Mysterious Man

Mysterious Man
Melanjutkan Apa Yang Sempat Tertunda



Saat Melvin sedang fokus pada layar ponselnya, bel kamarnya berbunyi. Melvin meletakkan ponselnya di atas nakas lalu berjalan untuk membuka pintu. “Ini Tuan Muda.” Stein menyerahkan paper bag berukuran besar berwarna hitam pada Melvin.


“Selama seminggu ini handle dulu semua pekerjaanku,” perintah Melvin pada asistennya, “jika ada hal yang mendesak dan membutuhkan tanda tanganku, kirim saja lewat email atau kau bisa antarkan langsung padaku,” tambah Melvin lagi.


“Baik, Tuan Muda.” Saat Melvin akan menutup pintu, Stein langsung mencegahnya, “Tuan Muda, tadi tuan muda Alan ke kantor. Dia mencarimu.”


Melvin termenung sejenak lalu bertanya, “Apa dia sudah tahu tentang berita pernikahanku?”


“Sepertinya belum, Tuan Muda. Dia ke sana sepertinya ingin bertanya mengenai nona Xena,” tebak Stein, “tuan muda Alan terlihat sedang marah.”


Melvin terdiam selama beberapa saat kemudian berkata, “Aku akan menemuinya 3 hari lagi. Jangan sampai dia bisa melacak di mana keberadaan Xena. Perketat keamannya juga hotel ini. Aku yang akan menghubungi Tuan Jo nanti.”


Tuan Jo adalah pemilik dari hotel tempatnya menginap. Mereka cukup dekat karena pernah menjalin kerja sama beberapa kali.


Stein mengangguk. “Baik, Tuan Muda.”


Melvin kembali masuk ke dalam kamar setelah pintu tertutup. Dia meletakkan paper bag tersebut di atas tempat tidur, setelah itu mengambil kembali ponselnya dan menghubungi seseorang.


Dari arah kamar mandi, terlihat Sheryn melangkah pelan setelah pintu terbuka. Dia menatap ke arah Melvin yang sedang berdiri membelakanginya di dinding kaca seraya berbicara di telpon dengan seseorang dan Melvin secara tiba-tiba menoleh ke belakang menatap ke arah istrinya lalu tersenyum, setelah itu kembali menatap ke depan.


Sheryn menajamkan pendengaran karena ingin tahu dia sedang berbicara dengan siapa. Suara Melvin terdengar sangat kecil sehingga Sheryn tidak bisa menangkap apa yang sedang dibicarkaan olehnya.


“Aku akan menghubungimu lagi nanti.” Melvin memutuskan panggilan telponnya lalu berbalik menghampiri istrinya.


“Ini baju gantimu,” tunjuk Melvin pada paper bag yang ada di atas tempat tidur.


Sheryn mengangguk, tetapi dia tidak mengambil paper bag tersebut, melainkan melirik ke arah Melvin yang terlihat sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap serius pada layar ponselnya.


“Kenapa, Sayang?” tanya Melvin saat melihat Sheryn berdiri di dekat dengan tatapan memicing ke arahnya.


“Tidak apa-apa.”


Sheryn meraih paper bag lalu berjalan ke arah kamar mandi dan keluar setelah mengganti bajunya. Selama seharian ini, Sheryn hanya mengenakan kaos Melvin karena dia tidak memiliki pakaian ganti. Barulah pada malam hari, Melvin menyuruh asistennya untuk mengantarkan pakaian ganti untuk Sheryn karena mereka akan makan malam di restoran bawah.


Seharian ini, mereka hanya berada di dalam kamar. Melvin sibuk dengan ponselnya karena harus menyelesaikan beberapa urusan pekerjaannya. Sheryn memilih untuk berbaring di tempat tidur dengan malas seraya menonton televisi. Dia masih merasa pegal akibat pesta pernikahannya. Terlebih lagi, dia banyak berdiri ketika di pesta pernikahannya berlangsung.


Setelah Sheryn selesai mematut diri, Melvin mengajaknya turun ke bawah untuk makan malam. Dia sengaja tidak memesan layanan kamar agar istrinya tidak bosan karena dua hari ke depan mereka hanya akan menghabiskan waktu di kamar.


Saat mereka sedang menikmati makan malam seorang wanita menghampiri meja mereka, “Melvin, ternyata kau menginap di hotel ini juga?” Seorang wanita bertubuh langsing dan berwajah oval terlihat menghampiri meja Melvin dengan senyum manisnya.


“Charlote, kenapa kau bisa di sini? Semenjak kapan kau datang?”


Sheryn melirik sekilas pada wanita yang berwajah lembut itu kemudian beralih melirik suaminya yang terlihat tersenyum lebar padanya. Melvin jarang sekali menunjukkan senyum seperti itu pada wanita lain, bahkan dengan dirinya juga. Kalaupun dia tersenyum padanya, itu hanya senyuman tipis.


“Aku baru saja tiba semalam. Aku dengar dari bibi kau akan menikah jadi aku putuskan untuk segera pulang.”


“Kau ke sini dengan siapa?” tanya Melvin lagi.


“Sendiri. Aku pikir aku bisa menghandiri pernikahanmu, tapi ternyata terlambat. Pesawatku delay jadi aku tidak bisa menghadiri perta pernikahanmu.”


Wajah wanita itu terlihat tersenyum, tapi ada sorot mata sedih saat dia mengatakan itu.


“Duduklah.” Melvin mengarahkan tangannya ke kursi yang kosong di depannya.


“Kenapa kau tidak mengabariku kalau kau akan menikah?” tanya Charlotte dengan wajah kecewa.


Nada bicara wanita itu sangat lembut sama seperti wajahnya. Penampilannya juga sangat feminim dan anggun. Sheryn bahkan merasa iri melihat kecantikan wanita itu.


“Maaf, ini di luar rencanaku. Ceritanya panjang, nanti akan aku ceritakan.” Melvin menoleh pada istrinya, “kenalkan ini istriku, namanya Sheryn.”


Wanita itu tersenyum lebar pada Sheryn. “Charlotte.” Wanita itu mengulurkan tangan pada Sheryn dan disambut dengan cepat oleh Sheryn seraya menyebutkan namanya.


“Melvin, aku sudah selesai. Aku akan kembali ke kamar lebih dulu," ucap Sheryn seraya berdiri.


“Baiklah. Aku akan menyusulmu nanti. Aku akan berbicara dengan Charlotte sebentar.”


“Iyaa.” Sheryn berjalan meninggalkan restoran hotel itu setelah berpamitan pada Melvin dan Charlotte.


“Baik,” jawab Melvin.


“Melvin, aku merindukanmu.”


“Charlotte, Aku ti....”


“Aku tahu. Aku hanya ingin mengatakan itu saja padamu. Tidak ada maksud lain lagi.” Charlotte berusaha untuk tersenyum, meskipun sorot matanya terlihat kecewa.


******


Selesai menemui Charlotte, Melvin kembali ke kamarnya. Dia melihat Sheryn baru saja keluar dari kamar mandi. "Kau habis mandi lagi, Sayang?"


Melvin mendekati istrinya yang sudah duduk di depan meja rias. Dia merasa heran saat melihat istrinya kembali mandi, padahal dia sudah mandi sore tadi.


"Iyaa, badanku lengket, Melvin."


Melvin tersenyum penuh arti lalu berdiri di belakang istrinya seraya membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan Sheryn. "Kalau begitu, aku akan mandi juga. Persiapkan dirimu, Sayang. Karena malem ini, kita akan menghabiskan malam yang panjang," bisik Melvin dengan suara lembut yang secara tidak sadar membuat telinga Sheryn tergelitik dengan ucapannya.


Melvin tersenyum tipis ketika melihat wajah istrinya memerah. "Jangan memakai apapun malam ini, selain pakaian yang sudah aku siapkan di lemari. Aku akan memberikamu hukuman jika kau tidak menuruti perkataanku."


"Tapi Melvin...."


Melvin mengabaikan Sheryn yang terlihat duduk dengan wajah keberatan. Melvin memilih untuk berlalu ke dalam kamar mandi dan kembali keluar 15 menit kemudian hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Melvin langsung menghampiri istrinya yang terlihat sedang berdiri memunggunginya seraya memandang keluar dinding kaca kamarnya.


"Kau sedang memikirkan apa, Sayang?" Melvin melingkarkan kedua tangannya di perut Sheryn, mengikis jarak di antara mereka berdua.


"Siapa wanita yang tadi bertemu dengan kita di restoran bawah?" tanya Sheryn seraya sedikit menoleh sedikit belakang.


Melvin mengerutkan kening sejenak lalu tersenyum tipis. "Namanya Charlotte. Dia mantan kekasihku sekaligus cinta pertamaku."


Deeeggg


Ekspresi wajah Sheryn seketika berubah. "Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku tentangnya?"


Sheryn terlihat sedikit kesal sekaligus kecewa pada Melvin. Ada sesuatu yang aneh menurutnya. Secara tidak sadar, Sheryn sedang membanding perlakukan Melvin pada Cheryl Wu dan Charlotte. Terlihat jelas kalau sikap Melvin lebih lembut pada Charlotte.


"Dia hanya masa laluku. Sudah tidak penting lagi." Melvin mengeratkan pelukannya dan mulai memberikan kecupan ringan di pipi istrinya, setelah itu perlahan turun ke leher dan meninggalkan tanda di sana.


Cinta pertama adalah masa lalu paling sulit untuk dilupakan dan itu membuat hati Sheryn seketika menjadi gusar. "Tapi sepertinya, dia masih memiliki perasaan terhadapmu. Aku bisa melihat dari tatapannya tadi padamu."


Melvin terlihat sibuk dengan kegiatannya. Tangan mulai memegang tali bathrobe yang di kenakan istrinya seraya terus memberikan kecupan di leher serta bahu Sheryn. "Aku sudah tidak mencintainya, Sayang. Aku hanya mencintaimu. Jangan membicarakan orang lain, Sayang."


Dengan sekali tarik, Melvin berhasil melepaskan bathrobe yang dikenakan istrinya hingga menyisakan lingerie merah yang melekat di tubuh putih Sheryn. Melihat itu, Melvin tersenyum lebar. Ternyata istrinya, menuruti perkataannya dengan memakai lingerie yang sengaja dia persiapkan untuk istrinya di lemari.


"Kau seksi sekali, Sayang."


Melvin mengeratkan pelukannya dan kembali memberikan kecupan basah dia bahu istrinya. Tangannya tidak tinggal diam, setelah bathrobe terlepas, tangannya langsung bergerak liar di bagian depan tubuh istrinya sehingga membuat Sheryn mengeluarkan suara lenguhan.


"Jangan pikirkan apapun, Sayang. Ini malam kita, fokuslah pada kita berdua," ucap Melvin lagi dengan suara seraknya.


Sheryn terlihat sedikit mendongakkan kepala dengan mata terpejam, menikmati setiap sentuh lembut yang diberikan oleh suaminya. "Jangan pernah menghianatiku, Melvin." Tangan Melvin bergerak melepas lingerie istrinya secara perlahan hingga tubuh istrinya polos.


"Tidak akan pernah, Sayang. Aku hanya akan mencintaimu." Melvin seketika membalik tubuh Sheryn lalu melu-mat bibir istrinya dengan lembut dan langsung dibalas oleh Sheryn seraya mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


Bibir mereka berdua terus bergerak dengan mata terpejam. Semakin lama, pagutan mereka semakin cepat dan menuntut, seiring gairah panas yang terus menjalar di dalam tubuh mereka bedua. Tanpa melepas pagutannya, Melvin mengangkat tubuh Sheryn dan membaringkan tubuh istrinya di ranjang pengantin mereka.


Melvin terlihat melepas pagutannya sejenak ketika Sheryn sudah berada di bawahnya. Dia menatap lekat mata istrinya dengan tatapan yang sudah tertutup kabut gairah. Tanpa kata-kata, dia menarik handuk yang melilit di pinggangnya hingga terlepas dari tubuhnya dan menghempaskan begitu saja di lantai hingga menampilkan tubuh polosnya.


Sheryn terlihat sangat terkejut melihat pemandangan di depannya. Dia menelan salivanya dengan wajah menengang. "Melvin," ucap Sheryn pelan seraya mencengkram kedua lengan suaminya


"Jangan takut, Sayang. Aku akan melakukannya dengan pelan agar tidak terlalu menyakitimu."


Bersambung .....