
Saat Sheryn sedang larut dalam kesedihannya, ponsel yang berada di dalam tas berbunyi. Dengan gerakan pelan, Sheryn mengambil ponsel di tasnya lalu mengangkat telponnya. Saat mendengar ucapan dari orang yang menelponnya, Sheryn yang sedang duduk ruang tunggu di kantor polisi, seketika langsung berdiri.
"Apa? Apa yang kau katakan, Paman?" Wajah Sheryn pias dan tangannya gemetar tak kendali.
"Tidak mungkin. Tidak mungkin. Kau bohong, kan, Paman?"
Air mata Sheryn seketika luruh tanpa bisa dicegah. Dengan tatapan kosong, Sheryn kembali terduduk di kursi. Dia sudah tidak memperdulikan panggilan telpon yang masih tersambung. Pikirannya kosong dan air matanya terus mengalir.
Setelah beberapa saat, Sheryn kembali ke mobilnya dan meminta supirnya untuk pergi ke suatu tempat. Pikiran kalut dan air matanya terus mengalir di pipinya. Mulutnya tidak henti-hentinya memanggil nama seseorang.
Setibanya di tempat tujuan, Sheryn langsung berjalan ke arah ruang ICU. Di sana sudah ada asisten ayahnya, ibu tirinya, Laura dan Harry. Ketika Sheryn memasuki ruangan, Semua orang menoleh. Wajah mereka semua nampak bersedih. Ibu tiri Sheryn dan Laura bahkan menangis juga.
Dengan langkah pelan dan tatapan kosong, Sheryn menghampiri ranjang ayahnya. "Ayah, bangun. Kau tidak bisa meninggalkan aku begitu saja. Aku mohon bangun Ayah." Sheryn mengguncang tubuhnya ayahnya yang sudah terbujur kaku. Tidak ada kehangatan lagi saat kulitnya bersentuhan dengan tubuh ayahnya.
"Ayaaaah .... Banguuuuun .... Jangan tinggalkan aku sendiri Ayah." Sheryn berteriak histeris sambil menggungcang tubuh ayahnya. Air mata tidak henti mengalir di pipinya.
"Kenapa kau tiba-tiba pergi? Bagaimana denganku? Ayah, aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Melvin sudah pergi. Dia meninggalkan aku. Kenapa kau juga pergi?"
Semua yang ada di ruangan itu hanya diam sambil memandang Sheryn yang terus memanggil nama ayahnya. Jeritan dan rintihan memilukan hati terus terdengar di ruang tersebut hingga akhirnya dia jatuh pingsan.
Pada 4 pukul sore, jenasah ayahnya dibawa pulang ke rumah dan akan dilakukan pemakaman keesokan paginya. Sheryn tidak pernah beranjak dari samping jenasah ayahnya. Sudah tidak ada lagi jeritan, rintihan, ruangan yang terdengar dari mulut Shery. Hanya air mata saja yang masih terus mengalir di wajah sembabnya. Dia bahkan tertidur di samping ayahnya hingga pagi hari.
Acara pemakaman ayahnya dilakukan secara sederhana dan dilakukan secara cepat. Setelah ayahnya di makamkan, dia mengurung diri di kamar. Dia tidak pernah keluar dan hanya berdiam diri saja. Tidak ada yang dia perbolehkan untuk masuk ke dalam kamarnya kecuali bibi Sha.
Sheryn seperti kehilangan semangat hidupnya. Hidupnya hancur. Dia seperti tidak memiliki tujuan hidup lagi. Dia sudah tersingkir dari perusahaan. Melvin meninggalkannya begitu saja dan sekarang ayahnya juga pergi meninggalkannya. Entah untuk apa lagi dia hidup.
Tiga minggu berlalu setelah kepergian ayahnya, untuk pertama kalinya dia keluar dari kamar. Dia duduk di taman belakang sambil memandang taman yang ada di depannya. Sheryn sudah tidak lagi bekerja di perusahaan setelah Laura mengeluarkannya dari perusahaan ketika dia menduduki kursi CEO.
Saat sedang memandang bunga-bunga yang baru bermekaran, ponselnya berbunyi. "Iyaa, Paman." Sheryn menjawab telponnya.
"Baiklah. Besok kita bertemu di luar." Sheryn mematikan telponnya setelah itu berjalan masuk ke dalam rumah.
Malam harinya, dia dipanggil oleh ibu tirinya untuk berkumpul di ruangan keluarga. Di sana sudah ada pengacara keluarga Sheryn, Laura, ibu tirinya dan Harry. Maksud kedatangan pengacara keluarga Sheryn adalah untuk membicarakan mengenai surat wasiat ayahnya.
"Saya akan membacakan wasiat terakhir yang dibuat oleh mendiang tuan Edwin," ucap Pengacara itu sambil membenahi kacamatanya.
Laura dan ibunya nampak menanti dengan wajah tidak sabar. Hanya Sheryn yang nampak tidak begitu peduli. "Tuan Edwin mewariskan semua sahamnya dan 80% hartanya pada istrinya, yaitu Nyonya Ruth. Nona, Laura mendapatkan rumah, vila, dan saham sebesar 7%, sementara Nona Sheryn tidak mendapatkan apapun kecuali saham dia dia miliki atas namanya sebesar 5%."
Wajah sumringah dan senyum lebar langsung terpancar dari wajah ibu tiri Sheryn dan Laura. "Paman Rony, tidak mungkin ayahku memberikan semua hartanya pada mereka. Akulah anak kandungnya. Ini tidak mungkin. Mereka hanya orang luar," protes Sheryn dengan wajah marah.
Pengacara Sheryn memandang ke arah Sheryn dengab wajah tidak berdaya. "Maaf Nona, itu adalah kenyataannya. Kau bisa memeriksa keasliannya dokumen ini jika tidak percaya. Ayahmu memang memberikan semuanya pada Nona Laura dan Nyonya Ruth," terang Rony dengan sopan.
"Sheryn, tenanglah. Meskipun kau tidak mendapatkan apapun, kau masih bisa tinggal bersama dengan kami. Kita adalah keluarga. Aku akan mengurusmu seumur hidupku. Jangan khawatirkan apapun," sahut Ibu Tiri Sheryn.
Sheryn mengepalkan tangan dengan mata yang menyala. Dia bisa melihat dengan jelas wajah palsu ibu tirinya. Kata-kata ibu tirinya, membuatnya ingin tertawa. Mana mungkin dia mau mengurusnya. Sedari dulu, dia sudah berusaha beberapa kali menyingkirkannya. Ibu tirinya dan Laura bahkan memfitnahnya hingga diasingkan keluar negeri. Bagaimana bisa dipercaya dengan perkataan ibu tirinya yang memiliki banyak wajah di belakangnya.
Sheryn mendengus. Wajah munafik Laura membuat Sheryn jijik. "Kalau begitu saya permisi. Untuk prores selanjutnya, saya akan menghubungi Nyonya lagi nanti."
Ibu tiri Sheryn berdiri. "Baiklah. Terima kasih Rony."
Setelah pengacara kelurga Sheryn pergi. Laura dan Ibunya tidak hentinya tersenyum lebar. "Ayo sayang kita kembali ke kamar." Ibu Sheryn mengajak Laura sambil melirik Sheryn sekilas dengan wajah mencemooh.
"Iyaa Ibu."
Sheryn hanya diam dan membiarkan Laura dan ibunya menghilang dari hadapannya. "Sheryn, aku ingin bicara denganmu," ucap Harry sambil menatap ibu padanya.
"Harry, aku sedang tidak ingin bicara denganmu." Sheryn berdiri lalu pergi meninggalkan Harry di ruang tamu sendirian dengan wajah marah.
******
Sheryn berjalan memasuki sebuah restoran terkenal untuk bertemu dengan asisten ayahnya. Dia sengaja memilih ruangan VIP karena ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Henry padanya
"Sheryn, duduklah." Henry menunjuk kursi kosong di depannya.
"Terima kasih, Paman."
Sheryn duduk, setelah itu memandang ke arah asisten ayahnya. "Sheryn, aku memanggilmu ke sini untuk membicarakan mengenai ayahmu." Asisten ayahnya membuka pembicaraan.
Dahi Sheryn mengerut. "Ayahku? Memangnya ada apa?"
Henry memajukan tubuhnya lalu berbicara dengan pelan pada Sheryn. "Mengenai wasiat ayahmu yang terakhir, aku merasa ada kejanggalan."
Dahi Sheryn kembali mengerut. "Kejanggalan bagaimana maksud, Paman?"
"Sebelum ayahmu masuk rumah sakit, dia pernah membuat surat wasiat baru yang menyatakan kalau semua warisan, termasuk perusahaan diberikan padamu."
Mata Sheryn membulat. "Benarkah? Tapi kenapa isi wasiat ayahku berbeda dengan yang dibacakan oleh paman Rony?"
"Aku dengar dari pengacara keluargamu, kalau tuan Edwin baru-baru ini merubah kembali surat wasiatnya secara mendadak. Beberapa hari sebelum kematian ayahmu, Laura dan nyonya Ruth sempat menjenguk ayahmu, tapi aku sedang tidak ada di rumah sakit. Pada hari kematian ayahmu, tuan Harry ada di sana sebelum ayahmu meninggal. Ada yang janggal dengan kematian ayahmu. 3 hari sebelum kematian ayahmu, Dokter mengatakan kalau kondisinya membaik."
Wajah Sheryn menampilkan ekspresi terkejut dan marah. "Jadi, menurut Paman, ada yang sengaja memb*nuh ayahku?"
"Ini hanya dugaanku saja. Aku tidak memiliki bukti apapun. Aku hanya merasa kematian ayahmu tidak wajar. Meskipun Dokter mengatakan kalau ayahmu terkena serangan jantung."
Sheryn menggertakkan gigi dengan mata berapi-api. "Akan aku cari tahu semuanya. Aku yakin Harry, Laura, dan bibi Ruth ada hubungannya dengan ini."
Bersambung.....