
Nerissa masih berada di istana Ratu Baruna, dia akan menunjukkan pada Ratu Baruna bagaimana Pangeran Merville yang sebenarnya dan apa tujuan Pangeran Merville ingin menikahinya.
Nerissa kemudian merentangkan satu tangannya ke arah lantai dan tak lama kemudian sebuah cahaya keluar dari lantai itu.
Setelah cahaya mulai meredup Nerissa memperlihatkan percakapan Pangeran Merville dengan Cadassi tentang tujuannya menikahi Nerissa yang tidak lain hanyalah untuk merebut mutiara biru milik Nerissa agar Pangeran Merville menjadi pangeran terkuat di lautan.
"Maafkan Nerissa Ratu, tapi inilah yang membuat Nerissa menolak pernikahan Nerissa dengan pangeran Merville," ucap Nerissa.
Ratu Baruna terdiam untuk beberapa saat, ia tidak menyangka putra satu-satunya memiliki niat jahat seperti itu.
"Kau tidak perlu meminta maaf padaku Putri, seharusnya akulah yang meminta maaf padamu karena sudah melibatkanmu dalam niat jahat putraku," ucap Ratu Baruna menyesali sikap sang anak.
"Ratu Baruna pasti sangat mengenal Pangeran Merville lebih dari siapapun dan sejauh yang Nerissa tahu, Pangeran Merville sangat berambisi dengan niatnya itu, Nerissa khawatir Pangeran Merville akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan," ucap Nerissa.
Ratu Baruna terdiam mendengar apa yang Nerissa ucapkan, dalam hatinya dia membenarkan sifat putra satu-satunya itu.
Sebagai ibu tentu saja dia sangat mengenal putranya, Pangeran Merville memang selalu fokus pada ambisinya dan akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, tidak peduli dengan akibat apapun yang akan terjadi nantinya.
"Aku memang ibu yang sangat buruk, aku bahkan tidak bisa mendidik putraku dengan baik, padahal dialah satu-satunya harapanku yang akan mewarisi tahta istana ini," ucap Ratu Baruna dengan raut wajah yang tampak bersedih.
"Maaf sudah membuat Ratu bersedih, tapi Nerissa merasa harus menyampaikan hal ini pada Ratu," ucap Nerissa yang merasa bersalah.
"Apa yang kau lakukan sudah benar putri, ini semua sepenuhnya kesalahanku dan Pangeran Merville, tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah apa yang dia inginkan, bahkan saat aku tahu jika apa yang dilakukan itu adalah hal yang buruk, aku tetap tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya," ucap Ratu Baruna yang membuat Nerissa begitu terkejut.
"Maaf Ratu, kenapa Ratu mengatakan hal itu?" tanya Nerissa tak mengerti.
"Dia memiliki mutiara milik ayahnya dan dia juga sudah memiliki mutiara milikku, aku sekarang hanyalah mermaid biasa yang tidak memiliki kekuatan apapun tanpa mutiara yang sudah aku berikan padanya," jawab Ratu Baruna.
"Jika tahu seperti ini, aku pasti akan mempertahankan mutiara itu milikku dan tidak akan pernah memberikannya pada putraku, aku benar-benar menyesal karena sekarang aku tidak bisa melakukan apapun meskipun aku tahu kejahatan apa yang sudah dilakukan oleh putraku," lanjutnya.
"Apa Ratu tidak bisa mengambilnya saat Pangeran Merville sedang tertidur?" tanya Nerissa
"Aku sudah beberapa kali mencobanya, tetapi aku selalu gagal, aku tidak tahu seperti apa kekuatannya sebenarnya, tetapi setiap aku mendekatinya dia yang pada awalnya tertidur pulas tiba-tiba terbangun, selalu seperti itu," jawab Ratu Baruna menjelaskan.
Nerissa terdiam beberapa saat, ia memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Ratu Baruna memiliki kembali mutiara miliknya karena sudah pasti Pangeran Merville tidak akan mengembalikannya begitu saja pada sang ibu.
"Apa kau tidak mempunyai kekuatan lain yang bisa membantumu memecahkan masalah ini Putri?" tanya Marin berbisik pada Nerissa.
Nerissa terdiam beberapa saat lalu tersenyum dengan membawa pandangannya pada Marin.
"Kau yang bisa melakukannya marin," ucap Nerissa yang membuat Marin mengernyitkan keningnya.
"Apa maksudmu Putri? aku bahkan tidak memiliki kekuatan apapun," tanya Marin tak mengerti.
"Bukankah kau bisa membuat ramuan yang membuat siapapun yang meminumnya akan tertidur cukup lama?" tanya Nerissa.
"Iya aku bisa membuatnya, apa kau akan memintaku membuat ramuan itu untuk pangeran Merville?" jawab Marin sekaligus bertanya.
Nerissapun menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada Marin.
"Apa kau yakin ini akan berhasil Putri? dia memiliki dua mutiara yang artinya dia cukup kuat untuk menahan efek dari ramuan yang akan dia minum," tanya Marin ragu.
"Aku percaya padamu Marin, kau pasti bisa membuat Pangeran Merville tertidur dengan ramuan yang kau miliki," ucap Nerissa mempercayai Marin.
"Baiklah, aku akan berusaha membuat ramuan itu dengan dosis yang lebih tinggi," ucap Marin yang membuat Nerissa menganggukkan kepalanya.
"Nerissa bisa membantu jika Ratu mengizinkan," ucap Nerissa pada Ratu Baruna.
"Apa yang akan kau lakukan Putri?" tanya Ratu Baruna.
"Nerissa akan menemui Pangeran Merville dan memberinya ramuan yang bisa membuat Pangeran Merville tertidur cukup lama, setelah Pangeran Merville tertidur Ratu Baruna bisa mendekati Pangeran Merville dan mengambil ramuan itu dari dalam tubuhnya," jawab Nerissa menjelaskan.
"Apa kau yakin dia tidak akan terbangun saat aku mendekatinya?" tanya Ratu Baruna meragukan ide Nerissa.
"Nerissa yakin Ratu, Marin yang akan membuat ramuan itu, dia adalah teman Nerissa yang sangat pandai membuat ramuan dan Nerissa yakin dia bisa membuat ramuan yang akan membuat Pangeran Merville tertidur lama dan tidak menyadari jika Ratu mendekatinya," jawab Nerissa dengan memegang kedua bahu Marin membanggakan Marin.
"Saya akan membuat ramuan itu dengan sebaik mungkin ratu, tolong beri kesempatan saya untuk membuktikannya," ucap Marin pada Ratu Baruna.
"Apa kalian mempunyai rencana lain jika rencana kalian ini tidak berhasil?" tanya Ratu Baruna yang membuat Nerissa dan Marin saling pandang dan menggelengkan kepala mereka dengan pelan.
Ratu Barunapun ikut menggelengkan kepalanya karena merasa frustasi.
"Setidaknya tolong izinkan kami mencobanya Ratu, kita tidak akan pernah tahu bagaimana hasilnya jika kita belum mencobanya," ucap Nerissa yang masih berusaha untuk meyakinkan Ratu Baruna.
"Baiklah, tidak ada salahnya untuk mencobanya," balas Ratu Baruna yang membuat Nerissa dan Marin saling pandang dan tersenyum senang.
"Kalau begitu Nerissa dan Marin pamit undur diri Ratu, Nerissa akan segera mengatur pertemuan Nerissa dengan pangeran Merville," ucap Nerissa lalu berenang keluar dari istana itu.
Di sisi lain Cadassi dan Gianira sedang berusaha untuk menahan Pangeran Merville agar masih tetap bersama mereka.
Hingga pada akhirnya Pangeran Merville hanya merasa membuang-buang waktunya untuk menemui Cadassi dan Gianira, Pangeran Mervillepun meninggalkan mereka berdua lalu pulang ke istananya.
"Semoga Putri dan Marin sudah menyelesaikan urusan mereka di istana Pangeran Merville," ucap Cadassi kemudian berenang kembali ke istana Seabert bersama Gianira dan Chubasca yang bersembunyi di semak-semak sejak beberapa saat yang lalu.
Sesampainya di istana Seabert, merekapun bisa bernafas lega karena bertemu dengan Nerissa dan Marin.
"Bagaimana Putri? apa kau sudah menemui Ratu Baruna?" tanya Gianira.
"Aku sudah menemuinya dan aku akan melakukan hal lain lagi di istana itu, tapi kali ini kalian tidak perlu membantuku, aku sendiri yang akan datang kesana," ucap Nerissa.
"Kenapa Putri? apa kau yakin tidak membutuhkan bantuan kita lagi?" tanya Chubasca.
"Aku sangat berterima kasih karena kalian semua sudah membantuku, tapi kali ini aku akan datang kesana seorang diri dengan membawa ramuan yang akan Marin siapkan untuk pangeran Merville," ucap Nerissa.
"Ramuan untuk pangeran Merville? ramuan apa yang akan kau buat Marin?" tanya Gianira pada Marin.
"Aku akan membuat ramuan yang bisa membuat Pangeran tertidur cukup lama, tapi sebenarnya aku ragu apakah ramuanku ini bisa membuat Pangeran Merville tertidur karena seperti yang kalian tahu dia memiliki dua mutiara biru milik orang tuanya," jawab Marin menjelaskan.
"Aku juga bisa membantumu Marin," ucap Gianira yang membuat Marin menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang.
"Kalau soal itu aku tidak bisa membantu," ucap Chubasca dengan perlahan berenang mundur yang membuat mereka semua tertawa melihat sikap Chubasca.
**
Hari telah berganti, dengan membawa ramuan buatan Marin yang dibantu oleh Gianira dan Cadassi, Nerissa keluar dari istananya untuk menemui Pangeran Merville.
Nerissa berenang seorang diri ke arah istana Pangeran Merville, namun ia merasa ada yang sedang mengawasinya saat itu.
"Siapa kau sebenarnya? keluarlah sebelum kau menyesal karena sudah mengikutiku diam-diam!" ucap Nerissa dengan membawa pandangannya ke sekelilingnya.
Tiba-tiba Nerissa melihat rerumputan di dekatnya bergerak dan tak lama kemudian terlihat Chubasca yang keluar dari rumput itu dengan terkekeh.
"Hehehe..... aku pikir kau tidak akan menyadarinya," ucap Chubasca lalu berenang ke arah Nerissa.
"Apa yang kau lakukan disini Chubasca? apa kau dari tadi mengikutiku?" tanya Nerissa.
"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja Putri," jawab Chubasca.
"Aku pasti baik-baik saja Chubasca, kau tahu aku punya kekuatan bukan?" balas Nerissa.
"Tetap saja aku ingin menjagamu dari jauh Putri, jadi tolong izinkan aku mengikutimu diam-diam tanpa sepengetahuan Pangeran Merville, aku tidak akan melakukan apapun jika dia tidak melakukan sesuatu yang membahayakanmu," ucap Chubasca.
"Baiklah kalau begitu," balas Nerisaa lalu kembali berenang diikuti oleh Chubasca.
Saat sudah mendekati istana Pangeran Merville, Chubascapun mulai menyembunyikan dirinya. Nerissa kemudian menemui Pangeran Merville yang sudah menunggunya di taman yang ada di dekat gerbang istana Pangeran Merville.
"Selamat datang di istanaku Putri, akhirnya kau bersedia untuk menemuiku," ucap Pangeran Merville menyambut Nerissa.
"Aku kesini untuk meminta maaf padamu karena aku tidak akan menerima pernikahan kita," balas Nerissa.
"Apa kau masih berpikir bahwa aku pangeran yang jahat?" tanya Pangeran Merville.
"Entah bagaimanapun sikapmu yang sebenarnya tetapi aku benar-benar tidak bisa menikah denganmu karena aku tidak mencintaimu," jawab Nerissa.
"Tapi....."
"Sebagai permintaan maafku, aku membawakan ini untukmu dan aku harap setelah ini kau tidak akan menemuiku lagi," ucap Nerissa sambil memberikan sebotol ramuan pada pangeran Merville.
"Tidak.. aku tidak akan menerimanya, aku tidak mungkin tidak menemuimu lagi," ucap Pangeran Merville menolak.
"Jika memang kita tidak bisa menikah setidaknya kita bisa menjadi teman pangeran," ucap Nerissa.
"Tapi aku menginginkanmu menjadi istriku Putri Nerissa, aku tidak ingin menjadi temanmu," ucap Pangeran Merville dengan nada suara yang mulai tinggi.
"Sikapmu yang memaksaku seperti inilah yang membuatku tidak bisa menjatuhkan hatiku padamu Pangeran, tolong mengertilah," ucap Nerissa yang berusaha menahan kesabarannya.
"Lalu apa yang kau inginkan? hanya menjadi teman? tentu saja aku tidak bisa menerimanya," balas Pangeran Merville.
"Kau tidak akan bahagia jika memiliki istri yang tidak mencintaimu Pangeran, tolong pikirkan hal ini baik-baik, aku sudah membuat ramuan ini untuk membuat suasana hatimu menjadi tenang agar kau bisa berpikir dengan kepala dingin," ucap Nerissa.
"Minuman ini tidak akan mengubah keputusanku Nerissa, bahkan setelah aku meminumnya aku tetap menginginkanmu menjadi istriku," ucap Pangeran Merville.
"Kau belum mencobanya pangeran, aku yakin setelah kau mencobanya kau akan berpikir lebih jernih dan...."
Nerissa menghentikan ucapannya saat Pangeran Merville tiba-tiba meneguk minuman yang ada di botol itu sampai habis tak bersisa.
"Lihatlah aku sudah menghabiskan minuman buatanmu, tapi aku tetap menginginkanmu menjadi istriku," ucap Pangeran Merville.
"Maaf pangeran, tapi aku benar-benar tidak bisa menjadi istrimu, karena aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan mutiara milikku," ucap Nerissa.
"Nerissa, kau......"
Pangeran Marvel menghentikan ucapannya saat ia merasa kepalanya pusing, tak lama kemudian iapun terjatuh dan terpejam.
Ratu Baruna yang melihat hal itu dari jauh segera menghampiri Pangeran Merville yang tengah terpejam di bangku istana.
"Lakukanlah Ratu, Nerissa yakin Pangeran Merville tidak akan bangun sampai mutiara itu keluar dari tubuhnya," ucap Nerissa pada Ratu Baruna.
Ratu menganggukkan kepalanya lalu mendekati Pangeran Merville dan menaruh tangannya di atas dada Pangeran Merville.
Sebuah cahaya tiba-tiba terlihat dari data Pangeran Merville, kemudian redup saat Ratu Baruna mengangkat tangannya dan memperlihatkan mutiara dalam genggamannya.
"Aku sudah mengambilnya Putri Nerissa, aku sudah mengambil mutiara milikku dari putraku," ucap Ratu Baruna pada Nerissa.
"Syukurlah kalau begitu, sekarang Ratu memiliki kesempatan untuk mencegah Pangeran Merville melanjutkan rencana jahatnya, Nerissa harap Ratu bisa mengambil keputusan yang tepat sebelum Pangeran Merville melakukan hal lain yang lebih buruk," ucap Nerissa.
"Jangan khawatir Putri, aku akan memerintahkan penjaga istana untuk membawanya ke penjara kegelapan, aku harap dia akan menghabiskan waktunya disana untuk memikirkan semua perbuatan buruknya, aku tidak akan mengeluarkannya sampai dia benar-benar menyesali apa yang sudah dia lakukan," ucap Ratu Baruna.
"Terima kasih Ratu, Nerissa minta maaf jika apa yang Nerissa lakukan membuat Ratu bersedih karena harus memenjarakan putra satu-satunya yang Ratu miliki," ucap Nerissa.
"Aku sangat berterima kasih padamu Putri, sampaikan terima kasihku pada Ratu Nagisa juga, Ratu Nagisa pasti sangat bangga memiliki putri cantik dan baik sepertimu," balas Ratu Baruna.
Ratu Baruna kemudian memberikan sebuah mutiara berwarna merah muda pada Nerissa sebelum Nerissa pergi.
"Aku tidak yakin apa kau membutuhkan mutiara ini atau tidak, tapi aku rasa kau lebih berhak memilikinya, aku mendapatkan mutiara ini dari mermaid tua penjaga persimpangan dunia manusia dan dunia laut, kau bisa meminta apapun padanya dengan menggunakan mutiara ini."
"Kenapa Ratu memberikannya pada Nerissa? bukankah Ratu bisa menggunakan mutiara ini untuk membuat Pangeran Merville melupakan ambisinya yang buruk itu?"
"Aku sempat berpikir seperti itu, tetapi setelah aku tahu jika ada hal besar yang harus aku korbankan untuk mendapatkan keinginanku itu, akupun ragu dan memilih untuk menyimpan mutiara itu tanpa pernah menggunakannya," jawab Ratu Baruna.
"hal besar apa yang harus dikorbankan sampai membuat Ratu Baruna lebih memilih untuk tidak menggunakan mutiara ini?" batin Nerissa bertanya dalam hati.