Mysterious Man

Mysterious Man
Kejutan Dari Harry



Satu bulan kemudian.


Di sebuah pemakaman yang terletak di Green Palace yang berada di negara H, tepatnya di selatan kota Z, seorang pria serta dua orang wanita sedang berdiri di depan makam seseorang yang bertuliskan "Alan Anderson". Tidak jauh dari mereka berdiri, seorang pria tinggi juga tengah berdiri sambil menatap ke arah mereka bertiga.


Ketiga orang tersebut adalah Harry, Sheryn dan Xena, sementara yang berdiri tidak jauh di belakang mereka adalah Stein. Pemakaman itu adalah pemakaman keluarga Anderson. Pemakaman keluarga Anderson memiliki lahan yang sangat luas Pemakaman tersebut juga hanya bisa dimasuki oleh orang tertentu saja. Selain pegawai atau keluarga Anderson, tidak ada yang diperbolehkan untuk masuk ke sana.


Hari ini memang jadwal Sheryn dan Xena untuk mengunjungi pemakam tersebut. Sebelum Xena hamil, dia bisa mengunjungi makam Alan 3 kali dalam seminggu, tapi semenjak hamil, dia hanya bisa mengunjungi makam itu seminggu sekali.


Seperti hari ini, Harry sengaja mengantar Sheryn dan Xena ke sana untuk mengawasi mereka berdua. Meskipun, sebenarnya ada Stein yang bisa menjaganya karena kemana pun Sheryn dan Xena pergi, selalu ada pengawal yang mengikuti serta mengawasi mereka.


Setelah insiden tembak-menembak itu, nyawa Alan tidak tertolong. Peluru mengenai jantungnya dan mengeluarkan begitu banyak darah. Dia meninggal dalam perjalan menuju rumah sakit. Xena bahkan beberapa kali jatuh pingsan saat dalam perjalan menuju rumah sakit saat tahu kalau Alan sudah menghembuskan napas terakhirnya.


Selama satu bulan penuh, Xena mengurung diri bahkan sampai masuk rumah sakit berkali-kali karena dia tidak mau makan dan terus menangisi kepergian Alan. Selama masa-masa sulitnya, dia ditemani oleh Sheryn. Mereka saling menghibur satu sama lain.


Xena terlihat membungkuk dan meletakkan bucket bunga lily di atas memakam Alan, setelah itu, dia berjongkok di samping makam tersebut dan mulai menangis. "Alan, aku baru saja memeriksakan anak kita. Dia sangat sehat, aku harap nanti anak kita wajahnya mirip denganmu agar kalau aku merindukanmu, aku bisa menatap wajahnya terus-menerus."


Xena mulai terisak. "Aku sangat merindukanmu, Alan. Setiap malam aku selalu memimpikanmu. Aku harap semua ini hanya sebuah mimpi dan berharap ketika aku bangun, kau ada di sampingku sambil memelukku."


Mata Sheryn mulai berkaca-kaca saat melihat kesedihan Xena. Tentu saja Sheryn tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat disayangi. Karena dia juga pernah merasakan itu. Dia bahkan mengurung diri di kamar selama berminggu-minggu hingga tubuhnya menjadi sangat kurus.


"Aku akan berusaha menjaga anak kita dengan baik, Alan. Meskipun sangat berat bagiku hidup tanpamu."


Sheryn berjalan mendekati Xena dan mengusap punggungnya dengan lembut, memberikan kekuatan padanya. "Alan, seandainya waktu itu...." Xena kembali terisak dan menangis tersedu-sedu.


"Xena, ini bukan salahmu. Lupakanlah masa lalu," ucap Sheryn dengan lembut, "Alan, aku akan membantumu untuk menjaga Xena juga anakmu nanti. Dendam diantara keluarga kita, aku harap selesai sampai di sini. Ke depannya, kami akan hidup dengan rukun."


Harry sedari tadi hanya diam seraya menatap kedua wanita yang ada di depannya itu dari balik kaca mata hitamnya. Dia tidak mau berkomentar apapun dan hanya membiarkan kedua wanita di depannya itu menumpahkan isi hatinya. Harry sudah beberapa kali menemani Xena dan Sheryn ke pemakaman itu jika dia memiliki waktu luang.


Setelah cukup lama berada di saja, akhirnya Sheryn dan Xena berdiri. "Alan, aku akan mengunjungimu lagi minggu depan," ucap Xena seraya menyka air matanya.


Harry lalu menoleh pada Sheryn. "Apa kau ingin mengunjungi Melvin atau langsung pulang ke rumah?"


"Aku ingin mengunjungi Melvin," jawab Sheryn cepat.


"Baiklah, biarkan Xena pulang lebih dulu bersama dengan Stein, dia terlihat pucat."


"Iyaa."


Semenjak Xena hamil, Sheryn memutuskan untuk membawa Xena untuk tinggal bersamanya di mansion keluarga Anderson. Bagaimana pun, di dalam perutnya, ada darah daging Alan yang tidak lain adalah bagian dari keluarga Anderson. Sheryn sudah menceritakan pada Ibu Alan dan Emily mengenai kehamilan Xena.


Saat mendengar itu, ibu Alan menitikkan air matanya dan langsung memeluk Xena dengan erat. Dia merasa sangat bahagia setelah mengetahui kalau itu anak Alan. Setidaknya, anak itu bisa mengobati kerinduannya pada Alan jika sewaktu-waktu dia merindukan anaknya.


Saat dalam perjalanan pulang, Sheryn nampak hanya melamun. Dia lebih banyak diam setelah dari pemakaman. Harry akhirnya mengajak Sheryn untuk berbicara untuk menghapus keheningan diantara mereka.


"Sheryn, apa kau baik-baik saja?"


Sheryn menoleh dan mengangguk. "Aku baik-baik saja."


Semakin hari, tubuh Sheryn semakin kurus, bahkan dia sempat pingsan 3 minggu lalu akibat kelelahan bekerja dan kurang tidur. Tentu saja hal itu membuat Harry merasa khawatir. Pada akhirnya Stein menghandle setengah pekerjaan Sheryn karena tidak ingin kalau sampai Sheryn jatuh pingsan lagi.


Harry tidak bisa terlalu banyak membantu Sheryn mengenai urusan perusahaan karena dia sendiri sedikit kewalahan dengan perusahaannya, karena dia sering ke negara H untuk melihat secara langsung keadaan Sheryn dan Xena, meskipun ada Stein, tapi Harry tetap merasa cemas.


"Baiklah."


Setibanya di rumah sakit, Sheryn dan Harry langsung berjalan ke arah lift. "Sheryn, Dokterku sedang berada di ruang operasi. Bagaimana kalau kau temani aku sebentar untuk menjenguk temanku? Dia dirawat di rumah sakit ini juga."


Sheryn berpikir sejenak kemudian mengangguk. "Baiklah, tapi jangan lama-lama."


"Iyaaa."


Mereka kemudian menuju lift bersama-sama. Lift berhenti di lantai khusus untuk ruangan VVIP. "Temanmu, dirawat di lantai ini?" Kamar VVIP sangatlah mahal. Hanya orang yang berkantong tebal yang sanggup menyewa kamar tersebut.


"Iyaa, dia baru saja dipindahkan ke kamar ini."


Harry berhenti tepat di ruangan yang bertuliskan "Room VVIP 01" lalu membuka pintu tersebut. "Ayo masuk."


Sheryn mengangguk dan mengikuti langlah Harry dari belakang. Sheryn tidak bisa melihat pasien tersebut karena terhalang oleh tubuh tinggi Harry, terlebih lagi, dia berjalan seraya menatap ke bawah. Setelah berada cukup dengan dengan ranjang pasien, Harry membuka suaranya.


"Kau sudah sadar?"


"Iyaaa."


Sheryn akhirnya mengangkat kepalanya dan menggeser sedikit tubuhnya setelah mendengar suara pria itu. Matanya terbelalak ketika melihat siapa pria yang ada di dalam ruangan itu.


"Melvin," panggil Sheryn dengan wajah terkejut ketika melihat wajah pria yang tengah duduk setengah berbaring di ranjang pasien itu.


"Kemarilah, Sa... yang, aku sangat me-me rindukanmu," ucap Melvin dengan terbata-bata.


Sheryn langsung menghambur ke pelukan suaminya sambil menangis bahagia. "Kenapa kau tidur lama sekali? Aku kira kau tidak akan bangun lagi." Sheryn mulai terisak.


"Maaf-kan A-aku."


Karena sudah koma selama 3 bulan sehingga membuat Melvin sedikit kesulitan untuk bicara. Tidak hanya itu, tubuhnya juga kaku dan dia juga tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan leluasa akibat koma dalam waktu yang lama.


Sheryn terlihat memeluk erat tubuh Melvin. "Aku sangat merindukanmu, Melvin."


Melvin berusaha untuk menggerakkan tangannya untuk membalas pelukan istrinya, tetapi tidak bisa. "Aku ju-ga."


Melvin memang selamat setelah insiden penembakan itu, meskipun dia harus mengalami koma, berbeda dengan Alan karena peluru menembus tepat di jantungnya jadi dia tidak bisa di selamatkan Sebenarnya Melvin bisa saja tidak tertolong jika dia tidak dibawa secepatnya ke rumah sakit karena dia kehilangan banyak darah.


Beruntung ada helikopter di sana sehingga Melvin bisa tiba di rumah sakit secepatnya. Setibanya di rumah sakit, Melvin harus menjalani operasi. Setelah masa kritisnya lewat, Melvin ternyata mengalami koma dan hal itu membuat Sheryn kembali jatuh pingsan.


Selama sebulan lebih, Sheryn berada di rumah sakit untuk merawat suaminya. Meskipun Melvin koma, tapi setidaknya Sheryn masih bisa melihat Melvin setiap hari, tidak seperti Xena. Sheryn sempat terpuruk ketika dokter mengatakan kalau kemungkinan suaminya tidak akan bangun lagi.


Melvin tidak menunjukkan kemajuan apapun setelah koma sebulan lebih, maka dari itu, dokter tidak ingin memberikan harapan palsu padanya. Baruntung selalu ada Harry, Xena, serta Stein yang selalu menyemangati Sheryn hingga dia bisa bertahan sampai hari ini.


Sheryn melepaskan pelukannya lalu duduk di tepi tempat tidur. "Tidak hanya aku yang merindukanmu, tapi anak kita juga."


Melvin nampak bingung sesaat lalu membelalakkan matanya. "Aku sedang hamil, Melvin. Ada anakmu di dalam perutku."


Bersambung....