Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Penyelesaian Daniel



Marin dan Daniel baru saja turun dari salah satu wahana yang mereka naiki. Berkali-kali Daniel memberitahu Marin bahwa ia sangat bahagia saat itu, ia benar-benar senang karena bisa melepas semua kepenatan dan beban pikirannya dengan bermain banyak wahana yang memacu adrenalinnya bersama Marin.


Setelah lelah bermain, Daniel dan Marinpun berjalan ke arah foodcourt.


"Aku akan menghubungi Putri, memberitahunya bahwa kita menunggunya disini!" ucap Marin yang dibalas anggukan kepala Daniel.


Sebelum kemarin berhasil menghubungi Nerissa, ia melihat Nerissa dan Alvin yang masuk ke arah food court, Marinpun mengurungkan niatnya untuk menghubungi Nerissa lalu melambaikan tangannya ke arah Nerissa


Nerissa yang menyadari keberadaan Marin disana segera mengajak Alvin untuk menghampiri Marin dan Daniel.


Setelah memesan makanan dan minuman, merekapun menikmati makan siang mereka disana sambil bercerita, bercanda dan tertawa bersama.


"Bagaimana liburanmu hari ini Daniel? apa sesuai dengan ekspektasimu?" tanya Nerissa pada Daniel.


Daniel menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang.


"Bahkan lebih dari ekspektasiku Nerissa!" ucap Daniel.


"Sepertinya kau akan sering kembali kesini!" sahut Marin berbicara pada Daniel.


"Bisa jadi, jika ada yang menemaniku," balas Daniel dengan membawa pandangannya pada Nerissa, namun Nerissa hanya tersenyum sambil menyeruput minuman di hadapannya.


"Sebaiknya setelah ini kita pulang, Nerissa harus berhenti melakukan banyak kegiatan agar lukanya cepat kering!" ucap Alvin.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun. Setelah menghabiskan makan siang merekapun meninggalkan taman bermain itu.


Sama seperti saat berangkat ke taman bermain, Daniel duduk di balik kemudi bersama Marin di sampingnya, sedangkan Nerissa berada di belakang bersama Alvin.


Saat sedang memperhatikan kaki Nerissa, Alvin menyadari bahwa luka yang ada pada kaki Nerissa kembali berdarah saat itu.


"Lukamu berdarah lagi Nerissa!" ucap Alvin yang membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada kakinya karena ia sama sekali tidak merasakan sakit pada luka di kakinya.


"Aaaahhh iya, sepertinya aku harus mengganti perbannya," balas Nerissa.


"Apa kau bisa mengangkat kakimu? aku akan mengganti perbannya!" tanya Alvin.


Nerissa menganggukkan kepalanya sambil mengangkat satu kakinya yang terluka ke arah kursi mobil.


Dengan hati-hati Alvin melepas perban yang sudah tampak basah karena darah di kaki Nerissa, kemudian membersihkan luka di kaki Nerissa lalu memberinya obat dan membalutnya dengan perban yang baru.


"Sepertinya kita harus ke rumah sakit Nerissa, aku khawatir terjadi infeksi pada kakimu," ucap Alvin pada Nerissa.


"Tidak perlu Alvin, ini hanya luka kecil tidak akan lama lagi pasti akan sembuh!" balas Nerissa menolak.


"Jika dalam 2 hari belum ada tanda-tanda untuk sembuh, kau harus segera ke rumah sakit Nerissa!" ucap Alvin yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Nerissa.


Daniel yang diam-diam memperhatikan hal itu dari balik kemudi hanya tersenyum tipis.


"aku tahu kau menyukainya Alvin, kau tidak akan melakukan hal itu jika kau tidak menyukainya atau bisa jadi kau bahkan sudah mencintainya sebelum aku mengenal Nerissa," ucap Daniel dalam hati.


"Jangan khawatir Alvin, aku akan memantau keadaan Putri!" sahut Marin berkata pada Alvin.


"Terima kasih marin," ucap Alvin yang dibalas anggukan kepala Marin.


Diam-diam beberapa kali Marin mencuri pandang ke arah Daniel yang hanya diam fokus menyetir, memperhatikan jalan raya di hadapannya.


Meski Daniel tampak fokus tetapi Marin tahu jika Daniel sedang memikirkan Nerissa dan Alvin saat itu.


Marin hanya bisa berharap bahwa tidak akan ada hati yang terluka karena kedatangan Nerissa di antara persahabatan Daniel dan Alvin.


Tak lama kemudian mobilpun berhenti tepat di depan rumah Marin dan Nerissa.


Daniel dan Marinpun keluar dari mobil disusul Alvin yang membantu Nerissa untuk keluar dari mobil.


"Terima kasih untuk liburan hari ini Daniel, aku sangat senang," ucap Nerissa pada Daniel.


"Maaf Nerissa, gara-gara aku mengajakmu berlibur kau jadi terluka seperti ini," balas Daniel yang merasa bersalah.


"Ini karena aku yang tidak berhati-hati Daniel, jangan terlalu memikirkannya, aku senang karena kita bisa berlibur berempat hari ini!" ucap Nerissa.


"Baiklah sekarang beristirahatlah dan jangan lupa mengganti perbanmu Nerissa!" ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.


Daniel dan Alvinpun masuk ke dalam mobil dengan Alvin yang duduk di balik kemudi menggantikan Daniel.


"Apa kau tidak akan berterima kasih padaku?" tanya Daniel pada Marin sebelum Alvin menyalakan mesin mobil.


"Iya terima kasih," ucap Marin singkat.


Daniel hanya tersenyum tipis kemudian memberi kode pada Alvin agar segera menyalakan mesin mobil dan meninggalkan rumah Marin.


"Aku ingin beristirahat di rumahmu saja Alvin!" ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.


Sesampainya di rumah Alvin, Alvin membawa masuk mobil Daniel ke halaman rumahnya kemudian masuk ke dalam rumah diikuti oleh Daniel yang berjalan di belakangnya.


Alvin masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian, sedangkan Daniel duduk di ruang tengah sambil menyalakan televisi.


Tak lama kemudian bibi datang dengan membawa minuman dan makanan ringan untuk Daniel dan Alvin.


"Terima kasih Bi," ucap Daniel yang dibalas anggukan kepala dan senyum bi Sita.


"Ternyata menyenangkan sekali berlibur ke taman bermain, rasanya sudah sangat lama aku tidak menaiki banyak wahana bermain yang memacu adrenalinku!" ucap Daniel pada Alvin yang berjalan ke arahnya.


"Seharusnya kau hanya berlibur bersama Nerissa, aku tidak mengerti kenapa kau mengajakku dan Marin untuk ikut berlibur bersamamu!"


Dani menghela nafasnya panjang kemudian membawa pandangannya pada Alvin.


"Aku bertanya sekali lagi padamu Alvin, apa kau mencintainya?" tanya Daniel yang membuat Alvin segera mengalihkan pandangannya pada Daniel.


"Kenapa kau menanyakan hal itu lagi Daniel? aku sudah mengatakan padamu bahwa aku akan menjauhinya, jika kau tidak ingin aku membuatnya bersedih aku akan menjauhinya perlahan-lahan dan membuatnya tidak sadar bahwa aku semakin menjauh dan pergi darinya," ucap Alvin lalu menyeruput minuman di hadapannya.


Daniel tersenyum tipis kemudian menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.


"Aku sudah memikirnya baik-baik Alvin," ucap Daniel dengan menatap langit-langit rumah Alvin.


"Memikirkan apa?" tanya Alvin.


"Tentang aku kau dan Nerissa, aku tidak akan memintamu untuk menjauhinya, bukan hanya demi persahabatan kita tapi juga demi Nerissa sendiri," jawab Daniel.


"Tapi aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita Daniel!"


"Dia selalu bilang bahwa hanya ingin berteman denganku!"


"Itu juga yang selalu dia bilang padaku, tetapi kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ada dalam hatinya, entah dia memang hanya ingin berteman atau dia ingin menolakku secara halus atau bisa jadi itu hanya alasan agar kau tidak pergi darinya!" ucap Daniel.


Alvin hanya terdiam mendengarkan ucapan Daniel. Ia tidak menyangka jika Daniel akan mengambil keputusan itu karena ia tahu bagaimana Daniel sangat menyukai Nerissa.


"Jika pada akhirnya nanti Nerissa benar-benar jatuh cinta padamu, aku harap kau bisa menjaganya dengan baik, jangan pernah membuatnya bersedih dan menangis, jika sampai hal itu terjadi maka aku akan benar-benar merebutnya darimu!" ucap Daniel dengan membawa pandangannya pada Alvin.


"Apa kau tidak akan menyesali apa yang baru saja kau katakan Daniel?" tanya Alvin yang dibalas gelengan kepala oleh Daniel.


"Seandainya aku tahu bahwa kau lebih dulu mengenal Nerissa, mungkin hal ini tidak akan terjadi Alvin, dari awal aku akan menahan perasaanku jika aku tahu kau menyukai Nerissa," ucap Daniel dalam hati.


"Aku harus pulang sekarang, sepertinya mama sudah menungguku!" ucap Daniel kemudian beranjak dari duduknya.


"Oohh iya, jangan mengabaikan Nerissa lagi, aku benar-benar tidak suka melihatnya bersedih karena kau mengabaikannya!" ucap Daniel sebelumnya benar-benar keluar dari rumah Alvin.


Alvin hanya mengganggukan kepalanya tanpa mengucapkan apapun. Dalam hatinya ia bersyukur karena masalahnya dengan Daniel telah selesai tanpa harus ada yang tersakiti.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam saat Daniel tengah mengerjakan pekerjaannya di kamarnya.


Tooookkkk tooookkk tooookkk


"Daniel apa mama boleh masuk?" tanya mama Daniel dari depan pintu kamar Daniel.


"Iya ma," jawab Daniel.


Pintu kamar Danielpun terbuka, sang Mama masuk lalu duduk di tepi ranjang Daniel.


"Kapan kau akan membawa Marin bermain kesini?" tanya mama Daniel.


"Jika Marin senggang ma, dia akan kesini sendiri!" jawab Daniel.


"Kau harus menjemputnya Daniel, jangan membiarkan dia pergi kesini sendiri!" ucap mama Daniel.


"Dia yang menolak untuk Daniel jemput ma, dia sendiri yang ingin pergi ke sini!"


"Benarkah? bukan karena kau tidak ingin menjemputnya?"


"Marin itu berbeda dengan perempuan lain, dia bukan perempuan manja yang bergantung pada laki-laki, mama harus lebih sering bertemu dengannya agar mama tahu bagaimana Marin yang sebenarnya!" ucap Daniel pada sang mama.


"Walaupun dia bukan gadis yang manja tetapi dia pasti akan sangat senang jika kau memanjakannya!"


Daniel tersenyum tipis dengan masih fokus pada pekerjaannya.


"Dia bukan gadis seperti itu ma, lebih baik mama tidur sekarang, ini sudah malam dan Daniel harus segera menyelesaikan pekerjaan Daniel!" ucap Daniel pada sang mama.


"Baiklah, cepat selesaikan pekerjaanmu dan segera tidur!" ucap Mama Daniel kemudian keluar dari kamar Daniel.


"Memanjakan gadis seperti Marin? yang benar saja?" ucap Daniel pelan sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Danielpun membaringkan badannya di ranjang. Saat ia mulai menutup matanya ia teringat kebersamaannya bersama Marin saat berada di taman bermain.


Kebahagiaan yang ia rasakan saat di taman bermain masih terasa hingga saat itu. Ia masih bisa merasakan bagaimana ia bisa melepaskan segala kepenatan dan beban pikirannya ketika ia menaiki wahana yang memacu adrenalinnya bersama Marin.


Daniel kemudian mengingat ucapan Marin padanya saat ia bercerita tentang masalah keluarganya pada Marin.


"tidak ada seorangpun yang ingin keluarganya hancur Daniel termasuk mama dan papamu, tetapi mungkin ini batas dari kesabaran dan usaha Tante Yasmin selama ini, apa kau tahu seberapa sakitnya luka yang selama ini dirasakan oleh Tante Yasmin? aku tidak tahu pasti tapi bisa jadi kesabaran Tante Yasmin selama ini selalu didampingi dengan rasa sakit yang mengoyak hatinya, mungkin Tante Yasmin bertanya sampai kapan dia harus bertahan dengan luka yang menyakiti hatinya!"


Daniel kemudian beranjak dari ranjangnya dan membawa langkahnya ke arah kamar orang tuanya setelah memastikan bahwa sang papa belum pulang.


"Ma, apa mama sudah tidur?" tanya Daniel setelah mengetuk pintu beberapa kali.


"Belum sayang, masuklah!" jawab Mama Daniel dari dalam kamar.


Danielpun membawa langkahnya masuk ke dalam kamar sang mama lalu duduk di tepi ranjang.


"Ada sesuatu yang ingin Daniel katakan pada Mama," ucap Daniel yang membuat sang mama segera beranjak dari tidurnya.


"Ada apa Daniel? apa ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Tentang hubungan mama dan papa, Daniel tidak akan memaksa mama untuk bertahan, maafkan Daniel karena sudah egois dengan meminta mama untuk tetap bertahan, itu pasti sangat menyakitkan untuk mama bukan?"


Mama Daniel tersenyum dengan membelai wajah anak laki-lakinya yang sudah dewasa. Tak terasa bayi mungil yang dulu ada dalam gendongannya ini duduk di hadapannya menjadi sosok laki-laki dewasa yang tampan seperti papanya.


"Jangan terlalu memikirkan masalah itu Daniel, mama tidak ingin kau terbebani dengan apa yang terjadi pada keluarga kita," ucap Mama Daniel.


"Daniel mengerti ma, Daniel akan berusaha untuk membuat papa kembali pada keluarga kita, Daniel akan berusaha membuat keluarga kita menjadi keluarga yang bahagia tetapi jika mama sudah lelah dengan semua ini, mama boleh menyerah, apapun keputusan mama Daniel selalu ada untuk mama."


"Terima kasih sudah mengerti keadaan kita yang kacau ini Daniel, maafkan mama dan papa karena belum bisa menjadi orang tua yang baik untukmu."


"Mama dan papa adalah orang tua yang terbaik untuk Daniel," ucap Daniel sambil menggeser posisi duduknya lalu memeluk sang mama.


Merekapun berpelukan untuk beberapa saat sebelum akhirnya Daniel keluar dari kamar sang mama, membiarkan sang mama beristirahat dengan tenang malam itu.


Saat Daniel akan membuka pintu kamarnya, ia mendengar suara mobil sang papa yang baru saja datang.


Daniel kemudian mengambil papan catur dan menunggu sang papa di ruang tengah.


"Pa!" panggil Daniel sambil memamerkan papan catur saat sang papa akan masuk ke dalam kamar.


"Ini sudah malam Daniel!" ucap sang papa yang mengerti maksud Daniel.


"Hanya sebentar saja pa, Daniel sudah menunggu papa dari tadi!"


"Baiklah," balas papa Daniel kemudian membawa langkahnya ke arah Daniel.


Daniel tersenyum senang kemudian menata papan catur di hadapannya.


"Kenapa kau tiba-tiba mengajak papa bermain catur? apa ada sesuatu yang kau inginkan dari papa?" tanya sang papa yang merasa curiga karena Daniel tiba-tiba mengajaknya bermain catur.


"Daniel bukan anak kecil lagi pa, tidak ada yang Daniel inginkan selain kebahagiaan keluarga kita," jawab Daniel sambil meletakkan satu persatu pion catur pada tempatnya.


Mendengar ucapan Daniel, papa Daniel hanya diam tanpa mengatakan apapun.


Daniel dan sang papapun mulai bermain catur sampai larut malam. Daniel sengaja melakukan hal itu agar ia kembali dekat dengan sang papa, dengan harapan keluarganya akan menjadi keluarga yang benar-benar bahagia tanpa ada luka yang tersimpan dalam hati kedua orang tuanya.