
Jack membuka pintu ruangannya dan membawa Alice masuk lalu kembali menutup pintunya..
Setelah itu ia melepaskan genggaman tangannya pada Alice. Alice yang melihat tingkah Jack seketika mengernyitkan keningnya dengan pelan. Apakah pria itu marah?? pikirnya.
Alice pun menatap makanan yang sudah terlihat tersusun di atas meja. Dan, semua makanan itu adalah makanan favoritnya.
Jack terlihat menatap Alice dan tersenyum pelan,
"Aku tadinya ingin menjemputmu dan membawamu untuk makan siang bersama disini" ucapnya pelan.
Jack perlahan berjalan kearah sofa dan duduk. Lalu ia pun menatap Alice yang masih berdiri terdiam di tempatnya,
"Kemarilah, kita makan bersama" ujar Jack lagi.
Alice menghela nafasnya pelan dan duduk di samping Jack,
"Apa kau marah??" tanya Alice tiba-tiba yang membuat Jack menatap kearahnya.
Pria itu tersenyum pelan sambil menggeleng,
"Aku tidak marah.. Aku.. hanya sedikit kesal" balasnya.
Alice menatap Jack dan terdiam sejenak,
"Martin memang tidak tau tentang hubungan kita. Dia tipikal orang yang tidak suka gosip dan tidak ingin tau tentang masalah orang lain" ucap Alice menjelaskan.
Jack menatap kekasihnya dan menggenggam tangan Alice lagi,
"Seharusnya aku mengumumkan tentang hubungan kita pada seluruh orang di dunia ini agar mereka tau dan tidak berani mendekatimu.." ucap Jack serius.
Alice yang mendengar hal itu seketika tersenyum pelan,
"Kau cemburu??" tanya Alice iseng.
Jack pun menatap gadis itu dan mengangguk tanpa ragu,
"Tentu saja!" tegasnya yang membuat Alice langsung terdiam.
"Melihat pria lain menatapmu dari jauh saja membuatku cemburu, apalagi sampai berada di jarak yang cukup dekat seperti itu, aku tidak suka!" ujarnya lagi.
Jack pun menatap gadis itu dengan tatapan intens nya,
"Apa kau juga akan cemburu jika ada wanita lain yang melihatku ataupun mendekatiku??" tanyanya memancing.
Alice seketika terdiam dan terlihat salah tingkah mendengar pertanyaan Jack. Gadis itu pun seketika menatap undangan di tangannya dan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan,
"Ini.. Ini ada undangan untukmu dari Jessica" ucapnya sambil memberikan undangan itu pada Jack.
Jack yang menyadari kekasihnya itu tengah mengalihkan pembicaraan seketika tersenyum pelan dan mengambil undangan yang di berikan oleh Alice. Ia membaca undangan itu dan mengernyitkan keningnya,
"Mengapa dia memberikannya padamu??" tanya Jack.
Alice hanya mengangkat bahunya pelan,
"Tadi dia bilang kau tidak ada di ruangan dan sedang meeting, jadi Jessica menitipkannya padaku" jawab Alice.
"Dia juga menyuruhku untuk datang" lanjut Alice yang membuat Jack langsung menatapnya.
"Baguslah, tadinya aku tidak akan datang. Tapi.. Jika kau ikut, maka aku akan datang" balas Jack tersenyum penuh arti padanya.
Alice terlihat terdiam dan menggeleng pelan,
"Aku tidak tau.." ucapnya pelan.
"Entah mengapa aku belum siap untuk kembali bertemu dengan orang tua Jessica dan juga Sherly. Dia pasti masih marah padaku, dan.. hubungan kami masih belum membaik" lanjutnya menunduk pelan.
Jack menatap kekasihnya dalam dan menyentuh pipinya dengan lembut,
"Tidak apa-apa.. Kau tidak bersalah dan tidak perlu ada yang membuatmu malu untuk bertemu dengan mereka" ucapnya lembut.
"Tapi.. Jika kau memang tidak ingin datang, tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa.." lanjutnya sambil mengusap pipi gadis itu.
Alice pun mengangkat wajahnya dan mengangguk pelan. Jack mendekatkan wajahnya pada gadis itu dan mengecup pipinya dengan lembut,
CUP!!
"Jangan murung lagi.. Ayo kita makan" ajaknya dengan senyuman manis di depan kekasihnya itu.
Alice pun ikut tersenyum dan mengangguk pelan. Jack mulai mengambilkan beberapa makanan kesukaan Alice dan menyuapinya. Mereka pun makan bersama dalam satu piring dengan romantis..
Hari sudah gelap..
Terlihat sebuah mobil berhenti tepat di hadapan rumah Lola.
Jack keluar dari mobilnya dan melangkah ke sisi lain lalu membuka pintu mobil untuk Alice.
Alice keluar dari dalam mobil dan tersenyum lembut pada kekasihnya itu. Jack menutup pintu mobil dan memeluk pinggang Alice dengan mesra,
"Apakah aku harus masuk dulu?? Aku ingin bertemu dengan nenek" ujarnya sambil mengusap tengkuk Alice.
Alice tersenyum pelan dan menggeleng,
"Tidak usah, ini sudah cukup malam, nenek pasti sudah tidur" jawabnya sambil menatap jam di pergelangan tangannya.
Jack pun menghela nafas kecewanya dan memeluk tubuh Alice dengan erat,
"Rasanya aku tidak ingin berpisah darimu" bisiknya di telinga gadis itu dalam.
Alice tersenyum lembut dan membalas pelukan Jack,
"Besok kita juga akan bertemu lagi" ujarnya pelan.
Jack tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu dan melepaskan pelukannya. Tangannya masih memeluk pinggang Alice dan matanya menatap gadis itu dalam,
"Baiklah.. Aku tidak sabar untuk bertemu kembali besok" ucapnya intens.
Pria itu pun perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Alice dan mengecup bibir gadis itu dengan lembut dan cukup lama.
CUP!!
Jack \*\*\*\*\*\*\* bibir Alice dan perlahan Alice pun mendorong dada pria itu agar tidak memperdalam ciumannya,
"Cukup Jack, ini di tempat umum" bisik Alice.
"Berarti, jika bukan di tempat umum.. aku boleh mencium mu berjam-jam??" tanyanya menggoda.
Alice pun seketika memukul dada Jack pelan,
"Kau ini!" kesalnya.
Jack pun terkikik pelan dan mulai menjauhkan tubuhnya dari Alice,
"Aku hanya bercanda.." ujarnya sambil mengusap lembut rambut gadis itu.
Ia pun melepaskan dekapannya pada tubuh Alice,
"Istirahatlah.. Jangan lupa mimpikan aku" ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Alice.
Alice hanya menghela nafasnya pelan,
"Kau juga harus cepat pulang dan istirahat.." balas Alice.
Jack pun mengangguk pelan dan mengecup kening Alice,
"Baiklah.. Masuklah dulu, setelah itu aku akan pergi" ucapnya lembut.
Alice yang mendengar hal itu pun menggeleng tegas,
"Tidak, aku akan masuk setelah kau pergi" ucapnya pada Jack.
Alice mengatakan hal itu karena biasanya Jack akan berdiri cukup lama di luar rumahnya dan menunggu sampai Alice benar-benar mematikan lampu kamarnya untuk tidur.
Jack pun tersenyum pelan dan mengusap rambut Alice dengan lembut,
"Baiklah.. Aku akan pergi" ucapnya.
Ia kembali mengecup pipi Alice dan mulai masuk ke dalam mobilnya. Pria itu membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya,
"Selamat malam.. Aku mencintaimu" ucapnya tersenyum lembut.
Alice hanya tersenyum dan melambaikan tangannya pada Jack,
"Selamat malam" balasnya.
Jack pun mulai menyalakan mobilnya dan kembali melambai pada Alice sebelum melajukan mobilnya untuk pergi.
Setelah mobil Jack benar-benar pergi, Alice pun mulai membalikkan tubuhnya untuk segera masuk ke dalam rumah.
Namun, tiba-tiba terlihat seseorang yang perlahan melangkah mendekatinya..
Alice seketika terdiam saat melihat Justin yang berdiri di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Pria itu sudah berdiri di balik pagar cukup lama. Dan, ia melihat semua adegan yang di lakukan Alice dan Jack tadi.
"Ternyata.. semua berita itu benar.." ucapnya pelan pada Alice dengan suara yang sedikit bergetar.
Hatinya benar-benar hancur sekarang..
Pupus sudah harapannya untuk memiliki gadis itu..
Ia telah kalah..
Dan, ini adalah pertama kali dalam hidupnya ia merasakan patah hati..
'Ternyata.. rasanya sesakit ini...' rintih pria itu dalam hatinya.
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍