
Di toko bunga Marin.
Daniel menghentikan mobilnya di depan toko bunga Marin setelah berkali kali menghubungi Nerissa namun tidak ada jawaban.
"Selamat datang di Marin Florist......" Marin menghentikan ucapannya saat melihat siapa yang masuk ke toko bunganya.
"Hai Marin, dimana Nerissa? apa dia sedang mengantar bunga?"
"Putri sedang keluar bersama Alvin," jawab Marin.
"Bersama Alvin? kemana mereka pergi?"
"Aku juga tidak tau," jawab Marin.
Daniel kemudian mengambil ponsel di sakunya lalu menghubungi Alvin, meminta Alvin untuk segera mengantar Nerissa pulang.
Setelah beberapa lama menunggu, Alvin dan Nerissapun sampai.
"Kalian dari mana?" tanya Daniel pada Alvin dan Nerissa.
Nerissa tidak menjawab pertanyaan Daniel, ia membawa pandangannya ke arah Alvin.
"Aku mengajaknya pergi ke kafe sebentar, sebagai ucapan terima kasih karena sudah bekerja di rumahku," jawab Alvin.
"Apa perlu pergi ke kafe berdua?" tanya Daniel dengan nada suara yang tidak bersahabat.
"Kau sedang sibuk dan Marin harus menjaga toko bunganya, aku harus mengajak siapa lagi kalau kau dan Marin sama sama sibuk?"
"Kau...."
"Sudah Daniel, kau ada perlu apa kemari? apa kau mencariku?" sahut Nerissa bertanya pada Daniel.
Daniel menghela nafasnya kemudian memberikan selembar kertas pada Nerissa.
"Aku akan menjemputmu nanti malam!" ucap Daniel lalu pergi begitu saja.
Nerissa hanya diam membolak balikkan kertas di tangannya.
Tiket Festival Musik
"Tiket festival musik? apa ini?" tanya Nerissa tak mengerti.
"Daniel mengajakmu melihat acara musik nanti malam, jadi bersiaplah, sekarang aku pergi dulu!"
Nerissa menganggukan kepalanya lalu melambaikan tangannya pada Alvin.
Nerissa kemudian menghampiri Marin yang sedang merangkai buket bunga.
"Suasana apa yang baru saja terjadi?" tanya Marin pada Nerissa.
"Suasana apa maksudmu?" balas Nerissa bertanya.
"Apa kau tidak bisa merasakan aura mencekam yang baru saja terjadi?"
Nerissa hanya menggelengkan kepalanya tidak mengerti maksud Marin.
"Sepetinya kau sedang dalam masalah besar Putri," ucap Marin.
"Masalah apa maksudmu Marin?"
"Hmmm.... kau memang sangat polos, kau sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarmu!" ucap Marin tanpa menjawab pertanyaan Nerissa, membuat Nerissa semakin bingung.
Marin kemudian meletakkan buket bunga yang baru saja dibuatnya lalu menarik tangan Nerissa untuk mengajaknya duduk.
"Sebenarnya seperti apa hubunganmu dengan Alvin, Putri?" tanya Marin pada Nerissa.
"Hubunganku dengan Alvin? kita berteman," jawab Nerissa.
"Apa kau menyukainya?"
"Kenapa kau tiba tiba menanyakan hal itu?"
"Aahhh sudahlah, aku tau kau menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya, bagaimana dengan Daniel?"
"Daniel? ada apa dengan Daniel?"
"Bagaimana perasaanmu pada Daniel? apa kau juga menyukainya?"
"Aku hanya menganggapnya teman Marin, dia baik dan aku menyukainya sebagai teman baikku, itu saja," jawab Nerissa.
"Itulah masalahnya," ucap Marin.
"Masalah apa yang kau maksud Marin? tolong jelaskan padaku, aku sama sekali tidak mengerti maksudmu!"
"Apa kau benar benar tidak sadar kalau Daniel menyukaimu?" tanya Marin pada Nerissa.
"Menyukaiku? mungkin dia menyukaiku sebagai temannya, sama seperti aku menyukainya," balas Nerissa.
"Tidak Putri, dia benar benar menyukaimu, dia ingin memilikimu," ucap Marin menjelaskan.
"Kau terlalu banyak berpikir Marin, disini banyak gadis yang lebih cantik dariku, tidak mungkin Daniel menyukai seseorang yang baru dikenalnya!"
"Lalu bagaimana denganmu Putri? kau bahkan menyukai Alvin sebelum kau mengenalnya!" balas Marin.
Nerissa terdiam mendengar ucapan Marin.
"Kau tau Daniel dan Alvin bersahabat bukan? mereka sangat dekat seperti saudara, apa jadinya jika mereka menyukai satu perempuan yang sama? apa kau bisa membayangkan seperti apa persahabatan mereka nantinya?"
"Tapi.... Alvin tidak menyukaiku, dia bahkan sudah melupakan aku yang pernah dikenalnya saat di pantai," ucap Nerissa.
"Tapi kau menyukai Alvin!"
"Apa aku salah?" tanya Nerissa.
"Putri, kau...."
"Aku tau Marin, aku tau siapa kita sebenarnya, aku tidak seharusnya menyukai Alvin apa lagi berharap memilikinya, aku.... aku hanya.... menyukainya, hanya sebatas itu!"
"Apa kau yakin?"
"Tujuan kita kesini bukan untuk itu Marin, kita harus segera mendapatkan mahkota dan mutiara biru milik bunda, aku tidak akan memikirkan hal lain selain itu!" ucap Nerissa.
"Selama kita masih berada disini, kita akan selalu terhubung dengan Alvin dan Daniel Putri, kau tidak bisa menjaga jarak begitu saja dari mereka, jadi...."
"Aku mengerti, aku pulang dulu Marin, aku sangat lelah," ucap Nerissa memotong ucapan Marin kemudian keluar dari toko bunga dan masuk ke dalam rumah.
Marin hanya menghela nafasnya kemudian kembali membuat buket bunga. Sedangkan Nerissa segera masuk ke kamarnya.
Nerissa membawa pandangannya pada dua buket bunga yang tergeletak di mejanya. Dua buket bunga dari dua laki laki yang berbeda.
"Daniel menyukaiku? mana mungkin!"
Nerissa kemudian masuk ke kamar mandi, membasahi tubuhnya dengan guyuran air di bawah shower.
Kau tau Daniel dan Alvin bersahabat bukan? mereka sangat dekat seperti saudara, apa jadinya jika mereka menyukai satu perempuan yang sama? apa kau bisa membayangkan seperti apa persahabatan mereka nantinya
Ucapan Marin kembali terngiang di telinganya. Ia tau Alvin dan Daniel bersahabat dekat.
"aku hanya menyukai Alvin, hanya sebatas suka, aku tidak boleh melibatkan perasaanku terlalu jauh di dunia yang bukan merupakan tempat tinggalku ini, aku hanya sementara disini, aku tidak boleh membuat masalah, apa lagi menghancurkan persahabatan Alvin dan Daniel yang sudah banyak membantuku," ucap Nerissa dalam hati.
Setelah selesai mandi, Nerissa membuka lemarinya untuk memilih pakaian yang sesuai untuk ia kenakan.
Saat sedang melihat isi lemarinya, matanya tertuju pada sebuah mini dress pemberian Alvin.
"kenapa Alvin memberikan pakaian mamanya padaku? bukankah ini barang yang sangat penting untuknya?"
Nerissa kemudian mengambil pakaian yang lain dan mengenakannya. Nerissa menatap pantulan wajahnya yang ada pada cermin di hadapannya.
"apa aku memang cukup cantik untuk membuat Daniel menyukaiku? sepertinya tidak, Cordelia bahkan jauh lebih baik daripada aku, dia selalu mengenakan pakaian yang bagus dan dia selalu terlihat cantik dimanapun dia berada," ucap Nerissa dalam hati.
Nerissa kemudian berdiri melihat pantulan dirinya secara keselurahan di hadapan cermin.
"Lihatlah dirimu Nerissa! jangan berharap akan ada yang menyukaimu dengan pakaianmu yang seperti ini, Alvin bahkan tidak mengingatmu sama sekali sampai sekarang!" ucap Nerissa mentertawakan dirinya sendiri.
Nerissa kemudian menjatuhkan dirinya di ranjang. Ia melihat tiket festival musik yang tadi Daniel berikan padanya.
"Aaahhh... aku sangat malas untuk keluar malam ini!"
Nerissa kemudian beranjak dari ranjangnya dan berjalan keluar dari kamarnya untuk membantu Marin menutup toko bunga.
"Marin, apa sebaiknya aku tidak pergi bersama Daniel malam ini?" tanya Nerissa pada Marin.
"Kenapa?"
"Entahlah, rasanya aku sangat malas, ingin di rumah saja bersamamu," jawab Nerissa.
"Kalau Alvin yang mengajakmu, apa kau akan malas juga?" tanya Marin dengan tersenyum menggoda Nerissa.
**
Jam jam berlalu menyambut petang yang perlahan semakin gelap.
Nerissa sedang bersiap untuk pergi ke festival musik bersama Daniel.
"Aku pikir kau tidak akan pergi!" ucap Marin saat melihat Nerissa yang sudah berdandan.
"Apa kau mau menggantikanku?"
"Dia mengajakmu, bukan mengajakku!" balas Marin.
"Aku hanya tidak ingin mengecewakannya, dia sudah sangat baik pada kita," ucap Nerissa.
"Kau benar Putri, itu karena dia menyukaimu sejak pertama kali melihatmu!" balas Marin.
"Berhenti berbicara seperti itu Marin, kau....."
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu membuat Nerissa menghentikan ucapannya dan segera berjalan ke arah pintu.
"Apa kau sudah siap?" tanya Daniel yang sudah berdiri di depan pintu.
"Sudah," jawab Nerissa dengan tersenyum.
Setelah berpamitan pada Marin, Nerissa dan Danielpun meninggalkan rumah Marin.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, sorot lampu panggung terlihat menembus gelap malam, pertanda sebentar lagi mereka akan sampai.
"Kau sudah membawa tiketmu Nerissa?" tanya Daniel pada Nerissa.
"Tiket?"
"Iya, tiket yang aku berikan padamu tadi!"
Nerissa terdiam beberapa saat, ia kemudian mengobok obok isi tasnya untuk mencari tiket yang Daniel berikan padanya.
"dimana tiket itu? apa aku meninggalkannya?" batin Nerissa gugup.
"Kenapa Nerissa? apa kau tidak membawanya?" tanya Daniel.
Nerissa mencoba menggali ingatannya tentang tiket festival musik yang tadi sempat dipegangnya. Ia baru ingat jika ia menaruhnya di ranjangnya dan belum memasukkannya ke dalam tas yang ia bawa.
"Daniel, maafkan aku, sepertinya aku tidak membawanya," ucap Nerissa yang merasa bersalah pada Daniel.
"Apa kau yakin? coba kau cari lagi, mungkin terselip di dalam tasmu!"
Nerissa berusaha mencarinya lagi meski ia yakin jika ia belum memasukkan tiket itu ke dalam tasnya.
"Apa kau benar benar tidak membawanya?" tanya Daniel setelah melihat Nerissa yang terus mencari tiket itu di dalam tasnya.
"Maafkan aku," ucap Nerissa dengan menundukkan kepalanya.
"Tidak apa, kita bisa membelinya lagi disana," balas Daniel dengan mengusap kepala Nerissa.
Sesampainya di tempat tujuan, Daniel segera membeli tiket yang baru. Namun karena festival musik itu dihadari penyanyi dan band terkenal tanah air, tiket sudah terjual habis dari beberapa jam sebelum festival dimulai.
"Sepertinya kita tidak masuk Nerissa!" ucap Daniel pada Nerissa.
"Kenapa?"
"Semua tiket sudah terjual habis," jawab Daniel.
"Apa kau sangat ingin melihat festival musik itu? jika iya, masuklah, aku akan menunggumu disini!"
"Aku memang sangat ingin melihatnya, tapi bagaimana mungkin aku meninggalkanmu disini sendirian!"
"Tidak apa, lagipula ini kesalahanku karena lupa membawa tiket yang kau berikan padaku!" balas Nerissa.
"Lebih baik kita pergi dari sini, aku akan mengajakmu ke tempat lain," ucap Daniel sambil menarik tangan Nerissa.
Mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Nerissa pada Daniel.
"Ke tempat yang jauh," jawab Daniel sambil memberikan senyumnya pada Nerissa.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, mobil Daniel mulai memasuki daerah pegunungan. Jalan yang naik turun dan berbelok tajam membuat Nerissa sedikit pusing.
"Apa kau baik baik saja?" tanya Daniel yang melihat Nerissa tampak tidak baik baik saja.
"Aku baik baik saja, hanya.... sedikit pusing," jawab Nerissa.
Daniel kemudian mengganti posisi sandaran kursi Nerissa, agar Nerissa bisa lebih nyaman.
"Pejamkan matamu dan tidurlah, aku akan membangunkanmu saat kita sudah sampai," ucap Daniel.
Nerissa kemudian memejamkan matanya untuk mengurangi pusing yang dirasakannya. Setelah beberapa lama kemudian, Daniel memperlambat laju mobilnya kemudian berhenti di tempat parkir.
Nerissa yang merasa mobil Daniel sudah berhenti, segera membuka matanya.
"Kita dimana? kenapa gelap sekali?" tanya Nerissa saat ia memperhatikan keadaan di sekitarnya.
"Ayo turun, aku yakin kau akan menyukainya," ucap Daniel sambil melepaskan seat belt yang Nerissa pakai.
Nerissa memperhatikan ke sekelilingnya, banyak mobil yang terparkir di tempat yang gelap itu.
"Jangan takut, ada aku disini!" ucap Daniel lalu menarik tangan Nerissa ke dalam genggamannya.
Daniel kemudian membawa Nerissa meninggalkan tempat parkir dan masuk ke dalam kafe dengan penerangan yang cukup remang.
Daniel terus berjalan memasuki kafe dan melewati pintu besar yang membawanya ke balkon di belakang kafe.
Disana, sebuah pemandangan indah terhampar diantara gelap malam. Nerissa terdiam takjub dengan apa yang dilihatnya saat itu.
Cahaya lampu yang terlihat kecil terlihat seperti taburan bintang yang terhampar luas di hadapannya.
Daniel yang melihat Nerissa hanya berpakaian berlengan pendek segera melepas jaketnya kemudian memakaikannya pada Nerissa.
"Apa kau tidak dingin?" tanya Nerissa pada Daniel.
"Tidak, melihatmu saja sudah membuatku cukup hangat," jawab Daniel dengan tersenyum.
Nerissa hanya tersenyum mendengar jawaban Daniel.
"Duduklah, aku akan memesan minuman hangat untukmu!" ucap Daniel sambil menggeser kursi untuk Nerissa duduk.
Tak lama kemudian Daniel datang dengan membawa 2 cup coklat hangat.
"Minumlah, ini akan menghangatkanmu!" ucap Daniel sambil memberikan satu cup coklat hangat pada Nerissa.
"Terima kasih Daniel," ucap Nerissa yang dibalas anggukan kepala Daniel.
"Apa kau menyukai tempat ini?" tanya Daniel.
"Tentu saja, aku sangat menyukainya, dari dulu aku selalu ingin berada di tempat yang tinggi, menikmati pemandangan dari tempat yang tinggi adalah keinginan terbesarku," jawab Nerissa.
"Benarkah?"
"Iya, terima kasih karena telah membawaku ke tempat ini!"
Daniel hanya menganggukkan kepalanya dengan menatap gadis cantik di hadapannya.
**
Di tempat lain, Alvin sedang terdiam menatap kotak kayu di hadapannya. Entah sudah berapa lama ia hanya diam menatapnya.
Alvin kemudian membukanya dan mengambil mahkota yang ada di dalamnya.
Ia sengaja mengambil mahkota itu dari dalam lemarinya karena mengingat ucapan Nerissa tentang mahkota.
aku ingin pergi ke pantai sekarang, mencari mahkota sekaligus menyelam ke dasar yang sangat dalam, aaahhh.... aku benar benar merindukan tinggal di
"apa mahkota ini milik Nerissa? aku menemukan mahkota ini di pantai dan Nerissa sedang mencari mahkotanya di pantai,"
Alvin kemudian memasukkan mahkota itu ke dalam kotak kayu dan mengembalikkannya ke dalam lemari.
Ia tiba tiba memikirkan tentang siapa sebenarnya Nerissa. Banyak tanda tanya besar tentang Nerissa yang ingin ia tanyakan, namun setiap bersama Nerissa, ia seolah melupakan semua tanda tanya itu.
"siapa dia sebenernya? jika dia baru saja tiba disini saat Daniel menemuinya, kenapa aku sering melihatnya di pantai sebelum Daniel bertemu dengannya? apa dia berbohong? apa dia....."
Alvin menggelengkan kepalanya lalu merebahkan badannya di ranjang. Ia tidak ingin semua tanda tanya itu membuatnya berpikiran buruk tentang Nerissa.
Ia percaya Nerissa dan Marin adalah perempuan baik baik meski ia sendiri tidak tau siapa dan darimana sebenernya mereka berasal.