Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Model Dadakan



Hari telah berganti. Nerissa bersama seorang kurir pergi ke alamat yang sudah Marin berikan padanya untuk mengantar papan bunga.


Sesampainya disana, Nerissa segera masuk untuk mengkonfirmasi pesanan papan bunga oleh perusahaan itu.


"Bapak tunggu disini sebentar ya!" ucap Nerissa pada sang kurir.


Dengan pakaian sederhananya Nerissa berjalan ke arah pintu utama perusahaan Atlanta Grup. Ia memandang takjub gedung tinggi yang ada di hadapannya hingga tanpa sadar ia tidak memperhatikan jalannya dan....


BRUUUKKKK


Nerissa terjatuh saat seseorang menabraknya, Nerissa pun segera berdiri namun seseorang yang menabraknya hanya melihatnya acuh kemudian pergi begitu saja.


"Sabar Nerissa," ucap Nerissa dengan mengusap dadanya.


Nerissa kemudian berjalan ke arah lobby untuk menemui resepsionis.


"Permisi, saya dari Marin Florist, dimana saya harus menaruh papan bunga yang dipesan?"


"Papan bunga? untuk acara apa ya?" tanya si resepsionis.


"Untuk acara peragaan busana nanti malam," jawab Nerissa.


"Mohon tunggu sebentar," ucap si resepsionis kemudian menghubungi penanggung jawab acara peragaan busana itu.


Setelah beberapa saat menunggu, si resepsionis memberi tahu Nerissa untuk menaruh papan bunganya di samping pintu utama.


Nerissa pun segera kembali untuk memberi tahu kurirnya agar menaruhnya di tempat yang ditunjukkan oleh si resepsionis.


Nerissa dan sang kurir pun mengangkat satu per satu papan bunga itu. Bersamaan dengan itu, Alvin yang baru sampai di kantor berjalan masuk ke arah pintu utama tanpa sadar jika seseorang yang membawa papan bunga di sampingnya adalah Nerissa.


Karena terhalang oleh papan bunga yang cukup besar, Alvin dan Nerissa tidak bisa saling mengetahui keberadaan satu sama lain.


Saat Nerissa baru saja meletakkan papan bunga yang terakhir, seseorang memanggil namanya.


"Nerissa!"


Nerissa segera membawa pandangannya ke arah sumber suara dan mendapati Daniel yang berlari kecil ke arahnya.


"Hai Daniel," sapa Nerissa dengan senyum manisnya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Daniel yang begitu terkejut dengan adanya Nerissa di perusahaan tempatnya bekerja.


"Aku sedang mengantar papan bunga, apa kau bekerja disini?" jawab Nerissa sekaligus bertanya.


"Iya, aku bekerja disini, jadi kau pemilik toko bunga tempatku memesan bunga?"


"Bukan aku, Marin pemilik toko bunga itu, aku hanya membantunya saja," jawab Nerissa.


"Aku sangat ingin mengobrol lama denganmu Nerissa, tapi aku harus segera masuk, bisa kau berikan nomormu padaku?" tanya Daniel sambil memberikan ponselnya pada Nerissa.


"Tentu saja," jawab Nerissa kemudian mengetikkan nomornya di ponsel Daniel.


"Terima kasih Nerissa, aku akan segera menghubungimu," ucap Daniel kemudian masuk ke dalam kantor karena ia sudah telat.


Nerissa hanya tersenyum dengan melambaikan tangannya pada Daniel.


"aku pikir aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi, ternyata dunia ini sempit sekali!" batin Nerissa dalam hati.


Nerissa kemudian pergi bersama sang kurir untuk kembali ke toko bunga. Sesampainya di toko bunga, Nerissa menceritakan pada Marin tentang pertemuannya dengan Daniel.


"Seingatku yang memesan papan bunga itu bukan dia, kalau aku tau dia menyuruh orang untuk memesan papa bunga pada kita, lebih baik aku menolaknya!" ucap Marin.


"Jangan begitu Marin, aku rasa dia laki laki yang baik," balas Nerissa.


"Lebih baik kau jangan dekat dekat dengannya Putri, dia bukan laki laki yang baik," ucap Marin.


"Apa kau tidak ingat dia yang membantu kita? sepertinya dia bukan laki laki yang jahat," balas Nerissa.


"Dia memang membantu kita, tapi.... mungkin dia mempunyai maksud lain, dia tidak tulus membantu kita," ucap Marin.


"Sebenarnya apa yang membuatmu begitu membencinya? kau sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya?" tanya Nerissa penasaran.


Marin hanya menganggukkan kepalanya pelan menjawab pertanyaan Nerissa.


"Kapan kau bertemu dengannya? dan apa yang terjadi diantara kalian?" tanya Nerissa.


Marin kemudian menceritakan pada Nerissa tentang pertemuan pertamanya bersama Daniel.


Flashback pertemuan pertama Marin dan Daniel.


Malam itu Marin dan sang ayah baru saja merubah ekor mereka menjadi kaki. Mereka berjalan meninggalkan pantai ke arah jalan raya.


Jalan di sekitar pantai memang sangat sepi, mereka harus berjalan beberapa meter untuk sampai di jalan raya.


Di jalan raya itu terdapat sebuah toko bunga yang hanya dibatasi dinding kaca di sekitarnya. Setiap Marin berada di daratan, ia selalu menghabiskan waktunya beberapa saat untuk menatap bunga bunga indah yang dibatasi dinding kaca itu.


Lalu pada suatu malam, saat Marin baru saja tiba, ia melihat dinding kaca itu telah pecah berkeping-keping. Tiba tiba seseorang keluar dari dalam dan memberi Marin sebuah martil yang cukup besar.


Marin yang tidak mengerti hanya kebingungan lalu masuk untuk memegang secara langsung bunga bunga indah yang selama ini hanya bisa dilihatnya.


Tiba tiba sebuah mobil berhenti dan seseorang keluar dari dalam mobil itu lalu segera menarik tangan Marin agar keluar dari tempat itu.


Namun bukannya keluar Marin malah memukul tangan seseorang itu dengan martil yang ia pegang.


"Kau gila?" teriak laki laki itu menahan sakit di tangannya.


"Pergi atau akan ku pecahkan kepalamu sekarang juga!" ucap Marin pada laki laki itu.


Tanpa banyak bicara laki laki itu segera menggendong Marin dan memasukkannya ke dalam mobil.


Di dalam mobil Marin berteriak-teriak memanggil ayahnya sampai beberapa ratus meter kemudian laki laki itu menghentikan mobilnya.


"Diamlah, aku hanya ingin menyelamatkanmu!" ucap laki laki itu.


"Menyelamatkan apa? dasar manusia penjahat!" balas Marin penuh emosi.


"Kau...... dasar perempuan gila!" ucap laki laki itu dengan kesal kemudian membuka pintu mobilnya menurunkan Marin disana.


Laki laki itu kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Marin begitu saja.


"Perempuan bodoh, perempuan gila, untuk apa aku susah payah menyelamatkannya, seharusnya ku biarkan saja dia disana sampai polisi datang," ucap laki laki itu kesal.


Sedangkan Marin hanya berdiri di tempatnya dengan segala macam sumpah serapahnya yang ia tujukan pada laki laki yang baru saja ditemuinya.


"Laki laki bodoh, laki laki gila, dia bahkan tidak mengenalku tapi dia menggendongku ke dalam mobilnya!" ucap Marin kesal.


Flashback off


Nerissa hanya tertawa mendengar cerita Marin, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi malam itu.


Ia hanya menertawakan kekesalan Marin pada Daniel yang tiba tiba menggendongnya keluar dari toko bunga dan memasukkannya ke dalam mobil lalu menurunkannya begitu saja.


"Apa menurutmu dia laki laki yang baik?" tanya Marin pada Nerissa di akhir ceritanya.


"Mungkin kalian hanya salah paham saja," jawab Nerissa.


"Tidak ada kesalahpahaman diantara kita Putri, dia memang laki laki bodoh dan gila yang pernah ku temui!" ucap Marin.


Nerissa hanya tertawa melihat kekesalan Marin, ia sama sekali tidak pernah berpikir jika Daniel adalah laki laki yang jahat.


Justru ia berpikir akan menyenangkan jika ia bisa berteman dengan Daniel yang sudah banyak membantunya.


"Mungkin kau yang salah paham pada Alvin," ucap Marin yang membuat raut wajah Nerissa berubah seketika.


"Jangan sebut namanya lagi di depanku Marin!" balas Nerissa lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Marin.


Di Atlanta Grup.


Alvin, Daniel dan juga anggota timnya sedang sibuk menyiapkan acara peragaan busana yang sebentar lagi akan dilangsungkan.


Acara yang sudah Alvin dan Daniel siapkan dengan matang demi menaikkan saham perusahaan diharapkan akan berjalan lancar sesuai dengan rencana mereka.


Acara itu tidak hanya mengundang beberapa tamu penting, tapi juga disiarkan secara langsung di berbagi macam platform sosial media tanah air.


"Jangan gugup Alvin, semuanya akan berjalan dengan baik," ucap Cordelia pada Alvin.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis. Ia sudah berusaha untuk menyiapkan semuanya dengan baik, meski ia sebenarnya masih takut jika Ricky melakukan sesuatu yang bisa menghambat acara itu.


Tak lama kemudian Daniel datang dan memberi tahu Alvin jika beberapa model mereka membatalkan kontrak tiba tiba. Mereka bahkan membayar uang ganti rugi karena pembatalan kontrak itu.


"Kau serius?" tanya Alvin tak percaya.


"Ini waktu yang tidak tepat untuk bercanda Alvin, 2 jam lagi acara akan segera dimulai, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Berapa model yang sudah siap sekarang?" tanya Alvin.


"Hanya 3 orang termasuk Delia, kita tidak mungkin melangsungkan acara ini hanya dengan 3 model ini Alvin, semuanya akan kacau," jawab Daniel panik.


"Dan kita juga tidak bisa menundanya tiba tiba," ucap Alvin.


Alvin memijit keningnya memikirkan apa yang harus ia lakukan saat itu juga. Mencari model yang siap dalam 2 jam tidaklah mudah baginya.


"Aku tau, pastikan semuanya siap, aku akan menemui seseorang yang bisa membantu kita," ucap Daniel lalu segera berlari pergi.


"Kemana dia pergi?" tanya Cordelia pada Alvin.


"Entahlah, apa tidak ada temanmu yang bisa membantu kita Delia?"


"Aku akan coba menghubungi mereka," jawab Cordelia.


Cordeliapun mulai menghubungi satu per satu temannya, namun tidak ada satupun dari mereka yang bisa membantunya karena acara itu bertepatan dengan acara party yang diadakan teman temannya di luar kota.


"Maafkan aku Alvin," ucap Cordelia pada Alvin.


"Bukan salahmu Delia, kau sudah banyak membantuku," balas Alvin.


Di tempat lain, Daniel mengendarai mobilnya ke arah toko bunga Marin. Ia ingin meminta bantuan Nerissa dan Marin untuk menggantikan model di acara peragaan busana di perusahaannya.


"Tidak," jawab Marin cepat saat Daniel baru saja menyampaikan maksud kedatangannya.


"Apa kau tidak bisa membantuku sedikit saja?" tanya Daniel yang berusaha menahan kekesalannya pada Marin.


Ia memang sangat kesal pada Marin, tapi karena ia sangat membutuhkan Marin, ia berusaha untuk bersikap baik pada Marin.


Walaupun ia menganggap Marin gadis gila dan bodoh, wajah Marin cukup cantik untuk bisa ia jadikan model dadakan di acara peragaan busananya.


"Ayolah Marin, anggap ini sebagai bentuk balas budi kita karena Daniel sudah pernah membantu kita," ucap Nerissa berusaha membujuk Marin.


"Itu artinya dia tidak tulus membantu kita," ucap Marin.


"Aku mohon padamu Marin, aku akan melakukan apa saja untukmu asalkan kau mau membantuku kali ini saja," ucap Daniel memohon.


"Apa saja?" tanya Marin memastikan.


"Iya, apa saja," jawab Daniel penuh keyakinan.


Marinpun tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya, namun bukannya senang, Daniel justru menyesal dengan apa yang baru saja ia ucapkan.


Melihat senyum tipis Marin, Daniel merasa bahaya seolah sedang mengintai dirinya.


"Tapi kita belum pernah melakukan ini sebelumnya, aku takut kita akan mengacaukan acara itu," ucap Nerissa pada Daniel.


"Kalian hanya perlu mengenakan pakaian yang sudah kita siapkan dan berjalan di atas panggung, hanya itu saja," ucap Daniel menjelaskan.


"Berjanjilah untuk tidak menyalahkan kita jika sesuatu yang buruk terjadi di atas panggung!" ucap Marin pada Daniel.


"Iya aku janji, ayo kita berangkat, kita tidak punya banyak waktu sekarang!"


Nerissa dan Marinpun berangkat ke perusahaan Atlanta Grup bersama Daniel. Sesampainya disana, Daniel segera membawa Nerissa dan Marin ke ruang kostum dan make up.


"Apa kau sudah menemukan pengganti model kita?" tanya Alvin yang hendak masuk ke ruang kostum, namun Daniel mencegahnya.


"Sudah, sekarang kau ikut aku!"


"Kemana?"


Daniel membawa Alvin masuk ke ruang kostum untuk laki laki, Daniel memaksa Alvin untuk menggantikan model laki laki bersama dirinya.


"Tidak, aku tidak akan melakukan ini!" ucap Alvin menolak.


"Ayolah Alvin, kita tidak punya banyak waktu!" balas Daniel dengan memaksa Alvin untuk tetap duduk disana.


Setelah beberapa lama membujuk dan memaksa, Danielpun berhasil membuat Alvin menjadi model di peragaan busana itu.


Di tempat lain, Cordelia menatap sinis pada Nerissa dan Marin. Kecantikan Nerissa cukup membuat Cordelia merasa tersaingi malam itu.


"Siapa kau? model baru? pemain FTV? sinetron?" tanya Cordelia dengan memperhatikan Nerissa dari atas sampai bawah.


"Aku.... pekerja di toko bunga," jawab Nerissa.


"Apa? pekerja di toko bunga? hahaha.... apa kau bercanda? bagaimana mungkin kau bisa menjadi model di acara perusahaan besar ini?"


"Daniel sendiri yang meminta kita datang, awalnya aku menolaknya, tapi dia terus memohon kepadaku," jawab Marin dengan menyombongkan dirinya, membuat Cordelia semakin kesal.


"Daniel? kau mengenalnya?"


"Tentu saja, laki laki bodoh itu mengikuti kemanapun aku pergi," jawab Marin penuh percaya diri.


"Dia benar benar laki laki bodoh," ucap Cordelia pelan lalu berjalan menjauh dari Nerissa dan Marin.


"Nerissa, kau bisa memakai sepatu ini kan?" tanya seorang staff pada Nerissa.


"Apa sepatu itu tidak terlalu tinggi?" balas Nerissa bertanya.


"Menurutku tidak, kau akan semakin terlihat cantik saat memakai sepatu ini," jawab staff itu yang membuat Cordelia semakin iri.


"Baiklah, aku akan memakainya," ucap Nerissa.


Saat Nerissa dan Marin sedang sibuk mempersiapkan pakaian dan tatanan rambut mereka, diam diam Cordelia merusak sepatu milik Nerissa.


"maafkan aku Alvin, aku tidak bermaksud merusak acaramu," batin Cordelia dalam hati.


Setelah selesai berdandan dan memakai pakaian yang ditentukan, Nerissa, Marin, Cordelia dan satu model lainnya pun bersiap untuk berjalan di atas panggung.


Alvin yang baru saja keluar dari ruangan kostum begitu terkejut saat melihat Nerissa berdiri di belakang tirai panggung.


"Cantik sekali bukan?" tanya Daniel yang melihat Alvin memperhatikan Nerissa.


"Kenapa dia bisa ada disini?" balas Alvin bertanya.


Daniel hanya tersenyum tipis kemudian berjalan mendahului Alvin, ia berjalan di atas panggung bergantian dengan Marin.


Saat Marin hampir kembali, Nerissa bersiap untuk berjalan keluar diikuti oleh Alvin di belakangnya.


Saat berada di tengah panggung, sepatu tinggi milik Nerissa tiba tiba patah, membuat Nerissa hampir saja terjatuh jika Alvin tidak segera menangkapnya dengan sigap.


Kedua tangan Alvin menahan pinggang Nerissa, sedangkan tangan Nerissa memegang erat tangan Alvin untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.


Dua pasang mata saling bertemu dan menatap dalam diam. Sebuah alunan musik tiba tiba terdengar dengan lembut bersama lampu yang tiba tiba menjadi temaram.