
Laura bangun dari tidurnya lalu duduk di atas paha Melvin. "Malam ini akan menjadi milik kita berdua. Aku akan menyenangkanmu, Sayang."
Saat Laura akan membuka pengait celana Melvin, tangannya dicengkram oleh seseorang. Laura nampak sangat terkejut ketika melihat mata Melvin terbuka dan nampak berkilat.
"Beraninya kau menyentuhku dengan tangan kotormu itu."
Melvin bangun dari tidurnya lalu mendorong tubuh Laura dengan kuat hingga dia terjatuh di pinggir tempat tidur. Mevin melepaskan pakaian yang tadi disentuh oleh Laura karena merasa jijik. Dia menghidupkan lampu kemudian berjongkok di hadapan Laura yang terlihat duduk dengan wajah pucat pasi.
"Kau pikir bisa menjebakku dengan trik kotormu itu?" Melvin mencengkram kuat rahang Laura hingga membuatnya meringis, "Laura, aku bukanlah Harry yang bisa dengan mudah kau jebak. Trik kotor seperti ini tidak berlaku untukku." Mata Melvin terlihat begitu tajam dan wajahnya sangat dingin.
"Melvin, ak-aku hanya...."
Melvin bisa mersakan kalau tubuh Laura gemetar ketakutan. "Laura, kau ingin mempersembahkan tubuh kotormu itu padaku? Kau terlalu percaya diri Laura. Aku tidak tertarik sedikitpun dengan tubuhmu. Meskipun kau tidak memakai apapun di depanku, aku tetap tidak berhas-rat denganmu, Laura." Tatapan jijik dan muak terlihat jelas di mata Melvin.
"Melvin, kau salah paham. Aku hanya ingin...."
"Ingin tidur denganku agar kau bisa menjadi nyonya Anderson?" tanya Melvin, "Laura, nyalimu sungguh besar. Kau sudah tahu siapa aku, tapi kau masih berani menjebakku."
"Mel... vin, sa... kit." Laura kesulitan untuk berbicara karena kedua sisi mulutnya ditekan kuat oleh Melvin.
Melvin tidak memperdulikan rintihan Laura dan semakin mencengkram kuat rahangnya tanpa belas kasih. "Seharusnya kau memikirkan akibatnya lebih dulu sebelum kau berpikir untuk menjebakku."
Akhirnya, Laura terjebak dengan permainannya sendiri. Dia pikir kalau rencananya akan berhasil, nyatanya sedari awal Melvin sudah bisa menebak rencana kotor Laura.
"Ma-mafkan aku Melvin, aku...."
"Kau terlalu meremehkan aku Laura. Hanya karena kau pernah berhasil menjebak Harry, jadi kau menganggap dirimu hebat." Melvin mencibir dengan wajah dingin, "kau pikir aku tidak bisa mengenali suara dan wajah Sheryn dalam kondisi mabuk? Bahkan dalam keadaan gelap dan tanpa suara sekalipun, aku bisa dengan mudah mengenalinya."
Sheryn memiliki aroma tubuh yang unik. Bukan aroma parfum atau sabun, tapi aroma khas yang hanya dimiliki oleh Sheryn seorang. Itulah yang membuat Melvin dengan mudah mengenali Sheryn.
"Me-melvin, aku mi-minta maaf. Aku terlalu menyukaimu, sebab itu, aku sempat hilang akal. Tolong maafkan aku sekali ini saja. Aku janji tidak akan mendekatimu lagi." Wajah Laura sudah pucat pasi dan tubuhnya tidak hentinya gemetar.
Melvin terdiam selama dua detik lalu melepaskan cengkramannya di rahang Laura. "Cepat pergi dari sini! Sebelum kesabaranku habis."
Laura tidak menunggu lebih lama lagi dan langsung berdiri dan mengikuti langkah Melvin menuju pintu. Ketika pintu terbuka, ternyata Sheryn baru saja tiba di depan kamar itu. "Ternyata kalian ada di sini."
Wajah Sheryn terlihat dingin dan tatapannya sangat tajam. Dia menatap sejenak pada Melvin yang bertelanjang dada kemudian menatap ikat pinggang yang sudah terlepas lalu beralih menatap Laura yang nampak berantakan. Belahan dadanya terlihat sangat jelas dan dress ketat yang gunakan sudah terangkat ke atas.
"Sheryn, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku dan Laura...." Melvin hendak menjelaskannya, tetapi tidak jadi setelah melihat Sheryn mengayunkan tangannya ke arah Laura.
"Plaaaaak." Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Laura. Tamparan itu berasal dari Sheryn. Tubuh Laura bahkan terhuyung akibat tamparan itu.
"Sheryn, beraninya kau menam...." Saat Laura mengangkat kepalanya lagi, sebuah tamparan kembali mendarat di pipi sebelahnya.
"Kau memang wanita yang tidak memiliki harga diri Laura. Dulu kau menjebak Harry dan mengambilnya dariku. Kali ini, kau melakukan hal yang sama lagi. Kau sungguh wanita murahan, Laura. Bahkan kata murahan saja tidak pantas untukmu." Mata Sheryn terlihat berapi-api.
Mendengar hinaan Sheryn padanya, Laura langsung meradang. Wajahnya berubah menjadi gelap karena marah. "Sheryn, apa bedanya aku denganmu? Kau juga menyerahkan tubuhmu pada Melvin. Kau sengaja tidur dengannya agar kau bisa menjadi nyonya Anderson, kan?"
Laura tertawa mengejek mendengar itu. "Sheryn, pantas saja kau sangat melindungi Melvin dulu, ternyata kau sudah tahu kalau dia penerus dari keluarga Anderson."
Sheryn mendesis. "Ternyata kau sudah tahu indentitasnya yang asli. Kau memang luar biasa, Laura."
Laura tersenyum jahat lalu mendekatkan tubuhnya pada Sheryn dan berbisik, "Sheryn, kau datang terlambat. Aku sudah tidur dengannya. Lebih baik kau lepaskan dia. Bukankah kau tidak suka dengan pria yang sudah aku sentuh?" Laura kembali menyeringai setelah mengatakan itu.
"Lauraaa... beraninya kau memancing amarahku!"
Saat melihat tangan Sheryn akan terangkat lagi, Melvin buru-buru menoleh pada asistennya. "Stein, seret dia keluar dari sini," perintah Melvin cepat.
"Baik, Tuan Muda." Laura sempat berontak, tapi Stein berhasil menyeret Laura keluar dari mansion Melvin.
Melihat Sheryn pergi meninggalkannya, Melvin bergegas menyusulnya. "Sheryn tunggu." Melvin terlihat sangat cemas karena takut Sheryn salah paham padanya.
"Shery...." Melvin menghentikan ucapannya saat melihat Sheryn menaiki tangga dan bukannya berjalan keluar. Melvin nampak mengerutkan keningnya dengan wajah heran, tapi disaat yang sama dia merasa lega karena Sheryn tidak pergi dari mansionnya.
Melvin terus mengikuti langkah Sheryn dari belakang tanpa mengatakan apapun. Dia kembali terkejut sekaligus heran ketika melihat Sheryn memasuki kamarnya. Melvin akhirnya mempercepat langkahnya dan ternyata Sheryn memasuki kamar mandi. Dia lalu menghampiri Sheryn yang sedang berdiri di dekat pancuran shower yang menyala.
"Sheryn, aku bisa menjelaskan padamu. Tidak terjadi apa-apa antara aku dan Laura. Dia...."
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Sheryn sudah menarik pergelangan tangan Melvin dan memintanya untuk berdiri di bawah guyuran air shower. "Bersihkan tubuhmu dan kembalikan kesadaranmu. Pakai sabun yang banyak. Aku tidak suka bau Laura menempel di tubuhmu." Suara Sheryn terdengar dingin.
Selesai mengatakan itu, Sheryn berbalik dan hendak melangkah, tetapi tangannya ditarik oleh Melvin dengan kuat hingga tubuh bagian depan Sheryn membentur dadanya. Dengan tangan kirinya, Melvin mematikan aliran shower itu agar tidak membasahi tubuh Sheryn.
Melvin mengunci tubuh Sheryn dengan melingakarkan tangan kanannya di pinggang Sheryn. "Katakan padaku, kenapa kau begitu marah dengan Laura hingga kau menamparnya beberapa kali?"
Meskipun terkejut, Sheryn berusaha untuk terlihat biasa saja ketika Melvin memeluk pinggangnya dengan posesif. "Dia memang pantas untuk mendapatkannya," ucap Sheryn seraya menatap lurus ke dada Melvin untuk menghindari tatapan menyelidik darinya.
"Apa alasan kau begitu marah dengannya? Apa hatimu sakit saat melihatku dengan wanita lain? Apa kau cemburu dengannya?" cecar Melvin seraya menatap wajah Sheryn yang berada di bawah dagunya.
"Katakan Sheryn, apa kau tidak suka melihatku dengannya? Kau bergegas ke sini dengan wajah panik, apa karena takut aku tidur dengannya?" desak Melvin dengan suara berat.
Sheryn mengangkat kepalanya dan menatap berani pada Melvin. "Ya, aku tidak suka melihatmu dengannya. Aku benci melihatmu dengan wanita lain. Aku cemburu kare...."
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Melvin sudah lebih dulu menempelkan bibir mereka berdua seraya menangkup wajah Sheryn. Melvin melu-mat bibir ranum Sheryn dengan terburu-buru. Dia tidak memberikan kesempatan pada Sheryn untuk menolaknya.
Sheryn pun mulai membalas luma-tan Melvin seraya melingkarkan tangannya di pinggang Melvin. Saat Sheryn mulai membalas permainan bibirnya, Melvin menjadi lebih senang. Dalam suasana hening, mereka saling memagut dengan liar.
Sheryn bahkan tidak lagi memperdulikan pakaian depannya yang sudah basah karena bersentuhan dengan tubuh Melvin. Setelah beberapa detik, Melvin melepaskan pagutannya dan menatap wajah Sheryn dengan tatapan dalam.
"Aku mencintaimu, Sheryn. Jadilah milikku. Aku janji akan membahagiakanmu."
Sheryn terdiam selama beberapa detik kemudian mengangguk. Setelah mendapatkan jawaban dari Sheryn, bibir mereka kembali bertemu.
Bersambung...