
Daniel menghentikan mobilnya di depan toko bunga Marin. Ia kemudian turun dari mobil bersama Nerissa.
"Nerissa, apa kau lelah?" tanya Daniel.
"Tidak, kenapa?"
"Aku ingin mengobrol denganmu sebentar, boleh?"
"Tentu saja, ayo masuk!"
"Disini saja, kita duduk disini saja," ucap Daniel lalu duduk di depan toko bunga Marin.
Nerissa pun ikut duduk di samping Daniel.
"Bagiamana hari pertamamu bekerja di rumah Alvin?" tanya Daniel.
"Menyenangkan, sangat menyenangkan," jawab Nerissa dengan tersenyum senang.
"Apa Alvin memperlakukanmu dengan baik? dia tidak memarahimu bukan?"
"Dia tidak akan marah kalau aku tidak melakukan kesalahan, aku tau dia laki laki yang baik," jawab Nerissa.
"Iya, dia memang laki laki yang baik, bagiamana denganku?"
"Apa maksudmu?" balas Nerissa bertanya.
"Apa aku juga laki laki yang baik?" tanya Daniel.
"Tentu saja, dari pertama kali kita bertemu, kau sangat baik padaku dan juga Marin, aku sangat beruntung karena bisa bertemu denganmu malam itu," jawab Nerissa.
"Apa aku......" Daniel menggantung ucapannya.
"sudah cukup baik untuk menjadi pasanganmu?" lanjut Daniel dalam hati.
"Apa?" tanya Nerissa yang melihat Daniel hanya diam, tidak melanjutkan ucapannya.
"Apa aku boleh menjadi temanmu?" tanya Daniel.
"Tentu saja, aku sudah menganggapmu teman dari dulu, apa hanya aku saja yang beranggapan kalau kita memang berteman?"
"Tidak, bukan begitu, aku hanya ingin memastikannya saja, aku juga sudah menganggapmu teman dari dulu," ucap Daniel.
"teman yang sangat aku sukai," ucap Daniel dalam hati
"Aku berharap kau juga bisa berteman baik dengan Marin, dia perempuan yang baik, kau tidak akan menyesal berteman dengannya," ucap Nerissa.
Daniel hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Masuklah, kau harus beristirahat!" ucap Daniel pada Nerissa.
"Kau juga harus pulang dan beristirahat Daniel," balas Nerissa.
Daniel menganggukan kepalanya kemudian masuk ke dalam mobilnya, melambaikan tangannya sebelum ia mengendarai mobilnya meninggalkan toko bunga Marin.
Nerissa kemudian masuk ke dalam rumah, mandi lalu menghampiri Marin di kamarnya.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Nerissa dengan membuka sedikit pintu kamar Marin.
"Tidak, masuklah," jawab Marin yang masih fokus dengan buku di hadapannya.
"Apa kau sedang menghitung penjualan hari ini?" tanya Nerissa yang sudah duduk di samping Marin.
"Iya, sepertinya aku harus segera mendapatkan pegawai baru untuk mengantarkan pesanan bunga," jawab Marin.
"Aku pikir kau sudah mendapatkan penggantiku," ucap Marin.
"Iya, tapi hanya sementara, aku tidak bisa mempekerjakan dia selamanya," balas Marin.
"Kenapa?" tanya Nerissa.
Marin kemudian menutup bukunya, membawa pandangannya pada Nerissa lalu menggelengkan kepalanya dengan tersenyum misterius.
"Apa kau mengantar bunga bunga itu sendiri?" tanya Nerissa.
"Iya, beberapa, tapi ada yang membantuku juga untuk mengantarnya ke tempat yang tidak bisa ku jangkau," jawab Marin.
"Kalau begitu aku akan keluar dari pekerjaanku di rumah Alvin, aku akan membantumu sampai kau mendapatkan penggantiku!" ucap Nerissa.
"Jangan, kau tidak perlu melakukan hal itu Putri, aku bisa menangani semuanya dengan baik, kau jangan khawatir!"
"Tapi kau....."
"Tenang saja, besok aku akan menyeleksi beberapa orang yang sudah memberikan lamaran pekerjaannya padaku, jadi aku akan segera mendapatkan penggantimu!" ucap Marin memotong ucapan Nerissa.
"Kau yakin?"
"Tentu saja, bagiamana hari ini? apa kau senang bekerja di rumah Alvin?"
"Iya aku senang, disana banyak teman teman kita dari laut," jawab Nerissa.
"Bagiamana dengan Alvin?"
"Apa maksudmu Marin? aku hanya bekerja untuk menjaga dan merawat ikan ikan miliknya, tidak ada hubungannya langsung dengannya!"
"Tapi kau bertemu dengannya bukan?"
"Iya, aku hanya bertemu dengannya saat pagi sebelum dia berangkat ke kantor dan saat sore setelah dia pulang dari kantor dan saat itu aku pulang!" jawab Nerissa.
"Putri, kau sudah menyia-nyiakan kesempatan yang besar!"
"Kesempatan apa maksudmu?"
"Kesempatan untuk membuatnya mengingatmu," jawab Marin.
Nerissa kemudian menghembuskan napasnya panjang, ia kembali teringat sikap Alvin saat ia berada di pantai ketika hujan.
Ia merasa Alvin begitu peduli padanya, sikapnya yang hangat dan penuh kasih sayang, membuat Nerissa berpikir jika Alvin sudah mengingatnya.
Tapi ia tidak ingin kecewa dengan pemikirannya sendiri, karena bisa jadi Alvin hanya merasa kasihan padanya.
"Putri, apa yang kau pikirkan?" tanya Marin yang melihat Nerissa hanya diam.
"Tidak ada, aku akan kembali ke kamar, aku sangat mengantuk," jawab Nerissa kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Marin.
Nerissa masuk ke kamarnya dan duduk di tepi ranjangnya. Matanya menangkap buket bunga tulip putih yang ada di mejanya.
"Permintaan maaf yang tulus? untuk apa? karena sudah bersikap kasar dan dingin padaku? apa hanya untuk itu?" tanya Nerissa pada dirinya sendiri.
Nerissa kemudian merebahkan badannya, menatap nanar langit langit rumahnya.
"bunda, apa yang harus Nerissa lakukan sekarang? Nerissa bahkan belum menemukan mahkota yang bisa membantu Nerissa mendapatkan mutiara biru milik bunda," batin Nerissa dalam hati.
**
Waktu berlalu, sama seperti hari kemarin, Nerissa sudah berada di bus yang akan mengantarnya ke rumah Alvin.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, ia pun sampai. Nerissa turun di halte dan berjalan beberapa meter untuk sampai di rumah Alvin.
Sesampainya disana, ia segera berjalan ke arah pintu. Baru saja ia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu, pintu sudah terbuka sebelum ia mengetuknya.
"Selamat pagi," sapa Nerissa.
"Masuklah, ayo sarapan bersama!" ucap Alvin lalu melangkah ke arah ruang makan.
Dengan ragu Nerissa berjalan mengikuti Alvin ke arah meja makan. Alvin sengaja menunggu kedatangan Nerissa dan mengajaknya sarapan bersama.
Semalam saat ia sedang memantau rekaman CCTV, ia melihat Nerissa yang tidak makan sama sekali. Ia pun bertanya pada mbak Tina, asisten rumah tangga pengganti bi Sita, mbak Tinapun menjelaskan jika Nerissa hanya memakan rumput laut kering yang dibawanya sendiri tanpa memakan nasi sesuappun.
Itu kenapa pagi itu Alvin mengajak Nerissa sarapan, ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Nerissa.
"Ada satu hal yang harus kau lakukan selama bekerja disini!" ucap Alvin di tengah sarapannya bersama Nerissa.
"Apa itu?" tanya Nerissa.
"Kau harus menjaga kesehatanmu, aku tidak ingin kau sakit, karena hanya kau yang aku percaya menjaga dan merawat ikan ikanku!" jawab Alvin.
"Aku mengerti," balas Nerissa.
Setelah selesai sarapan, Alvin kembali ke kamarnya, mengambil tas kerjanya dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Tidak apa mbak, biar saya bantu!"
Terdengar suara Nerissa dari arah dapur. Alvinpun segera berjalan ke dapur.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Aku membantu mbak Tina mencuci piring sebentar," jawab Nerissa.
"Itu bukan pekerjaanmu!" ucap Alvin.
"Aku tau, aku hanya mencuci piring sebentar Alvin!"
Alvin menghela nafasnya, kemudian menaruh tasnya dan menghampiri Nerissa.
Ia segera menarik tangan Nerissa, menaruh piring kotor yang dipegang Nerissa dan membasuh tangan Nerissa dibawah guyuran air.
Alvin kemudian membawa Nerissa keluar dari dapur dengan masih menarik tangannya. Ia melepaskan tangan Nerissa di depan akuarium besar yang ada di bawah tangga.
"Apa kau akan membiarkan mereka kelaparan karena menunggumu mencuci piring?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Tidak, aku hanya...."
"Berhenti membantahku Nerissa, kerjakan saja apa yang harus kau kerjakan disini, jangan melakukan apa yang tidak seharusnya kau lakukan!" ucap Alvin dengan tegas, membuat Nerissa hanya diam dan menundukkan kepalanya.
"Kau mengerti?" tanya Alvin.
"Aku mengerti," jawab Nerissa dengan masih menunduk kepalanya.
"Bagus, aku tidak akan tinggal diam kalau kau melakukan pekerjaan lain selain merawat ikan ikan ini, kau tau ada CCTV di setiap sudut rumah ini bukan?"
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab apapun. Alvin kemudian kembali ke dapur untuk mengambil tas kerjanya.
"Mbak, tolong pastikan Nerissa tidak pernah melakukan pekerjaan lain selain merawat ikan!" ucap Alvin pada mbak Tina.
"Baik Tuan."
Alvin kemudian berjalan keluar, bersiap untuk pergi ke kantor.
Sedangkan Nerissa segera memberi makan ikan ikan yang ada di akuarium milik Alvin.
**
Di tempat lain, dengan kesal Daniel mengendarai mobilnya ke arah toko bunga Marin karena Marin memintanya untuk mengantar beberapa buket bunga.
"Kenapa kau telat? bukankah aku memintamu untuk datang lebih pagi?" tanya Marin sambil memberikan beberapa buket bunga berserta kertas alamatnya pada Daniel.
Daniel tak menjawab, ia hanya menerima beberapa buket bunga dan juga kertas alamat yang Marin berikan kemudian pergi begitu saja.
Ia sedang malas berdebat dengan Marin pagi itu.
Setelah mengantar beberapa buket bunga, Daniel pun sampai di kantor.
"Waaahhh waaahhh anak bos besar baru sampai ya!" ucap Ricky yang berjalan di belakang Daniel.
"Maaf aku terlambat, ada....."
"Sudah beberapa kali kau terlambat Daniel, apa kau sadar kalau kau sedang bekerja di perusahaanku saat ini?"
"Maafkan aku," ucap Daniel dengan menundukkan kepalanya.
Ia bukanlah tipe laki laki yang mudah meminta maaf jika dirinya memang tidak bersalah. Tapi saat itu ia tau jika dirinya memang bersalah karena sudah beberapa kali terlambat masuk ke kantor, ditambah lagi moodnya sedang buruk saat itu yang membuatnya malas untuk berdebat dengan Ricky.
"Kalau kau memang sadar, berhenti bertingkah seolah kau bekerja di perusahaan papamu Daniel, ini perusahaan ku, kau harus mematuhi semua peraturan disini!" ucap Ricky.
Daniel mengela nafasnya panjang kemudian berjalan mendekati Ricky dengan tatapan tajam.
"Sekarang apa maumu?" tanya Daniel pada Ricky.
"Apa orangtuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun? kau......"
"Berhenti mengoceh tentang orangtuaku Ricky, aku memang bersalah dan aku sudah meminta maaf, aku juga tidak keberatan kalau kau memotong gajiku, memberiku sanksi atau apapun itu terserah, aku tidak peduli!" ucap Daniel yang sudah hilang kesabarannya.
Ricky yang mendengar hal itu hanya bisa diam, ia tidak menyangka Daniel akan mengatakan hal itu dengan berteriak di depannya.
"Apa kau sudah kehilangan akalmu?" tanya Ricky.
"Iya, kenapa? apa kau akan memecatku? lakukan saja jika kau bisa!" ucap Daniel kemudian berjalan meninggalkan Ricky begitu saja.
"Kau akan menyesal Daniel!" ucap Ricky pelan dengan mengepalkan kedua tangannya.
Daniel kemudian masuk ke ruangannya dan menjatuhkan dirinya dengan kasar di kursi kerjanya.
Sejak pagi ia merasa harinya sudah buruk. Dimulai dengan mendengarkan pertengkaran mama dan papanya, Marin memintanya mengantar bunga sehingga membuatnya terlambat dan ocehan Ricky yang membuatnya semakin kesal.
"pagi yang sangat buruk," batin Daniel dalam hati sambil memijit keningnya.
Daniel kemudian menyalakan komputernya dan fokus berkerja.
Biiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Daniel berdering, sebuah panggilan dari sang mama.
"Halo sayang, apa mama mengganggumu?"
"Tidak ma, ada apa?"
"Mama hanya ingin memberi tahumu, untuk beberapa hari ini mama ingin berada di rumah nenekmu, tolong jangan menjemput mama, mama akan pulang jika suasana hati mama sudah membaik," jawab sang mama.
"Berapa lama mama akan berada disana?" tanya Daniel.
"Mama tidak tau sayang, jaga dirimu baik baik dan jangan bertengkar dengan papa, papa sangat sibuk dengan pekerjaannya, kau harus memahaminya!"
"kalau Daniel harus memahami papa, kenapa mama tidak? kenapa mama harus menghindar seperti ini?" tanya Daniel dalam hati.
"Daniel? apa kau mendengarkan mama?"
"Iya ma, Daniel mengerti!" jawab Daniel.
Panggilan berakhir. Daniel memasukkan kembali ponselnya ke saku jasnya.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Ponselnya berdering, sebuah pesan dari Marin.
"Jangan lupa datang, kau harus mengantar beberapa buket bunga lagi!"
Daniel menghela nafasnya kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangannya.
Daniel segera meninggalkan kantor dan mengendarai mobilnya ke arah toko bunga Marin.
"Akhirnya kau datang, ini bunga bunga yang harus kau antar dan ini......"
"Sebanyak ini? apa kau bercanda?" tanya Daniel yang melihat begitu banyak buket bunga di hadapannya.
"Iya, apa kau lupa kalau ini hari valentine? semua buket bunga ini harus segera kau antar pada mereka!"
"Apa kau gila? aku bukan pengangguran Marin! aku sedang bekerja di perusahaan sekarang, aku punya jam kerja, tugas dan peraturan yang harus aku patuhi di perusahaan, aku bahkan telat datang ke kantor, belum makan siang dan segera kesini untuk membantumu, tapi kau.... kau memanfaatkanku dengan menggunakan Nerissa sebagai ancaman untukku, kau benar benar keterlaluan Marin!"
"Tapi kau sudah berjanji, lagipula bunga bunga ini......"
"Aku memang berjanji akan melakukan apapun yang kau mau, tapi bukan seperti ini, kau menggangguku Marin, kau mengganggu hidupku dan kau mengacaukan hari hariku, aku menyesal karena sudah memintamu untuk membantuku kemarin, aku benar benar menyesal!" ucap Daniel penuh emosi.
"Kau menyesalinya?" tanya Marin dengan mata yang berkaca kaca karena kemarahan Daniel padanya.
"Iya, aku sangat menyesalinya, sekarang katakan padaku berapa uang yang harus aku bayarkan padamu untuk menebus janjiku padamu! katakan berapa yang harus aku bayar karena kau sudah menolongku malam itu!" ucap Daniel sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
"Apa ini cukup? jika tidak aku akan memberimu cek kosong dan...."
Marin mengambil uang yang Daniel sodorkan padanya kemudian melemparnya dengan kasar ke arah Daniel.
"Aku tidak butuh uangmu!" ucap Marin dengan air mata yang sudah memenuhi kedua sudut matanya.
"Apa kau sudah lihat siapa dan dimana alamat pemesan bunga bunga ini? semuanya ada di perusahaan tempatmu bekerja, itu artinya kau tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mengantarnya, aku juga sudah memintamu untuk datang lebih pagi agar kau tidak terlambat sampai di tempatmu bekerja, aku sudah memperhitungkan semuanya Daniel, aku tau siapa dirimu, aku tau kesibukanmu, aku....."
Marin menghentikan ucapannya, ia menghela nafasnya panjang untuk menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan Daniel.
"Aku tidak akan mengganggumu lagi, pergilah!" ucap Marin kemudian mengambil semua buket bunga yang sudah dibuatnya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Meninggalkan Daniel yang hanya bisa diam di tempatnya berdiri.