Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Keanehan Alvin



Di bawah bulan purnama di langit malam, Nerissa dan Marin sedang mencari mahkota milik Nerissa.


Nerissa terdiam beberapa saat ketika ia melihat buket bunga tulip yang ada di atas batu karang besar.


"Buket bunga tulip?"


"Ada apa Putri? apa kau melihat sesuatu?" tanya Marin yang berada di bawah.


Nerissa tidak menjawab pertanyaan Marin, ia kemudian mengambil buket bunga tulip itu untuk memastikan dugaannya.


"buket bunga tulip ini seperti tidak asing, apa ini....... milik Alvin?" tanya Nerissa dalam hati.


"Waaahhh bunga tulip, dimana kau menemukannya?" tanya Marin saat ia sudah berada di dekat Nerissa.


"Disini, aku menemukannya disini, kenapa seseorang meletakkan buket bunga disini?"


"Mungkin tidak sengaja tertinggal," jawab Marin.


"Bunga ini..... aku seperti pernah melihatnya," ucap Nerissa.


"Tentu saja kau pernah melihatnya, di toko bungaku ada banyak bunga tulip Putri!"


"Tidak, aku.... aku sepertinya tau siapa pemilik buket bunga tulip ini?"


"Benarkah? siapa?" tanya Marin penasaran.


Nerissa segera membawa pandangannya ke sekelilingnya untuk mencari seseorang yang ia duga adalah pemilik buket bunga tulip itu.


"Tidak ada siapapun kecuali kita disini Putri," ucap Marin yang melihat Nerissa seperti tengah mencari seseorang.


"Benar, apa dia sudah pergi sebelum kita sampai disini?"


"Dia siapa yang kau maksud Putri?" tanya Marin tak mengerti.


"Alvin," jawab Nerissa singkat.


"Alvin? kenapa dia ada disini? apa hubungannya buket bunga ini dengan Alvin?"


"Dia baru saja membeli buket bunga tulip tadi sore dan aku sendiri yang merangkainya," jawab Nerissa.


"Apa kau pikir seseorang yang membeli bunga tulip hanya Alvin? kau pasti terlalu memikirkan Alvin Putri!"


"Tidak Marin, aku yakin bunga ini milik Alvin!" ucap Nerissa yakin.


"Sudahlah, letakkan saja disana, bisa jadi pemiliknya akan kembali untuk mengambilnya," ucap Marin kemudian mengajak Nerissa turun ke bibir pantai.


Nerissa kemudian meletakkan buket bunga itu di tempatnya kembali kemudian turun bersama Marin.


Nerissa dan Marin duduk di bibir pantai dengan membiarkan kaki mereka basah oleh belaian ombak yang datang.


"Apa kau tidak merindukan ekormu Marin?" tanya Nerissa pada Marin.


"Tentu saja aku merindukannya Putri, walaupun aku sangat ingin menjadi manusia pada umumnya, bagaimanapun juga aku terlahir dan sudah menghabiskan banyak usiaku bersama ekor," jawab Marin.


"Bagaimana dengan Seabert? apa kau merindukannya?"


"Hmmmm.... entahlah Putri, mengingat sikap ayahku membuatku ingin pergi jauh dari Seabert, aku terlalu malu untuk menghadap Ratu Nagisa karena sikap buruk ayahku," jawab Marin dengan menundukkan kepalanya.


"Apa yang Cadassi lakukan tidak ada hubungannya denganmu, dia tetap ayahmu Marin, dia yang mengajarimu banyak hal, benar kan?"


"Iya, kau benar Putri, tapi....."


"Sudahlah, jangan terlalu memikirkannya," ucap Nerissa dengan menggenggam tangan Marin.


"Terima kasih Putri, kau dan Ratu Nagisa sangat baik padaku, terima kasih sudah mempercayaiku walaupun kalian tau keburukan yang sudah ayah lakukan pada kalian," ucap Marin pada Nerissa.


"Kau adalah teman baikku Marin, bunda juga tau itu," balas Nerissa dengan menyandarkan kepalanya di bahu Marin.


"Aku adalah mermaid yang paling beruntung karena menjadi teman baikmu Putri, seumur hidupku aku akan selalu ada di sampingmu," ucap Marin.


"Kau selalu berlebihan Marin," balas Nerissa dengan tertawa kecil.


"Aku serius Putri, aku akan selalu ada di sampingmu bahkan saat kau sudah mempunyai pendamping hidupmu nanti!"


"Iya aku percaya padamu, aku juga akan selalu membuatmu berada di dekatku selamanya," balas Nerissa.


Setelah bercengkrama beberapa lama, Nerissa dan Marin melanjutkan mencari mahkota sampai larut malam.


**


Di tempat lain, Alvin baru saja sampai di rumahnya setelah pergi ke pantai.


Alvin baru saja menghabiskan waktunya beberapa jam di pantai dengan membawa buket bunga tulip yang dibelinya dari Nerissa.


Sebenarnya ia ingin berada di pantai lebih lama lagi, namun ia harus segera pulang karena ada hal lain yang harus ia lakukan.


Alvin masih berusaha mempertahankan Atlanta Grup meski harus bertentangan dengan keinginan Ricky.


Banyak hal yang sudah Alvin lakukan agar nilai saham perusahaan meningkat. Meski tidak mudah, Alvin bersama beberapa anggota timnya berhasil memberikan beberapa persen peningkatan nilai saham.


Setidaknya ia tidak akan membiarkan nilai saham anjlok seperti keinginan Ricky.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Alvin berdering, sebuah panggilan dari bibi Sita.


"Selamat malam Tuan, maaf bibi menganggu," ucap bi Sita saat Alvin sudah menerima panggilannya.


"Ada apa bi? bagiamana keadaan anak bibi?"


"Anak bibi sudah membaik Tuan, rencananya bibi akan kembali bekerja besok," jawab bi Sita.


"Besok? apa bibi yakin akan meninggalkan anak bibi? Alvin tidak akan meminta bibi untuk cepat kembali jika anak bibi masih membutuhkan bibi disana!"


"Disini banyak saudara yang bisa menjaga anak bibi Tuan, jadi bibi memutuskan untuk kembali bekerja bersama Tuan Alvin besok, itu kalau Tuan Alvin masih mau menerima bibi."


"Tentu saja Alvin masih menerima bibi, jam berapa bibi akan berangkat? biar Alvin siapkan mobil untuk menjemput bibi!"


"Bibi akan berangkat pagi Tuan, mungkin jam 7," jawab bibi.


"Baiklah, bibi tunggu saja di rumah, Alvin akan meminta seseorang untuk menjemput bibi!"


"Terima kasih Tuan, terima kasih banyak," ucap bibi senang.


"Sama sama bi," balas Alvin.


Panggilan berakhir. Alvin menaruh ponselnya lalu merebahkan badannya di ranjang.


"bibi sudah kembali, itu artinya Nerissa tidak akan kembali lagi kesini, apa itu artinya aku sudah tidak bisa menemuinya lagi?" batin Alvin dalam hati.


Alvin lalu beranjak dari ranjangnya untuk menemui mbak Tina dan memberi tahunya jika besok pagi bi Sita akan kembali, itu artinya mbak Tina harus meninggalkan rumah itu.


"Baik Tuan," balas mbak Tina.


"Saya akan siapkan mobil besok pagi untuk mengantarkan mbak Tina pulang," ucap Alvin.


"Terima kasih Tuan," ucap mbak Tina yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.


Alvin kemudian kembali ke kamarnya, sebelum itu ia mengambil apel yang ada di kulkas dan sebuah pisau lalu membawanya masuk ke kamar.


Alvin mengupas apel merah di tangannya, lalu tanpa sengaja jarinya tersayat pisau tajam yang dipakainya.


Darah keluar dari jari Alvin, namun Alvin hanya diam tak bergeming. Ia hanya diam memperhatikan darah yang menetes dari jarinya.


Alvin kemudian menaruh pisaunya di bagian jarinya yang lain dan dengan sengaja menyayatnya, membuat darah menetes dari luka yang ia buat dengan sengaja.


Alvin hanya diam memperhatikan dua jarinya yang terluka dan mengeluarkan darah. Setelah beberapa lama terdiam, Alvin segera masuk ke kamar mandi dan membasuh jarinya yang terluka dengan air mengalir.


"apa yang sebenarnya terjadi padaku? kenapa aku tidak bisa merasakan sakit sama sekali?" tanya Alvin dalam hati.


Setelah membersihkan bekas darah di meja dan di lantai, Alvin lalu membuang apel yang sudah terkena darah kemudian kembali membaringkan dirinya di ranjang.


Alvin terdiam menatap langit langit kamarnya. Memorinya mengulas banyak kejadian yang sudah terjadi selama ia kehilangan mama dan papanya.


Saat berusia 15 tahun, Alvin pernah terjatuh dari tangga dan menggelinding sampai ke lantai dasar.


Namun anehnya, ia tidak merasa sakit sama sekali. Ia segera dibawa ke rumah sakit saat itu dan Dokter menjelaskan jika beberapa bagian tulangnya bergeser.


Ia harus menjalani terapi sampai beberapa bulan untuk mengembalikan struktur tulangnya.


Jika orang normal berada dalam keadaan seperti itu, pasti itu sangat menyakitkan. Namun Alvin tidak merasakan sakit sama sekali.


Saat SMA, Alvin juga pernah terjatuh dari tebing saat sedang berkemah. Meski tidak terlalu tinggi, namun tubuh Alvin terluka karena menabrak banyak tanaman dan juga batu batuan kecil sampai ke dasar jurang.


Meski banyak luka di beberapa bagian tubuhnya, Alvin sama sekali tidak merasa sakit. Namun ia merahasiakan hal itu dari semua orang sampai saat ini.


Tidak ada seorangpun yang tau tentang apa yang Alvin rasakan sebenarnya, bahkan Danielpun tidak mengetahuinya.


Beruntung, Alvin bisa mengolah emosinya dengan baik, membuatnya bisa menerima apa yang sudah ditakdirkan untuknya, termasuk hal aneh yang ia rasakan setelah kepergian mama dan papanya.


Hanya saja, terkadang ia masih penasaran apakah keanehan itu masih ada pada dirinya atau tidak.


Seperti yang baru saja terjadi saat dirinya tidak sengaja tersayat pisau, ia kemudian melukai jarinya yang lain dengan sengaja untuk memastikan apa yang dia rasakan.


**


Waktu berlalu, malam yang panjang telah terlewati. Alvin bersiap pergi ke kantor setelah memastikan asisten rumah tangganya yang baru sudah meninggalkan rumahnya.


Alvin juga memberi makan ikan ikannya sebelum ia berangkat ke kantor. Tidak hanya itu, karena bibi Sita akan mulai bekerja hari itu, Alvinpun berniat untuk memberi tahu Nerissa secara langsung.


Alvin mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa.


Sesampainya disana, ia segera turun dan berjalan ke arah toko bunga yang baru saja buka.


"Hai Alvin, apa kau mencari bunga atau mencari Putri?" tanya Marin saat melihat Alvin menghampirinya.


"Aku mencari Nerissa, apa dia masih di rumah?"


"Iya dia masih di rumah, masuk saja!" jawab Marin.


Alvin menganggukkan kepalanya kemudian berjalan ke arah pintu rumah dan mengetuknya beberapa kali sebelum akhirnya Nerissa membukanya.


"Alvin, ada apa?"


"Aku kesini karena ingin memberi tahumu kalau bibi hari ini sudah mulai bekerja di rumahku!"


"Benarkah? syukurlah kalau begitu, aku jadi tidak perlu khawatir lagi pada ikan ikanmu!"


"Iya dan kau bisa membantu Marin lagi di toko bunga," balas Alvin.


Nerissa menganggukan kepalanya senang.


"Aaahh iya... aku belum mentransfer gajimu kemarin, berikan aku nomor rekeningmu, aku akan segera mentransfernya," ucap Alvin sambil mengambil ponsel dari sakunya, bersiap mengetik nomor rekening Nerissa.


"Mmmmm.... aku tidak memiliki nomor rekening, apa kau bisa memberinya secara langsung padaku?"


"Oohh baiklah, aku akan memberikannya secara langsung nanti sore, apa kau tidak keberatan?"


"Tidak masalah," jawab Nerissa dengan tersenyum.


"Baiklah, aku....."


"Tunggu dulu, kenapa dengan jarimu?" tanya Nerissa saat melihat 2 jari Alvin yang terluka.


"Bukan apa apa, aku pergi dulu!" balas Alvin bersiap pergi, namun Nerissa menahan tangannya.


"Lukamu harus diobati Alvin!" ucap Nerissa sambil menarik tangan Alvin, mengajaknya masuk ke dalam rumah dan memintanya duduk di ruang tamu.


"Duduklah, aku akan mengobati lukamu!" ucap Nerissa setelah mengambil kotak P3K.


"Ini cuma luka kecil Nerissa, biarkan saja!"


"Jangan suka mengabaikan hal kecil Alvin, masalah kecil kalau diabaikan akan menjadi besar," ucap Nerissa.


Alvin hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Nerissa.


"Apa ini sakit?" tanya Nerissa.


"Sedikit," jawab Alvin sambil berpura pura menahan sakit.


"Aku akan menutupnya dengan plester, tapi kau harus sering menggantinya," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.


"Akhirnya tidak sia sia aku belajar semua ini dari Marin," ucap Nerissa dengan tertawa kecil.


"Apa Marin yang mengajarimu melakukan ini?"


"Iya, dia mengajariku banyak hal disini," jawab Nerissa.


Di sisi lain, Daniel yang baru saja sampai segera turun dari mobilnya dan berjalan ke arah toko bunga Marin. Ia tidak menyadari mobil Alvin yang ada di depan rumah Marin.


"Pagi Marin," sapa Daniel pada Marin.


"Putri masih di rumah, kau pasti mencarinya kan?"


"Hehehe... kau tau saja, apa kau bisa membuatkanku buket bunga yang cantik untuk Nerissa?"


"Bunga apa yang kau inginkan?" tanya Marin.


"Menurutmu bunga apa yang cocok untuk Nerissa?" balas Daniel bertanya.


"Kau bisa memberinya bunga anggrek putih, anggrek putih memiliki arti kecantikan dan keanggunan, sangat cocok untuk Putri Nerissa," jawab Marin.


"Baiklah, buatkan buket bunga yang cantik untuknya," balas Daniel.


Marin menganggukkan kepalanya, kemudian membuat buket bunga anggrek putih sesuai dengan pesanan Daniel.


Setelah selesai, ia segera memberikannya pada Daniel.


"Terima kasih Marin, aku akan menemuinya sekarang!" ucap Daniel lalu keluar dari toko bunga dan berjalan ke arah pintu rumah.


"kenapa pintunya terbuka?" tanya Daniel dalam hati.


Tanpa ragu, Daniel berjalan begitu saja dan begitu terkejut saat melihat Nerissa dan Alvin disana.


Daniel melihat Alvin yang duduk membelakanginya dan Nerissa yang duduk berhadapan dengan Alvin, entah apa yang mereka lakukan saat itu, Daniel tidak tahu.


Tapi yang pasti, Daniel melihat mereka berdua tampak sangat dekat. Daniel tersenyum tipis lalu berjalan masuk begitu saja.


Nerissa yang saat itu baru saja menempelkan plester pada luka Alvin segera membawa pandangannya ke arah pintu saat ia menyadari kedatangan seseorang.


"Daniel!"


Mendengar nama Daniel, Alvin segera berbalik dan membawa pandangannya pada Daniel.


Daniel hanya tersenyum lalu menghampiri Nerissa.


"Bunga cantik untuk gadis yang cantik," ucap Daniel sambil memberikan buket bunga anggrek putih pada Nerissa.


"Terima kasih Daniel, apa Marin yang membuatnya?"


Daniel hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


"Kenapa kau ada disini sepagi ini Alvin?" tanya Daniel pada Alvin.


"Aku kesini untuk memberi tahu Nerissa kalau bibi sudah kembali, jadi dia tidak perlu bekerja di rumahku lagi!" jawab Alvin.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang Nerissa?" tanya Daniel pada Nerissa.


"Tentu saja membantu Marin di toko bunga," jawab Nerissa.


Di sisi lain, saat Marin sedang menata bunga di depan tokonya, ia baru sadar jika masih ada Alvin di rumahnya.


"ya ampun, kenapa aku bodoh sekali? aku lupa kalau masih ada Alvin di rumah, kenapa aku malah meminta Daniel kesana? aahhh bodohnya aku.... semoga saja mereka tidak bertengkar!" batin Marin dalam hati.