Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Hujan Lagi



Amanda yang sudah lama menunggu Alvin begitu senang karena Alvin sudah kembali pulang, namun sikap Alvin yang dingin padanya membuatnya kesal.


Meski begitu ia tetap berusaha untuk mendekati Alvin, ia tidak akan melepaskan Alvin begitu saja.


"Kau tidak bisa seperti ini padaku Alvin, kau harus mendengarkan penjelasanku dulu," ucap Amanda.


"Pak, tolong usir perempuan ini dan jangan biarkan dia masuk lagi ke rumah ini!" ucap Alvin pada Pak satpam lalu berjalan cepat meninggalkan Amanda.


"Tolong dengarkan aku Alvin, aku......"


"Maaf non, silakan pergi dari sini," ucap Pak satpam menahan Amanda yang ingin masuk untuk mengejar Alvin.


"Bapak tidak bisa menahan saya seperti ini, saya harus masuk sekarang juga pak!" ucap Amanda yang bersikeras untuk masuk ke rumah Alvin.


"Maaf non ini perintah dari tuan Alvin, tolong jangan mempersulit pekerjaan saya," ucap Pak satpam sambil mendorong Amanda keluar lalu menutup gerbang dengan cepat sebelum Amanda kembali masuk.


Amanda yang sudah berada di luar rumah Alvin hanya bisa berteriak kesal sambil menggedor-gedor gerbang rumah Alvin dengan kencang.


Amanda kemudian meninggalkan rumah Alvin dengan kekesalan dalam dirinya, tidak hanya kesal karena sikap Alvin padanya tapi juga kesal karena ia berpikir jika sikap Alvin yang dingin padanya karena Nerissa.


Amanda kemudian menghentikan taksi dan meminta si sopir taksi untuk mengantarnya ke alamat Nerissa.


"aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan Alvin, mungkin kali ini kau bisa tersenyum senang tapi ini tidak akan lama, aku yakin aku yang akan memenangkan Alvin," ucap Amanda dalam hati.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, taksipun berhenti. Amanda turun dari taksi lalu berjalan ke arah rumah Nerissa.


Sebelum Amanda mengetuk pintu, seseorang dengan cepat meraih tangan Amanda dan menarik Amanda menjauh dari rumah Nerissa.


"Daniel, apa yang kau lakukan?" tanya Amanda sambil menarik tangannya dari cengkraman Daniel.


"Justru aku yang seharusnya bertanya padamu, apa yang kau lakukan disini?" balas Daniel bertanya.


"Aku akan memberikan pelajaran pada Nerissa agar dia tidak mengganggu hubunganku dengan Alvin," jawab Amanda.


"Dia sama sekali tidak mengganggu hubunganmu dengan Alvin, dia bahkan tidak peduli pada hubungan kalian berdua, jadi kau tidak perlu membuang waktumu untuk datang kesini!"


"Aku sudah mendengarkan rekaman itu Daniel, aku yakin Nerissa yang memberikan rekaman itu pada Alvin karena dia tidak ingin Alvin kembali padaku," ucap Amanda.


"Apa kau yakin?" tanya Daniel.


"Aku yakin Daniel, apa kau sebodoh itu sampai tidak menyadari jika Nerissa menyukai Alvin? dia pasti hanya ingin memanfaatkanmu untuk membuat Alvin cemburu!" balas Amanda yakin.


"Kau salah Amanda, bukan Nerissa yang memberikan file rekaman itu pada Alvin," ucap Daniel yang membuat Amanda begitu terkejut.


"Apa maksudmu Daniel? apa yang kau memberikan rekaman itu pada Alvin?" tanya Amanda ragu.


Daniel menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


"Kenapa? apa kau masih dendam padaku? Kenapa kau mengganggu hubunganku dengan Alvin? bukankah dengan kembalinya aku pada Alvin kau bisa mendekati Nerissa? bukankah itu yang kau inginkan?"


"Aku tidak sejahat dirimu Amanda, sekarang Alvin sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya saat Nerissa datang, jadi sebaiknya kau mundur saja dan pergilah dari kehidupan Alvin!" ucap Daniel.


"Tidak, aku tidak akan pergi semudah itu, aku yakin Alvin hanya marah untuk sesaat, aku yakin aku pasti bisa membuat Alvin kembali padaku," ucap Amanda penuh percaya diri.


"Sadarlah Amanda, kau hanya masa lalu untuk Alvin, dia memang pernah sangat mencintaimu tapi itu dulu, sebelum kau pergi meninggalkannya, sebelum Alvin mengenal Nerissa dan sekarang Nerissalah yang akan menjadi masa depan untuk Alvin!"


Amanda hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu pergi meninggalkan Daniel begitu saja. Sedangkan Daniel masih berdiri di tempatnya menatap Amanda yang semakin berjalan jauh darinya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Marin mengejutkan Daniel.


"Hanya berdiri saja," jawab Daniel sekenanya.


"Kau memang aneh," ucap Marin lalu menaruh kantong sampah di depan rumahnya kemudian berjalan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Daniel.


"Aku ingin bertemu Nerissa," ucap Daniel hanya dibalas anggukan kepala Marin.


Danielpun menunggu di ruang tamu dan tak lama kemudian Nerissa datang dan duduk di hadapan Daniel.


"Jika kau ingin membicarakan Alvin, pergilah!" ucap Nerissa sebelum Daniel mengatakan apapun.


"Setidaknya kalian harus bertemu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," balas Daniel yang membuat Nerissa segera beranjak dari duduknya.


"Aku sudah bilang padamu pergilah jika kau kesini hanya untuk membicarakan Alvin!" ucap Nerissa dengan tegas.


Daniel kemudian meraih tangan Nerissa, membawa Nerissa untuk kembali duduk.


"Baiklah, aku tidak akan membicarakannya lagi tapi aku akan membicarakan tentang kita," ucap Daniel yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Daniel.


"Bagaimana dengan hubungan kita?" lanjut Daniel bertanya.


Nerissa terdiam beberapa saat sebelum memberikan jawabannya pada Daniel, meskipun ia ingin mengakhiri sandiwaranya dengan Daniel tapi ia tidak ingin apa yang ia ucapkan akan menyakiti hati Daniel.


"Apa ini saatnya hubungan kita berakhir Nerissa, apa ini yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Daniel membuyarkan lamunan Nerissa.


"Bukan seperti itu maksudku Daniel, hanya saja aku aku....."


"Tidak apa, aku mengerti hubungan kita memang hanya sandiwara di depan Alvin dan Amanda, di belakang mereka kita tetaplah teman biasa dan tidak lebih dari itu," ucap Daniel memotong ucapan Nerissa.


Nerissa terdiam dengan menundukkan kepalanya, lagi lagi ia merasa sudah menyakiti Daniel, laki-laki yang sudah sangat baik dan banyak membantunya.


"Apa hubungan kita berakhir sekarang?" tanya Daniel mengulangi pertanyaannya.


"Sepertinya apa yang kita lakukan sia-sia Daniel, pada akhirnya sandiwara yang kita lakukan tidak membuahkan hasil apapun, meskipun Alvin tahu yang sebenarnya dia tetap memilih Amanda," ucap Nerissa.


"Aku tidak akan memaksamu untuk tetap bertahan Nerissa, karena aku tahu itu akan sangat menyakitkan untukmu, tapi dengan membiarkan Alvin bersama Amanda apa kau yakin itu yang terbaik untuk Alvin?"


"Aku tidak peduli padanya lagi Daniel, aku sudah melupakannya," ucap Nerissa yang kembali menundukkan kepalanya.


"Jangan berbohong padaku Nerissa, aku tahu tidak semudah itu kau melupakan Alvin," ucap Daniel yang memahami apa yang Nerissa rasakan saat itu.


Nerissa hanya terdiam dengan menghapus air mata yang membasahi pipinya, dadanya terasa sesak saat mengingat bagaimana kedekatan Alvin dan Amanda.


Daniel kemudian beranjak dari duduknya dan berpindah duduk di samping Nerissa lalu membawa Nerissa ke dalam dekapannya.


"Aku akan selalu ada di sampingmu Nerissa, aku akan selalu ada untukmu, tidak peduli bagaimanapun perasaanmu padaku, aku hanya ingin kau bahagia meski kebahagiaanmu tidak bersamaku," ucap Daniel dengan memeluk Nerissa.


"Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan Daniel, aku benar-benar merasa semua ini sia-sia," ucap Nerissa.


"Temui Alvin satu kali saja Nerissa, katakan padanya bahwa kau tidak bersalah dan lihatlah sendiri bagaimana sikapnya padamu, setidaknya dia mengetahui bahwa kau tidak bersalah dan dia mengetahui bahwa Amanda bukanlah gadis yang baik," ucap Daniel pada Nerissa.


Tanpa Daniel dan Nerissa tahu, Marin berdiri sambil sedikit membuka pintu kamarnya. Satu tangannya memegang gagang pintu sedangkan satu tangannya yang lain memegang dadanya yang terasa berdenyut nyeri melihat apa yang ada di hadapannya saat itu.


Marin kemudian membawa pandangannya ke arah jendela kamar lalu beranjak dan membuka jendela kamarnya.


"apa maksudmu datang kesini Daniel? apa maksudmu menghampiriku setelah kau mendapat pelukan dari Putri?" tanya Marin dalam hati lalu berdiri di tepi jendela kamarnya.


Di sisi lain, Daniel berhasil membujuk Nerissa untuk bertemu dengan Alvin. Setelah mengobrol beberapa lama, Nerissapun masuk ke kamarnya, sedangkan Daniel keluar dari rumah itu.


Namun bukannya masuk ke dalam mobil, Daniel membawa langkahnya dengan pelan ke arah kamar Marin. Melihat jendela kamar Marin yang terbuka, Danielpun tersenyum senang dan berdiri tepat di belakang Marin yang juga tengah berdiri di tepi jendela.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Daniel yang membuat Marin begitu terkejut.


Karena terlalu terkejut, Marin secara tidak sengaja menutup jendelanya dengan kencang, membuat jari tangan Daniel yang ada disana terjepit.


Daniel hanya bisa menggigit bibirnya dan berteriak tanpa suara saat jarinya terjepit. Marin yang menyadari hal itu segera membuka kembali jendelanya dan merasa sangat bersalah saat melihat salah satu jari Daniel yang memerah dan terluka.


"Tunggu sebentar, aku akan mengambil kotak P3K!" ucap Marin lalu segera mencari kotak P3K di kamarnya.


Sedangkan Daniel memanfaatkan kesempatan itu untuk masuk ke dalam kamar Marin dan duduk di tepi ranjang Marin.


"Apa yang kau lakukan disini? keluarlah, Putri akan......"


Marin menghentikan ucapannya saat Daniel tiba-tiba menarik tangan Marin, membuat Marin terduduk di tepi ranjang dan dengan cepat Daniel membungkam mulut Marin dengan satu tangannya.


"Diamlah, jangan berisik, kau hanya akan membuat Nerissa curiga!" ucap Daniel berbisik.


Seketika Marin terdiam dengan degupan jantung dalam dadanya yang semakin tidak berirama.


Daniel kemudian melepaskan tangan yang membungkam mulut Marin lalu mengulurkan jarinya yang terluka pada Marin.


Marin yang tersadar segera membuka kotak P3K lalu mengolesi jari Daniel yang terluka dengan obat lalu membalutnya dengan plester.


"Apa ini sangat sakit?" tanya Marin yang merasa bersalah pada Daniel.


Daniel hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menatap Marin yang sibuk membalut jarinya yang terluka dengan plester.


"Kau harus sering mengganti plesternya agar tidak terjadi iritasi," ucap Marin setelah ia membalut luka Daniel dengan plester.


Saat Marin mengangkat kepalanya, seketika pandangan matanya jatuh di hadapan Daniel, membuat kedua pasang mata itu menatap satu sama lain untuk beberapa saat.


Daniel tersenyum, tanpa sadar ia membawa tangannya menyibakkan rambut Marin, membawa rambut halus itu ke belakang telinga marin.


Marin yang begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Daniel hanya bisa terdiam sebelum ia tersadar dan segera beranjak dari duduknya.


Daniel yang baru sadar dengan apa yang dia lakukan hanya bisa diam, mengalihkan pandangannya dari Marin dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Pulanglah, ini sudah larut!" ucap Marin tanpa berani membawa pandangannya pada Daniel.


"Iii.... iya.... sepertinya aku harus pulang," ucap Daniel gugup lalu berjalan ke arah pintu kamar Marin.


"Kau harus pulang lewat jendela," ucap Marin yang membuat Daniel segera memutar badannya dan berjalan cepat ke arah jendela.


"Aku pulang," ucap Daniel lalu keluar melewati jendela dan berjalan pergi begitu saja tanpa berani membawa pandangannya pada Marin.


Setelah memastikan Daniel sudah pergi, Marinpun segera menutup jendela kamarnya dan menjatuhkan dirinya di ranjang dengan memegang dadanya yang berdegup kencang.


"apa yang baru saja terjadi? kenapa dia melakukan hal itu?" tanya Marin dalam hati.


Sedangkan di sisi lain Daniel masih duduk di belakang kemudi dengan memukulkan kepalanya ke arah setir mobilnya berkali-kali.


"Bodoh sekali..... apa yang sudah kau lakukan Daniel? kenapa aku melakukan hal itu? kenapa aku tidak menyadarinya? kenapa..... kenapa......."


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Daniel berdering, sebuah panggilan dari Alvin.


"Halo, kau dimana?" tanya Alvin setelah Daniel menerima panggilannya.


"Di rumah Nerissa, ada apa?" jawab Daniel sekaligus bertanya.


"Aku ingin bertemu denganmu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," jawab Alvin.


"Baiklah aku akan ke rumahmu sekarang," ucap Daniel lalu mengakhiri panggilan Alvin dan mengendarai mobilnya ke arah rumah Alvin.


Setelah beberapa lama berkendara, Danielpun sampai di rumah Alvin. Ia segera turun dari mobilnya, membawa langkahnya ke arah Alvin yang sudah duduk di teras rumahnya.


"Apa aku mengganggu waktumu?" tanya Alvin saat Daniel sudah duduk di hadapannya.


"Tidak, aku memang sudah ingin pulang," jawab Daniel.


"Tolong katakan dengan jujur padaku Daniel, sebenarnya seperti apa hubunganmu dengan Nerissa?" tanya Alvin dengan serius.


"Bukankah aku sudah memberitahumu? apa kau masih tidak percaya padaku?"


Alvin mengacak-ngacak rambutnya kasar, ia merasa susah untuk mempercayai hubungan Daniel dan Nerissa yang sangat tiba-tiba itu.


"Kau sendiri bagaimana dengan Amanda? kau sudah tahu bukan bagaimana Amanda yang sebenarnya?" tanya Daniel pada Alvin.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, mengetahui bagaimana sikap Amanda yang sebenarnya tidak akan merubah apapun yang terjadi di antara dirinya dan Nerissa.


"Lalu apa yang kau lakukan pada Amanda? apa kau akan tetap menerima dia seperti dulu?" tanya Daniel yang dibalas gelengan kepala oleh Alvin.


"Sepertinya aku sudah tidak mencintainya seperti dulu, sepertinya aku......"


Alvin menghentikan ucapannya saat tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Alvin berdering, sebuah panggilan dari Amanda yang membuat Alvin ragu untuk menerimanya.


Setelah Alvin mengabaikan panggilan itu, sebuah pesanpun masuk dari Amanda.


Hujan yang terkadang sangat disukai oleh orang lain nyatanya memberikan rasa sakit yang teramat sangat padaku, mungkin ini cara Tuhan untuk membalas semua kejahatan yang sudah aku lakukan, tidak apa.... rasa sesak ini akan perlahan hilang saat mataku sudah terpejam dan tidak akan terbuka lagi untuk selamanya


Setelah membaca pesan itu Alvin segera beranjak dari duduknya, ia ingat jika Amanda mengalami alergi terhadap hujan. Hujan yang terus-menerus mengguyur Amanda bisa sangat membahayakan Amanda, bahkan mengancam nyawanya.


"Aku harus pergi," ucap Alvin pada Daniel.


"Kau mau kemana? menemui Amanda?" terka Daniel.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya lalu berlari ke arah garasi mobilnya, membiarkan Daniel yang masih duduk di teras rumahnya.