
"JACK!!" teriak Miranda berlari kearah sang putra dengan khawatir.
Jack terlihat hanya terkulai dengan sedikit kesadaran. Miranda dapat mencium aroma alkohol yang begitu kuat dari tubuh Jack,
"Apw yang terjadi?? Mengapa Jack bisa seperti ini!!" tanyanya marah pada para pengawal itu.
Para pengawal itu terlihat sedikit takut dan menunduk,
"Tuan Jack.. pergi ke club dan mabuk. Ia juga sempat berkelahi dengan seseorang disana" jawab pengawal itu yang membuat Miranda terbelalak.
"Sejak kapan Jack mabuk seperti ini!! Mengapa kalian membiarkannya berada di club malam!!" teriak Miranda marah.
Para pengawal itu kembali menunduk pelan,
"Maaf Nyonya.. kami baru menemukan Tuan Jack beberapa jam yang lalu dan sudah menemukannya dalam keadaan mabuk di sebuah club. Kami juga mencoba menghentikan Tuan Jack yang menghajar seorang pria sampai pria itu tidak sadarkan diri dan terluka parah" jawab salah satu pengawal.
"Untung saja pria itu masih hidup, dan kami langsung memanggil ambulan untuk membawanya ke rumah sakit" lanjut penjaga itu.
Miranda seketika terlihat lemas sambil menyentuh keningnya. Ia hampir saja terjatuh jika saja Tom tidak langsung menahan tubuhnya,
"Tolong bawa Jack ke kamarnya dan obati lukanya" perintah Tom pada penjaga itu.
Para penjaga itu pun mengangguk dan kembali menuntun Jack menuju kamarnya. Namun, Jack yang masih sedikit sadar mencoba melepaskan dirinya dari pegangan para penjaga itu,
"Lepaskan aku!!!" teriak Jack mencoba melepaskan diri.
Namun para penjaga itu menahan kuat tubuh Jack dan membawanya ke lantai atas.
Miranda seketika terduduk di lantai dan terlihat sedih melihat keadaan Jack. Apakah ini hanya karena kepergian Alice sampai-sampai Jack melakukan hal seperti ini?? pikirnya.
"Perasaan Jack pasti sangat kacau" ucap Tom pelan dengan rasa bersalah.
Miranda pun mencoba untuk tenang dan mendelik pada sang suami,
"Apa sekarang kau mencoba untuk menyalahkanku??" tanya Miranda tajam.
Tom hanya menghela nafasnya dan melepaskan rangkulannya pada Miranda,
"Aku tidak menyalahkanmu.. Aku menyalahkan diriku sendiri" lanjut Tom dengan penuh arti.
Pria paruh baya itu pun berdiri tegak sambil menghela nafasnya dalam. Ia pun menuntun Miranda untuk bangun,
"Istirahatlah.. ini sudah malam. Kita bicara dengan Jack besok" lanjutnya dan membawa sang istri ke kamar untuk beristirahat.
Cahaya matahari terlihat masuk melalui celah jendela..
Seorang pria yang masih berada di tempat tidurnya terlihat gelisah dengan tubuh yang berkeringat..
"Jangan... kumohon jangan pergi.." lirihnya dengan mata yang masih tertutup.
Air mata pun perlahan mengalir disisi wajahnya. Pria itu terlihat mengangkat tangannya dan seolah menahan seseorang yang hendak pergi,
"Jangan tinggalkan aku.. jangan pergi.." bisiknya lagi gelisah.
"Jangan... Jangan pergi.. Jangan pergi!!! Alice!!" teriaknya sambil terduduk di atas tempat tidur dengan nafas yang memburu.
Jack seketika terbangun dan menyadari bahwa ia baru saja bermimpi buruk..
Jack dengan cepat langsung menyentuh kepalanya yang terasa sakit karena alkohol semalam. Pria itu pun seketika terdiam saat mengingat kejadian kemarin dan langsung mencengkram rambutnya dengan frustasi..
"Alice..." rintihnya.
Ternyata.. ternyata itu bukanlah mimpi.. pikirnya.
Alice benar-benar telah pergi..
Pergi meninggalkannya..
"Mengapa.. mengapa kau melakukan hal ini Alice.." rintihnya dengan perasaan yang sakit.
"Mengapa kau meninggalkanku tanpa berbicara apapun.." ucapnya lagi sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak.
Jack pun dengan cepat mencari handphonenya dan mencoba kembali menghubungi nomor Alice.
Namun.. lagi-lagi nomor gadis itu tidak aktif dan tidak dapat di hubungi.
Jack tidak menyerah dan mencoba terus menghubungi gadis itu berkali-kali. Namun nihil, hasilnya tetap sama..
Jack yang terlihat frustasi pun semakin merasa pusing dan dengan kuat mencengkram rambutnya. Rasanya ia lebih baik mati daripada harus kehilangan seseorang yang sangat ia cintai..
"Kenapa kau mengingkari janjimu Alice.. Mengapa kau pergi??" rintihnya lagi dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Seketika pintu kamar pria itu pun terbuka dan memperlihatkan Miranda yang masuk dengan seorang pelayan yang membawa makanan di atas nampan dan juga obat-obatan,
"Jack.. kau sudah bangun" ucap Miranda lembut sambil menghampiri sang putra yang terlihat kacau.
Jack tidak mengindahkan ucapan sang ibu dan masih menunduk dengan perasaan kacaunya karena kepergian Alice,
Miranda duduk di samping tempat tidur dan menyentuh lengan putranya dengan lembut,
"Ibu membawakan makanan untukmu.. makanlah dulu, setelah itu ibu akan mengoleskan obat di lukamu. Sebentar lagi akan ada dokter kemari untuk memeriksa luka di wajahmu" ucapnya lembut sambil mencoba untuk menyentuh luka memar yang ada di pelipis Jack.
"Kenapa ibu membawaku kemari? Ini bukan rumahku" ucap Jack dingin.
Miranda seketika terdiam dan tersenyum pelan,
"Berhenti keras kepala Jack, ini adalah rumahmu! Mau apapun yang terjadi, kau pada akhirnya akan tetap kembali kesini" balasnya tegas.
"Itu karena ibu yang membawaku kemari" balas Jack dingin.
Miranda hanya menghela nafasnya dan tidak ingin berdebat panjang dengan sang putra. Ia pun memilih mengambil salep yang di bawa pelayan dan menyentuh wajah Jack,
"Lihat wajahmu.. Sejak kapan kau suka berkelahi dan minum seperti ini?? Ini adalah pertama kalinya dalam hidup ibu melihatmu seperti ini" ucapnya tida suka.
"Apa.. ini hanya karena gadis itu??" tanyanya sinis.
Jack tidak bergeming dan seketika menatap kearah sang ibu dengan tatapan kacaunya,
"Mengapa ibu tau?? Apa kepergian Alice ada hubungannya dengan ibu??" tanya Jack tiba-tiba dengan tajam.
Seketika Miranda terdiam dan terlihat sedikit gugup. Wanita paruh baya itu mencoba untuk mengendalikan ekspresinya dan tersenyum sinis,
"Kau pikir ibu tidak punya pekerjaan?? Lagipula, apa untungnya bagi ibu menyuruh gadis itu pergi" ucapnya sinis.
"Ibu mengetahui kepergian gadis itu dari pengawal yang membawamu kemari semalam. Mereka bilang, kau pergi ke bandara kemarin dan membuat kekacauan.. Dan, malamnya kau juga membuat kekacauan di sebuah club" lanjutnya tajam.
"Jack, jangan menjadi pria lemah seperti ini hanya karena kehilangan seorang gadis! Masih ada gadis yang lebih baik di luar sana.. Kau bersikap seolah hanya ada gadis itu saja di dunia ini" sindirnya lagi.
"Dan lihat, gadis itu bahkan pergi meninggalkanmu. Itu berarti selama ini dia tidak bersungguh-sungguh mencintaimu. Dia mencoba mempermainkan mu!" lanjutnya tajam.
Jack seketika terdiam dan tersenyum miris,
"Mungkin.. memang banyak gadis yang lebih cantik darinya. Tetapi.. yang akan tetap memiliki hatiku hanya ada satu.. yaitu Alice!" balas Jack dengan tatapan tajam dan seriusnya yang membuat Miranda terdiam.
"Alice juga tidak mungkin pergi tanpa alasan" lanjut Jack yakin.
Jack pun dengan cepat bangkit dari duduknya dan berdiri. Pria itu terlihat sedikit terhuyung karena kepalanya yang masih sakit.
Dengan segera Miranda pun berdiri dan mencoba menahan Jack,
"Apa yang kau lakukan?? Kau mau kemana??" tanyanya cepat.
Jack mencoba menahan sakit kepalanya dan mengambil jaketnya yang berada di atas meja di samping tempat tidur,
"Aku akan mencari Alice.. Aku akan menemukannya dan membawanya kembali!" tekad pria itu sambil mencoba untuk pergi.
Namun dengan cepat Miranda menahan tangannya,
"Kau tidak boleh pergi Jack! Kau masih terluka. Kembali duduk di tempat tidurmu karena dokter akan segera tiba!" perintah Miranda.
Namun Jack melepaskan tangan ibunya dan tanpa berkata-kata lagi langsung meninggalkan kamarnya untuk pergi,
"Jack!! Ibu bilang kembali!!" teriak Miranda yang tidak di dengar oleh Jack.
Miranda pun terlihat frustasi dan menghubungi seseorang,
"Cepat kunci gerbang depan! Jangan biarkan Jack keluar!" perintahnya pada pengawal yang berjaga di gerbang.
Bersambung..
Duh, seperti kehabisan ide nih..
Pengen cepet selesai cerita ini tapi sepertinya masih cukup lumayan panjang...
Apa sudah ada yang bosan??
Apa kita tamatin aja dengan cepat??
Ayo, ramaikan komen nya dong, sepi amat cerita ini gk kayak cerita Gadis Penakluk Pria Dingin 😔
Jangan lupa kasih like, vote nya juga 🙏
Dukungan kalian sangat berpengaruh dengan semangat author abal-abal ini 🤧