti biasanya seperti ini!"
"Kita harus melakukan tindakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yaitu menunggu sampai 24 jam ke depan!"
"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada mereka berdua sebelum 24 jam? apa bapak bisa bertanggung jawab?" tanya Daniel kesal.
Sang polisi menghela nafasnya kemudian beranjak dari duduknya dan menatap Daniel dengan pandangan tidak suka.
"Kita harus bergerak sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan, sebelum 24 jam kami tidak bisa melakukan apapun, jadi silakan pulang dan coba untuk terus menghubunginya!" ucap sang polisi yang membuat Daniel semakin kesal.
Daniel kemudian keluar dari kantor polisi lalu menghubungi seseorang yang ia kenal.
"Aku sudah mengirim dua foto padamu, segera hubungi aku jika kau menemukannya atau setidaknya kau mengetahui tanda-tanda keberadaan mereka berdua!" ucap Daniel pada seseorang yang sedang ia hubungi saat itu.
Daniel kemudian menghubungi Alvin, memberitahu Alvin tentang respon polisi atas laporannya.
"Aku tidak mungkin tinggal diam Alvin, aku tidak bisa menunggu sampai 24 jam!" ucap Daniel pada Alvin.
"Aku akan ke rumahnya sekarang!" ucap Alvin lalu mengakhiri panggilan Daniel begitu saja.
Alvinpun mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa, sesampainya disana sudah ada Daniel yang menunggunya.
"Apa yang akan kau lakukan Alvin? aku sudah berkali-kali mengetuk pintu dan tidak pernah ada jawaban!"
"Tidak ada cara lain Daniel, aku akan mendobraknya!" balas Alvin lalu berjalan ke arah pintu rumah Nerissa.
"Apa kau sudah gila? kau hanya akan membuat keributan jika kau melakukan hal itu!" ucap Daniel sambil menahan tangan Alvin.
"Aku yang akan bertanggung jawab Daniel, sama sepertimu aku juga tidak bisa menunggu 24 jam!"
"Berpikirlah yang tenang Alvin, jika kau membuat keributan disini orang-orang akan mengenalimu dan......."
"Aku tidak peduli Daniel, aku harus memastikan apa Nerissa dan Marin ada di dalam rumah atau tidak!" ucap Alvin sambil menarik tangannya dengan kasar dari Daniel.
Alvin kemudian berusaha mendobrak pintu rumah Nerissa, namun dengan mudah pintu itu terbuka begitu saja membuat Alvin segera membawa pandangannya pada Daniel.
"Tidak terkunci!" ucap Alvin pada Daniel.
Alvin dan Danielpun segera masuk ke dalam rumah sambil memanggil Nerissa dan Marin.
"Nerissa, apa kau ada di rumah?"
"Marin, di mana kau? keluarlah!"
Alvin dan Daniel bergantian memanggil Nerissa dan Marin, namun sama sekali tidak ada jawaban bahkan pergerakan kecil pun tidak ada selain pergerakan mereka berdua.
Alvinpun berjalan ke arah kamar Nerissa lalu membuka pintunya dengan perlahan, namun ia tidak mendapati Nerissa disana.
Di sisi lain, Daniel juga membuka pintu kamar Marin dan mencari Marin di kamarnya namun nihil, tidak ada siapapun di kamar Marin.
Alvin dan Danielpun keluar dari kamar Nerissa dan Marin bersamaan lalu membawa pandangan mereka ke sekeliling rumah.
"Alvin lihat!" ucap Daniel sambil menunjuk dua buah ponsel di meja.
"Mereka tidak ada di rumah dan mereka tidak membawa ponsel, kemana mereka berdua sebenarnya!" ucap Alvin sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Apa Nerissa tidak mengatakan sesuatu padamu?" tanya Daniel pada Alvin.
"Tidak, terakhir aku bertemu dengannya dia tampak baik-baik saja, tidak ada sesuatu yang mencurigakan darinya, bagaimana dengan Marin? apa dia juga tidak mengatakan sesuatu padamu?"
Daniel menggelengkan kepalanya pelan lalu menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu.
"Kemana mereka berdua pergi? kenapa mereka tiba-tiba menghilang seperti ini?"
Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan lewat tengah malam namun Daniel dan Alvin masih duduk di ruang tamu rumah Nerissa dan Marin.
Mereka berdua berusaha untuk berpikir positif jika bisa saja Nerissa dan Marin keluar dari rumah untuk membeli sesuatu dan meninggalkan ponsel mereka di rumah.
Namun saat jarum jam semakin meninggalkan tengah malam, Alvin dan Daniel tidak bisa lagi untuk tetap berpikir positif.
Tidak ada hal positif yang bisa mereka pikirkan saat jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
"Pulanglah Daniel, sepertinya mereka tidak akan kembali malam ini!" ucap Alvin pada Daniel.
"Bagaimana aku bisa pulang jika aku masih tidak mengetahui bagaimana keadaan mereka berdua?"
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Daniel berdering, Danielpun segera mengambil ponselnya dari saku celananya.
Dengan malas Daniel menerima panggilan yang tidak diharapkannya itu.
"Halo Bi, ada apa?" tanya Daniel saat ia mengetahui bahwa yang menghubunginya adalah telepon rumahnya.
"Maaf mengganggu den, bapak dan ibu bertengkar hebat dan sekarang bapak membawa ibu ke rumah sakit karena ibu terluka," jawab bibi menjelaskan, membuat Daniel segera beranjak dari duduknya.
"Ke rumah sakit mana papa membawa mama Bi?"
"Ke rumah sakit X."
Daniel segera mengakhiri panggilannya lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Ada apa Daniel? apa terjadi sesuatu pada mamamu?" tanya Alvin.
"Mama di rumah sakit Alvin, sepertinya aku harus meninggalkanmu disini!" jawab Daniel.
"Tidak apa, pergilah aku akan menghubungimu jika aku sudah mendapat kabar dari Nerissa dan Marin!"
"Terima kasih Alvin," ucap Daniel lalu segera berlari keluar dan mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit tempat sang mama dirawat.
Setelah ia memastikan semuanya, ia pun keluar dari rumah itu lalu mengendarai mobilnya meninggalkan rumah itu.
"Kemana aku harus mencarimu Nerissa? kenapa kau tiba-tiba pergi seperti ini?"
Alvin mengendarai mobilnya ke sembarang arah tanpa tujuan yang pasti.
Namun tiba-tiba ia teringat pertemuan pertamanya dengan Nerissa dan pertemuan-pertemuan selanjutnya yang selalu terjadi di tepi pantai.
Alvinpun mengendarai mobilnya ke arah pantai tempat dimana ia pertama kali bertemu Nerissa.
Sesampainya Alvin di pantai, ia segera membawa langkanya ke arah tepi pantai. Alvin berteriak memanggil Nerissa, namun hanya gemuruh ombak yang membalas panggilannya.
Alvin lalu berjalan ke arah batu karang besar dan duduk di atasnya, matanya menatap laut lepas yang hanya dipenuhi dengan kegelapan.
"Dimana kau sekarang Nerissa? kemana aku harus mencarimu?"
Di bawah langit malam yang tak berbintang itu Alvin duduk merenung menatap hamparan gelap di hadapannya dengan harapan Nerissa akan datang menemuinya tepat di tempat dimana mereka berdua pertama kali bertemu.
**
Di Seabert.
Dengan ditemani Chubasca, Marin berenang ke arah perpustakaan istana. Marin ingin memastikan apa yang sedang ia pikirkan saat itu.
Marin berkeliling ke setiap sudut perpustakaan untuk mencari buku, namun tiba-tiba Chubasca menarik tangan Marin, membawa Marin untuk bersembunyi di bawah kolong.
"Apa yang kau......"
"Ssssstttt..... diamlah!" ucap Chubasca pelan.
Tak lama kemudian pintu perpustakaan terbuka, Cadassi masuk ke dalam perpustakaan.
"Apa yang kau lakukan disini Chubasca?" tanya Cadassi pada sang anak.
"Aku sedang sedang mencari Beetna ayah, tetapi sepertinya dia tidak ada disini," jawab Chubasca beralasan.
"Kenapa kau sering sekali bergaul dengan Beetna sekarang? apa kau menyukainya?" tanya sang ayah sambil berenang mencari buku.
"Tidak ada Marin yang bisa aku ganggu dan tidak ada putri Nerissa yang bisa aku datangi untuk mengobrol, jadi hanya Beetna lah yang bisa aku ganggu sekarang hehehe...." jawab Chubasca yang membuat sang ayah terkekeh.
"Apa kau belum mendapat kabar apapun tentang marin, Chubasca?"
"Belum ayah, sepertinya Marin sangat sibuk di luar sana!" jawab Chubasca berbohong.
"Bagaimana dengan Ratu? apa kau belum melihat ratu Nagisa hari ini?"
"Belum ayah, sepertinya Ratu Nagisa masih berkeliling ke wilayah lain!"
"Segera beritahu ayah jika kau bertemu ratu Nagisa!"
"Baik ayah," balas Chubasca.
"Dan jangan lupa minum ramuan yang ayah berikan padamu sebelum kau memasuki istana!" ucap Cadassi sebelum keluar dari perpustakaan.
Chubasca hanya menganggukkan kepalanya kemudian kembali menutup pintu perpustakaan.
Saat Chubasca baru saja membalikkan badannya, Marin sudah ada di hadapannya dengan tatapan tajam mematikan.
"Ramuan apa yang ayah bicarakan? apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Marin pada Chubasca.
"Pelankan suaramu atau ayah akan melihatmu disini!" ucap Chubasca lalu menarik tangan Marin ke sudut perpustakaan.
"Kau tidak berkhianat pada Ratu Nagisa bukan?"
"Tentu saja tidak, jika aku berkhianat itu artinya aku bunuh diri saat itu juga!"
"Lalu apa maksud ayah dengan ramuan yang harus kau minum sebelum masuk ke istana?"
"Ayah memberikan ku ramuan yang harus aku minum sebelum aku masuk ke istana, pada awalnya aku tidak tahu apa fungsi dari ramuan itu tapi sekarang aku mengetahuinya, dengan meminum ramuan itu efek dari aroma bunga mawar itu tidak berpengaruh padaku karena seperti yang kau tahu tujuan ayah hanyalah untuk mencelakakan Ratu Nagisa bukan mermaid lain apalagi aku, anaknya!"
Marin hanya terdiam mendengar ucapan Chubasca, ia kemudian berenang kembali melanjutkan untuk mencari buku.
Setelah ia menemukan buku yang ia cari, ia pun segera membacanya. Setelah beberapa lama membaca Marinpun mengetahui satu hal baru tentang aroma bunga mawar merah.
"Aku tahu sekarang!" ucap Marin lalu menutup buku itu.
"Apa yang kau tahu Marin?" tanya Chubasca penasaran, namun tidak menjawabnya, Marin malah berenang ke arah pintu berniat untuk membuka pintu perpustakaan.
Namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Marin terdiam sambil memegang pintu perpustakaan dengan satu tangan yang memegang kepalanya.
"Ada apa denganmu? apa kamu merasa pusing?" tanya Chubasca yang hanya dibalas anggukan kepala Marin.
"Ini pasti efek dari aroma mawar yang sudah ayah sebarkan di dalam istana!" ucap Chubasca.
"Aku harus ke ruangan Ratu Nagisa untuk menjelaskan pada putri dan semuanya tentang apa yang baru saja aku baca!" ucap Marin.
"Pegang tanganku, aku akan membantumu berenang ke arah ruangan Ratu," ucap Chubasca kemudian membantu Marin berenang ke arah ruangan Ratu Nagisa diam-diam.
Sesampainya di dalam ruangan Ratu Nagisa, Marinpun segera duduk dan dengan sigap Beetna memberikan sebuah minuman pada Marin.
"Minumlah Marin, kau pasti lemas karena menghirup aroma mawar itu terlalu lama!" ucap Beetna yang dibalas anggukan kepala Marin.
Setelah dirasa keadaannya sudah membaik, Marinpun menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi di istana.
"Seperti yang aku pernah bilang pada kalian semua bahwa aroma mawar itu sangat berbahaya bagi kehidupan mermaid, tetapi tidak seperti dugaanku, ternyata ayah mencampur aroma mawar itu dengan aroma bunga lain yang membuat efeknya tidak seberbahaya yang aku pikirkan!" ucap Marin.
"Lalu bagaimana dengan Bunda, Marin?" tanya Nerissa.
"Apa yang terjadi pada Ratu Nagisa adalah hal yang berbeda Putri, ayah mencampurkan ramuan mawar dengan mutiara biru milik Pangeran Merville yang membuat aroma ramuan itu bisa membahayakan Ratu tetapi tidak berbahaya untuk mermaid lain yang tidak memiliki keturunan Raja ataupun Ratu," jawab Marin menjelaskan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Marin?"
"Untuk sementara biarkan istana kosong, karena mermaid yang memasuki istana akan menjadi lemah karena aroma mawar dan campuran bunga lain yang ayah sebarkan, sedangkan Ratu Nagisa hanya bisa pulih ketika mutiara biru milik Ratu Nagisa sudah kembali ke tempat asalnya!"
"Mutiara biru? apa yang kau maksud mutiara biru yang berada di daratan?" tanya Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Marin.
"Itu artinya aku harus kembali ke daratan untuk menemukan mutiara biru itu agar Bunda bisa kembali pulih?"
"Benar putri, itu satu-satunya cara untuk menyadarkan Ratu Nagisa," jawab Marin.
"Bagaimana mungkin aku meninggalkan Bunda dalam keadaan seperti ini Marin? Bunda bahkan belum membuka matanya sama sekali sejak kedatanganku!"
"Hanya kau yang bisa mendapatkan mutiara biru itu lagi Putri, aku hanya bisa menemani dan membantumu!" ucap Marin.
"Aku dan Beetna akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga Ratu Nagisa disini Putri, akan aku pastikan tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti Ratu Nagisa!" ucap Chubasca pada Nerissa.
Nerissa hanya terdiam dengan membawa pandangannya pada sang Bunda yang hanya terpejam diranjangnya.